Jabatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya adalah ... ya bisa lihat pada tangkapan layar di atas ya. Sebenarnya bukan mau mengomentari ramai-ramai mutasi dan pengangkatan pejabat publik level eselon III yang baru terjadi di sebuah negeri akhir-akhir ini sih. Cuma mau membahas jabatan secara umum saja. Kebetulan aja sih diketiknya pas banget setelah ada pengumuman pergantian pejabat setingkat menteri di sebuah kementerian di sebuah negeri #ngeles
Lucu sih sebenarnya kalau membahas jabatan, Atau lebih pas disebut ironi ya?
Karena di sebuah negeri, orang yang mendapat amanat jabatan, justru malah berselebrasi, gembira, merasa seolah memenangkan pertandingan dan mendapat hadiah. Bahkan ada pula yang setelah menjabat, hartanya naik berkali lipat. Seolah, jabatan dan harta itu statusnya linear. Padahal, jabatan itu bukan hadiah lo. Bukan pula tanda kemuliaan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ berfirman dalam Al-Qur'an:
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” .Sekali-kali tidak (demikian), …[Q.S Al-Fajr/89:15-16]
Rezeki (dan dalam arti luas, termasuk pula jabatan) adalah ujian. Mau dikasih banyak rezeki (atau jabatan tinggi) atau sedikit (atau tidak dikasih jabatan), sama-sama ujian. Apakah masih beriman saat rezeki kita lapang maupun sempit.
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [Q.S Saba/34:36]
Toh pada hakikatnya, kekuasaan, kejayaan, dan kejatuhan, itu memang Allah pergilirkan. Tidak melulu yang berkuasa itu yang beriman, ada kalanya yang beriman diuji dengan kerendahan di dunia, kemimskinan, penyakit, perang. Namun tidak selalu juga, yang zalim berada di atas. Bergantian. Memang demikian sunatullahnya.
اِنۡ يَّمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحٌ فَقَدۡ مَسَّ الۡقَوۡمَ قَرۡحٌ مِّثۡلُهٗ ؕ وَتِلۡكَ الۡاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ النَّاسِۚ وَلِيَـعۡلَمَ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَيَتَّخِذَ مِنۡكُمۡ شُهَدَآءَؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَۙ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim [Q.S Ali-Imran/3:140]
“Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim).
Maka, selayaknya kita berdoa dan berusaha agar kelak ketika mendapat jabatan, kita menjadi orang yang cakap dalam hal itu, serta selalu dalam lindungan dan petunjuk Allah. Tidak hanya saat menjabat, namun juga kelak di hari akhir. Jangan sampai ketika kita mendapat amanat jabatan, bukannya mempermudah kehidupan orang lain, malah justru membuat kebijakan yang mempersulit. Jangan sampai deh ya, sarkas birokrasi "kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah" malah dijadiin panduan jabatan. Kan enak ya, kalau saat menjabat lalu membikin kebijakan yang bermanfaat bagi banyak orang. Asal ikhlas dan tak menyalahi sunnah, bisa panen pahala jariyah cuy. Ya, tentu saja gak mudah untuk membikin kebijakan yang memberi manfaat seluas-luasnya. Maka, balik lagi ke kalimat awal paragraf ini, kita ikhtiar agar memantaskan diri (note to myself dan teman-teman yang udah kena jaring assessment). Better be prepared kaaan. Toh sebagai ASN, saat ini pun juga sudah memegang jabatan. Secara Undang-Undang, disebutnya kan "pejabat (nama instansi penulis)". Hehehe. Sekali lagi, ngga gampang. Tapi bukan mustahil.
Karena pada akhirnya, sesulit-sulitnya mendapatkan jabatan (sampai-sampai ada yang rela keluar biaya milyaran rupiah), lebih sulit lagi mendapat hidayah dari Allah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan dan menjadi lebih bermanfaat lagi :)
Nuwus . . .