Cari Blog Ini

Jumat, 30 Maret 2012

Khotbah Jum'at Kali Ini : DPR Lebih Hebat daripada Nabi

Alkisah suatu ketika, para anggota DPR mengundang seorang ulama untuk mengisi acara di gedung DPR yang mewah itu. Di akhir sesi ceramah, sang ulama mempersilahkan para anggota DPR untuk bertanya-jawab dengannya. Maka terjadilah dialog antara sang ulama dengan salah seorang anggota dewan.

Anggota Dewan : Pak Ustadz, hebat mana DPR dengan menteri?
Ulama : Lebih hebat DPR
AD : Kok bisa? (penasaran)
U : Karena DPR bisa nyuruh-nyuruh menteri, tapi menteri nggak bisa nyuruh-nyuruh DPR
AD : (makin songong) Kalo DPR dengan KPK?
U : DPR juga lebih hebat dari KPK
AD : Kenapa Ustadz? (makin Ge-eR)
U : Karena ketua KPK dipilih sama DPR, tapi KPK nggak bisa milih ketua DPR
AD : (kepalanya udah makin gede) trus kalau DPR sama Nabi, Ustadz?
U : (diem sejenak) Mmm, masih hebat DPR sih . . .
AD : (makin antusias) Kok bisa Ustadz?
U : Iya, kalau Nabi kan takut banget sama Allah, kalo DPR udah nggak ada takut-takutnya lagi
AD : #&*$#?!

Sedikit guyonan dari khotib Jumat siang ini, sedikit menyindir kelakuan para wakil rakyat yang (merasa) terhormat, yang sebenarnya udah nggak perlu dibahas lagi (udah jadi rahasia umum kayaknya).
Yang jadi topik utama khotbah siang ini tentu bukan kelakuan mereka, melainkan tentang istidraj.
Apaan tuh, kagak pernah denger, mungkin begitu pikir sebagian pembaca (atau mungkin saya sendiri ketika mendengarkan khotbah tadi). Singkatnya, istidraj adalah sebagian kenikmatan (dunia) yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang masih berbuat maksiat, yang pada akhirnya akan berakhir dengan adzab, entah di dunia maupun di akhirat.

Contoh yang diberikan antara lain :
- kekuasaan yang diberikan kepada Fir'aun di zaman Nabi Musa As. , yang memiliki kekuasaan begitu besar atas suatu negeri yang makmur, namun dengan nikmat yang diberikan oleh Allah itu, malah diingkarinya dengan banyak berbuat dzalim kepada manusia. Puncaknya adalah self proclaiming bahwa dirinya adalah tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Nah, maka di sini, kekuasaan itu adalah suatu bentuk istidraj dari Allah. Endingnya, seperti sudah kita ketahui bersama, adalah ketika sang pharaoh ditenggelamkan oleh Allah di tengah Laut Merah ketika mengejar rombongan Nabi Musa As. Pengakuannya terhadap Allah tertolak, karena sudah terlambat sekali; ketika air laut telah memenuhi perut dan paru-parunya, ketika nyawa sudah tinggal ditarik saja dari raganya.
- harta melimpah yang diberikan kepada Qarun. Dikisahkan, bahwa Qarun adalah orang yang sangat kaya, bahkan untuk membawa kunci tempat-tempat penimbunan hartanya saja, dibutuhkan banyak lelaki kekar, itu baru kunci-kuncinya (dalam khotbah tadi disebutkan 40, seingat saya 7, wallahu'alam, barangkali pembaca lebih tahu). Namun ketika disuruh untuk mengeluarkan zakatnya oleh Nabi Musa As, dia menolak. Dia mengaku bahwa “Harta dan perbendaharaan tersebut merupakan buah dari keseriusanku, kesungguhanku, dan kecerdasanku. Tidak ada seorang pun yang ikut campur di dalamnya". Endingnya, dia dan seluruh 'hartanya' ditenggelamkan ke dalam bumi oleh Allah SWT, yang menguasai seluruh perbendaharaan langit dan bumi.

Well, menurut saya, sudah cukup banyak contoh-contoh mengenai istidraj seperti diungkapkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Cukuplah bagi kita untuk menghindari maksiat, mengingat sudah begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita. Sebagaimana Allah SWT berfirman :
"Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (Qs Ibrahim [14] 34; an Nahl [16] ayat 18)

Nggak percaya? Coba hitung sendiri deh . . .

Kamis, 29 Maret 2012

Semangat Kakaaaaaak ^^ !!!!

Suatu hari, sekelompok pemuda di sebuah kantor salah satu instansi ternama di negeri ini janjian untuk ketemuan dengan salah seorang senior di kantor. Bahasa kerennya, mentoring. Seorang dari mereka sempat lupa bahwa ada mentoring, sudah sampai dekat gerbang keluar, eh pas keinget, langsung balik ke masjid. Padahal mudah aja bagi dia untuk langsung aja amblas ke kos-kosan. Satu teman yang lain tidak bisa segera keluar dari kantor, katanya diikutkan rapat. Tapi ketika waktu sholat maghrib, masih sempat datang dan menyapa rekan-rekannya, meski tidak ikutan mentoring. Padahal mudah saja bagi dia untuk sholat di mushola kantor dan tidak 'ikut' mentoring, namun dia memilih untuk menjumpai rekan-rekannya. Menurut sang mentor, itulah salah satu hal yang patut disyukuri, bahwa pemuda-pemuda itu masih memiliki keinginan, semangat dan kesungguhan untuk mengadakan majlis ilmu, di sela-sela kesibukan di kantor (padahal gak sibuk sih sebenarnya). Diistilahkannya 'azam', keterikatan hati, keinginan yang kuat untuk melaksanakan suatu perbuatan yang harus (sebisa mungkin) di wujudkan.
Menurut penulis, bahasa kerennya, motivasi.
Ya, salah satu tren yang terlihat sekarang, adalah minimnya azam kaum muda untuk memuliakan masjid-masjid, mendatangi majlis ilmu, dan kegiatan-kegiatan semacam itu. Kayaknya lebih banyak yang lebih semangat untuk nongkrong-nongkrong dan kongkow-kongkow, mejeng sana sini, ngeksis dimana-mana dibandingkan i'tikaf di masjid atau gerakan dakwah. Kalau menurut pandangan penulis, orang-orang yang sering i'tikaf di masjid atau mengadakan kegiatan Islami, sering
dilekati imej sebagai 'anak pondokan', ' NII', 'FPI', atau semacamnya (media berperan besar dalam pembentukan imej seperti itu). Dan seringkali malah diwanti-wanti agar tak ikut aliran sesat. Tentu tak salah mengingatkan seperti itu karena memang ada beberapa aliran yang nggak bener-bener sesuai dengan ajaran Islam, dan ada juga yang memang bener-bener sesat namun dengan modus yang sedemikian halus hinggga banyak pemuda dengan niat belajar agama lebih dalam, malah terperosok ke jalur yang salah. Meski demikian, logikanya adalah siapa yang lebih sesat (atau, siapa yang lebih benar jalannya), antara yang lebih banyak belajar agama atau yang sedikit belajar agama?
Banyak yang ketika diajak ke majlis dan kegiatan semacamnya, malah ogah, hilang semangat, merasa tak cocok, merasa tak pantas berada di sana, atau bahkan merasa 'tersesat di jalan yang benar'. Nah lo, berarti jalannya selama ini bagaimana, benar apa tidak? Terus kalau udah 'tersesat' di jalan yang benar (setidaknya dia rasa lebih benar), kenapa nggak betah? Apakah memang gak suka sama yang benar?

***sebagai pengingat bagi penulis yang seringkali khilaf dan lupa, dan semoga bermanfaat bagi pembaca, untuk meningkatkan semangat dan kesungguhan kita dalam belajar dan belajar lagi ilmu agama kita untuk lebih memperbaiki tindakan kita...

Senin, 19 Maret 2012

Cuap-cuap Tentang Pendidikan; Kurikulum Mekso

Sabtu kemarin, penulis bertemu dengan mentor dalam acara mentoring (seharusnya) rutin. Kebetulan, penulis sempet denger gosip bahwa mas mentor akan resign dari pekerjaannya, dan mencoba fokus pada 'sesuatu'. Bisnis kah? Tanya penulis. Rupanya tidak sepenuhnya benar, karena kata sang mentor, urusan bisnis hanya sebagian kecil dari kesibukannya saat ini. Dan yang menjadi concern beliau saat ini adalah unschooling. Jadi intinya beliau ingin mengembangkan unschooling di Indonesia, berawal pada keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Penulis jadi ingat tentang pandangan pribadi terhadap sistem pendidikan di Indonesia.
Kebetulan, ayah penulis adalah seorang guru yang memiliki 'bisnis' sampingan sebagai pengurus sebuah sekolah swasta (bisnisnya tetep jadi guru juga sih), jadi sedikit banyak, ikutan nggelibet dengan dunia pendidikan, dan sedikit banyak menaruh concern juga.
Dari apa yang pernah penulis rasakan, sistem pendidikan di Indonesia memang terkesan memaksakan. Bayangkan (atau ingat-ingat aja deh, kan Pembaca juga pernah sekolah toh?), kita sekolah masuk pukul sekian, menempuh sekian jam pelajaran, istirahat sekian menit, lalu sekian jam lagi mencerna pelajaran berikutnya. Kita dibuat untuk mencerna hal-hal yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, nggak butuh-butuh amat (ini penulis rasakan terutama pas SMA).
Maaf, bukan maksud penulis meremehkan profesi guru dan ilmu yang diajarkan, namun penulis merasa aja, beberapa pelajaran yang diberikan itu terkesan useless. Ambil contoh, matematika, kita diajarin integral, diferensial, bilangan imajiner, dan lain sebagainya yang nggak berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Atau fisika, kita ngehitung energi dari benda yang jatuh dari ketinggian sekian meter, beratnya sekian gram, toh kalo ada buah kelapa jatuh kita nggak bakalan mikirin berapa joule energinya tadi, kita otomatis mikir apa itu kelapa masih bisa dimakan atau nggak :p. Atau kesenian, semua murid dipaksa mampu dan lihai dalam membuat berbagai kerajinan tangan mulai dari menggambar, mematung, melukis, serta menampilkan berbagai kesenian macam drama dan tari. Kalau penulis rasakan sih, kurikulum kita terkesan mekso, memaksakan kepada murid untuk menguasai (setidaknya lulus minimal sesuai standar 'mampu') semua mata pelajaran yang disuguhkan. Kalau tidak menguasai? Ya nilainya jelek, bisa-bisa kena drop out, nggak naik kelas, nggak lulus. Kalo nggak lulus, nggak dapat ijazah, nggak punya masa depan, itulah anggapan yang umum.
Tentu, tidak bisa kalau kita salahkan guru, atau penerbit buku. Sebenarnya yang salah adalah sistem yang ada, kurikulum yang diterapkan. Seolah-olah, demi mencetak murid yang kelak sukses hidupnya, adalah dengan menjejalkan sebanyak mungkin 'ilmu' ke dalam kepala murid, yang tentu saja kapasitas dan kemampuan memahaminya berbeda-beda. Lihat saja, demi memperbanyak materi yang dijejalkan kepada murid, semakin banyak sekolah yang menerapkan full day school. Masuk pukul 7 pagi, pulang pukul 4 sore. Mampus deh. Coba yang udah pada kuliah, pasti banyakan ngantuknya daripada nyambungnya.
Nggak salah memang, mengajarkan berbagai macam ilmu kepada murid. Tapi, alangkah bijaksananya kalau ilmu yang diajarkan di sekolah adalah yang realistis, yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu nggak mungkin kita ngeliat mobil di jalan lalu menghitung energi kinetiknya, atau melihat angka-angka lalu menghitung diferensialnya :) . Sekolah cenderung mengajarkan ilmu formal, teoritis, alih-alih mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan soft skills pada muridnya.
Akibatnya, kebanyakan murid hanya akan mengingat sambil lalu apa-apa yang diajarkan di sekolah. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar banyak ingat (dan paham) tentang apa yang diajarkan. Di luar pelajaran di kelas, kebanyakan murid tidak menguasai apapun. Ada kecenderungan bahwa murid-murid dari institusi pendidikan kita (sebagian) unggul dalam ilmu (yang diajarkan di sekolah) namun kurang dalam soft skills. Coba ingat-ingat, ketika jaman sekolah dulu (terutama, SD-SMA), teman-teman yang ranking-rangking atas biasanya adalah tipikal pelajar yang benar-benar pelajar, namun kurang asik dalam pergaulan. Iya gak?
Nah, pada kenyataannya, institusi pendidikan yang ada saat ini memang cenderung lebih perhatian kepada hard skills dibandingkan soft skills. Murid-murid dibekali dengan materi pelajaran yang berlimpah (baca: overload) namun minim pembekalan kemampuan soft skills. Padahal, yang menentukan kesuksesan seseorang bukan hanya hard skills, melainkan juga soft skills. Gak percaya? Coba searching sendiri aja ya, saya agak ogah membahas dan membanding-bandingkan keduanya :p (insya Allah kapan-kapan saya postingin tentang ini).
Nih orang posting nanggung banget sih, begitu mungkin pikir Pembaca. Tapi yah, anggaplah saya sedang mengetes sejauh mana tanggapan dan ketertarikan Anda terhadap ocehan saya ini. Ibaratnya, tulisan saya adalah umpan untuk membuat Pembaca sekalian (ikut) memikirkan hal ini. Karena bagaimana generasi bangsa ini ke depannya, bergantung pada bagaimana kita mendidiknya sekarang. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama, demi memajukan bangsa dan rakyat kita yang entah kapan benar-benar maju dan berprestasi :))

*sebenarnya ini sudah waktu makan siang, jadi saya break dulu postingnya. Insya Allah akan penulis bahas lebih panjang lagi di kesempatan lain :)

Jumat, 16 Maret 2012

Kebahagiaan Itu Dari Hati, Bukan Materi . . .

Ingatkah saat kita masih kecil, belum kenal komputer dan internet, henpon atau blackberry, play station atau nintendo. Bermodalkan kaos oblong yang sudah dipakai kemarin dan kemarinnya lagi, ditambah sandal jepit dan celana seragam yang belum dilepas sejak pulang sekolah tadi. Ngacir dari rumah, lari berkejaran dengan kawan sebaya. Bermain petak umpet, atau sekedar berimajinasi jadi maling dan polisi. Tertawa lepas dan berkelahi sekali-sekali, bercanda ria meski kadang ada yang menangis sakit hati. Ke tanah lapang bukan main bola tapi mencari ilalang, berjongkok di tanah berpasir mencari undur-undur. Mendung datang, bukannya berteduh malah merengek-rengek minta hujan-hujan. Main sampai sore tanpa khawatir dimarahi. Toh meski dimarahi besok akan tetap bermain lagi.

Ah, betapa kebahagiaan itu tak tergantung dari melimpahnya materi, tapi memang dari hati. Kadang kebahagiaan datang dari hal-hal yang sederhana, yang kadang tampak tak berarti dan biasa saja. Kadang manusia terlalu jauh mencari, memburu apa-apa yang belum dimiliki, demi menyenangkan diri. Kebahagiaan sering datang tanpa diundang, bagai kejutan menangkan undian. Bahkan kadang, kita dapat menemukan kebahagiaan di saat yang tak terduga, di saat kita sudah terlanjur berburuk sangka. Maka bersyukurlah, dan berbahagialah.

Mungkin kamu sudah berkelana kesana kemari mengejar materi, prestasi dan segala kemewahan hidup ini. Mungkin pencarianmu akan berakhir tanpa menemukan kebahagiaan, hanya tumpukan harta dan tahta, namun terasa hampa. Jika sudah begitu, maka pulanglah, mungkin kamu mencari di tampat yang salah. Mungkin kebahagiaan itu ada di rumahmu, tertumpuk di antara banyak hal yang telah kamu miliki. Barangkali ia ada di sana, namun kamu tak menyadarinya. Mungkin karena kamu terlalu sibuk mencari yang tak kamu miliki, sampai lupa dengan segala yang sudah dipunyai.

*kutipan kata seorang sahabat. Jadi kangen dengan masa kecil yang kebanyakan terlewat begitu saja -,-

Kamu Cantik Kalau . . .

Pembaca suka nonton TV gak? Merhatiin gak, iklan-iklan produk kecantikan sekarang ini, dengan bintang-bintang cantik yang suka berpose asik, ditambah iringan musik dan sinematografi yang apik. Demen kan ngeliatnya? Contohnya, eh, gak jadi. Saya gak mau sebut merk, atau sebut nama bintang iklannya. Saya ngomentarin fenomena ini aja. Fenomena iklan cantik.
Wajar, kalau yang dipilih sebagai bintang iklan produk kecantikan adalah bintang-bintang yang berparas cantik, manis, atau setidaknya menarik. Yah namanya aja produk kecantikan, masa bintang iklannya yang 'kurang' atau 'tidak' cantik (setidaknya menurut produser iklan), ya nggak laku dong produknya. Dan ketika pemirsa diberondong dengan iklan-iklan berparas cantik tersebut, maka akan terbentuk suatu image bahwa yang cantik itu, ya seperti yang di TV itu. Yang seperti di iklan pemutih kulit, penghilang jerawat, produk perawatan rambut, alat pelangsing badan, dan produk-produk sejenis lainnya. Bahwa kalau pakai produk-produk tersebut, bisa jadi cantik macam yang di iklan itu (susah nih, padahal muka udah segitu-gitu aja, berharap metamorfosis jadi kayak bintang iklan yang cantik-cantik). Jujur aja, menurut saya, ya emang kebanyakan bintang iklan produk-produk kecantikan tersebut ya memang cantik dari sononya, mungkin udah bawaan orok atau sifat genetis yang tak terbantahkan (meski gak semuanya masuk kategori cantik versi saya, dan juga versi masing-masing pemirsa tentunya). Konsekuensinya, yang gak seperti di iklan tersebut, mendapat label 'gak cantik (saya nggak menyebutnya jelek)', setidaknya menurut produsen produk-produk tersebut.
Sadar atau tidak, ketika kita keseringan nonton wajah-wajah cantik di TV, (sebagian dari) kita akan membuat standar cantik seperti yang di TV itu (terutama cowok kali ya). Seolah-olah, yang cantik adalah yang : berkulit putih mulus tanpa flek dan jerawat; berambut hitam-lurus-panjang-berkilau yang kalo diratoh sisir di rambutnya tuh sisir bakalan jatoh sendiri; yang bodinya semlohai berkat produk bernama aneh dengan kemampuan inframerah peluntur lemak; yang senyumnya berkilau cling macam salah satu tokoh di film jadul Dono-Kasino-Indro (kalo nggak tau tokoh yang saya maksud, coba cari aja film DKI di rental VCD terdekat); dan sederet standar iklan lainnya.
Konyol, menurut saya, ketika kita menyadari bahwa mereka (bintang-bintang cantik tersebut) kebanyakan memang cantik dari sononya. Mungkin mereka memang pakai produk kecantikan sendiri, memiliki jadwal perawatan kecantikan sendiri, dengan budget sendiri sesuai isi dompet (atau rekening) mereka sendiri, yang kemungkinan besar, tidak seharga sekian belas ribu rupiah-harga yang sesuai untuk mayoritas masyarakat. Saya ragu, apakah mungkin mereka memakai produk-produk kecantikan yang mereka sodorkan di iklan, alih-alih memakai produk perawatan berharga jutaan (artinya angka yang memiliki 6 angka nol di belakang) di salon-salon kecantikan langganan mereka.
Dan lebih konyol lagi kalau ada yang termakan iklan-iklan tersebut, merasa perlu memakai produk-produk tersebut demi menjadi cantik (setidaknya memiliki salah satu unsur kecantikan yang ditonjolkan dalam iklan produk tersebut) seperti sang bintang iklan.
Miris, ketika saya melihat beberapa wanita yang jadi tidak percaya diri ketika mendapati dirinya tidak masuk dalam kriteria cantik yang ditonjolkan di iklan-iklan. Saya punya seorang teman wanita, yang berkulit agak gelap, yang tentu saja sering menjadi bahan guyonan di antara kawan-kawannya. Dan dia sepertinya menjadi agak minder dengan warna kulitnya tersebut. Padahal dia orangnya asik, perhatian ke temen, suka bercanda, pintar, dan memang manis (banyak yang bilang begitu, banyak juga sebenarnya temen cowok yang suka ke dia).
Lebih miris lagi, kalau melihat para lelaki yang mencari pasangan berdasar standar cantik berdasar iklan-iklan tersebut. Ada seorang rekan, yang yang punya temen deket, tapi berniat mengakhiri hubungannya lantaran (katanya) si gadis tersebut kurang cantik, ada yang lain yang lebih cantik (padahal ngedeketin yang lain aja belum tentu dapet).
Sebenarnya nggak salah juga sih, memasang bintang-bintang cantik dalam iklan produk kecantikan, kan biar laku produknya. Bukankah dalam prinsip kapitalisasi, semuanya dihalalkan demi mencari keuntungan, bahkan mengorbankan dan menipu konsumen pun boleh :) (bagi yang nggak paham, saya mengatakan ini dengan nada sarkastik). Yang salah adalah persepsi kita sendiri, yang terlalu banyak menelan iklan tersebut mentah-mentah dan membuat standar semu. Bahwa wanita yang cantik itu, ya seperti yang tadi itu.
Padahal, apalah artinya kecantikan fisik, tanpa kecantikan akhlak dan kepribadian? Bayangin aja misalnya anda punya teman wanita yang cantik macam bidadari (secantik apa itu? saya sendiri belum pernah liat bidadari) namun tingkah lakunya amit-amit. Misuhan, sombong, matre, pilih-pilih temen, suka manfaatin orang, suka mencela orang, ditambah otaknya kurang cerdas lagi (ini cuma contoh lo, saya gak merujuk ke individu-individu tertentu, tapi maaf kalau ada yang tersinggung). Bandingkan dengan, wanita yang wajahnya biasa saja, bahkan dikata jelek oleh sebagian orang, namun dia orang yang santun, lembut, pintar, sopan, gitu. Anda lebih suka berteman dengan yang mana? Kalau saya sih milih berteman dengan yang kedua, ogah deket-deket sama yang pertama, cukup diliat dari jauh aja. Hehehe. Tapi kalau pembaca berpikiran lain, ya silahkan, saya nggak ngelarang kok.
Cuma ya kita inget aja, kalau kecantikan fisik tanpa kecantikan batin, ibarat cangkang kerang yang indah coraknya namun kosong, sementara wanita yang kurang di sisi fisik namun baik akhlaknya, punya inner beauty, ibarat kerang mutiara yang cangkangnya nggak bagus, namun penuh berisi mutiara. Tentu saja, keduanya bisa dijual, bukankah cangkang kerang yang bagus juga bisa dijadikan hiasan? Tapi mana yang lebih berharga, cangkang saja atau mutiaranya?. So Gals, be dare to show your inner beauty
!

Kamis, 15 Maret 2012

Nrimo (2); A Fight Against Yourself

Nrimo, sebenarnya adalah tentang bagaimana Anda mengkondisikan pikiran dan emosi Anda untuk bertahan dalam kondisi yang tak ideal. Itu adalah suatu bentuk pengendalian diri, ketika kita tak mendapatkan apa yang kita inginkan, atau kadang mendapatkan yang paling tidak kita inginkan. Mencoba beradaptasi dengan situasi, menghindari pemberontakan diri Anda yang mungkin bisa berakibat buruk. Nrimo itu seperti perkelahian antara nafsu plus emosi yang masih nggak terima dengan kenyataan, melawan akal sehat dan logika yang mencoba survive di keadaan yang 'baru'. Yeah, it's a fight against yourself. Terimalah keadaannya, ketika seluruh perjuangan sudah dilakukan untuk meraih yang diinginkan, namun tetap tak kesampaian, maka berbesar hati dan terimalah. Bukankah Allah selalu menjanjikan yang terbaik bagi umat-Nya :)

Rabu, 14 Maret 2012

Nrimo

Suatu ketika kita menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan kehendak. Kita tak terima, kita berjuang, kita berusaha mengubah keadaan, tapi tak kuasa melawan kehendak Allah. Ya sudah, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menerima, nrimo kalo kata orang Jawa.
Sebagian orang melihat bahwa orang yang nriman itu pasif, lemah, tak berdaya untuk berusaha. Tentu ini gak sepenuhnya benar, terutama kalo kita hanya melihat scene nrimo dari orang tersebut tanpa melihat ke scene struggle yang telah dilakoninya (kecuali orang tersebut emang mengidap penyakit pasrah kronis-yakni gabungan antara kebal segala situasi, tidak punya harapan utuk jadi lebih baik, ditambah gejala malas menahun).
Nrimo itu gak sepenuhnya mudah, karena kebanyakan manusia (termasuk saya) lebih memikirkan tentang apa yang diinginkan ketimbang apa yang dibutuhkan. Ketika keinginan tak terpenuhi, maka orang cenderung membandingkan apa yang didapatnya sekarang, yang tidak diinginkannya namun sebenarnya itulah yang dibutuhkannya, sadar atau tidak. Tentu saja, Allah selalu berikan yang terbaik untuk umat-Nya, hanya saja kebanyakan dari kita sering gak menyadari hal tersebut. Hasilnya? Keluhan demi keluhan keluar dari mulut kita (sukur-sukur kalo gak ada keluhan yang keluar-mungkin cuma dongkol dalam hati).
Nrimo itu adalah salah satu hasil kombinasi antara ikhlas, syukur, dan sabar. Ikhlas atas apa yang terlepas, agar jiwa terasa bebas, gak kepikiran sama hal-hal yang gak kesampaian tadi (tentunya setelah berusaha menggapainya sekuat tenaga). Menyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah, agar terasa cukup di hati, biar nggak iri dengan orang-orang yang mendapatkan apa yang mereka inginkan (mungkin doa mereka lebih mustajab). Sabar dan tegar dalam menghadapi cobaan ini (tidak terwujudnya suatu keinginan-alias kegagalan), karena pasti ada jalan keluar, dan tentu saja karena 'kegagalan' kali ini adalah yang terbaik untuk kita.
So, apakah Anda wani nrimo?

Selasa, 13 Maret 2012

I've Just Got Some Experience and Evolved, Just Like The Digimons . . .

Everything changes, except the changing itself. Ya, semuanya berubah, generasi baru lahir, yang muda menua, yang tua rusak dan mati. Hanya perubahan itu sendiri yang tetap eksis.
Lihat sekeliling kita, berada di tempat yang baru. Dikelilingi dinding-dinding baru di keempat sisi, orang-orang baru, suasana baru, tak ada yang sama. Bahkan kita sendiri pun menjadi 'baru'. Kita sendiri pun berubah. Lihatlah ke diri anda sendiri, berdiri di depan cermin, rapikan kerah baju dan lihat, betapa kita sudah banyak berubah. Bandingkan dengan foto jaman SMA, SMP, atau SD dan TK jika masih ada. Kita berubah, lingkungan pun berubah. Ruangan yang ada di sekeliling penulis saat ini bukanlah sebuah auditorium di lantai 2 yang mampu menampung 70 siswa, melainkan sebuah kantor berisi belasan orang, di lantai 4, yang dicapai dengan lift alih-alih dengan tangga. Orang-orang di sekeliling penulis saat ini adalah para pegawai, lebih tua (meski belum tentu lebih dewasa), bukan lagi sesama mahasiswa prodip yang suka bermain-main dengan mengakali aturan disiplin kampus(oknum?). Si penulis pun bukan lagi bocah kecil cengeng yang sering mengalami bullying seperti jaman SD dulu, meski juga tetaplah bukan seorang superhuman yang sempurna dan mampu menghadapi berbagai cobaan dengan sukses. Ya, semua memang selalu berubah.
Perubahan itu menakutkan bagi sebagian orang, yang menikmati apa yang mereka miliki sekarang, pecinta status quo. Ganti suasana, ganti kantor, ganti teman, ya, kadang itu menakutkan. Kita akan sering bertanya-tanya, apakah kantor yang baru sebaik yang lama, apakah teman-teman yang baru seasyik yang lama, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa. Yang memaksa kita untuk membandingkan antara yang baru dan yang lama(meski bagi orang-orang yang sedang berada di kondisi tidak terlalu baik, mungkin akan berharap segera ada perubahan, pindah kantor atau ganti rekan kerja, mungkin saja yang baru akan lebih baik). Yah, mau tak mau, kenangan bersama 'the old ones' akan selalu terbawa ketika kita akan menghadapi 'the new ones'. Dan mau tak mau, kita akan membanding-bandingkan. Dan mungkin, akan khawatir.
Tentu lumrah jika itu terjadi, selama tidak membuat kita terpaku pada 'the old ones', yang membuat kita stuck dan gak bisa move on. Tentu saja, yang baru belum tentu sebagus yang lama(dalam segala hal, ini berlaku). Tapi tentu saja, yang baru bisa jadi lebih baik dari yang lama(ini juga berlaku dalam segala hal). Semuanya mungkin. Yah, 50-50 lah kemungkinannya, dan memang semua akan ada baik-buruknya.
Nikmati saja perubahan yang terjadi, dan berubahlah juga agar bisa beradaptasi dengan 'the new ones' tersebut. Berubahlah untuk jadi lebih baik, merubah pola pikir, merubah hati, agar semakin baik nantinya. Bukan untuk hanyut dalam arus perubahan yang belum tentu semuanya baik, namun untuk membuat arusmu sendiri, yang bisa merubah semua jadi lebih baik.
Terdengar utopis? Ayolah, apa salahnya bermimpi, bukankah banyak pencapaian besar manusia berawal dari mimpi besar yang diolok-olok dan terdengar seperti khayalan :))
Oh ya, agar masih nyambung dengan judulnya, anda ingat serial kartun digimon yang booming di salah satu TV swasta sekitar tahun 2000-an? Dikisahkan mereka memiliki kemampuan untuk berevolusi menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih tangguh seiring petualangan yang mereka alami di tiap episode. Well, kita pun harusnya seperti itu. Mampu berevolusi seiring pengalaman dan pengetahuan yang dialami. Bisa kan?!

Jumat, 09 Maret 2012

Be Creative Dong!

Berteori itu gampang, mewujudkannya yang lebih susah. Kali ini saya mengalaminya. Di hari-hari awal magang (atau diistilahkan dengan penempatan sementara). Ditempatkan sementara di salah satu direktorat yang bisa dibilang 'lumayan' nganggur, membuat saya kekurangan ide untuk menjadi lebih aktif dan berbuat banyak. Lha para pegawainya aja pada ngaku kalau "di sini mah nyantai, kerjaan jarang, paling akhir sama pertengahan tahun aja yang sibuk, kamu bawa laptop aja biar nggak bosen . . " atau "mau saya kasih kerjaan apa ya, orang gak ada kerjaan". Jadi paling cuman ngeliat para pegawai kerja (pas lagi ada kerjaan). Padahal teorinya, harus bisa jadi pegawai yang lebih dari sekedar mampu mengerjakan tugas yang diberikan, lebih bagus lagi kalo juga bisa membawa dampak yang positif bagi lingkungan kerjanya. Kenyataannya? Melongo doang isinya . . .
-,-a
Jadi merasa kurang berarti, jangankan membantu, saya ada di sini kayak nggak memberi efek positif gitu, gak ada saya juga kayaknya gak ada yang nyariin, ada juga banyakan diemnya. Mungkin sebagian besar rekan yang penempatan sementara juga ngalamin kayak gini kali ya (mencoba berbaik sangka-cari temen senasib).
Oke, sekarang coba liat sisi positifnya. Banyak waktu nganggur, jadi bisa banyak belajar peraturan (disuruh baca-baca lagi sih, biar kagak jadi blo'on-blo'on amat). Banyak juga kesempatan berinteraksi dengan para pegawai senior, biar gaul. Ato apa aja lah. Ayo, coba lebih kreatif deh. Barangkali rekan-rekan pembaca (terutama yang senasib) ada usulan?

Kamis, 08 Maret 2012

Pegawai, Dengan 2 Huruf 'C' di Depan (Belum Jadi Golongan II C)

Selama januari-februari, masing-masing cuma posting sekali. Libur nanggur dirumah, internet mati nggak ada koneksi. Online pake hape, sinyal lemas, pulsa terbatas. Mau ke warnet terus, dompet aja isinya mulai kurus. Alhasil, posting jarang-jarang, sekali sebulan aja udah lumayan. Untung aja password blognya belum lupa.
Alhamdulillah sekarang sudah penempatan sementara. Status udah CCPNS, kalo dibilang pengangguran, sekarang udah bisa ngeles. Meski gak ada kerjaan, sudah nambah kenalan orang kantoran. Seragam belum dapat, tapi kalau mau duduk sudah ada tempat. Meski gaji masih balum ada, ingat huruf 'c' masih ada dua. Semua harus disyukuri, karena kalau mengeluh cuma nambah penyakit hati.
Sabar aja, tinggal tunggu waktu pengangkatannya. Nanti pas jadi pegawai, angka di slip gaji bikin hati santai. Asal gak banyak hura-hura, mending investasi emas atau bikin usaha. Yang penting jangan korupsi meski cuma satu sen, seperti kata pak dirjen.