Cari Blog Ini

Minggu, 12 Desember 2010

'Indonesia' memilih....

Tadi sore kebetulan saya mendenggar sayup-sayup suara nyanyian dari televisi temen sebelah kamar saya. Entah acara apa, sepertinya semacam audisi nyanyi gitu, soalnya ada kedengaran komentar juri. Sempet saya pikir, apa manfaatnya acara begituan ya? maka sekarang saya jadiin bahan buat blogging. 

Oke, kali ini saya cuma ingin mengomentari fenomena yang udah beberapa tahun ini booming di Indonesia. Talent show. Masih ingat Indonesia Idol di RCTI? AFI di Indosiar? Lalu ada juga audisi pelawak TPI alias API dan Kontes (atau konser ya?) Dangdut TPI alias KDI? Sekarang malah makin banyak lagi. Indonesia Got Talent, Indonesia mencari Bakat, Indonesia Voice (kayak kantor berita aja, Voice of America). Acara tv yang membangkitkan semangat para pemuda-pemudi Indonesia untuk menjadi bintang dalam sekejap. Sebut saja bintang karbitan (saya nggak perlu jelasin ken,kenapa pakai istilah karbitan. Kalau Anda nggak tau, ketauan pas jaman kecil dulu nggak pernah ngarbit buah-buahan)Tinggal ikut seleksi/audisi, yang lolos adalah yang beruntung menjadi bintang. Intinya sih begitu. Gak perlu susah-susah bikin album sendiri, udah ada yang bikinin. Tentu ada perjuangan juga biar bisa lolos, juga faktor luck dan memang bakat tentunya, kalau nggak ingin ditampilkan sebagai 'peserta seleksi zona X yang paling parah dikomentarin juri'. Masih ingat jaman SMa dulu, beberapa 'vokalis' di SMA saya pun ikut mencoba peruntungan mereka dalam mengikuti audisi dan alhamdulillah gak lolos.

Lho kok malah alhamdullillah sih? Nggak suka liat temen sukses ya? atau iri karena kamu nggak bisa nyanyi? Begitu pikir Anda mungkin. Emang saya nggak bisa nyanyi, tapi saya nggak iri tuh :p Dan saya juga senang kalau ada temen yang sukses, tapi bukan dalam hal ini. 

Gimana pendapat Anda mengenai acara-acara sepertri itu? Seru? Iya. Heboh? Iya. Manfaat? mmmm, sedang dipikirin. Bentar ya.

(satu jam kemudian)

belum ketemu, bentar lagi coba..

(satu jam setelah satu jam kemudian)

masih belum ketemu, injury time lagi dong...

Udah, gak usah dipikir lama-lama. Such a wasting of time.

Jujur saja, acara kayak gitu tuh menurut saya nggak manfaat banget. Pertama, udah menanamkan mindset sekses bisa juga instant kepada generasi muda. saya nggak mau komentar banyak-banyak tentang ini, Anda pasti udah bisa nangkep maksudnya. Udah banyak dibahas kok. Kedua, membuang waktu, tenaga, uang, pikiran, segala macem deh, dengan percuma. Iya kalau lolos, lha kalau nggak? Malah rugi berganda. saya nggak mau (atau lebih tepatnya lagi nggak minat) mengaitkannya dengan ajaran agama (lagi gak mood aja) soalnya dipikir hanya dengan nalar pun, tanpa buka-buka ayat Al-Qur'an atau hadits  udah bisa dipahami nih (aslinya emang lagi males). 

yang ketiga, yang paling pengen saya soroti (soalnya sebenarnya hanya ini yang asli saya pikirin tadi) adalah kegiatan seperti itu samasekali nggak memberi nilai tambah bagi masyarakat. Betul nggak? Secara nggak sadar, masyarakat dibodohi dengan kata-kata 'kirim dukungan sebanyak-banyaknya kepada pilihan anda agar dia tidak tereleminasi'. Dan dikirimlah SMS berformat (judul acara)(spasi)(nama yang didukung) kirim ke nomer pemium sekian sekian sekian sekian (biasanya empat digit kan ya?). Dan untuk tiap SMA yang dikirim, sekian rupiah pulsa Anda terbuang begitu saja. nah lho, malah diporotin ama yang punya acara, dan kebanyakan masyarakat nggak sadar. Gendheng, begitu hebatnya media menghipnotis masyarakat kita. Padahal apa yang didapat masyarakat? NOL BESAR TAUUUUUUUUUUU. masyarakat nggak dapat apa-apa. Apa acara gitu-gituan tuh meningkatkan perekonomian? Nggak. Apakah acara gitu-gituan meningkatkan kecerdasan bangsa, menambah wawasan, membawa perubahan, memberi angin segar pada masyarakat yang makin kering iman ini? NGGAK BLAS.

Kenapa ngak dibikin acara heboh macam itu yang melibatkan para desainer robot dari universitas-universitas di Indonesia misalnya, yang sudah sering menang di kejuaraan robot Internasional? (kebangetan kalau Anda nggak tau) Atau lomba karya ilmiah remaja gitu? Atau lomba kreatifitas berkarya mahasiswa dalam 'desain transportasi massal untuk mengurangi kemacetan' atau ' desain kota ideal untuk mengatasi banjir'. Kenapa nggak dibikin lomba mencari bakat dalam mengatasi problema bangsa ini dan menemukan solusinya? Kenapa hanya kontes-kontes nyanyi, hiburan dan termasuk kontes kecantikan yang dimegah-megahkan, padahal nggak ada manfaat bagi masyarakat luas? Apa karena masyarakat ini sudah begitu jenuh dan membutuhkan hiburan? Bisa jadi.

Coba Anda pikir lagi, benar-tidaknya pendapat saya tadi. Kalau Anda menemukan manfaat acara tadi bagi bangsa ini, coba hubungi saya. Persetan dengan acara-acara pembodohan umat tersebut. Persetan dengan produser-produsernya. Persetan dengan juri-juri (sok) galaknya. Semoga umat yang sudah bobrok ini ngagk makin parah bobroknya dan segera diberi pencerahan sama Allah biar gak terus-terusan digoblog-goblogin sama 'para penyesat umat', amiin. Wallahu'alam

Selasa, 07 Desember 2010

Syukurilah,,,

Pernah gak kita merasa iri dengan sesutau yang dimiliki teman kita, yang tidak kita punya? Hayo, ngaku aja, pasti pernah kan?

Asal nuduh aja nih orang, mungkin begitu pikir Anda.

Ya alhamdulillah deh kalau nggak pernah. Tapi kalau yang pernah? Hayooo,,,

Kadang kita menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang lumrah, dapat dimaklumi. Namanya juga manusia, pasti ada lah keinginan untuk memiliki hal yang lebih. Betul begitu?

Hey, hati-hati. Hal yang disepelekan seperti itu kadang justru bias jadi fatal. Bisa jadi dosa lho.

Lha kok bisa? Mungkin begitu pikir Anda.

Rasa iri bisa menghapuskan rasa syukur dalam diri kita. Bahaya lho itu, salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan merembet ke hal-hal lain, dan hati kita akan semakin penyakitan. Mau hati kita makin penyakitan? Mau iman kita makin terkikis? Nggak mau kan?

Oke, saya ada secuil kisah, hanya kisah pendek yang diilhami oleh kejadian sehari-hari. Semoga dapat menginspirasi kita dan semoga ada hikmah yang bisa diambil.

----------------------------------------------------

Sebut saja namanya Tina (entah kenapa saya membayangkan nama ini), seorang siswi di sebuah SMA di sebuah kota kecil nan permai di kaki bukit dekat gunung Arjuna (sepertinya saya tahu SMA itu). Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Nggak sampai mewah, tapi juga nggak sampai level kritis juga. Ayahnya karyawan perusahaan swasta, ibunya guru SMP. Hidupnya cukup lumayan lah kalau dibandingkan beberapa teman sekelasnya. hanya kalau dibandingkan dengan teman sebangkunya, Sasy (alasan saya pakai nama ini, mungkin karena terdengar lebih gaul), masih beda levelnya. Ayah Sasy pengusaha kelapa sawit di Sumatera, ibunya memiliki usaha catering yang cukup terkenal. Sedikit dapat dimaklumi kalau tampilan Sasy sedikit lebih 'wah' dibandingkan teman-temannya yang lain.

"Duh, bosen aku pakai HP ini", ujar Sasy pada suatu ketika, sembari meletakkan Nokia N86-nya di tas.

"Kenapa emangnya?", tanya Tina. "Kan masih baru tuh". Memang usia HP tersebut di tangan Sasy belum genap setahun.

"Gede sih. Gak enak bawanya. Aku pengen yang keypad QWERTY juga sebenernya", jawab Sasy.

"Blackberry?"

"Iya. Ntar kalau papa pulang aku minta dibeliin Gemini atau Onyx aja", Sasy senyum-senyum sendiri sambil membayangkan gadget tersebut, yang sebenarnya peruntukannya bukan untuk anak SMA melainkan kalangan pebisnis. Tina haya menanggapi dengan senyuman, sudah hafal kebiasaan sohibnya yang seperti Nobita itu. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Dalam hati ia membatin, andai aku seperti Sasy. Mau apa aja pasti diturutin. Tangannya meraba Sony Ericsson W900i di sakunya. Aku aja mau ganti HP gak dibolehin sama bapak, padahal udah berapa tahun ini, gumamnya lagi. Terbesit rasa iri dalam hatinya.

Kita skip sedikit ceritanya. Masa iya mau ikut membahas pelajaran fisika dan kimia dalam cerita. Nggak seru lah. Kita majukan kisahnya beberapa jam kemudian, saat para siswa SMA di kaki bukit mulai menuju gerbang sekolah dan bersiap meluncur ke rumah masing-masing.

Sasy dan Tina sama-sama menunggu penjemput mereka. Sasy, seperti biasa, dijemput mamanya yang bakal membawa Swift warna putih. Sementara Tina dijemput kakaknya, mbak Rini, dengan Mio merah. Entah kebetulan atau bagaimana, yang menjemput mereka berdua tiba hampir bebarengan. Dan Sasy, setelah ber-cipika-cipiki dengan sohibnya, langsung masuk ke mobil mamanya itu. Setelah Sasy berlalu bersama Swift mamanya, barulah Tina menaiki boncengan kakaknya. Mbak Rini menangkap arah yang dituju mata Tina, dan mulai menggodanya. “Bagus ya, Swift putih. Keren”, ujarnya memancing reaksi Tina. Tina hanya membalas dengan senyuman. Mbak Rini menambahi, “Pengen?” .

“Nggak lah. Mobil orang kaya”, jawab Tina. Dalam hati dia ngedumel, pertanyaan retoris ah, nggak usah ditanya juga semua orang pengen punya mobil kayak gitu Mbak.

Dan sepanjang perjalanan pulang mereka berdua hanya diam. Mata Tina melirik ke mobil-mobil yang melewati mereka di jalan.

Andai aku punya mobil, batinnya.

Tiba-tiba mendung yang sedari tadi sudah menggantung di langit melepaskan hujan gerimis yang makin lama makin sadis. Mbak Rini segera membelokkan motornya ke halte di pinggir jalan untuk bergabung dengan orang-orang lain yang sama-sama berteduh.

“Tin, berteduh dulu aja ya?! Mbak lupa nggak bawa mantel nih”, ujarnya.

“Yah, gimana sih Mbak ini, pelupa ah”, omel Tina.

“Ya maaf, khilaf. Tadi kamu SMS pas mbak baru aja pulang kerja. Jadi keburu deh, terus lupa bawa mantel”, kilah kakaknya.

“Pikun”, ujar Tina melet pada kakaknya.

“Untung-untung dijemput”, balas mbak Rini, masih bisa ngeles.

Dan merekapun berdiri menggigil setengah basah menunggu hujan reda. Harap maklum, hujannya berangin. Jadi tetap saja terkena cipratan air hujan dari arah samping. Tina masih juga melamun melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di hadapan mereka. Emang enak punya mobil. Kalau hujan gak kehujanan, panas gak kepanasan. Andai aku punya mobil.

Lamunannya buyar ketika matanya menadpati sesosok makhluk bersepeda yang basah kuyup melaju ke arah halte, sepertinya ingin ikut berteduh. Rupanya Danis, kawan sekelasnya. Ngapain nih si Danis hujan-hujan gini malah bersepeda, masak mau ikut lomba sepeda balap. Perasaan tujuhbelasan udah lewat deh, gumam Tina.

“Ngapain nih, ujan-ujan gini malah sepedaan toh?”, tanyanya saat Danis menepi.

“Yo pulang sekolah toh, mosok lagi lomba sepeda indah”, jawab Danis sambil memarkir sepedanya. Seragamnya basah kuyup, tapi tasnya aman dalam bungkusan plastik kresek besar.

“Kok nggak bawa motor Nis?”, tanyanya lagi.

“Motor bapak kan udah dijual, emang siapa yang bakal pakai buat ngojek. Yang ada ya tinggal ini, ya aku pakai aja ini”, jawab Danis sambil menepuk sadel sepedanya. Ekspresinya biasa saja.

Deg, seketika hati Tina merasa tertohok. Ia baru ingat bahwa ayah Danis sudah meninggal saat dia mereka masih kelas satu SMA. Ia ingat ketika itu, beberapa pengurus OSIS berkeliling ke kelas-kelas untuk mengumpulkan sumbangan sukarela dari teman-teman. “Untuk Danis, anak kelas X-2, ayahnya meninggal kemarin, kecelakaan”, kata mereka saat itu. Tina sendiri termasuk diantara yang mewakili kelasnya untuk takziyah ke rumah Danis. Ia ingat bagaimana keadaan rumah Danis. Almarhum ayahnya bekerja sebagai tukang ojek. Ibunya berjualan nasi pecel di depan rumah. Ia ingat warung nasi milik ibu Danis, yang akan segera menjadi tulang punggung ekonomi keluarga mereka. Ia teringat adik-adik Danis yang masih kecil, tiga orang jumlahnya. Tak terasa air matanya hampir menetes.

“Mending pakai sepeda, udah gratis, lumayan cepet, olahraga juga. Darpada jalan kaki, rumahku kan lumayan jauh juga. Kalau naik angkot, sayang uangnya. Mending uangnya buat beli pulsa, terus buat SMS kamu. Ya nggak Mbak Rin?”, goda Danis. Mbak Rini hanya tertawa.

Tina memaksakan tersenyum, sembari menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Hatinya tertohok, lagi. Ia mulai tersadar betapa dirinya kurang bersyukur. Ya Allah, betapa kurangnya rasa syukur hambaMu ini… yang masih menginginkan segala sesuatu yang tidak dimiliki dan lupa mensyukuri apa yang hamba miliki. Ampuni hamba Yaa Allah,,,

Tiba-tiba terdengar dering HP. Rupanya Hp milik Danis. Deg, hat-trick sudah. Hati Tina makin tertohok melihat HP yang baru dikeluarkan Danis dari sakunya. Hape esia ngoceh. Seharga 150 ribuan. Dan Danis tak pernah mengeluhkan HP miliknya tersebut meski tahu bahwa HP miliknya yang paling minim fitur dibanding teman-temannya.

“Wah, murid-muridku udah nungguin nih”, ujar Danis setelah membaca SMS yang masuk barusan.

“Emang kamu ngajar apaan Nis?”, tanya Tina penasaran.

“Anak-anak SMP di deket rumah, pada minta diajarin pelajaran buat UAN. Lumayanlah, buat nambah uang saku. Meski anak-anak bayarnya gak seberapa, tapi kan jumlahnya yang les di aku lumayan banyak, jadi ya lumayanlah. Ini hape aja beli dari gaji ngelesi mereka”, pamer Danis bangga.

Deg, quat-trick. Untuk keempat kalinya hati Tina tertohok. Dengan keadaan kayak gitu, Danis sudah bisa mencari tambahan uang sendiri. Masya Allah.

“Hebat kamu Nis”, pujinya. Kali ini dia benar-benar salut pada Danis.

“Biasa aja Tin. Ngajarin anak SMP kan nggak susah-susah amat”, jawab Danis merendah.

“Udah dulu ya, kasihan mereka nungguin”, seru Danis sambil meraih sepedanya.

“Eh, masih ujan Nis, ntar aja kan gak pa pa. mereka kan juga pasti ngerti”, cegah Tina.

“Duluan ya, tina, Mbak Rin. Assalamu’alaikum”, pamit Danis sembari berlalu menerobos hujan yang masih deras.

“Wa’alaikumusalam. Ati-ati Nis”, teriak Tina dan mbak Rini bebarengan. Lalu mereka berpandangan dan tersenyum. Dalam hati, mbak Rini membatalkan niatnya untuk menceramahi adiknya tentang pelajaran bersyukur. Dia yakin, adiknya sudah mendapat pelajaran berharga dari kawannya tadi.

Di kejauhan masih terlihat sosok Danis yang bersepeda menerobos hujan. Seragamnya basah kuyup.

-------------------------------------

Oke cut. Adegan berakhir. Layar panggung ditutup. Seperti membaca naskah cerpen atau drama di buku pelajaran bahasa Indonesia jaman SMA ya? Mohon dimaklumi, saya bukan cerpenis handal. Tapi memang titik fokusnya bukan pada gaya penulisan saya, bukan pada dramanya. Tapi pada maknanya (ngeles).

Oke, kita akan lihat sudut pandang Tina. Bukan Sasy, mamanya (yang episode ini nggak kebagian jatah dialog), atau mbak Rini. Tina aja dulu.

Coba kita ingat-ingat, berapa kali kita beradaa dalam posisi Tina?

Bukan, bukan dalam keadaan dibonceng naik Mio terus kehujanan dan berteduh di halte gara-gara nggak bawa mantel. Maksudnya, dalam posisi merasa iri dengan milik orang lain dan lupa akan yang sudah kita miliki. Contoh tadi baru membahas 1 jenis nikmat, yakni nikmat harta.

Bagaimana dengan nikmat-nikmat lainnya? Allah SWT berfirman :

" Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (Qs Ibrahim [14] 34; an Nahl [16] ayat 18)

Bagaimana dengan nikmat kesehatan, nikmat kepandaian, nikmat kesempurnaan fisik, dan terutama nikmat iman?

Sudahkah kita syukuri? Atau kita selalu lupa ?

Syukurilah kawan. Kata orang bijak, manusia lebih sering menginginkan apa yang tidak dimilikinya ketimbang mensyukuri apa yang telah dimilikinya, dan mereka baru akan tersadar ketika mereka telah kehilangan hal tersebut.

Hayo, masak kita baru sadar ketika nikmat tersebut diangkat dari kita.

Kata seorang ustadz (saya lupa siapa), dalam masalah harta, kita harus melihat ke bawah agar bisa bersyukur. Bukan melihat ke tanah, tapi melihat ke orang yang kurang dari kita dalam hal harta.

Bagi yan gpunya mobil, gak usah lah kepingin gonta-ganti mobil. Sudah ending punya mobil daripada yang cuma punya motor.

Yang punya motor, masih mending daripada kudu naek angkot.

Yang naek angkot, masih mending punya ongkos buat ngangkot daripada harus ‘mancal’ kemana-mana.

Yang naek sepeda pancal, masih mending daripada jalan kaki.

Yang jalan kaki, masih mending kakinya cukup kuat untuk jalan kemana-mana.

Dan seterusnya dan seterusnya.

Sebaliknya, jika kita melihat ke atas (bukan ke langit) dalam masalah harta, maka kita nggak akan pernah puas.

Sudah punya motor ingin punya mobil.

Sudah punya mobil ingin nambah mobil.

Mobil sudah banyak pengen helikopter.

Sudah punya helikopter malah pengen jet pribadi.

Kan makin edan kalau begitu jadinya.

Bukan berarti kita nggak boleh kaya, boleh saja asal dengan cara yang halal dan nggak mengurangi syukur kita, serta tidak menjadikan kita gila harta gila dunia lupa akhirat.

Bersyukur Kawan, karena Allah SWT telah berjanji dalam firmanNya :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Al Quran, Ibrahim, 14:7).

Maka bersyukurlah kawan, insya Allah dunia terasa lebih indah jika kita bersyukur :)

Rabu, 01 Desember 2010

one simple key to success

Tadi (21 feb. 2011) UAS mata kulliah pengembangan kepribadian. Jadi teringat dengan satu draft postingan yang belum sempet ku posting nih. Padahal udah dibikin sejak tanggal 1 desember 2010, tapi baru saya utak-atik (dan akhirnya diposting) tanggal 21 Februari 2011.

Pas itu sepulang kuliah, kuliah terakhir adalah 'kapita selekta pengembangan kepribadian'. Panjang amat namanya -,-a

Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, saya mikirin apa kata dosen tadi. Eh, beneran lho, saya jalan sambil mikirin beginian:

"Modal sukses itu apa sih?"

Uang banyak? Kejeniusan? Skill mumpuni? Relasi luas?

Berdasar pelajaran yang saya dapat dari dosen mata kuliah kepribadian, ada banyak hal. Mulai dari jujur, berintegritas, tanggung jawab, de el el bla bla bla. panjang pokoknya. Susah diinget-inget. Tapi kebetulan pas saya merenung pas jalan sepulang kuliah itu (sekali lagi, beneran, saya jalan sambil mikirin itu. Gak tau kenapa juga mikirin itu) sepertinya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik, dan itu bener-bener simpel. Untuk jadi orang sukses anda hanya butuh mental positif yang kuat. Itu saja. Simpel kan?

Yang bikin panjang ya ketika disuruh menjabarkan apa saja sikap positi fitu. Tapi nggak perlu ditulis di sini kan? Pasti udah pada bisa ngebayangin laah . . .

So, be positive, Guys . . . :)


Jumat, 19 November 2010

ketidaksempurnaan bukan batasan untuk berbuat lebih dari orang lain,,,

Coba lihat sebentar diri kita. Maaf, maksudnya tubuh kita. Sepasang mata, alhamdulillah msh bisa melihat cahaya matahari, birunya langit, hijaunya rerumputan dan sebagainya. Sepasang telinga lengkap dengan lubangnya, alhamdulillah masih bisa mendengarkan suara percakapan temen sebelah yg lagi ngerumpi, musik favorit yg dinyanyikan artis beken dan sebagainya. 1 hidung dengan 2 lubangnya, alhamdulillah masih bisa menghirup berbagai aroma mulai dari parfum seharga sekian rupiah, aroma durian yg menggoda perut sampai kecutnya bau badan sendiri. Sepaket tangan kiri dan kanan lengkap dengan 10 jari yg masih bisa dipake ngetik lincah di keypad qwerty BB kalian. Sepasang kaki yg msh bisa utk jalan2 di mall. Lalu apa lagi??masih ada otak yg masih mampu mengatur kompleksitas arus informasi di sekitar kita, lalu ada jantung yg masih mampu memompa darah ke seluruh tubuh selama bertahun2 sejak kita lahir sampe segede gini, juga ada sepasang paru2 yg msh bisa memisahkan oksigen dengan unsur lain di udara, terus masih ada sistem pencernaan yg msh lancar mencerna berbagai jenis makanan yg kita makan mulai dari yg beli di warteg sampai di resto seafood, tambah lagi tulang2 yg masih bisa menjaga tegepnya tubuh ini,,,stop dulu ah, kalo mau ditulis terus2an nggak akan ada habisnya ntar. Karena memang nikmat Allah tidak terbatas dan kita nggak akan bisa menghitungnya. Gak percaya? Mau coba ngitung sendiri ?

Allah SWT berfirman : " Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (Qs Ibrahim [14] 34; an Nahl [16] ayat 18).

Kalo sudah ada ayatnya gini,percaya kan?

Eh, tunggu. Mungkin sejenak pembaca berpikir, kan gak semua mendapatkan nikmat berupa kelengkapan anggota tubuh?

Maka bersyukurlah kita yg diberi kelengkapan anggota tubuh oleh Allah SWT. Karena dgn itu kita bisa melakukan apa saja yg kita mau tanpa ada keterbatasan fisik. bandingakn dengan (maaf) saudara2 kita yg memiliki keterbatasan fisik. Kebutaan misalnya. mana bisa lihat film Harry Potter terbaru yg tayang mulai hari ini. ato tuna rungu, mana bsa mendengan suara genit Cinta Laura lewat i-pod. atau org2 yg memiliki kekurangan anggota tubuh yg tidak lengkap. ah,anda bisa membayangkan sendiri lah, pasti semua sudah pernah bertemu dengan saudara2 kita yg memiliki keterbatasan seperti itu (saya gak tega mau kasih contoh).

Coba bayangkan sejenak, bayangkan saja ya. Semoga tidak terjadi pada diri kita. Bayangkan anda mengalami suatu kecelakaan yg berakibat diamputasinya salah satu anggota gerak anda, tangan kah, atau kaki. (sekali lagi, coba bayangkan saja, naudzubillah, semoga Allah melindungi kita). Akankah kita masih bisa melakukan segala sesuatu dengan ceria seperti biasanya? Ataukah kita hanya akan bermalas2an dalam mengerjakan sesuatu? Oke, (membayangkan) mengalami hal seperti itu pasti akan menimbulkan syok dan tekanan psikologis, terutama setelah kejadian. Sekarang anggaplah kejadian itu sudah bertahun2 yg lalu dan faktor trauma sudah menghilang berangsur-angsur. Apa kita akan tetap meratapi keterbatasan itu? ataukah kita akan tetap bersikap dan melakukan segala sesuatu senormal org dgn kondisi tubuh lengkap? Susah dibayangkan ya? Okelah, kita ambil contoh nyata saja ya. tenang, saya gak akan menganjurkan anda mengalami sendiri agar bisa menghayati ini kok.

Jadi begini,di dekat tempat tinggal saya sekarang(duh bahasanya,kayak udah puna rumah sendiri aja.deket kos2an maksudnya) ada seorang pria. Langsung saja,pria tersebut hanya memiliki satu tangan-tangan kiri saja. Maaf, saya samasekali tidak bermaksud merendahkan, memang begitulah adanya. dan pria tersebut (sepengetahuan saya) merupakan orang yang murah senyum dan tampak menikmati bagaimana adanya. Sering saat lewat depan rumah pria itu, terlihat melalui pintu rumahnya yang terbuka, pria itu bercengkrama dengan keluarganya, yag tampak tidak mempersoalkan keadaan pria itu. Tunggu sebentar kawan, mana istimewanya? Mungkin pembaca mulai bertanya-tanya ya, masa saya menulis sesuatu yang biasa-biasa saja. Sabar Pemirsa, ini baru mau saya ceritakan. Jadi begini, pria tersebut merupakan salah satu jama'ah di masjid dekat kos. Saya pernah cukup beruntung untuk berada persis di sebelah pria tersebut. Seusai sholat, sebagaimana kebiasaan di jama'ah umumnya, saya bersalam-salaman dengan orang di kiri-kanan saya. Dengan pria tersebut juga tentunya. Dan sedikit kaget saya, karena saya pikir pria ituakan mengulurkan tangan kirinya - yang masih utuh. Namun justru pria tersebut mengulurkan tangan kanannya yang -maaf- tidak sampai ke pergelangan panjangnya. Seolah kehilangan satu anggota badan merupakan hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan -dan memang begitulah seharusnya.

Poinnya adalah, bahwa bagaimanapun keadaan kita, jangan sampai itu membuat kita enggan menyambung silaturahim, dalam hal ini, berjabat tangan merupakan salah satu bagiannya. Membuat saya salut pada beliau. Memang hal ini terlihat biasa saja, namun menjadi tidak biasa jika kita bandingkan dengan orang yang tangannya masih utuh dua-duanya, tapi enggan bersalaman dengan saudaranya sesama muslim. Aneh kan? Entah, kadang saya juga heran. Kok ada ya, orang yang ogah bersalaman dengan sesama saudaranya, apalagi sampai memutuskan silaturahim. Bersalaman dengan sesama muslim adalah simbol persaudaraan, janganlah kita tinggalkan. Mengutip salah satu hadits,

Menurut satu riwayat, Rasulullah saw. bersabda, “Tiada dua muslim yang saling bertemu, lalu mereka saling berjabat tangan kecuali mereka akan diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Al-Adab (5211 dan 5212) bab tentang mushafahah)

Oke? Cukup kan contohnya?

masih ada lagi. Beberapa waktu kemudian, saya melihat pria tersebut. Sepertinya melakukan suatu kesibukan yang merupakan pekerjaanya, mungkin. Apa coba? Subhanallah, mengantarkan tabung elpiji kosong ke distributor. Menggunakan semacam troli kecil beroda dua yang biasa digunakan untuk mengantarkan galon. Ini saya kasih contoh gambarnya.

*semacam itulah troli yang digunakan. Foto bocah imut di atas hanya contoh, samasekali tidak terkait dengan kisah saya barusan.

Bayangkan, membawa troli dua roda berisi 8 tabung elpiji (kalo tidak salah sih 8) dengan tangan kiri. Terdengar biasa? tentu biasa bagi kita yang memiliki anggota badan lengkap. Tapi dengan tangan kanan yang tidak utuh? Meski tidak sampai luar biasa, itu masih cukup bisa dibilang tidak biasa, istimewa. ya nggak? Disini saya melihat suatu ironi. Pria tersebut dengan segala keterbatasannya tetap mau bekerja keras, meski tampak sepele. Sedangkan banyak pria-pria lain, dengan dua tangan yang sempurna, hanya bisa dudu-duduk menghisap rokok, ngobrol tak bermanfaat di teras rumah, syukur-syukur ada cewek lewat untuk digodain. Apa tidak malu kalau melihat pria pekerja tadi? Bukankah yang seperti itu bisa dibilang tidak mensyukuri nikmat Allah berupa lengkapnya anggota tubuh? Bukankah Allah sudah memberi dua tangan yang sempurna untuk bekerja mencari nikmat Allah di penjuru bumi ini? Masa kalah dengan orang lain yang memiliki kekurangan dibanding kita?

Mari kita introspeksi diri kita. Mungkin kadang kita sering lupa mensyukuri nikmat Allah, dengan hanya bermalas-malasan atau melakukan sesuatu yang tak berguna. mari, sekedar kisah di atas kita jadikan cerminan bagi diri kita untuk menjadi lebih baik, insya Allah bisa :)

Selasa, 09 November 2010

ada beberapa benda yang mungkin akan mengingatkan kita akan indahnya masa SMA,terutama di Kopasus(komando 3 ipa satu,maknyusss)..
mari kita coba ingat2 :

kursi:hal fundamental di kelas yg sering menjadi rebutan

meja:tempat mengkreasikan ekspresi seni dan taktik licik saat ulangan

pulpen:alat untuk silaturahmi dengan teman(nyilih)

papan tulis:sesuatu yg seharusnya menjadi 'center of attention' di kelas,syg sering kalah populer dengan benda2 lainnya

kapur tulis:peninggalan teknologi masa lalu yg masih digunakan oleh guru saat saat mengajar murid,ato murid saat mengerjai murid lainnya

jurnal absensi:properti utk silaturahmi dgn guru2 di ruang piket

pintu kelas:center of attention saat jam2 terakhir di kelas

dan...





jendela kelas:juara dalam hal mengalihkan perhatian siswa dari jam pelajaran yg tengah berlangsung.livetime television lgsg di kelas anda,menghadirkan panorama luar biasa yg tidak akan anda temukan di rumah.menghadirkan drama masa putih-abu2 yg sangat menyentuh.menampilkan keindahan alam dengan detil yg nyata...

*sya sgt merindukan masa2 SMA,jg tmn2 yg meramaikan hari2 sy pd masa2 itu.. :D

Rabu, 20 Oktober 2010

"...keberhasilan bukanlah hasil akhir suatu perjalanan, melainkan perjalanan itu sendiri..."

Ada sebuah kisah tentang sekelompok pelaut yang ingin menyeberangi samudera luas,
mengelilingi dunia dan kembali ke pelabuhan tempat mereka berangkat.
Mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk perjalanan itu.
Dan hari yang telah dinantikan pun tiba.Dan kapal itu pun berangkatlah.
Hari-hari telah berganti bulan mereka lalui, ratusan mil telah terlewati,
puluhan dermaga dan pelabuhan telah disinggahi, laut dan selat telah dilayari.
Tanpa terasa bertahun sudah mereka berlayar, mereka sudah berada di ujung
petualangan mereka. Tinggal 1 samudera terbesar yang perlu diseberangi untuk kembali
ke pelabuhan tempat mereka berangkat. Namun cuaca tidak begitu bersahabat bagi mereka.
Badai besar sedang terjadi dan jika mereka menunggu badai reda, mereka tidak akan
bisa kembali dalam waktu yang telah ditentukan. Sang kapten memberitahukan keadaan
yang mereka hadapi kepada semua awak kapal, dansemua setuju untuk terus menantang badai.
Naasnya, alam terlalu kuat untuk ditaklukkan dan seluruh awak kapal tersebut tenggelam bersama kapal mereka...



"Selamat datang di kapalku, selamat tinggal dermaga....

kita jelajahi samudera dan kelilingi dunia...

kita tangkap ikan-ikan dan bersenangan..

Aku tak menjanjikan langit biru tanpa mega..

atau angin sepoi tanpa badai..

atau laut tenang tanpa ombak..

Tapi kita 'kan terus berlayar..

meski mega memayungi, lewati ombak dan terus berlayar..

Aku tak ingin tenggelam dan kau pun begitu..

Maka kita perjuangkan kapal ini meski ke tengah samudra..

kita ditemani lumba-lumba dan camar,
yang tak kenal takut, melainkan terus maju..

Jangan khawatir, mentari kan terus bersinar..

meski badai menghadang..

Kita 'kan terus berlayar,
jelajahi samudra keliling dunia..

sampai ke dermaga kita, ah, mungkin sudah berubah..

pelabuhan besar yang menanti..

orang -orang yang menanti..

kisah penjelajah samudra, kisah kita semua!!

ataukah kapal ini 'kan usang dan tenggelam..

dan orang-orang menceritakan dongeng kapal tenggelam..

Tidak, aku tak ingin tenggelam..

dan kaupun juga..

maka kita 'kan terus berlayar, dan pulang..

dan dielu-elukan bagai seorang pemenang...."

"...keberhasilan bukanlah hasil akhir suatu perjalanan,
melainkan perjalanan itu sendiri..."

Selasa, 19 Oktober 2010

Komputer + internet + kuliah = Pergeseran Jam Tidur

saat ini jam di pojok kanan bawah komputer saya menunjukkan angka 22.49 dan entah angka berapa nanti saat saya benar2 beranjak tidur.habisnya gimana lagi,jam tidur biologis saya sepertinya sudah bener2 berubah.wajar dong,anak kuliah---sok sibuk,padahal gak samasekali.

padahal dulu jaman SMA, jam segini mah hampir pasti saya udah tidur, kecuali kalo pas belum tidur. maksudnya, normalnya saya dudah tidur. jam 9 gitu, udah ngantuk. habisnya dirumah kan sepi, dingin lagi-malang jes,malem2 ya pasti dingin laaah.

pas kuliah,ada peningkatan.maksudnya,jam tidur jadi lebih larut. jauh dari orang tua, tidur selarut apa juga gak ada yang bakal ingetin.biar besok kuliah jam 7 pagi, mau tidur jam 12 malem juga suka2 kita dong. coba kalo di rumah, paling gak diingetin lah. lek di kosan?sak karepmu.telat yo urusanmu dhewe.nikmatilah saat2 kebebasan itu kawan.

ada banyak alasan kenapa saat sudah ngekos jam tidur jadi berubah. tapi bagi saya, yang terutama adalah faktor teman sekosan.ralat,teman sekontrakan. kejadian ini terjadi terutama pada masa2 saya ngontrak rumah bersama 5 orang teman. jadi total ada 6 orang serumah. bayangkan, gimana bisa tidur cepet kalo temen di kamar bawah-persis di bawah kamar anda-nyalain musik keras2,pake speaker seharga beberapa ratus ribu,gak tau lagu apa,kebanyakan sih lagu luar,sementara lantai kamar anda terbuat dari bahan kayu. lagunya sih gak kedengeran, soalnya cuma bass-nya aja yang kerasa. dumm dumm dumm gitu deh.rasanya badan ikut bergetar -bukan bergoyang- seirama dengan musik. oke,ini serius, dalam artian yang sesungguhnya lho. tak lama kemudian, ada yang naik ke lantai 2, menyalakan lampu ruang tengah dan menyalakan televisi. karena yang nyalain adalah yang punya televisi,,,yah,mau gimana lagi. kuping jadi ikut -terpaksa- nonton tivi deh. kadang, yang membuat keadaan lebih parah, ada yang naik ke lantai 2, melompat ke 'teras' kontrakan sambil bawa gitar dan jreng...... bergitar ria persis di luar jendela kamar anda. bagus. full music nite

enak? kalo yg trbiasa begadang sih enak. lha kalo yang terbiasa tidur cepet macam anak rumahan -maksudnya saya sendiri, beneran, saya gak nuduh anda kok- ya gak enak lah

tapi,,mengingat pepatah jawa yang berbunyi 'witing tresno jalaran soko kulino, witing kulino jalaran soko kepekso, witing kepekso jalaran ora ono liyo' akhirnya kebiasaan itupun mendarah daging dalam diri saya. bahkan sampai koalisi kontrakan bubar pun, kebiasaan ini masih terus berlanjut. malah di kosan saya sekarang, normalnya, saya adalah yang tidur paling malam. biasanya sih jam 12 lewat, jam 1an gitulah. kalo dibandingin sama kebiasaan jam tidur waktu SMA mah lumayan kerasa bedanya. mundurin waktu tidur sekitar 3 jam,dan harus bangun di waktu yang relatif sama -paling enggak, kan sholat subuh dulu- lumayan nyiksa. dan siksaankarena kurang tidur pun berlanjut sampai ke kelas

disinilah susahnya kerasa. pas dosen enak2 nerangin, malah ngantuk gak ketulungan. untung kalo bisa tidur tanpa ketahuan. lha kalo ketahuan?? tergantung dosen sih. ada yang cuma suruh cuci muka, ada yang suruh nyanyi. hm,,,resiko emang.lagian siapa suruh tidur kemaleman? kapok,,rasakno iku....

udahan dulu ah,jam kompi udah nunjukin angka 23.09 nih

mau cepet2 tekan 'terbitkan entri' terus ganti tab ke facebook, pilih ninja saga.gak tau deh tidur jam berapa,,,,

Senin, 18 Oktober 2010

kita hidup setiap hari.tapi apa yang kita dapat setiap hari?

adakah nilai tambah yang kita dapat setiap harinya?ataukah 86400 detik setiap harinya kita habiskan secara sia-sia saja?

seperti sebuah lagu yang sempat meledak dengan liriknya yang simpel dan sesuai dengan kebanyakan kita?? "bangun tidur,,tidur lagi,,bangun lagi,,tidur lagi,,banguuuuuuuuuuuuuunnn,,tidur lagi..."

bagitukah?

oke,saya yakin banyak diantara kita yang setuju.ya kan?udah,gak usah pura2 enggak,saya juga gitu kok

tapi masak masih gitu2 aja sih?

kapan berubahnya dong??

ayolah,kita berubah yuk

bukankah ada suatu ucapan '”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”

nah lho,berarti kalo kita tetep gini2 aja tiap harinya,kita udah termasuk merugi.apalagi kalo lebih buruk, celakalah kita.naudzubillahi min dzaalik

dalam hal apa kalimat tersebut berlaku??

apa saja.semua hal dalam kehidupan

ayo kawan,saatnya berubah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

nah,tunggu apa lagi??AYO

Rabu, 13 Oktober 2010

blog? udah ada.koneksi internet? juga sudah.komputer?? jelaslah.nah ini nulis pake apa kalo gak di komputer(fyi:lha wong hp-q gak bisa buat gprs-an,apalagi blogging lewat hp).nah,tinggal kemauan aja nulis blog nya.entah kenapa,makin gede kok makin males nulis.mungkin karena tulisansaya jelek(nonsense,blogging kan gak pake nulis tangan).cuman males aja emang satu2nya kendala buat bikin blog.ckckckck,penyakit kok gak sembuh-sembuh.

dasarnya aku emang gak pernah nulis diary,soalnya di mindsetku tuh,nulis diary tuh ke-cewek2an.lha pas aku masih kecil,yg aku liat nulis diary mbak ku soalnya.mungkin lain cerita kalo masku yg nulis diary.tapi itu gak mungkin soalnya aku gak punya mas kandung.lha isi diary mbak ku ceritane mek 1st love e thok hayoo,,lhak melankolis gitu ta.eh,nge-blog sama nulis diary beda gak ya?konsepnya sama,tapi tetep beda.halah,mbuhlah.intinya di blog ini kan gak cuma nyeritain pengalaman sehari2(apalagi dengan bahasa ala diary 'dear diary,hari ini aku bla bla bla).gak gitu2 amat lah.pengenku sih nulis di blog tuh yg bisa kasih manfaat kalo dibaca(lha yg kutulis ini apa?nge-junk thok.cuih!)sek tala,sabar.ini kan dalam proses.masih amatir,masih belajar.pasti ada manfaatnya kok.percaya deh.paling nggak,buat ngebunuh waktu luang.daripada internetan cuma mbokep thok hayo??lhak gak mbois a gitu itu.makanya sekarang pengen jadi bloggre aktif.mohon dukungannya ya...

kalo hobi membaca sih tetep ada,terus jalan.cuma bahan bacaannya aja yg beda.jaman SD dulu baca buku ensiklopedia ttg binatang ato dinosaurus (lha dinosaurus lhak yo binatang tah?).aneh?gak juga.harap maklum,rumah saya(atau tepatnya,tempat tinggal saya)berada di daerah yang terisolasi secara geografis(baca:gak duwe tonggo)dan bersebelahan dengan sebuah sekolah.dan ada perpustakaannya.jadi ya sering pinjem buku ke situ.maklum,masa kecilku tuh,aku tergolong kuper.ntar deh,tak ceritain ttg masa kecilku,rumahku dan lain2nya(akhirnya dapat bahan).nah,jaman SMP bacaannya masih gak beda jauh,ditambah ttg lain2 yang ada di perpus SMP pokok e.lha lek SMA baru ada peningkatan.baca berita di koran,Angkasa,buku2 agama.yah gitu lah.jaman kuliah udah mulai jarang baca buku dalam arti sesungguhnya.lebih sering browsing sih.wikipedia ato situs2 berita.dan situs komik online.hahahahaha

nah,hobi membaca kayaknya kurang sip kalo gak dibarengi hobi menulis.konsumtif doang,gak produktif.sekarang makanya saya cobe ngimbangin gitu.eh,sebenarnya jaman SD tuh udah punya hobi nulis lhoh.nulis cerita fiktif,petualangan.biasalah,jaman SD kan imajinasi masih begitu liar.sekarang mah,,makin liar lagi.hehe.ntar suatu saat,pengen bikin cerita gitu lagi(naaah,dapat bahan lagi).SMp dulu pernah ikut jurnalistik.gak sepenuhnya 'menulis' sih.dalam artian,saya cuma nulis(harfiah)artikel,menyadur dari buku.copas doang.SMA malah gak ada kegiatan menulis yang berbobot(kecuali kalo tugas bahasa Indonesia masuk hitungan).maka sekarang saatnya menjadi penulis aktif.berkarya.oke??mohon dukungannya...

Sabtu, 09 Oktober 2010

oke

sekarang saatnya nge-blog lagi

diajak oleh seorang rekan,,dan juga sebenarnya udah lama terinspirasi oleh satu dan beberapa rekan lainnya

tapi kok rasanya muales banget

tau kenapa?apalagi kalo bukan gara2 situs jejaring sosial

facebook!

yah

fb-an bikin ketagihan

apalagi ada game online nya

hahaha

niatan membikin blog berkualitas dan menyalurkan hobi menulis pun terabaikan

tapi sekarang udah ada yg ajakin

sobat sendiri lagi

masak gak di respon

okelah

mantabkan niat

satukan tekad

saatnya nge-blog

bismillahirrohmaanirohiim...

Jumat, 26 Februari 2010

Syukur, sabar, & ikhlas
3 kata yang tampak mudah dikatakan, tapi belum tentu mudah dilakukan
sudahkah kita bersyukur atas segala nikmat dari Nya yg diberikan pada kita?
bisakah kita sabar menghadapi segala cobaan dari Nya?
mampukah kita ikhlas atas semua keputusan Nya?
kalau belum,ayo kita coba sama-sama
toh, emang gak mudah menjalankan semua itu
tapi kalo g dicoba,kapan kita bisa???