Cari Blog Ini

Jumat, 27 Mei 2011

Khotbah Jumat : Berbakti Pada Kedua Orangtua

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Setelah absen cukup lama, akhirnya saya bisa kembali online dan posting lagi tentunya.
Oke,langsung saja pada intinya.

Khotbah Jumat kali ini, menyebutkan 2 dari 15 hal yang merupakan 'indikator' pantas atau tidaknya suatu negeri ditimpa bencana. Jika tanda-tanda ini muncul dan sudah membudaya, maka bisa dibilang negeri tersebut masuk kategori layak ditimpa bencana.

Dalam khotbah ini, hanya diulas 2 hal saja, yakni :
- ketika seorang lelaki lebih patuh pada istrinya daripada ibunya, dan bahkan menyakiti hati ibunya
- ketika seseorang begitu loyal dan hormat pada teman-temannya, namun mendurhakai bapaknya

Intinya sih sama, durhaka ke orangtua, yan kayaknya sudah mulai ngetren di negeri kita tercinta. Liat aja, berapa banyak berita anak ngebunuh ortunya gara-gara masalah sepele doang?

Betapa pentingnya berbakti pada kedua orangtua dalam ajaran Islam, bahkan diriwayatkan bahwa Allah lebih ridho kepada seseorang yang berbakti kepada orangtuanya meski orang tersebut masih banyak dosa dan maksiat; dibandingkan dengan seorang ahli ibadah yang menyakiti hati orangtuanya. (ridho Alah diberikan dalam bentuk hidayah kepada si ahli maksiat nan bebakti pada orangtua, sehingga dia bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Dan tentu saja ini bukan alasan untuk tetap bermaksiat)

Yang dicontohkan, adalah kisah salah satu sahabat yang mengalami sakratul maut, namun tak kunjung bisa mengucap kalimat tauhid bahkan ketika ditalqin oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabat, apakah ibu dari orang tersebut masih hidup. Lalu sahabat mengiyakan, dan Rasulullah menitahkan kepada salah satu di antara sahabat untuk mengabarkan kepada sang ibu, bahwa Rasulullah memanggilnya;dan jika beliau berhalangan, maka Rasulullah lah yang akan mendatangi sang ibu. Maka seorang sahabat pun berangkat menjemput sang ibu dari pria yang tengah sakratul maut tersebut, dan sang ibu pun berkata bahwa sepantasnyalah dia yang mendatangi Rasulullah. Ketika tiba di tempat anaknya yang tengah mengalami kesulitan mengucap kalimat tauhid, maka sang ibu pun berkata pada Rasulullah bahwa si anak pernah menyakiti hatinya. Namun karena tak tega melihat penderitaan si anak, di hadapan Rasulullah, dia pun mengatakan bahwa dia sudah ridho pada anaknya. Dan si anak pun mampu mengikuti kalimat tauhid yang diucapkan ketika Rasulullah mentalqinnya.

Kisah lain, adalah ketika seorang sahabat meminta ijin pada Rasulullah untuk ikut pergi berperang. Lalu Rasulullah bertanya padanya, perihal apakah ibunya masih hidup. Dan sahaba tersebut mengiyakan. Maka Rasulullah pun menyuruhnya untuk kembali pada ibunya dan berbakti padanya.

Kisah lain, adalah ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah perihal siapakah yang paling berhak mendapat penghormatan dan penghargaannya. Rasulullah menjawab, "ibumu". Sahabat tersebut bertanya lagi, dan Rasulullah pun memberikan jwabana yang sama. Sahabat tersebut bertanya untuk kali ketiga, dan Rasulullah masih memberikan jawaban yang sama. Baru ketika sahabat tersebut bertanya kali keempat, Rasulullah menjawab "ayahmu".

Berbakti pada kedua orangtua merupakan kewajiban kita, bagaimanapun keadaan mereka, bahkan ketika orangtua kita adalah non muslim, kita tetap harus menyayangi dan berbakti pada mereka, meski hanya sebatas dalam perkara duniawi. Jika orangtua sudah meninggal, maa doakanlah mereka agar mendapat tempat yang mulia di sisi Allah dan lakukanlah amalan-amalan yang diniatkan pahalanya untuk mereka.

Para pembaca, kapan terakhir kali bertemu atau setidaknya menelepon kedua orangtua dan menanyakan kabar mereka? Kapan terakhir kali kita menyenangkan hati mereka? Kapan terakhir kali kita mendoakan mereka?
Mari kita lakukan, selagi masih ada kesempatan . . .

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Senin, 16 Mei 2011

Selamat Ulang Tahun!!!!!!!

Kalau ada di antara kita yang ulang tahun, biasanya, rekan-rekan memberi ucapan 'selamat ulang tahun', doa semoga panjang umur de el el, kadang diiringi permintaan traktiran, serta kadang, keusilan yang terlampau jahil dengan maksud agar yang ulang tahun merasa hari itu begitu meriah dan pantas dikenang.

kadang keusilannya di atas batas kewajaran. Mulai sebatas menyiram dengan air, menambahkan telur, bahkan kadang tepung juga. Hm, tinggal dikocok, terus digoreng, bisa jadi camilan tuh.
Tentu saja, bagi Anda-anda yang sudah berpikir dewasa, nggak patut lah kiranya merayakan ulang tahun kawan dengan cara-cara norak semacam itu (saya juga pernah melakukannya kok, tapi sekarang sudah nggak). Mubadzir, mending dibikin kue aja. Tepung, telor, air, tambah gula mentega de el el, terus dimakan bareng-bareng.

Eh, mulai ngelantur deh.

Oke, kembali ke topik. Sadar nggak sih, kalau sebenarnya orang yang berulang tahun tuh (sebenarnya, kita semua juga sih), bukan bertambah umurnya, melainkan berkurang umurnya. Kalaulah, misalnya dia dijatah hidup 60 tahun, kalau berulangtahun yang ke 17, maka jatah hidupnya tersisa 43 tahun lagi. Berkurangnya jatah hidup, tentu bukan sesuatu yang pantas dirayakan dengan hura-hura apalagi perbuatan yang mubadzir seperti tadi (lempa tepung+telur). Harusnya, kita prihatin, karena setiap detiknya, jatah hidup kita berkurang. Kita akan semakin dekat kepada yang namanya kematian.

Ah, postingannya nggak asik nih, masih muda kok bicara kematian, mungkin begitu protes Anda.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)

Toh faktanya, semua orang juga akan mengalami mati kan?

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. " (QS Al Ankabut, 29:57)

Dan justru itu, mumpung masih muda, sebaiknya kita sudah mempersiapkan perbekalan kita untuk nanti saat ajal menjemput. Bukan dengan persiapan menumpuk harta untuk ikut dipendam di makam seperti fir'aun Mesir dan Raja-raja China kuno, melainkan dengan mempersiapkan 3 bekal seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Jadi, apa salahnya memperbanyak mengingat kematian?

Kita Makin Dekat (hanya sebuah renungan)

Setiap satu nafas kita hirup, kita mendekat kepada Sang Pemberi Nafas sebanyak satu hembusan nafas. . .

Setiap jantung kita berdetak, maka kita akan mendekati Sang Pemberi Detak Jantung, sebanyak satu denyutan jantung. . .

Setiap kali mata kita berkedip, maka semakin dekatlah kita, kepada Sang Pemberi Kedipan Mata, sedekat satu kedipan mata. . .

Setiap detik yang kita lalui, setiap menit yang terlewati, setiap jam, setiap hari, setiap saat, akan selalu membawa kita makin dekat kepada Sang Pemberi Hidup.

Maka, ketika kita sadar bahwa kita akan kembali kepada-Nya,

akankah kita masih melewatkan sisa usia kita dengan kesia-siaan,
dengan masih memperbanyak perbuatan dosa,
dengan meremehkan ibadah-ibadah,
atau dengan sombongnya berkata "ah, tobat ntar kalau sudah tua" ?

Akankah kita melewatkan setiap kesempatan untuk memperbaiki diri,
untuk menambah amal ibadah kita,
untuk mempersiapkan hari di mana raga tak lagi sanggup menopang jiwa,
ketika nyawa akan dikembalikan kepada Sang Pemberi Kehidupan?

----------------------------------------------

Masing-masing dari kita akan kembali kepada-Nya, dengan perbekalan yang telah kita kumpulkan di dunia.

Perbekalan itu adalah : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang selalu mendoakan dirinya.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

*hanya sebuah renungan harian untuk kita renungkan sehari-hari

Minggu, 15 Mei 2011

Sepenggal Ilmu . . .

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Ceramah ini terdengar dari kosan saya, saat ada peringatan seorang ulama yang mendirikan madrasah di deket kosan. Saya nggak ngikutin adri awal, kebetulan baru sampai di kosan nih, ceramahnya udah dimulai. Jadi yang saya catat hanya sebagian.

-------------------------------------------------------

*Peringatan haul semacam ini adalah sebagai peringatan bagi kita, bahwa kita hidup di akhir zaman.
Dimana salah satu dari tanda-tanda hari akhir adalah dicabutnya ilmu hikmah. Dalam suatu hadits disebutkan,
"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hambaNya. Tetapi Allah Ta’ala menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim-ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alimpun, manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan." (Hadits riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi dan Ibn Majah)

*Ulama bukanlah suatu gelar yang diberikan oleh manusia, melainkan disebutkan dalam Al Quran dan As Sunnah.

Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu.(HR Ibnu Hibban dengan derajat yang shahih)

Ini berbeda dengan sebutan bikinan manusia, seperti Gus, Kyai, Pak Haji dan sebagainya.

* Ulama adalah orang yang paling mengerti, mengerti bahwa hanya Allah-lah yang harusnya ditaati dan ditakuti (murkanya).

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[oran yang berilmu]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28)

Taat dan takut, hanya pada Allah. Bukan pada para penguasa yang jauh dari nilai-nilai Islam, bukan pula pada penguasa yang mempunyai banyak uang (kekuatan ekonomi).

*Ketika suatu negeri mulai membenci para ulama, maka jangan harap negeri itu akan mendapat keberkahan dari Allah. Lalu bagaimana dengan negeri kita yang mulai ikut-ikutan 'memburu' para ulama dengan dalih 'memberantas terorisme dan ekstrimisme', ikut-ikutan perang salib ala barat? Kenapa pula yang diberantas bukan korupsi dan rekan-rekannya, bukan aliran sesat, bukan simpatisan zionis laknatullah (yang kemarin sempet-sempetnya mengikuti peringatan 'berdirinya' suatu negara penjajah yang bahkan legalitasnya tidak sah di mata dunia)?? Suatu PR besar bagi umat Islam di negeri ini.

*Satu lagi tanda-tanda kiamat, adalah ketika banyak dibangun pasar-pasar secara bermegah-megahan dan berdekatan. Sementara, masjid juga dibangun bermegah-megahan namun tidak ada yang memakmurkan. Itulah sebabnya para musuh Allah tidak takut dengan bbanyaknya masjid di seantero negeri. karena mereka tahu bahwa masjid-masjid tersebut sepi, tidak ada yang memakmurkan.
Mereka lebih takut dengan pembangunan madrasah-madrasah dan pondok-pondok, karena mereka tahu, di sanalah para pejuang Allah akan dididik dan ditempa.

-----------------------------------------------------------------

Saya lupa tadi ending ceramahnya dimana, jadi yang saya tulis hanyalah sejauh yang saya bisa ingat. yang jelas sih, tadiada pembacaan doa lagi, terus hadirin iinstruksikan untuk membentuk shaf-shaf untuk mempermudah panitia membagikan suguhan. Sepertinya sih, nasi kebuli lagi (biasanya sih begitu).

Mohon koreksi, atau tambahan dari para pembaca yang tahu lebih banyak daripada saya. . .

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sabtu, 14 Mei 2011

Mari Bermain Magnet

Entah darimana awalnya saya bisa teringat dengan pelajaran IPA jaman sekolah tentang magnet. Tepatnya, tentang pembuatan magnet.

Tak perlulah kiranya kita bahas apa itu magnet dan bla-bla-bla, terlalu membosankan nantinya. Tapi kalau memang Anda kangen dengan hal-hal tersebut, nanti saya tambahkan di akhir posting.

Pada bab Magnet, sub-bab membuat magnet, maka akan kita temukan 3 hal yang dapat mengubah besi, baja, atau logam biasa lainnya (tentunya yang memiliki sifat ferromagnetik) menjadi sebuah (atau sebatang) magnet. Cara-cara tersebut adalah :
- menggosok-gosokkan magnet pada logam tersebut secara searah dan terus-menerus
- induksi magnet (menempelkan magnet pada benda tersebut selama beberapa saat)
- elektromagnetis (melilitkan kawat logam yang dialiri listrik DC pada sebatang 'calon magnet' tersebut

Mengapa logam-logam tersebut tidak dapat bersifat magnet dengan sendirinya?
Alasan yang dituliskan dalam buku sains adalah, karena magnet elementer mereka tersusun secara acak, tidak memiliki arah yang sama. Sehingga mereka tidak dapat menimbulkan medan magnet yang cukup kuat (padahal, secara atomik, partikel dasar penyusun bahan tersebut memiliki suatu medan magnet intristik yang berasal dari putaran/rotasi dari partikel tersebut).

Ketika mengalami induksi, digosok dengan magnet, atau dililit oleh kumparan beraliran listrik, maka partikel-partikel elementer dalam 'calon magnet' tadi, akan terpaksa membentuk suatu pola yang lebih rapi. Dengan demikian, maka medan magnet yang ditimbulkan akan memiliki resultan yang lebih besar, dan lebih 'nendang'.
Ibarat sepasukan prajurit yang akan berperang, mereka semula berada dalam posisi acak, kemudian mendapat aba-aba untuk membentuk suatu barisan yang rapi, maka pasukan tersebut akan memiliki daya gentar yang lebih tinggi bagi lawan, dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat (para pemuda akan lebih tertarik bergabung dalam barisan prajurit, dan para gadis akan lebih tertarik untuk menjadi pendamping para prajurit tadi seusai perang).

Maka sebuah (atau sebatang) magnet pun tercipta dari besi/baja yang sebelumnya tidak mampu menarik logam lain.

------------------------------------------------------------

Prinsip yang berlaku pada magnet pun sebenarnya berlaku pada umat Islam sekarang ini. Kita ibarat sebatang besi, atau bahkan baja, yang mempunyai sebuah potensi untuk menjadi suatu magnet yang begitu kuat.

Sayangnya, magnet-magnet elementer dalam tubuh umat ini (para penganut agama Islam) sedang berada pada kondisi 'sikut sana sikut sini', masing-masing mau menang sendiri. Memiliki arah pandang sendiri.

Kalau sudah begitu, bagaimana bisa memiliki daya gentar yang kuat di hadapan para musuh? Bagaimana bisa memiliki daya tarik yang besar bagi umat sendiri?

Sepertinya umat ini perlu 'dimagnetisasi' lagi deh. Biar magnet-magnet elementernya semakin padu, semakin kompak, sehingga mampu menimbulkan suatu medan magnet yang lebih besar lagi dari sebelumnya.

Jadi, siapakah yang akan me-magnetisasi umat ini? Induksi boleh, menggosok dengan magnet lain juga boleh, elektromagnetis juga boleh.

------------------------------------------------------------

Seperti janji saya di awal postingan tadi, kalau Anda benar-benar ingin mengingat lagi pelajaran seputar magnet, akan saya tuliskan sebagian materi tentang magnet di bawah ini :

*Magnet = Suatu objek yang memiliki medan magnet, atau dengan kata lain, memiliki kemampuan untuk mendorong benda-benda ferromagnetik, serta menarik atau menolak magnet lain (definisi ini terlihat tidak menjelaskan sesuatu apapun, hanya seperti mengotak-atik kata-kata).

*Medan magnet = suatu medan gaya yang dihasilkan dengan :
- menggerakkan muatan listrik;
- dengan mencuptakan suatu fluks/medan listrik yang besarnya berubah-ubah setiap kali;
- atau tercipta oleh medan megnet intristik dari partikel dasar penyusun bahan tersebut, yang terkait oleh putaran/rotasi dari partikel tersebut.

*Magnet ada yang alami, dan ada yang buatan.
Kebanyakan yang ada saat ini adalah magnet buatan. Dibuat dari bahan ferromagnetik yang diberi perlakuan khusus

** saya rasa itu sudah cukup membuat Anda ingat dengan materi tentang magnet, kan? Atau lebih tepatnya, sudah cukup untuk membuat Anda merasa bahwa melupakannya lebih baik daripada harus mengingat kembali ? :D

Rabu, 11 Mei 2011

Jenis-jenis Orang Menurut Mulutnya (1)

Satu lagi persembahan iseng saya, menanggapi fakta kecil di sekeliling kita yang sering terlewatkan begitu saja, padahal jika diamati, sebenarnya cukup menarik juga.

Kali ini, saya mencoba mengklasifikasikan manusia berdasarkan 'mulutnya'. Bukan bentuk mulutnya, melainkan dari perkataannya. Pepatah bilang, yang keluar dari mulut teko adalah isi teko itu sendiri. Yang keluar dari mulut seseorang, adalah suatu gambaran, kurang lebihnya, bagaimanakah orang tresebut di dalam hati dan pikirannya.

Let's check it out . . .

Si sempurna : adalah orang paling sempurna di dunia ini, semua orang tak ada yang bisa menandinginya, jadi mereka selalu saja punya kekurangan, cacat, minor, dibandingkan dari dirinya. Anda beruntung jika menemukan seseorang yang seperti ini, karena siapa tahu Anda bisa belajar untuk menjadi sempurna seperti dia.

Si mandiri : adalah orang yang bisa melakukan apapun sendirian. Teman? Mereka tidak butuh, karena mereka memiliki skill komplit untuk melakukan segalanya tanpa bantuan orang lain. Orang seperti ini sangat diharapkan oleh masyarakat, karena paling tidak, ketika meninggal nanti, dia tidak akan merepotkan warga sekitar untuk mengurus jenasahnya; dia bisa memandikan jenasahnya sendiri, berjalan sendiri ke kuburan, dan mengubur dirinya sendiri. Luar biasa bukan?

Si pandai : adalah seseorang yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Tak ada ilmu yang dia tidak tahu, karena dia pandai. Karena itulah orang lain selalu menjadi 'bodoh', 'tolol', 'goblog', 'bego', dan semacamnya jika berhadapan dengan orang seperti ini. Sisi positifnya, anda akan bisa menyerap banyak ilmu dari orang semacam ini.

Si manusia paling manusia : adalah manusia yang berasal dari ras manusia paling murni. Manusia-manusia lain, jika dibandingkan dengan dirinya hanya setara dengan 'jaran', 'jangkrek', 'asu', 'babi', 'bedhes' jika dibandingkan dengan manusia jenis ini. Spesies manusia yang murni ini sangat takut terkontaminasi oleh gen 'bintatang' yang ada pada tubuh manusia lainnya.

Si juara : adalah manusia yang terlahir untuk selalu mampu mengalahkan orang-orang lainnya. Siapapun lawannya, si hebat ini tak akan kalah. Kalaupun dia mengalami kekalahan, itu bukan karena dia kalah dalam kemampuan, melainkan karena kondisi lebih menguntungkan lawannya. Misalnya, wasit yang terlalu memihak, perlengkapan yang tidak seimbang, keberuntungan sedang ada pada lawan, mengalami cedera, atau sedang sedikit sial saja. Setidaknya, jika tak bisa menang dalam suatu hal, dia selalu menang dalam mencari alasan untuk memaklumi kekalahannya.

Si pembela kebenaran : adalah orang yang selalu benar. Apapun yang dibicarakannya, adalah benar. Apapun pendapatnya, adalah benar. Apapun jawaban yang dilontarkannya dalam menanggapi suatu pertanyaan, adalah selalu benar. Jika orang-orang mengangapnya salah, mereka itulah yang salah, karena dia selalu benar. Intinya, kebenarnan berpihak padanya, yang tidak sependapat dengan dia=salah. Bahkan ketika seluruh dunia tidak ada yang membenarkannya, dia tetaplah benar . . . dalam dunianya sendiri.

Si ahli matematika : adalah orang yang selalu bisa mengkonversikan segala sesuatu menjadi bilangan-bilangan matematis. Misalnya, masalah perhitungan utang piutang dalam bentuk rupiah maupun utang jasa, masalah untung rugi dalam pertemanan, sampai sampai mampu menghitung perkiraan nilai amal ibadah yang telah dilakukannya. Dan semoga saja dia ingat untuk menghitung tentang bobot dosanya juga. . .

(*bersambung . . . . tunggu 'Jenis-jenis Orang Menurut Mulutnya' edisi berikutnya)

*terimakasih pada rekan-rekan yang telah menjadi sumber inspirasi dalam penulisan artikel ini :D

Being Bad Is Really Bad . . .

Sadarkah kita, ketika kita berbuat sesuatu yang buruk, sebenarnya kita melakukan keburukan tidak hanya bagi kita sendiri, tapi juga pada orang-orang yang selalu berbuat baik kepada kita?

Sadarkah kita, ketika berbuat sesuatu yang memalukan, sebenarnya kita mempermalukan tidak hanya diri kita sendiri, namun juga orang-orang yang membanggakan kita?

Sadarkah kita, ketika kita berbuat jahat, sebenarnya kita menjahati tidak hanya diri kita sendiri, tapi juga orang-orang yang menyayangi kita?

Sadarkah kita, ketika kita melakukan suatu pengkhianatan, sebenarnya kita mengkhianati tidak hanya diri kita sendiri, tapi juga orang-orang yang mempercayai kita?

Sadarkah kita, ketika kita melakukan suatu kebohongan, sebenarnya kita menipu tidak hanya diri kita sendiri, tapi juga orang-orang yang menaruh harapan pada kita?

Selasa, 10 Mei 2011

Apapun Yang Mereka Katakan . . .

Apapun yang mereka katakan tentangmu, biarlah. Itu hanya penilaian mereka. Biarkan saja mereka menilai, itu hak mereka.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, santailah. Mereka tidak mengetahui sesuatu tentang dirimu lebih baik daripada dirimu sendiri.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, tenanglah. Dengarkan saja, tapi jangan langsung kau cerna. Mungkin ada yang benar, tapi ada juga yang mengada-ada.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, jangan marah. Mungkin mereka hanya ingin kau berubah jadi lebih baik dengan mengungkapkan sisi burukmu.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, jangan lengah. Jangan menjadi sombong karena mereka menyebutkan kebaikanmu.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, jangan resah. Itu tak akan merubah dirimu sendiri. Dirimu adalah dirimu, tidak tergantung pada yang mereka katakan.

Apapun yang mereka katakan tentangmu, teguhkanlah dirimu, bahwa selama kau melakukan sesuatu yang benar, apapun yang orang katakan, kau tidak akan mengalah dan menghindari kebenaran hanya karena apa yang mereka katakan.

Percayalah . . .

Senin, 09 Mei 2011

I'm Just A Weakling; So What?

" . . . When you face some sort of troubles, most people that you called 'friends' might say: "You are not alone. If you have troubles, we will be there for you. Together we are strong. " or something like that. Right?

'Friend' is what you call someone who likes to be someone else's minion. Right?

Don't you think that they say that just to cover their incompetence? Isn't that just a means to cheer oneself for being weak and hopeless?
. . . " (Joukyuu, in Aiki)

Well, maybe yes. They said that just to compensate their weakness, just another way to say that when lonely, you all are hopeless.

So what? So what's the problem if you are really weak when you are alone? What's wrong in being weakling?

Humans are basically weak, so that's why they make a social life with another human. Almost every time we cooperate with our friend to achieve something that we couldn't reach alone. Even more, sometimes we "use" them in such a way to achieve our own goal.

There's no need to hide this fact. It's a truth. It's a reality.
If humans were stronger and more independent, maybe there won't be any civilization exist. Humans might be lived like a solitary predator, and made a group of couple for mating only.
Allah SWT created us like this, with all this limitation, so that we could aware how weak we are. And when we aware of this, we will always remember how strong Allah SWT is.

Allahu Akbar . . .

Cuek? Nggak Banget Laaah . . .

* Suatu ketika, si Gundul sedang galau karena ada seorang temannya yang murtad dan menyatakan diri sebagai atheis. Dia pun meminta pendapat pada seorang temannya yang lain. Dan apa jawabannya ? "Kalau aku sih berteman nggak peduli dengan keagamaan seseorang. Terserah aja dia mau ngapain". Nice answer :/

* Pada suatu acara pengumpulan dana "one man one dollar to save Palestine" :
"Ngapain ikutan nyumbang yang jauh di sana, toh bukan urusan kita. Urusan masyarakat yang deket-deket ama kita aja nggak kelar-kelar" .
(padahal yang ngomong ini muslim juga, dan dia juga nggak ikut membantu urusan yang deket-deket ama dirinya sendiri)

* Sebuah percakapan di dunia maya :
A : aku lagi baca-baca tentang dialog antara muslim dengan agama lain
B : nggak ngurusin itu lah. Lagi males

Well, seringkali di kehidupan nyata kita mendengar atau mengalami percakapan serupa itu. Orang-orang yang di KTP mereka tertulis "Islam" pada kolom agama, namun tidak peduli dengan dunia Islam. Jangankan dunia Islam secara luas, masalah umat di sekitarnya pun, dia tidak peduli.

Kalo umatnya cuek begini, mana mungkin dunia Islam akan berkembang. Siapa yang akan mengembangkan Islam kalau orang-orang islamnya saja pada cuek dan tidak peduli pada agamanya?

Wahai Muslimin-Muslimat, kalau bukan kita, siapa lagi?

*syukron buat teman-teman yang telah mengingatkan akan bahayanya kecuekan umat Islam terhadap Islam itu sendiri. Jazakallahu khoiron katsiiron

Minggu, 08 Mei 2011

M in M; Masjid in A Mall

Kalau Anda berusaha menggabungkan kata 'Jakarta' dengan kata 'wisata', maka yang akan Anda dapatkan adalah kata 'belanja'.

Yup, jakarta adalah surganya belanja bagi orang-orang yang punya cukup duit dan waktu luang untuk berbelanja. Oke, kali ini kita nggak membahas sisi jahat ibukota, lihat sedikit lah kesenangan di sana.

Jujur saja, saya bukan seorang shopaholic. Selain saya belum punya sumber penghasilan sendiri, mungkin juga karena mall atau pusat perbelanjaan memang bukan habitat maen saya (saya lebih punya kecenderungan untuk menyendiri jika ingin refreshing, tapi itu akan saya tulis lain kali saja).

Kalaupun ya cuma kalau ada butuhnya saja, bukan karena ingin menghabiskan uang dan waktu (for me, this kinda activity is just a wasting of time and money).

Kalau kata pak Ustadz, maen-maen ke mall tuh lebih banyak mudharatnya (kecuali kalau benar-benar butuh, dan kalau emang lagi butuh mah namanya bukan 'main', tapi emang belanja!). Merupakan salah satu bentuk pemborosan dan perbuatan sia-sia, bermewah-mewahan, membuat kita lupa akan orang yang nasibnya lebih merana dari kita, dan lain lain.
Salah satunya juga, kalau maen ke mall membuat jadwal sholat kita jadi berantakan. Jadi lupa waktu gitu deh kalau liat barang bagus (padahal belum tentu beli).

Saya setuju sih, sebagian. tapi kalau masalah sholat, sebenarnya ya kembali ke orangnya masing-masing. Dimanapun tempatnya, kalau tuh orang emang ingat sholat, ya nggak masalah.

Bicara soal sholat dan mall, mungkin semua mall sudah menyediakan tempat sholat (nggak tahu pastinya sih, tapi masak ada mall yang nggak ada tempat sholatnya? kalau yang pernah saya samperin sih pada ada tempat sholatnya tuh. Mungkin di antara pembaca yang lebih sering dan lebih banyak menjelajahi mall bisa kasih tahu saya?). Tapiiiiii, seringkali tempat sholat yang disediakan samasekali nggak representatif.

Biasanya, tempatnya tuh di kecil, pojokan pula, jadi susah nyarinya. Kalau nggak di deket toilet, ya di deket parkiran. Dasar, kurang ajar banget tuh developernya, nggak ngehargain rumah Allah.
Oke lah, cukup untuk sekedar sholat kalau bergerombol-gerombol kecil. Tapi kalau pas waktu maghrib, kan mepet tuh, biasanya pada banyak yang antri tempat wudhlu, juga tempat sholatnya.
Biasanya, ada yang sholat sendiri-sendiri dan barisannya nggak rapih. Jadi yang mau berjamaah jadi agak kesulitan. Terus kalau ada yang habis jamaah, yang nunggu juga udah banyak. Belum lagi kalau ada yang masbuk, jadi yang udah sholat agak susah kalau mau keluar, sementara di luar masih banyak yang antri dan waktu sholat pun sudah mepet. Ribet kan?

Suatu ketika kebetulan saya sempat mengunjungi Mall Kalibata. Bukan atas niatan sendiri, melainkan karena ada saudara jauh saya (sekaligus teman SMP-SMA), beserta pacarnya yang juga teman SMA saya, yang jadi 'boss', maka akan sia-sia jika penawaran tersebut ditolak.

Singkat cerita, traktiran telah usai dan kami berpisah jalan. Karena sudah masuk waktu sholat, maka saya dan teman saya yang satu lagi, mencari tempat sholat terlebih dahulu. Muter-muter kesana kemari, akhirnya dapat juga, dan bagusnya, tempatnya sangat representatif.

Berada di lantai tiga, nggak ada lapak yang berjualan, dan memang di lantai tersebut khusus untuk tempat sholat (mungkin juga karena terlalu sepi dan gak ada lapak aktif di situ, who knows). Bukan sekedar mushola, tapi masjid lhoh.

Keren lah. Tempat wudhlunya juga bagus, ada tempat duduknya :D

(Masjid Istiqlal aja gak begini loh :p )

Oh iya, kalau nggak salah, di Blok M (kalau nggak salah sih), tempat sholatnya juga bagus dan luas.

Yah, semoga aja para developer mall-mall lain juga tergerak untuk membuat tempat sholat yang representatif bagi para konsumennya. Kalau tempat sholatnya meyakinkan gini kan, yang sholat juga semangat nyamperinnya (semoga :D )

* Orang ke mall kok malah yang dibahas tempat sholatnya , mungkin begitu pikir Anda. So what :p

What Kinda Person Are You?

Being perfect is impossible; nobody's perfect.

Being immaculate isn't our role; that's Prophets' role.

Being the best among all is impractical; everybody has their own definition of the word 'best'.

Being the best as you can do is really hard; you're not always in your peak performance.

Being good person is not easy; some people really hate good guys.

Being moderate is relatively easy;but no one will treat an average person in a special way.

So, if all that good things aren't easy, do we have to be bad?

Well, just try to do good things whenever you can. And just ignore doing bad things whenever you have the chance to do all those nasty-dirty things.

Rabu, 04 Mei 2011

A Glimmer of Light from The Past

Saat melihat bintang di langit malam, sadarkah kita bahwa cahayanya yang kita lihat adalah sinarnya jutaan, atau bahkan milyaran tahun lalu?
Mari kita sedikit berbintang-bintang. . .eh, berbincang-bincang tentang bintang maksudnya.
Bintang, adalah benda langit yang memiliki cahayanya sendiri; berasal dari reaksi fusi nuklir pada inti mereka, yang memancarkan energi dalam bentuk cahaya dan panas yang luar biasa sehingga . . . . (oke, saya hentikan di sini, kita tidak berada dalam kelas sains)
Semua pasti tahu bahwa matahari itu adalah sebuah bintang, betul? Dan bintang-bintang itu sebenarnya samasekali nggak kecil, bahkan banyak di antara mereka yang jauh lebih besar daripada matahari kita, betul? Mereka hanya tampak kecil karena letaknya yang SANGAT JAUH dari kita. Matahari saja berjarak sekitar 150 juta kilometer dari bumi (entah bagaimana para ilmuan menghitungnya, saya bahkan takut dibohongi oleh mereka). Bintang lain yang terdekat, Alpha Centauri, berjarak 40.113.497.203.742,6 km (entah bagaimana mengucapkannya, dan entah bagaimana mereka menghitungnya).
Karena susah menuliskan dan mengucapkannya, maka demi kesederhanaan, para ilmuan membuat suatu istilah baru untuk menyederhanakan penyebutan jarak suatu objek luar angaksa. Tahun cahaya, atau lightyear. Yakni, jarak yang setara dengan yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun (atau sekitar 31.557.600 detik). Sementara kecepatan cahaya di luar angkasa sekitar 299 792 458 m/sekon. Jadi dalam setahun, jarak yang dapat ditempuhnya adalah 9.460.730.472.580,8 km. Itulah yang disebut tahun cahaya.
Maka, jarak bintang Alpha Centauri yang 40.113.497.203.742,6 km tadi, jika dibagi dengan tahun cahaya yang sebesar 9.460.730.472.580,8 kmtadi, menjadi 4.24 tahun cahaya.
Bingung? Percayalah, saya juga bingung menuliskan semua ini. Anda masih lebih enak karena tinggal baca saja :)
Jadi, intinya adalah, cahaya dari Alpha Centauri tadi, membutuhkan waktu 4,24 tahun untuk sampai ke mata kita. Kalau Anda melihat cahayanya malam ini (jujur, saya juga nggak tahu yang mana sih si Alpha Centauri itu), itu sebenarnya adalah cahaya yang dipancarkannya 4,24 tahun lalu dan sudah berkelana sejauh 40.113.497.203.742,6 km hanya untuk sampai ke mata Anda. Dan cahaya yang dipancarkannya saat ini, baru akan mencapai mata Anda 4,24 tahun lagi (itu pun kalau Anda melihat. Kalau tidak, ah, kasihan sekali cahayanya). kalaupun misalnya Alpha Centauri tiba-tiba mati (lupakan dulu apakah dia akan menjadi bintang neutron atau raksasa merah atau supernova, bayangkan saja dia mati pett seperti lampu listrik yang dipadamkan) maka Anda baru akan menyadari hal ini 4,24 tahun sejak kejadian (memangnya siapa yang akan sadar bahwa satu titik cahaya di langit tiba-tiba menghilang).
Masih bingung? Ayo ambil contoh yang lebih dekat lagi. Matahari, berjarak sekitar 150 juta km dari kita (tolong jangan tanya lagi, saya juga nggak tahu bagaimana para ilmuan menghitungnya). Cahayanya, yang berkecepatan 299 792 458 m/sekon (ayolah, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah mutlak, cahaya siapapun juga akan berkecepatan segitu --> kata ilmuan) membutuhkan waktu 499 detik, atau 8 menit 19 sekon untuk sampai ke bumi. Atau, bisa dibilang jarak matahari ke bumi adalah 499 sekon cahaya.
Lalu bagaimana dengan bintang-bintang yang (kata ilmuan) berjarak milyaran tahun cahaya dari bumi? Ketika cahayanya sampai ke mata kita, apakah bintang itu masih ada?
Bayangkan juga jaraknya, milyaran tahun cahaya, berarti paling tidak, satu milyar (dengan 9 angka nol) dikali 9.460.730.472.580,8 km. Berapa jauh kah itu?
Sudah sudah, lupakan semua angka-angka tadi. Mari kita keluar sejenak, melihat cahaya dari masa lalu yang berseliweran di segala penjuru alam semesta ini, lalu renungkan sejenak. Sejenak saja . . .
Subhanallah . . . pernahkah kita membayangkan betapa luasnya alam semesta ini? Kita hanya setitik debu di antara alam semesta yang begitu luas ini. Lalu, apa lagi yang bisa kita sombongkan di hadapan Dzat Yang maha Agung yang telah menciptakan alam semesta ini dengan tanpa cacat? Masihkan kita enggan untuk menghamba kepada-Nya?

". . .Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS Fushshilat ayat 12)

Bacabacabaca

Suka membaca? Toh suka ataupun tidak, sekarang kita semua dalam keseharian juga harus membaca, mau gak mau.

Hobi ataupun nggak, Anda pasti sering membaca. Baca SMS, baca berita di koran maupu internet, baca status orang, baca pamflet/poster/baliho yang terlihat sepanjang perjalanan, baca plat nomer Jazz yang baru saja lewat, baca modul yang bakal keluar di ujian besok, baca apapun deh.

Kalo yang emang demen baca, biasanya punya 'genre' bacaan tersendiri.
Kalau saya sih (siapa juga yang nanyain, mungkin begitu pikir Anda) dulu pas SD suka bacaan seperti ensiklopedia (serius, gak bercanda). Biasanya tentang binatang-binatang (terutama dinosaurus, saya punya banyak koleksi buku bergambar dinosaurus, masih ada sampai sekarang) dan alam sekitar. Ya pokoknya materi IPA lah. Saya sering membaca buku IPA yang peruntukannya untuk usia sekolah jauh di atas saya, misalnya buku IPA milik kakak saya yang 3 tahun lebih tua, atau bahkan buku IPA untuk SMP dan SMA (ada perpustakaan di dekat rumah, akan saya ceritakan lain kali) tapi cuma yang bab klasifikasi tumbuhan dan hewan aja. Saya juga sering 'nitip' pinjem buku ensiklopedi koleksi perpustakaan SMP tempat ayah saya mengajar. Beranjak ke SMP, selera baca saya nggak terlalu berubah, dan saya termasuk menjadi pengunjung tetap perpustakaan (yes, i was a nerd, and still a nerd until now) khususnya buku-buku ensiklopedi kelas berat yang disimpan dalam lemari khusus bertuliskan 'Referensi'. Beranjak ke SMA, mulai ada variasi. Baca koran (terutama berita politik, internasional, dan sepakbola), bacaan seputar topik agama, sejarah, tokoh, militer, banyak lah pokoknya.

Selera baca yang nggak umum, mungkin begitu pikir Anda.
Tentu saya juga mengikuti selera umum, seperti novel dan komik, tapi kebanyakan ya cuma minjem, gak sampe beli sendiri kalau novel. Kalau komik, seumur-umur cuma pernah beli 2 kali deh kalo gak salah.

Kalau kebanyakan orang mungkin lebih suka komik, novel, teenlit, buku motivasi, buku pengembangan diri, buku tentang hobi atau biografi seorang tokoh idola.

Apapun bacaannya, gak ada salahnya sih, tiap orang memang punya selera yang beda-beda. Manfaatnya pun beda-beda.
Hanya saja, sebagian dari umat kita nggak sadar bahwa ada sebuah bahan bacaan yang nggak hanya asyik untuk dibaca, namun juga sangat bermanfaat, dunia akhirat deh.

Apa coba?

Tentu saja jawabannya adalah Al Quran.

Bisa diibaratkan, Al-Quran adalah buku panduan kehidupan kita (selain juga As Sunnah tentunya). Allah SWT berfirman “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha ayat 123)

Kalau Anda suka baca novel, yakin deh, baca Al Quran gak kalah menarik sama baca novel kok. Banyak kisah-kisah umat terdahulu. Banyak janji Allah yang diungkapkan dalam Al Quran, baik janji berupa ganjaran kepada umatnya yang taat, maupun janji adzab bagi umatnya yang kufur. Banyak ayat yang akan membuat kita tertunduk malu, takut, bahkan menangis (kalau membacanya serius dan menghayati). Allah SWT berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl ayat 89)

Kalau dipahami benar-benar, serta istiqomah membacanya (serta membaca terjemahnya, biar paham dan mengena. Syukur-syukur kalau bisa bahasa Arab) maka insya Allah hidup kita pun akan 'tertuntun' dengan sendirinya (berkat rahmat Allah SWT tentunya). Allah SWT berfirman “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Ma’idah ayat 15-16).

Tapi kan, saya juga punya kesibukan sendiri, dan gak setiap saat bisa membaca Al Quran, mungkin begitu kilah Anda. oke, mari kita berhitung. Jika sekian menit kita luangkan untuk membaca Al Quran, mungkin memang akan mengurangi sedikit waktu istirahat, atau waktu bersantai. Separah-parahnya, mengurangi produktivitas kerja lah, katakanlah begitu. Apakah tepat jika kita berpikir seperti itu? Ini investasi akhirat, Kawan, jangan hitung-hitungan dunia yang kita bawa. Hanya sekian menit kita luangkan, berapa banyak pahala yang akan kita dapat? Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.”

Tapi, saya nggak lancar membacanya, mungkin begitu pikir Anda. Sama kok, saya juga nggak bagus banget bacanya. Tapi, meski demikian, apakah itu membuat kita malas untuk membaca dan mengkaji Al Quran? Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

Terlebih lagi, jika kita tak hanya membacanya, namun juga mengajarkannya. Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Jadi, masih mau menyangkal apa lagi? Masihkah ada alasan untuk malas membaca, mengkaji, mengamalkan serta mengajarkan Al Quran?

Yuk mari, ambil mushaf kita yang entah sudah berapa lama kita biarkan tergeletak tak tersentuh seolah terlupakan. Mari kita buka, dan mulai membacanya. Bismillaahirrahmaanirrahiim . . .

(lebih lengkapnya, lihat di sini atau di sini)

Selasa, 03 Mei 2011

Tak Semua Keindahan Dapat Diabadikan

Seringkali, saya sengaja keluar pada senja hari untuk sekedar melihat langit sore saat matahari terbenam. Dan seringkali pula saya mendapati langit sore yang sangat indah. Namun sayangnya, keindahan itu tak dapat diabadikan, kamera HP saya kurang responsif untuk mendapatkan warna langit sore yang natural.

Well, memang tak selamanya keindahan alam (tak cuma keindahan langit) dapat diabadikan dengan peralatan teknologi.
Sebagian hanya dapat dilihat oleh mata dan dikenang oleh hati, tanpa bisa terekam kamera dan disimpan dalam memory card.

Berikut ini sebagian keindahan langit yang dapat saya abadikan. Memang bukan yang terindah yang prnah saya lihat, tapi inilah hasil maksimal yang mampu direkam oleh kamera HP saya.

*no photoshop retouch, honest !

"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?" (QS Qaaf ayat 6)

Manisnya Kegagalan; Ibarat Main Lompat Tali

Merasa tidak setuju dengan judul posting di atas?

Mana ada gagal yang manis, mungkin begitu pikir Anda.

Gagal itu pahit memang. Ya kan?

Udah tau gitu, kenapa ngasih judul yang nggak sesuai, mungkin begitu protes Anda lagi.

Well, memang kegagalan itu pahit. Tapi nanti kita bahas mengenai judulnya.
Gagal, artinya tidak tercapainya tujuan yang dikehendaki.

Saya yakin, semua orang pasti pernah gagal, ya kan? Bohong kalau ada orang yang mengklaim bahwa mereka selalu sukses, apapun yang dilakukan. Anda lihat saja, profil-profil orang-orang besar di dunia, banyak di antara mereka yang pernah mengalami kegagalan yang bisa dibilang fatal, namun akhirnya mereka kembali ke puncak. ( Bahkan para nabi pun pernah mengalami kegagalan dalam mendakwahi umatnya) Oke, kita tidak membahas profil mereka satu persatu.

Anda pasti juga pernah mengalami kegagalan kan? Saya juga.
Ketika kita gagal, sebenarnya kita tifdak kehilangan suatu apapun. Memang, target kita tak tercapai, tapi apakah 'target' tersebut memang sudah menjadi milik kita? Tidak kan? Maka ketika ia tak tercapai, maka kita hanya tidak mendapatkannya, bukan kehilangannya. Karena pada dasarnya, kita belum memilikinya.
Sebaliknya, justru kita mendapat banyak hal. Pelajaran, pengalaman, hikmah, inspirasi. Selalu ada sisi baik dari suatu kegagalan.

Ketika kita mengalami kegagalan, tentu kita harus cari tahu penyebabnya. Ada yang salah dalam diri kita. Ada yang salah dengan tindakan kita sehingga kita gagal. Ada suatu batasan yang tak bisa kita lewati saat itu.

Jangan berhenti, jangan menganggap bahwa batasan itu adalah pencapaian maksimal kita. Memang, ketika kita gagal, kita tak bisa melewati batasan itu, tapi apakah kita hanya diam terpaku di sana?
Jadikan batasan itu sebagai target kita selanjutnya. Mungkin memang tak setinggi target awal, namun itu jauh lebih baik daripada meratapi dinding yang tak bisa kita lewati.
Ibarat main lompat tali (Anda pasti pernah memainkan permainan ini kan? Bukan yang skipping, tapi yang ada dua anak memegang tali, direntangkan dengan jarak tertentu dari permukaan tanah, sementara teman-teman lainnya melompati tali tersebut satu persatu), tiap kali kita berhasil melompati suatu halangan dengan tinggi tertentu, maka untuk loncatan berikutnya, halangannya akan ditinggikan.
Pasti ada kalanya kita tak bisa melompati tali tersebut ketika sudah mencapai tinggi tertentu.lalu apa yang kita lakukan?
Mengutuk suatu penghalang yang tak bisa kita lompati, tak akan membuat kita bisa melompatinya.
Maka yang harus kita lakukan adalah berlatih dan berlatih menaklukannya, sehingga ketika tiba kesempatan lain, kita akan mampu melompatinya.

That's the point. Jangan pernah berhenti karena kegagalan. Cobalah taklukan suatu penghalang yang pernah mebuat kita gagal, maka kita akan makin kuat.

Dan ketika sudah mampu melompatinya, senanglah hati ini.


Dan kita pun mendapakan salah satu buah manis dari kegagalan sebelumnya :)