Cari Blog Ini

Kamis, 13 April 2017

Jiwa Pengajar Itu Ternyata Menurun

Ayah penulis adalah seorang guru. Dan dulu, penulis yang masih introvert, tak pernah membayangkan berdiri di depan kelas dan mengajarkan sesuatu. Penulis tidak berpikir bahwa mengajar merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Namun ternyata, darah pengajar itu mengalir dalam diri penulis. Makin dewasa, penulis yang dulunya introvert dan tak suka bicara di hadapan orang banyak, ternyata cukup lihai dalam komunikasi massa. Mulai dari komentator bola, annoucer bazar, MC acara, dan sebagainya, hingga kini menyambi sebagai pengajar part time untuk adik-adik kelas yang hendak mencoba mengikuti seleksi DIV dan DIII Khusus. Ternyata berbagi ilmu itu menyenangkan. Berdialog dengan siswa itu menyenangkan. Danpenulis mulai membayangkan karir sebagai dosen. Siapa tahu. Toh mengajarkan ilmu yang bermanfaat, bisa jadi salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir meski kita sudah meninggal, kan? SO, jadi pengajar? Why not?

Jumat, 31 Maret 2017

How to Avoid Organizational Exctinction

Few days ago, my friends from several other DGCE office are talking about the obstacles they faced in maintaining the existence of English Club at their own respective office. Now, based on what my mentor said earlier, i'd love to share a tips for you guys, about how to maintain the existance of our organization (not only english club, it could be applied to other form of learning-type organization as well). Basically, what we need are 4 Cs. What are those Cs?

Kamis, 30 Maret 2017

Kebaikan juga Butuh Strategi

Ada yang bilang, kejahatan yang terorganisir dengan baik akan dapat mengalahkan kebaikan yang dilakukan secara spontan. Biasanya, konteks pembicaraan seperti ini mengacu pada pemberantasan kejahatan (korupsi, kartel, perdagangan barang ilegal, penyelundupan), di mana kebaikan orang-orang yang dilakukan secara sendiri-sendiri (misal, memulai dari diri sendiri untuk anti korupsi, tidak membeli barang-barang black market, melaporkan jika ada barang ilegal beredar di pasaran), tidak akan mampu mengalahkan kejahatan yang telah terstruktur dengan baik. Ibarat kata, para penjahat itu selalu beberapa langkah lebih maju dari penegak hukum. Mereka punya sistem yang baik, punya strategi, dan juga anti-strategi untuk meminimalisir efektivitas dari upaya para penegak hukum.

Jumat, 17 Maret 2017

LDR Bisa Menurunkan Produktivitas Rupanya

Akhir-akhir ini, penulis rasanya males banget mau nulis. Padahal ide dan materi banyak banget. Rupa-rupanya, dampak LDR an dengan istri dan anak, cukup signifikan terhadap produktivitas penulis. Seriously. Di postingan terakhir, penulis berbagi tentang kekuatan keluarga, dan memang ketika jauh dari keluarga, bikin lemes cuy. Males masak, males beberes rumah (ini kalau ada istri pasti diomelin kalau rumah kotor, tapi percayalah, Boys, ketika kalian sudah menikah nanti, omelan itu yang akan kalian rindukan ketika istri sedang nggak ada). Kalau ada istri tuh rasanya ada motivasi lebih, seolah ingin menunjukkan bahwa penulis adalah suami yang dapat diandalkan. Hahaha. Pamer ceritanya, biar istri makin sayang. Eh pas nggak ada, beuh, mau bangkit dari kasur untuk makan saja, rasanya males banget. Kalo nggak laper banget, ngga makan. Padahal dulu, sebelum nikah, penulis mah doyan makan tanpa perlu disuruh. Beuh. . . payah emang, lemah. Harus bangkit lagi nih. Sebelum ide-ide itu menguap. Jadi postingan ini, sebenarnya untuk pemanasan saja sih. Semoga habis nulis ini, bisa mengumpulkan kembali semangat yang tercecer. 

Dan bagi pembaca di luar sana yang juga sedang LDR-an dengan suami/istri, tetaplah semangat yaaa :D

Senin, 06 Maret 2017

Kekuatan Keluarga

Senin ini tiba-tiba ada kabar kajian spesial di MBT KP DJBC. Dengan pembicara seorang counselor sekaligus trainer di Rumah Keluarga Indonesia, juga merupakan  Kompasioner terfavorit 2014, dan penulis buku-buku tentang pernikahan dan keluarga, Ustadz Cahyadi Takariawan. Topiknya adalah "Kekuatan Keluarga". Pembicara membuka sesi dengan pertanyaan "apa sih kekuatan keluarga itu?dan bagaimana menghadirkannya di keluarga kita?". Yuk disimak isi kajian bersama beliau.

Minggu, 05 Maret 2017

Diklat Kesamaptaan Bea Cukai (III)

Latihan di Cihampea

Saat pekan-pekan pasca minggar, siswa samapta sebenarnya menjalani tiga macam latihan, yang tujuannya adalah untuk atraksi penutupan samapta. Umumnya ada tiga macam latihan, sesuai dengan tiga macam atraksi yang akan ditampilkan saat penutupan, yakni kolone senjata, baris berbaris, dan bela diri. Pada angkatan penulis, baris-berbaris digantikan dengan senam senjata. Nah, saat pecan-pekan pasca minggar, seluruh siswa samapta mengikuti seluruh jenis latihan. Sampai tiba saatnya latihan outdoor di luar kota, tepatnya di daerah Cihampea, kompleks latihan TNI. Bagi siswa samapta yang hidupnya sehari-hari di pusdiklat tanpa boleh keluar kompleks pusdiklat, latihan di Cihampea serasa outbond yang menyegarkan (meski tetap melelahkan).

Minggu, 19 Februari 2017

Diklat Kesamaptaan Bea dan Cukai (II)

Pelaksanaan

Diklat Kesamaptaandilaksanakan selama 5 pekan yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 waktu (berdasarkan Samapta yang penulis jalani di Pusdikal BC). Pertama adalah minggar alias minggu penyegaran. Kedua adalah fase latihan normal tahap 1. Ketiga adalah Cihampea. Keempat adalah pasca Cihampea alias persiapan penutupan. Yuk dibahas satu-persatu.

Kamis, 09 Februari 2017

Bertanya-tanya tentang Sertifikasi Ulama

Akhir-akhir ini berita tentang rencana pemerintah untuk melakukan sertifikasi terhadap ulama muncul lagi. Entah apa pemicunya, namun tentu saja kembali timbul pro dan kontra. Lewat pernyataan resmi Menag dikatakan bahwa tujuan program ini adalah untuk mencegah adanya khotbah-khotbah yang meresahkan masyarakat. Maka wajar rasanya jika penulis (dan rasa-rasanya, mayoritas ummat Islam yang peduli dengan ulama) bertanya-tanya. Mari kita coba bedah pertanyaan yang akan timbul

Sabtu, 04 Februari 2017

Raising Kids is Like Riding a Roller Coaster

Raising kid(s) is like riding a roller coaster; at first, you might be both nervous and hyped. But once you are on, there’s no way back
You’ll feel the happiness, you’ll feel the worry, you’ll afraid whether u can finish it or not
When seeing his/her first smile, you’ll be overwhelmed with joy and happiness
But once your kid(s) sick/hurt/injured, you might be very afraid, nervous, worry, and else
But overall, it’s an experience you’d love to share with other people
And here I am, a new daddy, raisin' my newborn baby with my wife and family
I know, most parenting blogs out there are written by the mom, but why not? I'm a blogger, and I'm a dad, so why not? Moreover, it's called "parenting", not only "mothering" or "fathering", right?
I'll be glad to share my experience so another parents maybe could benefit from my postings, hopefully.

Diklat Kesamaptaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

Diklat Kesamaptaan merupakan salah satu pendidikan dan pelatihan dasar bagi para pegawai di lingkungan DJBC. Melalui Diklat ini, diharapkan para pegawai memiliki ketangguhan mental dan fisik, kesiapsiagaan dalam menjalankan tugas, jiwa patriot dan nasionalisme, serta sikap pantang menyerah. Diklat dilakukan di Pusdiklat Bea dan Cukai (Rawamangun, Jaktim) dan di Balai DIklat Keuangan lain di berbagai kota di Indonesia. Setelah menjalankan diklat ini dan Diklat Teknis Substansif Dasar (bagi pegawai DJBC yang TIDAK berasal dari Prodip Kepabeanan dan Cukai PKN STAN), maka pegawai yang bersangkutan berhak mengenakan Brevet Dasar pada Pakaian Dinas Harian sebagai salah satu atribut wajib. Bagaimanakah kegiatan sehari-hari pada Diklat Kesamaptaan di DJBC? Nah, kali ini penulis akan membahasnya setelah berjanji untuk menulis tentang Samapta lebih dari tigatahun lalu dan baru kesampean kali ini.