Cari Blog Ini

Jumat, 24 November 2017

Fail is A Matter of Perspective

Suatu ketika, penulis belanja buah di dua kesempatan. Yang pertama, pisang, di pedagang buah dekat rumah. Tapi failed. Soalnya salah pilih, milih pisang yang ditaruh di meja, jadi bagian bawahnya benyek, keempukan. Enak sih, manis, tapi keempukan dan cepet mateng, jadi risiko busuknya tinggi. Kan sayang. 

Yang kedua, melon. Karena sekalian belanja ke pasar dan belanjaannya banyak, jadi nggak sempet menganalisa tingkat kematangan si melon. Pas sampai rumah, eh kok hambar. Failed lagi.

Enters my wife. Dua jenis buah yang sama-sama tak optimal itu, dikombinasikan. Pisang yang manis dan keempukan, dikombinasikan dengan melon yang segar tapi hambar. Ditambah potongan stroberi, kiwi dan anggur. Jadilah jus buah segar penawar haus dan lapar.


Dua produk gagal, dikombinasikan, sehingga saling melengkapi dan menjadi produk baru yang nggak failed. Simpel, tapi bagi saya, itu seperti keadaan yang sering terjadi. Saat orang-orang yang dilabel 'gagal' disatukan, biasanya orang lain akan menilai 'mau jadi apa mereka, pasti tambah ancur'. Mungkin iya, besar kemungkinannya makin ancur. Tapi that's not always the case

Dengan perlakuan yang pas, 'orang-orang gagal' itu bisa diproses menjadi lebih berguna. Tergantung prosesnya. Jadi menurut penulis, gagal itu cuma masalah perspektif. Ketika sesuatu tidak berhasil (alias gagal) mencapai tujuannya, mungkin saja sebenarnya dia nggak gagal, mungkin aja dia emang tidak tercipta untuk tujuan itu. Mungkin dia cuma salah menetapkan tujuan, sehingga salah arah, salah proses, dan terlihat gagal. Tapi ketika diarahkan ke tujuan baru, yang sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya, bisa jadi dia bakal sukses. 

Misalnya, penulis. Dulu saya pengen banget jadi anggota TNI. Tapi gagal. Di tes pertama. Kalau dari perspektif 'aku ingn jadi anggota TNI', maka penulis gagal. Tapi, penulis dialihkan ke rute lain, jadi mahasiswa STAN. Alhamdulillah lulus, dan sekarang juga alhamdulillah bisa sekolah lagi di DIV. Jadi apakah penulis masih bisa disebut 'gagal'? Ngga 100% sih. Gagal di satu hal, berhasil di hal lain.

Jadi, ketika pembaca sekalian merasa gagal, jangan buru-buru menyerah. Coba saja lagi sampai berhasil. Atau ganti perspektif dan ubah tujuan. Siapa tahu, suksesmu memang bukan di situ, tapi di hal lain. Cuma masalah perspektif aja kok. Kalau ada orang lain yang melihatmu sebagai kegagalan, coba buktikan bahwa kamu bisa berhasil, meski ngga harus sesuai standar para komentator itu. Ayo bangkit dan temukan suksesmu!

Selasa, 24 Oktober 2017

Simply Surviving isn't Worth Celebrating

Beberapa waktu lalu, penulis mengalami apa yang disebut orang lain sebagai "ulang tahun". Nothing special menurut penulis, tidak ada prestasi baru atau pencapaian apapun, jadi penulis memilih untuk tidak merayakan. Sudah beberapa tahun penulis menyembunyikan info ulang tahun di facebook, biar nggak ada notifikasi dan ucapan selamat dari kawan-kawan. Bukan nggak suka diselamatai, tapi biarlah kalau ada yang mendoakan, agar ikhlas mendoakan dalam hati saja, itu cukup. Kalau memang ada yang ingat, ya biar ingat sendiri dan ucapin sendiri, tanpa perlu notifikasi di medsos berharap orang ingat. Dan faktanya memang cuma keluarga aja, dan seorang temen jaman SMA yangkebetulan tanggal ultahnya berdempetan, yang ingat dan memberi selamat. No problemo, toh memang nggak ingin diselamati dengan ucapan yang hanya copy paste dari postingan orang lain di grup WA. Bagi penulis, ulang tahun hanyalah menandakan kita makin tua. Bukan sesuatu yang pantas dirayakan, kecuali kita hidup di alam bebas yang penuh predator dan setiap hari adalah perjuangan bertahan hidup, maka setiap kali kita bertahan dan selamat, itu perlu dirayakan. Bersyukur atas usia yang telah dilalui, harus, namun tentu tak cukup dengan sekedar berucap alhamdulillah. Tentu harus memperbaiki diri, dari berbagai sisi. Harus lebih baik sebagai anak, sebagai adik, sebagai kakak, sebagai suami, sebagai menantu, sebagai ayah, sebagai teman, dan tentunya sebagai hamba Allah. Simpelnya, target pribadi sih di usia 27 tahun ini, sholatnya harus sebisa mungkin selalu dapat 27 pahala, alias selalu berjamaah dong. Bismillah. Ketika itu tercapai, dan mendapat ganjaran di surga kelak, barulah itu perlu dan patut dirayakan. Bukan sekedar pengulangan hari lahir setiap tahunnya. Gitu aja sih

Selasa, 19 September 2017

Si Gundul Telah Kembali

Oke, setelah sekian lama vakum nulis, kali ini penulis coba kembali menyapa pembaca blog ini yang masih tersisa. Sebelumnya, penulis mau cari-cari alesan minta maaf atas hilangnya postingan selama Juli-Agustus kemarin. Di bulan Juli, perkuliahan sisa 2 pekan, dengan banyak utang pertemuan dan tugas-tugas dalam bentuk paper, disusul UAS 2 pekan; sementara Agustus adalah libur panjang, penulis pulkam tanpa bawa laptop, jadi rencana untuk rutin posting setidaknya sebulan sekali gagal total. Oke, apapun alasannya, postingan sederhana ini adalah penanda kembalinya penulis dalam ranah blogging.
Kenapa ngga vlogging sekalian?, barangkali ada yang nanya.
Alasannya simpel, penulis tuh ngga videogenik. Jadi lebih seneng nulis daripada ngerekam video sendiri. Lagian, siapa yang mau nonton video rekaman kehidupan sehari-harinya penulis sih, yang cuma kuliah sama pulang, nggak ada trevellingnya? Mending nulis sih, bisa bahas sesuatu yg lebih bermakna.
Supaya lebih bermakna dan nggak cuma berisi alesan, kali ini penulis mencoba sharing beberapa quote dari dosen yang cukup menarik, dan semoga dapat diambil hikmahnya.

“… alkisah, tersebutlah seorang anak kecil yang terpana menyaksikan dagangan milik seorang penjual balon udara. Si anak melihat berbagai dagangan sang penjual berwarna-warni. Ia melihat sang penjual balon melepaskan beberapa balon udara untuk menarik pembeli. Ia melihat balon merah terbang tinggi, demikian pula balon berwarna hijau. Karena penasaran, ia pun bertanya paman, apakah balon berwarna biru bisa terbang juga? Bagaimana dengan yang kining? Sang penjual tersenyum dan menjawab, nak, yang yang yang membuat balon terbang bukanlah warnanya, melainkan isi yang berada di dalamnya. Adalah helium di dalam balon, yang membuatnya lebih ringan daripada udara di sekitarnya, sehingga ia bisa naik ke langit …” Sebuah kisah dari Pak Oni Syahroni, dosen Sistem Pengendalian Manajemen, yang mengingatkan bahwa bukan ‘kulit luar’ kita yang menentukan seberapa tinggi kita mampu ‘terbang’, melainkan ‘isi’ yang ada pada diri kita.


“… jika kalian sudah di atas, cobalah untuk berbuat untuk memperbaiki negeri ini . . . agar semakin banyak yang sejahtera dan negeri ini nggak kayak gini (banyak permasalahan sosial) lagi…” Ujar Bu Rini Purwandari, seorang alumni STAN yang saat ini bekerja di Garuda Indonesia dan mengajar mata kuliah Good Governance


“…salah satu kesalahan di kita adalah, anak baru tuh disuruh mengerjakan sesuatu tanpa diajari dulu, dibilangnya udah belajar sambil jalan, nanti juga bisa. Padahal harusnya pahami konsepnya dulu, baru kerja…”, keluh Pak Nur Mukhlas Iryo Sukaimi, Ak., M.Sc., CMA, QIA, CIA, CGAP, CSA, CRMA, CA, PMIIA, CPA, CISA yang gelar profesionalnya banyak banget, dan menginginkan kita bekerja berdasarkan ilmu, sebagaimana juga diajarkan dalam agama Islam bahwa setiap ibadah harus ada ilmunya, supaya tidak salah amalan dan menjadi sia-sia

Sabtu, 24 Juni 2017

Catatan Penghujung Ramadhan

Apa kabar pembaca? Masih sehat hingga hari ini?
Apa kabar pembaca? Masih lancar shaum hingga hari ke-30 ini?
Apa kabar pembaca? Masih lengkap tarawih hingga malam terakhir semalam?
Apa kabar pembaca? Masih istiqomah tilawah hingga hari ini?

Apa kabar target ramadhan kita tahun ini? Masihkah istiqomah seperti tahun-tahun yang lalu? Adakah peningkatan? Atau justru mengalami penurunan?

Jikalah terdapat peningkatan, bersyukur dan pertahankan, karena tak semua mampu mengoptimalkan waktu ramadhannya. Jikalau terdapat penurunan, maka introspeksilah. Ada yang salah dengan diri kita ketika menyadari bahwa belum tentu bertemu ramadhan tahun depan, namun menjalani ramadhan tahun ini dengan kesia-siaan. 
Berapa banyak juz yang tak terbaca dengan alasan kesibukan dunia? Berapa banyak rakaat tarawih yang tak terlaksana hanya demi undangan buka bersama? Berapa lama sujud di penghujung malam yang tak terlaksana karena lebih memilih siaran bola? Berapa banyak ilmu dari kajian yang terlupa karena tak tercatat dengan dalih 'ah postingnya nanti saja'?

Kini hanya bisa berdoa, semoga Allah perkenankan bertemu ramadhan berikutnya, serta agar hati lebuh tertata menyambut bulan mulia, yang sayangnya kadang tersia-sia oleh urusan dunia.

*sebuah pengingat untuk diri sendiri yang kecewa dengan pencapaian ramadhan tahun ini
Malang, 30 Ramadhan 1438 H

Jumat, 26 Mei 2017

Persiapan Menyambut Ramadhan

Memaksimalkan diri utk Ramadhan optimal*(Kajian 15 Mei brsma Ust. Faridz, MBT KP DJBC)

*1. Persiapan keilmuan*
Refresh ilmu dan pemahaman ttg shaum dan berbagai amalan utama bulan Ramadhan utk menguatkan kembali keilmuan kita sebelum menjalani ibadah (ingat, ibadah harus didasari keilmuan)
Jangan anggap "ah sudah biasa puasa, paling gitu2 aja"

*2. Persiapan fisik*
Rasulullah SAW mengajarkan menjalankan srg puasa sunnah d bukan sya'ban (semua puasa sunnah yg bs dijalani, dilakukan)
Krn puasa adlh ibadah fisik juga.jadi harus membiasakan diri
Jaman dulu, ummat srg bertempur saat bulan Ramadhan
Tak hanya kekuatan fisik, namun urusan kesibukan yg banyak menuntut kegiatan fisik jg diselesaikan duluan (misal, safar, perdagangan dll) agar pas Ramadhan bs fokus ibadah (tak hanya puasa tp jg sedekah)
Fokuskan jg k persiapan maaliyah utk beramal selama Ramadhan

*3.persiapan spiritual*
Tazkiyatun nafs, bersihkan diri menjelang bulan suci agar ibadah tak ternoda oleh niatan2 lain

Mari persiapkan diri kita agar benar2 berhasil menjadi org yg bertaqwa pasca Ramadhan, sebagaimana difirmankan oleh-Nya

Kamis, 13 April 2017

Jiwa Pengajar Itu Ternyata Menurun

Ayah penulis adalah seorang guru. Dan dulu, penulis yang masih introvert, tak pernah membayangkan berdiri di depan kelas dan mengajarkan sesuatu. Penulis tidak berpikir bahwa mengajar merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Namun ternyata, darah pengajar itu mengalir dalam diri penulis. Makin dewasa, penulis yang dulunya introvert dan tak suka bicara di hadapan orang banyak, ternyata cukup lihai dalam komunikasi massa. Mulai dari komentator bola, annoucer bazar, MC acara, dan sebagainya, hingga kini menyambi sebagai pengajar part time untuk adik-adik kelas yang hendak mencoba mengikuti seleksi DIV dan DIII Khusus. Ternyata berbagi ilmu itu menyenangkan. Berdialog dengan siswa itu menyenangkan. Danpenulis mulai membayangkan karir sebagai dosen. Siapa tahu. Toh mengajarkan ilmu yang bermanfaat, bisa jadi salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir meski kita sudah meninggal, kan? SO, jadi pengajar? Why not?

Jumat, 31 Maret 2017

How to Avoid Organizational Exctinction

Few days ago, my friends from several other DGCE office are talking about the obstacles they faced in maintaining the existence of English Club at their own respective office. Now, based on what my mentor said earlier, i'd love to share a tips for you guys, about how to maintain the existance of our organization (not only english club, it could be applied to other form of learning-type organization as well). Basically, what we need are 4 Cs. What are those Cs?

Kamis, 30 Maret 2017

Kebaikan juga Butuh Strategi

Ada yang bilang, kejahatan yang terorganisir dengan baik akan dapat mengalahkan kebaikan yang dilakukan secara spontan. Biasanya, konteks pembicaraan seperti ini mengacu pada pemberantasan kejahatan (korupsi, kartel, perdagangan barang ilegal, penyelundupan), di mana kebaikan orang-orang yang dilakukan secara sendiri-sendiri (misal, memulai dari diri sendiri untuk anti korupsi, tidak membeli barang-barang black market, melaporkan jika ada barang ilegal beredar di pasaran), tidak akan mampu mengalahkan kejahatan yang telah terstruktur dengan baik. Ibarat kata, para penjahat itu selalu beberapa langkah lebih maju dari penegak hukum. Mereka punya sistem yang baik, punya strategi, dan juga anti-strategi untuk meminimalisir efektivitas dari upaya para penegak hukum.

Jumat, 17 Maret 2017

LDR Bisa Menurunkan Produktivitas Rupanya

Akhir-akhir ini, penulis rasanya males banget mau nulis. Padahal ide dan materi banyak banget. Rupa-rupanya, dampak LDR an dengan istri dan anak, cukup signifikan terhadap produktivitas penulis. Seriously. Di postingan terakhir, penulis berbagi tentang kekuatan keluarga, dan memang ketika jauh dari keluarga, bikin lemes cuy. Males masak, males beberes rumah (ini kalau ada istri pasti diomelin kalau rumah kotor, tapi percayalah, Boys, ketika kalian sudah menikah nanti, omelan itu yang akan kalian rindukan ketika istri sedang nggak ada). Kalau ada istri tuh rasanya ada motivasi lebih, seolah ingin menunjukkan bahwa penulis adalah suami yang dapat diandalkan. Hahaha. Pamer ceritanya, biar istri makin sayang. Eh pas nggak ada, beuh, mau bangkit dari kasur untuk makan saja, rasanya males banget. Kalo nggak laper banget, ngga makan. Padahal dulu, sebelum nikah, penulis mah doyan makan tanpa perlu disuruh. Beuh. . . payah emang, lemah. Harus bangkit lagi nih. Sebelum ide-ide itu menguap. Jadi postingan ini, sebenarnya untuk pemanasan saja sih. Semoga habis nulis ini, bisa mengumpulkan kembali semangat yang tercecer. 

Dan bagi pembaca di luar sana yang juga sedang LDR-an dengan suami/istri, tetaplah semangat yaaa :D

Senin, 06 Maret 2017

Kekuatan Keluarga

Senin ini tiba-tiba ada kabar kajian spesial di MBT KP DJBC. Dengan pembicara seorang counselor sekaligus trainer di Rumah Keluarga Indonesia, juga merupakan  Kompasioner terfavorit 2014, dan penulis buku-buku tentang pernikahan dan keluarga, Ustadz Cahyadi Takariawan. Topiknya adalah "Kekuatan Keluarga". Pembicara membuka sesi dengan pertanyaan "apa sih kekuatan keluarga itu?dan bagaimana menghadirkannya di keluarga kita?". Yuk disimak isi kajian bersama beliau.