Postingan

Andai Aku Menjadi ... (3)

Gambar
Derap kuda-kuda penarik kereta beradu dengan langkah-langkah manusia di jalanan Rawikarta. Sejuknya pagi ternoda oleh nafas-nafas nan terengah, yang terus melaju seiring peluh membasahi muka. Pagi hari yang dipenuhi harapan bagi para pencari nafkah yang berangkat dalam upaya memenuhi perut keluarga. Sebaliknya, Raizan berjalan pulang karena memang mendapatkan jatah bekerja pada malam sebelumnya . Pikirannya masih terganggu oleh mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Mimpi buruk yang terus menghantui meski kejadian itu telah berlalu lima tahun lamanya. Kejadian yang membuat Raizan bertanya-tanya, mengapa negeri ini pernah disebut layaknya kepingan surga yang jatuh ke dunia? Sementara setiap hari, matanya menyaksikan ketimpangan yang begitu nyata. Terlebih di Rawikarta, kota penuh warna yang menjadi kebanggaan Agnidwipa. Balai Hulubalang tempatnya bekerja,  terlihat begitu megah dari kejauhan. Berdiri gagah di tepi bukit, angkuh laksana gajah yang menyeruak dari semak hutan. Masih ada ba

Andai Aku Menjadi ... (2)

Suara ayam berkokok keras, membuat Raizan terkejut hingga terjatuh dari dipan. Ia kemudian berjongkok sembari menguap malas, sembari kepalanya menoleh celingukan. Kayu bakar tersisa beberapa balok sementara jagung dan ubi rebus semalam  telah tandas, ketiga rekannya tak tampak dalam pandangan. Langit masih gelap, pertanda fajar belum menyingsing. Raizan mendengar langkah berderap, layaknya sepasukan prajurit tengah bersiap untuk berlatih tanding. Namun mengapa suara itu seolah berasal dari atap, alih-alih dari balik dinding? Seketika rasa takut menyelinap, membuat bulu kuduk Raizan merinding. Ia mengumpulkan keberanian untuk menengok sumber suara, kepalanya menengadah sementara matanya memicing. Apa yang dilihat oleh matanya, cukup untuk membuatnya lari pontang-panting. Sekerumunan prajurit tanpa kepala, tengah berbaris menenteng lembing. Raizan berteriak namun tak jua keluar suara, kerongkongannya terasa amat kering. Ia berupaya menuju gerbang utama, namun jalan yang dilaluinya terasa

Andai Aku Menjadi ...

*Perhatian bagi para pembaca tulisan ini. Harap dipahami bahwa ini hanyalah kisah fiksi untuk menambah khazanah literasi sekaligus sebagai catatan untuk pribadi. Silahkan dikritisi, namun tolong jangan dipersekusi. Bukan karena takut diselidiki atau dituduh dengan delik tak pasti. Melainkan apabila fiksi dipersekusi, bukankah itu hanya menunjukkan bahwa kalian sejatinya minim imajinasi? Selamat membaca dengan mata dan juga hati, tanpa perlu terlalu terbawa emosi :) Alkisah, di sebuah negeri bahari nan aman sentausa berjuluk Agnidwipa, segenap warga tengah bersiap untuk menyambut sebuah pagelaran berskala raksasa. Seluruh warga yang telah berusia dewasa, diperkenankan turut serta. Mereka akan diminta memilih sang penerus tahta. Sebuah sistem pemilihan telah ditetapkan dan akan diterapkan dengan saksama, untuk memastikan yang terpilih nanti sesuai kehendak segenap warga. Namun ada saja warga yang tak terlalu terkesan menyambut gelaran pemilihan. Memangnya setelah pemegang tahta diganti

Paragraf Penutup Akhir Tahun

Tahun 2023 sudah hampir berganti, teramat banyak kejadian membekas dalam sanubari. Tak terhitung nikmat Allah yang didapat pada periode ini, meski sebagian hal juga menguras emosi. Tentu tak menarik jika menuliskan seluruh peristiwa layaknya kilas balik. Yang terpenting adalah hikmah yang dapat kita petik, seiring keyakinan bahwa apapun yang telah ditetapkan oleh-Nya adalah yang terbaik.  Sebagai bahan muhasabah dari kejadian yang sudah-sudah, kala timbul masalah, tak perlu sibuk mencari siapa yang salah. Ketika itu sudah terjadi, yang terpenting kita fokus pada solusi .* Di level instansi, DJBC tercinta sedang banyak diuji di tahun ini.  Ketika ada luput petugas dalam menjalankan pekerjaan yang berdampak pada khalayak ramai di luar, seketika warganet ramai berkomentar, memicu kebencian yang di luar nalar. Meski jantung berdebar,  kita dituntut untuk tetap sabar, mengingat berdebat di sosmed justru bisa bikin kebencian makin menjalar. Daripada emosi yang keluar, lebih baik fokus selesa

What's Left from BTIS Daddy's Camp 2023

Gambar
Setelah Daddy's Camp berakhir, tentu saja ada banyak cerita yang tersisa. Berikut penulis rangkum keseruan-keseruan di sana yang terabadikan dalam jepretan kamera. Udara bersih, sungai mengalir, pepohonan lebat. Hal yang dirindukan oleh warga Jabodetabek banget sih ini. Ironisnya, dulu saat masih kecil, tinggal di desa yang suasananya seperti ini, malah penasaran sama kehidupan di kota besar. Pas di kota besar merindukan suasana pedesaan. Manusia oh manusia. Even perkemahan tentu tak lengkap tanpa perlombaan. Ada menang, ada kalah. Ada yang berhasil, ada yang terjerembab. Ada yang cepat-cepat, ada yang cari aman. Seperti hidup, perjalanan setiap dari kita berbeda-beda. Tapi sebagai muslim, tentu kita semua punya 'garis finish' yang sama; pengen ke surga-Nya. Badan air yang jernih akan menampakkan dasarnya. Entah kerikil, atau pasir. Air yang jernih juga menberi manfaat untuk beragam makhluk. Layaknya insan yang memiliki hati yang jernih, tentu akan menyenangkan bagi ora

Daddy's Camp Bojana Tirta Islamic School, Capolaga 2023

Gambar
Kali ini sekolah Aira mengadakan kegiatan berkemah anak dan ayah di Subang. Menarik menyaksikan betapa sebagian bapack-bapack begitu kebingungan ketika mengurus anak, dengan kalimat yang paling sering terdengar " biasanya sama bundanya ". Mulai dari permasalahan anak harus pake baju apa, dibawain handuk apa ngga, camilan kesukaan si anak apa, dan macam-macam lainnya. (Tentu saja, tidak semua begitu. Ada juga bapack-bapack yang aman meng handle anak-anaknya.) Di satu sisi, wajar saja sih, mengingat para ayah seringkali disibukkan dengan kegiatan menjemput rizki. Dan terutama di Jakarta, seringkali para ayah berangkat sebelum mentari terbit, dan baru tiba di rumah selepas mentari terbenam. Boro-boro mengurus anak, bertemu anak saja waktunya sediki sekali. Di sisi lain, mungkin ini menunjukkan betapa negeri ini menjasi fatherless karena tuntutan duniawi, hingga tak jarang para ayah kurang memperhatikan masalah tumbuh kembang anak. Maka dengan sedikit waktu yang tersedia ini, s

I fell for the ocean, quite literally

Gambar
That title above is self explanatory. During a trip from Tarakan to Nunukan by a hi-speed ferry, i fell just before boarding the ship, at the lower part of the dock. The reason? It was slippery. Like, very slippery. Because of the tides, the lower part of the dock will be submerged sometimes. I could tell by the mussels and the thin layer of mud. But i was pretty ignorant, and a lil bit overconfident, thinking that i wouldn't fall since several times during my sea patrol duties, i never fell even once. So this is the first lesson of it; arrogancy could be your first step to downfall, quite literally. Next question, why did i came to the lower part of the deck? Well, just like those careless internet personality who fell from a tower, bridge or anything, i wanted to get a good pict. And this is the last pict i took. Pretty lame for the price. The pain is temporary, but the memory . . . The second lesson: watch your steps, quite literally. We might already heard that caution a thous