Cari Blog Ini

Kamis, 28 November 2013

Cerewet Banget Sih

Dalam hidup, kadangkala kita berhadapan dengan orang yang cereeeewet abis. Semuamuanya dikomentarin. Dari gaya rambut sampai kaos kaki, dari bulu mata sampe bulu hidung orang lain nggak luput dari komentarnya. Pokoknya dia lebih jeger, lebih jebret dan lebih ahay dibanding komentator lain.
Pasti risih kan ngadepin orang kayak gitu? Ngomong kok kayak nggak ada filternya. Nggak masalah, mungkin dia belum membaca tentang filter mulut di postingan saya kemarin. Tolong ya, ntar kasih liat ke dia tentang postingan saya kemarin.
Nah, sambil dia baca tips tentang filter mulut kemarin, ayo kita bahas tentang filter kuping, yang merupakan produk variasi dari filter mulut. Teknik ini, pada prinsipnya merupakan kebalikan filter mulut, kemudian dipasang di telinga. Begini cara kerjanya:
  • coba cek kebenaran perkataannya, apakah benar/fakta, atau nggak? Kalo misalnya dia bilang rambut anda nggak rapi padahal potongan rambut anda gundul, misalnya, udah nggak usah digubris deh...
  • coba dengar perkataannya, baik nggak isinya? Kalo  cuma ngebahas keburukan-keburukan oranng lain, misalnya, jauh-jauh deeh...
  • trus apakah yang dikatakannya itu penting? Kalo nggak penting, udah nggak usah didengerin. Coba, apa pentingnya ngomongin bulu ketek artis, misalnya. So dont waste your time, tinggalin aja
 Nah, yang penulis tekankan di sini adalah kualitas omongannya tadi. Kan ada juga tuh orang cerewet yang memang ngebahas hal yang penting, baik, dan benar. Misalnya ketua tim, konsultan atau sahabat. Kalo yang ini, dengerin gapapa, bisa jadi kecerewetannya berguna buat kita. Tapi kalo udah cerewet, nggak penting, bahasnya keburukan mulu, kebenarannya nggak valid pula, hmm... anggep aja motor butut lewat; nggak usah dimasukin ati deh :)

Rabu, 27 November 2013

Mulutmu Harimaumu

Pembaca sekalian udah sering kan denger/baca ungkapan di atas? Barangkali malah ada di antara kita yang pernah termakan oleh kata-kata kita sendiri. Naah, maka dari itu, kali ini penulis pengen bahas tips agar tidak termakan  oleh mulut sendiri. Yuuk mari...
Tips ini bisa kita sebut sebagai filter mulut, untuk menyeleksi kata-kata apakah yang akan keluar dari mulut kita. Sayangnya filter ini tidak tersedia dalam bentuk masker ajaib yang otomatis menyeleksu perkataan kita, jadi kita perlu berlatih agar terbiasa melakukannya.
Caranya gampang kok, sebelum bicara cuma perlu melakukan 3 langkah yakni:
  • apakah yang akan Kita katakan itu benar? Jika tidak benar alias bohong, maka jangan katakan. Kalau memang perlu membahas sesuatu yamg belum tentu kebenarannya, katakan sumber dan jenisnya (opini kah, mitos, dongeng, prediksi atau imajinasi semata?) agar orang tak merasa ditipu oleh omongan tadi
  • meskipun benar, apakah itu baik? Jika itu tidak baik (dalam hal bahasa, isi maupun tujuan), maka jangan katakan. Memang apa pula perlunya membahas ke-tidakbaik-an orang lain, misalnya
  • meski baik, apakah itu penting? Jika tidak, maka sebaiknya tinjau ulang untuk mengungkapkannya di saat yang tepat. Bisa jadi, kalau waktu, tempat dan situasinya tidak tepat, belum tentu kata-kata yang baik bisa diterima dengan baik
Ketika kita mencoba hal ini, mungkin kita mendadak jadi agak pendiam. Nggak masalah, bukankah diam lebih baik daripada banyak bicara tapi minim kualitas?

Sabtu, 23 November 2013

Epic Fail, Lvl: ITB

Siapa nggak kenal ITB? Sebagai salah satu kampus terbaik di negeri ini, rasa-rasanya pasti pembaca sekalian pada tau lah ya...paling nggak denger namanya doang udah pernah kan?
Bagi penulis yang nggak pernah kuliah di sana, yang paling diinget kalo lagi ngomongin ITB adalah kudanya.

Ojok kuda
Penulis nggak pernah naik kudanya sih, tapi ngeliatnya tuh udah bikin ketawa aja. Unik, karena nggak tiap kampus punya kuda sebagai daya tarik wisata xp
Nggak tau juga sih, kali aja ada siswa  SMA yang pengen masuk ITB gara-gara kuda. Dialog sama ortunya bakal absurd banget tuh xp
Anak: Ayah, aku pengen kuliah di ITB
Ayah: Kenapa nak?
Anak: Supaya nanti aku bisa naik kuda tiap hari
Xp

Ok,kembali ke topik. Di salah satu sudut kampus ini, ternyata ada rambu-rambu unik yang isinya adalah larangan bagi pemilk kuda untuk membuang 'limbah' kuda mereka di area tersebut. Dan ironisnya, rambu-rambu ini dilanggar dengan telak karena tepat di belakangnya, terdapat tumpukan limbah biologis kuda. Well done, Indonesian...

Indonesian style, pelanggaran dan rambu larangan yang bersebelahan
Kalo bukan punya kuda, lalu ini punya siapaaaa?

Minggu, 03 November 2013

Tentang Dakwah

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh
Kali ini penulis mencoba merangkum beberapa ilmu yang sempat didapatkan yang terkait dengan dakwah dalam artikel bertema "Tahukah Anda". Yuk mari disimak:
  • dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim, berdasarkan Al-Qur'an dan Al Hadits. Allah SWT berfirman: 
    "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3] : 104).  (mengenai beberapa dalil lain lihat di sini, juga di postingan saya sebelumnya di sini)
  • da'i adalah julukan bagi orang berdakwah, jadi seharusnya setiap muslim adalah da'i, bukan cuma yang nongol di TV membawakan acara siraman rohani
  • tujuan dakwah adalah untuk menguatkan keimanan diri sendiri, bukan untuk menguatkan keimanan orang lain, karena masalah keimanan dan hidayah, itu hak prerogatif Allah. Kita hanya bertugas menyampaikan masalah keEsaan Allah, masalah kebenaran Al-Qur'an, Al Hadits, kenabian Nabi Muhammad, kemuliaan ajaran Islam, dan lain-lain, namun hanya Allah yang bisa memberikan hidayah keimanan bagi orang tersebut. Dakwah adalah ikhtiar kita, namun masalah keimanan orang tersebut, kita hanya bisa mendoakan.
    Jangan niatkan berdakwah untuk memperbaiki iman orang lain, karena dikhawatirkan hal itu membawa perasaan bahwa kita lebih baik dari orang tersebut, dan itu termasuk kesombongan. Inget, kesombongan membawa kepada neraka, jadi kita juga mesti berhati-hati dalam meluruskan niat berdakwah kita :)
  • Islam adalah milik Allah. Dengan atau tanpa kita, Allah akan mentakdirkan Islam kembali bangkit meski sekarang tengah terpuruk. Tanpa kita terjun dalam dunia dakwah pun, itu akan terjadi kelak. Masalahnya adalah, apakah kita mau terlibat dalam kebangkitan Islam atau tidak. Mengingat dakwah adalah perkara wajib, maka justru kita yang rugi jika tak berdakwah. Ingat, bukan dakwah yang butuh kita, tapi kita yang butuh dakwah demi menambah amal ibadah kita (jangan lupa, niatkan untuk memperbaiki keimanan diri sendiri, bukan untuk sok-sok memperbaiki orang lain)
  • Dakwah tak melulu dengan berdiri di atas mimbar, tak melulu di hadapan banyak orang. Sekedar mengingatkan teman untuk berhenti menggunjing, atau sekedar mengajak teman untuk sholat ketika adzan berkumandang, juga termasuk bagian dari dakwah. Jadi nggak ada alasan untuk berkata "ah, ilmu saya belum seberapa". Bukankah Rasulullah bersabda Baliighu  annii walau ayyah (sampaikanlah walau 1 ayat).
Ada yang ogah ikut berdakwah dengan berprinsip bahwa "saya kan nggak sempurna, nggak pantes ah buat berdakwah".  Nah, ini nggak tepat kawan. Sekarang bayangkan, kalo mesti menunggu sempurna, kira-kira ada nggak yang bakal berdakwah? Bisa jadi nggak ada, kan nggak ada manusia sempurna selain Baginda Rasulullah SAW. Nah kalo kita menunggu untuk sempurna, sementara nggak mungkin melakukannya, trus nggak ada yang berdakwah dong? Imam Hasan Al Basri pernah mengatakan:
“Apabila aku menasihati kamu bukanlah artinya aku ini yang terbaik di kalangan kamu, bukan juga yang paling sholeh di kalangan kamu, karena aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu hanya boleh menyampaikan dakwah apabila dia telah sempurna, niscaya tidak akan ada pendakwah, maka akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan.” (versi lengkapnya bisa dilihat di sini, atau di sini). Nah, logikanya masuk kan?

Jadi sebenarnya nggak ada alasan untuk ngeles kan? Yuk sama-sama mengambil peran dalam dakwah di lingkungan kita masing-masing :)

Jumat, 01 November 2013

Hidup Ini Cuma "Mampir Ngombe"

"Innalillahi.. wa Inna ilaihi Raji'uun... Telah berpulang ke Rahmatullah, Fulan bin Fulan dalam usia sekian tahun..."
Hampir setiap dari kita, pasti pernah mendengar kalimat ini. Entah melalui speaker masjid, berita duka cita di media, atau kabar dari sanak saudara. Namun pernahkah kita memikirkan, mengapa disebut "berpulang"?
Tak lain karena sebenarnya kita adalah makhluk akhirat, yang kelak akan kembali ke akhirat. Maka semasa kita di dunia ini, hanyalah persinggahan sejenak, sebelum nanti kita kembali ke akhirat. Makanya ada ungkapan, "urip iki mung mampir ngombe" (hidup ini cuma mampir minum). Diibaratkan kita adalah orang yang berada dalam perjalanan, berhenti sejenak di suatu tempat untuk minum, kemudian melanjutkan lagi perjalanan kita. Sesingkat itulah hidup di dunia ini, sesingkat mampir minumnya seorang pengembara. Setelah kehidupan dunia yang singkat ini, maka kembalilah kita ke alam akhirat, rumah kita pertama kali. Ibarat seseorang yang meninggalkan rumahnya (akhirat) untuk pergi (ke dunia), maka ketika kita pulang kembali ke rumah kita (akhirat) pun wajar jika disebut "berpulang"
*inspirasi dari khotbah Jumat di Masjid Baitut Taqdis, Pusdiklat Bea Cukai Rawamangun.