Cari Blog Ini

Jumat, 29 Juli 2011

Memaknai Kalimat Tauhid

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Oke, ini ending dari 4 edisi khotbah selama PKL di KPPBC Malang. Langsung saja, inilah ringkasan dari khotbah pekan pertama PKL, 24 Juni 2011. Tentang keimanan juga, sedikit banyak nyambung sama khotbah pekan kedua (posting sebelum ini).

-----------------------------------------------------------------------------------------

* Konsekuensi kalimat tauhid 'Laa illaha ilallah' :

- menolak adanya sesembahan selain Allah SWT --> tak ada berhala-berhala yang menandingi Allah SWT, menjauhi segala pengagungan berlebihan dan pengkultusan terhadap makhluk

- mencintai Allah SWT lebih dari segala hal lain --> layaknya orang yang jatuh cinta, lakukan yang terbaik untuk yang dicintai. Tak ada yang lebih penting selain mencari ridho Allah SWT dan hal-hal yang membuat Allah senang jika kita melakukannya

- memilih yang haq dan meninggalkan yang batil --> karena yang haq akan mendekatkan diri kita kepada Allah, sedangkan yang batil akan membuat kita semakin jauh dari cahaya dan hidayah-Nya

- mengikatkan diri terhadap segala aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT --> yakni Islam, satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah, dan telah disempurnakan, agama rahmatan lil alamin, yang berlaku bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Firman Allah dalam QS Al-Maa'idah ayat 3 : " . . .Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu . . ."

* Untuk meraih derajat ketaqwaan yang sebenarnya, harus dengan keimanan dan keislaman yang sempurna --> masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin.

* Hidup dalam Islam, matipun tetap dalam Islam. Firman Allah dalam QS Ali-Imran ayat 102 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. "

* Allah SWT akan menilai sejauh mana kesabaran kita dalam menegakkan agama Islam

-----------------------------------------------------------------------------------------

Sekian poin-poin penting yang dapat penulis tulis ulang di sini (karena tulisannya jelek, jadi nggak semua catatan khotbahnya terbaca T.T )

Semoga secuil ilmu ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Secuil Ilmu Tentang Iman

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kali ini posting dari catatan khotbah Jumat tanggal 1 Juli 2011 kemarin (pekan kedua PKL di KPPBC Malang)

Khotbah Jumat kali ini mengenai aqidah dan keimanan. Tapi maaf, karena keterbatasan saya, cuma sempet mencatat beberapa poin saja, maklum yang diomongin buanyak buanget.

* Kita pasti pernah mendengar kalimat berikut ini : "iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan" --> jadi tidak benar kalau ada orang yang mengaku beriman, tanpa menjalankan ibadah dengan alasan "iman itu kan yang penting yakin" (yakin doang tanpa ada realisasi? Nol besar tauuu... )

* Allah SWT berfirman : "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa" (QS Al Baqarah ayat 21) --> perintah langsung dari Allah agar kita menyembah-Nya agar menjadi orang yang bertaqwa

* Dalam khotbah tadi, disebutkan bahwa 4 hal yang penting dalam keimanan adalah :

- rububiyah : yakni mempercayai bahwa ada Rabb yang mengatur seluruh alam semesta, baik yang terlihat oleh mata maupun tidak, baik yang makro maupun yang mikro, yakni Allah SWT

- ulluhiyah : yakni mempercayai bahwa tidak ada sesembahan lain selain Allah, segala bentuk penyembahan dan penghambaan manusia, hanya kepada Allah SWT

- i'tiqodiyah : yakni hal-hal yang tidak berhubungan dengan tatacara amal

- a'maliyah : yakni hal-hal yang berhubungan dengan tatacara amal

* Orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa

----------------------------------------------------------------------------------------

Mohon maaf sekali, karena keterbatasan penulis, maka hanya sedikit hal yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Senin, 25 Juli 2011

Oh Negeriku. . .

Menepati janji saya untuk memposting ringkasan khotbah Jumat selama PKL di Malang, kali ini adalah khotbah dari Jumat ketiga yang akan saya posting (8 Juli 2011). Tema yang dibahas adalah rusaknya negeri ini adalah karena rusaknya para pemimpin negeri.

Khotbah yang sangat menohok, menurut saya. Karena sebagian dari yang mendengar khotbahnya adalah para pejabat pemerintah dari salah satu instansi yang memiliki citra negatif di masa lalunya (sekarang? kurang tahu ya :p sepertinya sih sudah lebih baik).

Khotbah dibuka dengan suatu ajakan untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala ayang dilarang oleh-Nya, yang terutama diwujudkan dalam pengelolaan negeri ini. Karena jika tidak, maka jangan harap negeri ini akan menjadi negeri yang barokah, aman dan sentosa, meski sering digembor-gemborkan sebagai tanah yang gemah ripah loh jinawi.

Allah SWT berfirman "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. . . . " (QS An-Nahl ayat 90)

Adil, adalah suatu tuntutan mutlak bagi setiap muslim dalam berbuat, terutama ketika menyangkut hak orang lain. Apalagi jika hak orang lain yang diurus itu banyak (seorang pemimpin kan ngurusin banyak orang).

Lalu, bagaimana dengan para pemimpin bangsa ini? Ketika banyak rakyat yang masih miskin, makan pun seadanya, sang pemimpin malah ngeluh gajinya gak naik-naik. Ketika rakyatnya kesulitan membeli bahan bakar untuk memasak, pejabatnya rebutan jatah mobil dinas yang masih gres. Ketika jutaan tunas bangsa tak mampu meneruskan pendidikan, yang mewakili suara rakyat berbondong-bondong study banding ke luar negeri.

Adilkah?

Bukankah setiap pemimpin nantinya akan diminta pertanggungan jjawab atas apa-apa yang dipimpinnya? Atas amanat yang diembankan kepadanya?

Sadarkah mereka, bahwa ketidakadilan seorang pemimpin, tidak jujurnya pengelola bangsa ini, kecurangan yang terjadi di berbagai instansi, adalah faktor terbesar dalam perusakan bangsa ini?

Bukankah pemerintah beserta seluruh lembaga dan instansi di dalamnya adalah pelayan masyarakat? mengapa masih sering tidak ingat sama rakyat?

Kalau begini terus, kapan orang-orang negeri ini bebas dari kata 'melarat' ?

*sebuah renungan bagi kita semua, yang kelak akan menjadi barisan pemimpin negeri ini, insyaAllah

Minggu, 24 Juli 2011

Nikmat Senikmat-nikmatnya

Hayooo . . . apa yang ada di pikiran Pembaca sekalian pas ngebaca judul di atas?

Pasti pada mikir yang enak-enak kan?

Makanan enak? Tubuh sehat? Rejeki lancar? Profesi yang dimimpikan? Pasangan hidup yang soleh/solehah? Keluarga bahagia? Atau apapun yang ada di pikiran Anda?

Terserah deh mau mikir apa, saya cuma mau ngebahas suatu nikmat, yang bener-bener begitu iiiiiindah banget, tapi banyak orang yang melupakannya.

Apa coba?

Silahkan tebak.

Yaak, Anda di sana, yang lagi ngebaca blog ini, menjawab dengan benar. Hadiahnya adalah secuil ilmu yang semoga bisa membawa kita ke arah yang lebih baik.

Mau tau? Mau tau beneran nih? Yaudah terusin aja bacanya.

Nikmat iman dan Islam, yang saya maksud di sini, Saudara-saudaraku sekalian.

Hayo ngaku, seberapa ingatkah Anda, bahwa keimanan ini adalah suatu nikmat yang tak terkira? Jangan disangka label "Islam" yang tertera di KTP kita hanya sebagai warisan orangtua, yang dimaknai apa adanya, dijalani apa adanya, tanpa perenungan lebih lanjut. Seolah itu memang hal yang lumrah, apa adanya dan diwariskan secara turun-temurun dari bapak-ibu kita ke kita, ke anak-anak kita, ke cucu kita dan seterusnya. Seperti silsilah kesukuan kita; kalau bapak orang Batak, maka saya juga orang Batak; kalau ibu orang Minang, maka saya orang Minang.
Bukaaan, bukan seperti itu.

Keimanan dan keislaman kita adalah suatu rahmat dari Allah, yang patut disyukuri.
Kita yang merupakan orang-orang Islam dari keturunan (beragama Islam sejak dari sononya, ngikut orangtua) sebenarnya sangat beruntung, karena sudah punya modal awal, tinggal mencari tahu lebih dalam tentang iman dan Islam itu apa sih.
Bandingkan dengan saudara-saudara para mualaf kita yang mendapatkannya dengan susah payah, melalui pencarian akan kebenaran, pergolakan batin, serta pertentangan dengan keluarga (sejujurnya kadang saya iri dengan mereka, karena kadang mereka benar-benar mendapatkan suatu pencerahan yang menyeluruh; tapi saya juga bersyukur deh, diberi freepass Islam melalui keluarga).

Tanpa iman dan Islam, kita akan hidup secara jahiliyah. Tak akan ada aturan yang membatasi kita, tanpa ada tanggung jawab yang membebani kita, tak akan ada kekhawatiran akan apa yang akan terjadi setelah kita mati.
Ah, tak perlu lah kiranya saya memberi contoh kepada pembaca sekalian, akan apa yang dimaksud kejahiliyahan jaman modern. Tak perlu lah saya membahas manusia era digital yang kelakuannya (seringkali, tapi tidak semua) tak lebih bagus daripada binatang. Tak perlu, saya rasa, karena pembaca sekalian juga sudah paham apa yang saya bicarakan.

Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi mengetahui mana yang haq, dan mana yang batil. Mana yang halal, dan mana yang haram. Mana yang boleh dilakukan, dan mana yang dilarang.
Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi tahu, mengapa kita ada, darimanakah asalmula kita, dan bagaimana kita seharusnya berbuat.
Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi tahu bahwa keberadaan kita di sini, saat ini ( termasuk yang sedang membaca blog ini) adalah semata karena ada yang menciptakan dan memelihara kita, beserta seluruh alam semesta ini, dan Dia pulalah yang nanti akan mengakhiri seluruh alam raya ini, hanya kepadaNya lah kita akan kembali. Berkat nikmat iman dan Islam pulalah, kita jadi mengenal "Dia", yakni Allah Subhanahu WaTa'ala.

Ah, sungguh enak jadi orang beriman. Bingung dengan kehidupan yang makin ruwet, kembali saja ke undang-undang dasar yang menjadi sumber dari segala sumber hukum yang seharusnya kita patuhi; Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ada masalah menerpa? No problem, ini semua adalah ujian bagi kita, sebagai batu loncatan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Mengalami musibah? Tak lain adalah peringatan bagi kita, agar semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Rejeki kurang lancar? Tenanglah, semua ada jatahnya, kita hanya harus berusaha dan berdoa. Hal yang kita rencanakan gagal total berantakan? Sudahlah, Alah pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita.

Nikmat bukan, hidup yang seperti itu? Kalaulah kiranya pembaca sekalian sudah memahami betapa nikmatnya memiliki iman dan Islam dalam diri kita, maka sudah sepantasnyalah kita yang memiliki iman di dalam dada ini, untuk mensyukurinya.
Bagaimana caranya?
Tak lain, adalah dengan menjalankan segala yang diperintahkan oleh-Nya, dan menjauhi apapun yang dilarang oleh-Nya. Lakukan apa-apa yang jika kita lakukan, Allah senang dan ridho atas perbuatan itu, dan hindari segala hal yang jika kita lakukan, Allah akan murka dan membencinya.

Terdengar sederhana memang, namun pasti tak semudah kedengarannya, mungkin begitu pikir Anda. Tapi kalau nggak dicoba, apa kita akan diam saja?

Tapi . . .

Ah sudah nggak pake tapi. Mari kita coba saja sebisa mungkin :)

-----------------------------------------------------------------

Dari khotbah Jumat di Masjid (lupa namanya) KPPBC TMC Malang, 15 Juli 2011

InsyaAllah khotbah dari Jumat-jumat yang lain (ada 4 Jumat) selama saya PKL di sana, akan saya posting juga, itung-itung sebagai 'tebusan' karena selama PKL (20 Juni-15 Juli 2011) dan selama di Malang (pulkam 17 Juni, baru balik Jakarta 21 Juli) saya hampir gak posting samasekali. Maklum, internet di rumah lagi trobel, dan di kantor pas PKL lumayan sibuk, jarang banget bisa onlen, apalagi posting. Tapi nyicil ya, soalnya disambi ngerjakan laporan PKL :p

Jumat, 22 Juli 2011

It's just an excuse . . .

Mohon maaf kalau selama ini saya jaraaang banget, nyaris nggak pernah posting, karena terhitung sejak 20 Juni hingga 15 Juli yang lalu, saya disibukkan dengan kegiatan PKL. Yah, meski sekilas terlihat hanya ikut nimbrung di kantor, ternyata nggak santai-santai amat, dan nggak sempet online setiap saat (apalagi posting). Padahal sebenarnya banyaaaak sekali yang bisa dituliskan selama PKL. Jadi, tunggu ya, nanti kalau ada waktu luang, akan saya post satu-persatu. Soalnya sekarang ini juga lagi nyicil laporan PKL-nya. Doakan saja Laporan PKL saya cepet kelar, biar bisa cepet blogging lagi...

Selasa, 05 Juli 2011

I've Just Heard This Quote . . .

Suatu sore, saya mendengar kalimat ini "Tuhan sudah memperlihatkan pada kita 2 jalan; yang ini jalan ke neraka, yang itu jalan ke surga. Kita diberi pilihan, terserah yang mana. Kita nggak dipaksa kok."

Kalimat yang singkat, padat dan bermakna, bagi saya.

Nggak usah mikirin ruwet-ruwet lah kalau mau ke surga. Tinggal ikutin aja 'jalan ke surga' seperti apa yang ditunjukan oleh Allah.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus"(QS Ali Imran 51).
Dan masih pada surah yang sama, Allah berfirman : "Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (QS Ali Imron 101).

Sebaliknya, kalau kita mau mengikuti petunjuk-petunjuk ke neraka (kan biasanya, yang dilarang agama adalah yang enak-enak menurut manusia) ya silahkan saja, terserah. Tapi ya inget aja, ujung dari jalan ini adalah neraka.

Sekali lagi, kita nggak dipaksa untuk mengikuti perintah agama, atau menjauhi hal-hal yang dilarang. Terserah. Tapi kita kudu inget aja, segala konsekuensinya kita sendiri yang tanggung.
Mau neraka? Atau kepengen surga? Make your choice