Cari Blog Ini

Sabtu, 31 Desember 2011

Perayaan Tahun Baru - Sebuah Bencana Aqidah

Assalamu'alaikum pembaca. Langsung aja ya, males basa-basi nih.
Mungkin dari judul postingan ini, sebagian pembaca udah menyeringitkan alis. Mungkin ada yang menganggap saya sok suci, sok alim, ato sok-sok lainnya selain Sok'imah tentunya. Mungkin ada yang menganggap, ah, apa salahnya merayakan even setahun sekali. Atau menfanggap saya ketinggalan jaman karena nggak mau ikut-ikutan merayakan tahun baru. Atau apapun, terserah. Yang jelas, memang postingan ini adalah postingan dakwah, jadi kalau ada pembaca yang merasa di KTP-nya tidak ada tulisan 'Islam' di kolom agama, ya boleh aja kok meninggalkan laman ini. Kalau yang merasa Islam, insya Allah ada baiknya membaca tulisan ini sampai selesai.
Jadi kali ini saya mau ngebahas tentang kontroversi perayaan tahun baru masehi di kalangan umat Islam (dari judul juga udah jelas kan?)
Oke lanjuut. Kita sepakat bahwa dalam ajaran Islam, gak ada namanya perayaan tahun baru masehi. Tahun baru Islam, karena menggunakan kalender Hijriyah, maka jatuhnya pun berbeda dengan tahun baru masehi. Dan cara orang Islam menyambutnya, adalah dengan berkumpul di masjid/mushola, atau di mana saja juga boleh, untuk membaca doa akhir tahun pada hari terakhir tahun sekian, setelah ashar, dan membaca doa awal tahun pada hari pertama awal tahun, selepas maghrib. Udah pada tahu kan? Oke, kali ini saya nggak membahas tahun baru Islam. Tapi tahun baru masehi, alias 1 Januari 2012 besok.
Jadi gini, kita kan udah tahu sama tahu nih, kalau dalam Islam, nggak ada yang namanya perayaan tahun baru masehi. Sementara kenyataannya, banyak sekali orang yang merayakan tahun baru masehi. Jadi bisa disimpulkan bahwa perayaan tahun baru masehi itu bukan berasal dari ajaran Islam. Saya bold biar jelas. Dari ajaran mana? Kagak tahu, yang jelas bukan ajaran Islam titik. Jadi sekali lagi, karena bukan ajaran Islam, maka kita yang Islam, nggak perlu dan nggak boleh mengikutinya.
Cukup jelas sampai di sini?
Dari khotbah Jumat kemarin, yang dapat saya tangkap adalah jangan sampai kita mengikuti hal-hal yang menjadi tradisi kaum selain Islam. Dalam sebuah hadits diriwayatkan "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". (sumber)
Perayaan Tahun baru, dan even-even lain serupa itu yang diekspos besar-besaran oleh media, yang dijadikan sebuah tradisi masyarakat 'masa kini', bisa jadi hanyalah suatu cara yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat Islam dari akidah yang benar. Semakin melenceng umat Islam dari akidah yang benar, maka semakin senang lah musuh-musuh Islam tersebut. Dalam satu riwayat, dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, rejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim). (sumber)
Nah lo, apa kita mau digolongkan bersama 'mereka'? Kalo saya sih nggak mau...
terus ngapain dong taun baruannya?, mungkin sebagian berpikir begitu.
Yaelah, taun baru doang, apa serunya sih. Wong cuman besok libur, gitu aja kok. Nggak beda sama malam minggu atau malam liburan yang lain. Gak perlu lah hura-hura atau hambur-hambur duit gak jelas. Lagian kan macet banget nih bakalan, maen-maen kemana gitu juga gak enak toh? Mending juga di rumah, tidur (saya mah hampir tiap taun baruan ya tidur aja, kagak ada yang aneh-aneh).
Kalo masih ngotot aja mau merayakan atau setidaknya menganggap malam tahun baru adalah hal yang istimewa, saya ngasih saran aja deh. Yang penting tuh, bukan perayaannya. Lebih baik Anda membuat suatu resolusi tahun baru (ceileh bahasanya, resolusi), target-target apa aja yang bakal Anda perjuangkan mati-matian untuk dicapai. Dan tentu aja, nggak cuma bikin janji atau resolusi tanpa bukti, nol besar itu mah. Tetep lebih penting gimana kita aja yang mewujudkan target itu untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Oiya, boleh juga ngebikin suatu daftar kesalahan, kekurangan, atau kelemahan Anda di tahun ini, yang harus diperbaiki dan jangan sampai terulang di tahun depan. Meski sebenarnya, introspeksi dan resolusi perbaikan diri bisa dilakukan kapan saja, nggak cuma pas tahun baru.
Saya rasa ngelakuin hal beginian lebih bermanfaat daripada sekedar begadang atau kelayapan nggak jelas. . .
Goodbye, 2011. Welcome, 2012 . . .

Jumat, 16 Desember 2011

Takutlah (Hanya) Kepada Allah

Coba Anda keluar rumah (setelah membaca tulisan ini tentunya), lalu lihat ke kubah langit yang megah tanpa tiang itu, dan juga segala hal di balik birunya yang menyejukkan mata (kecuali kalau sedang mendung, atau malam hari). Oke, sekarang kan malam hari, jadi mari kita sejenak melihat langit malam. Bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya yang hanya memberkaskan seikit cahayanya untuk kita. Lihat pula bentangan bumi yang luas ini. Datarannya, gunungnya, lembahnya, sungainya, dan samudranya, beserta seluruh kehidupan di atasnya. Semua terpelihara sempurna. Pernahkah Anda renungkan semua itu? Siapakah yang menciptakannya? Siapa pula yang memeliharanya?

Tentulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang melakukan itu semua, yang menciptakan dan memelihara jagad raya ini dengan penuh perhitungan dan dengan segala kesempurnaan mereka (sempurna dilihat dari perspektif makhluk, yakni sempurna penciptaan dan perhitungannya). Subhanallah, betapa Maha Besar nya Allah SWT itu ya... Kalau lagi ngebayangin hal ini, bawaannya damai gitu. Allah Maha Pengasih dan Penyayang banget deh...

Tapi tunggu!
Alam semesta yang megah ini tetaplah 'hanya' sebuah ciptaan yang ringan bagi Allah untuk mencipta dan memeliharanya. Alam semesta tidaklah abadi. Dia, beserta kita di dalamnya, hanyalah makhluk yang kelak akan dibinasakan. Ketika tiba waktunya Malaikat Isrofil meniup sangkakalanya, maka hancurlah alam semesta ini, tak bersisa kecuali mereka yang dipilih-Nya untuk tetap hidup.
Tentu tak perlu dijabarkan kejadian macam apakah kiamat itu, karena penulis sendiri pun tak sanggup membayangkannya. Yang jelas, bih mengerikan sangat jauh ledibandingkan berbagai film Hollywood (atau wood-wood yang lain) yan bertema bencana dan kiamat, unimaginable pokoknya.
Dan setelah itu, telah meanti padang mahsyar, da pada gilirannya nanti, neraka bagi kaum yang membangkang. Oke, kita skip dulu tentang surga, penulis ingin mengajak pembaca sedikit merenungkan, betapa ngerinya hari akhir.

Betapa ngerinya hari akhir tu, siapakah yang membuat skenarionya? Tentu saja, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dzat Yang Maha Adil dalam menetapkan perhitungan dan balasan bagi setiap manusia atas amal perbuatannya selama di dunia.
Glek!
Kalo inget gini aja deh, rasanya nyali ciut dah. Seolah kagak ada lagi keberanian tersisa, bahkan anya untuk tersenyum.

Mari kembali merenung sejenak. Mari kita gunakan akal kita untuk salah satu fungsi yang benar : agar takut kepada Allah dan murka-Nya, bukan untuk mengagungkan logika dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, lalu berkata bahwa tuhan itu tidak ada.
Ketika mati nanti, setiap amal perbuatan kita akan dihisab oleh Allah. Yang baik akan mendapat ganjaran, dan yang buruk berarti voucher tour ke neraka. Seringkali kita merasa bahwa sudah banyak perbuatan kita yang 'baik' dan layak medapat ganjaran surga, tapi apakah kita benar-benar yakin bahwa amalan (yang kita anggap) baik tersebut diterim oleh Allah SWT?
Di sisi lain, kita lebih yakin bahwa kita telah cukup banyak melakukan maksiat (baik secara sembunyi-sebunyi maupun trang-terangan) dan itu artinya, kita telah mengumpulkan tiket ke neraka, dan vouchernya pun hampir pasti sudah cukup banyak untuk ditukar dengan perjalanan yang tidak singka di neraka. . . .

Jadi, apakah masih ingin tambah voucher lagi? Padahal neraka itu, ah, siksanya sungguh mengerikan, berkepanjangan dan tak dapat dibayangkan. . .
Sekedar mengingatkan, Rasulullah saja, manusia maksum yang terbebas dari dosa dan kesalahan, yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT, setiap harinya beristighfar tak kurang dari 70 kali dalam sehari (riwayat lain mengatakan, 100 kali - cek referensi). Nabi Nuh, yang mendapat sedikit teguran dari Allah karena memohonkan keselamatan bagi salah satu anaknya yang hampir tenggelam saat terjadi air bah yang menenggelamkan bumi, sangat menyesali perbuatan beliau tersebut, bertaubatselama 40 tahun tidak berani menatap ke langit karena malu pada Allah SWT (cek referensi). Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dari para Nabi, Rasul, an manusia-manusia pilihan Alah yang lainnya.
Lalu bagaimana dengan kita?
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah pengingat bagi diri penulis yang masih banyak dosa, dan semoga dapat mengingatkan sahabat pembaca sekalian.
Topik ini dibahas pada khotbah Jum'at tadi siang

Minggu, 04 Desember 2011

Hujan Lagi, Hujan Lagi

Hujan jangan diumpat karena dia adalah rahmat. Bayangkan kalau tak hujan, petani gagal produksi pangan. Kalau hujan lama tak turun, tanaman meranggas banyak kehilangan daun. Lagi pergi tiba tiba hujan deras, nggak bisa pulang emosi jadi memanas. Salah sendiri, nggak mempersiapkan diri. Pepatah bilang sedia payung sebelum hujan, atau boleh juga bawa jas hujan. Hujan deras bikin jalanan macet, siapa suruh nyampah di kali sampai airnya mampet. Hujan deras longsorkan tebing, jeritan korban terdengar sayup-sayup, tanyakan pada yang memangkas bukit dan gunung sampai tak ada lagi pohon yang hidup.
Hujan adalah rahmat, diturunkan dari langit dengan perhitungan yang maha-cermat. Matahari panaskan samudra, membentuk awan yang siap mengembara. Awan berkelana ke penjuru dunia, siap turunkan hujan di mana saja.
Coba kita sedikit mengaji. buka Al-Qur'an lalu baca dan resapi. . .
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Ar Rum ayat 48)
Hujan adalah rahmat, hanya persepsi yang salah yang membuat kita mengumpat.