Cari Blog Ini

Senin, 31 Januari 2011

Subhanallah, Kesehatan Itu Adalah Suatu Kenikmatan Tiada Tara, Kawan

Seharusnya postingan kali ini tentang Tafakur Alam, tapi apa daya, Gusti Allah berkehendak lain. Saya nggak dikasih izin buat ikut tafakur. Mungkin Gusti Allah kasihan sama saya, disuruh istirahat, sayangnya nyuruh istirahatnya dengan cara yang nggak begitu enak bagi saya. Gusti Allah menyuruh saya istirahat melalui perantara salah satu (atau salah banyak) dari makhluknya yang bernama Salmonella typhi untuk menginfiltrasi tubuh saya. Dan mereka menyusup dengan sukses. Alhasil, saya pun tepar... dan nggak bisa ikut Tafakur Alam.

Sakit tifus itu ternyata nggak enak (sejujurnya, nggak ada sakit yang enak).

Kronologinya begini, pertama sih rasanya cuma agak panas/demam, sama pusing-pusing gitu doang (terasa sejak sabtu malam setelah ikut survey TA). terus pas besoknya kok makin lemes. Kirain meriang biasa karena masuk angin. Eh besoknya masih demam tinggi plus meriang, jadilah saya mbolos kuliah. Menunggu suhu jakarta memanas, akhirnya saya berangkat ke poliklinik. Dan dari diagnosa awal, ada dua kemungkinan, kalo nggak tifus ya demam berdarah. Subhanallah,,, Baru kali ini saya mendapat vonis penyakit yang aneh-aneh. Dan akhirnya, dengan surat izin dari dokter, saya sukses meringkuk di tempat tidur selama 2 hari (senin-selasa). Salut deh sama dokter, dokter emang pinter, cuma vonisnya aja bikin keder.

Rasanya nggak enak, Kawan. Badan meriang, demam tingi pula. tapi kerasanya kedinginan. Ada sensasi pusing juga, sama sakit di belakang mata, ditambah sedikit mual tapi nggak bisa muntah. Whew, nggak mau nyoba lagi deh pokoknya. Hari rabu maksain diri buat ngampus, nggak enak tiduran mulu di kosan, sekalian ngadep ke dokter. Diperiksa lagi, terus disuruh periksa darah buat kepastian. Dan saya pun manut. Hasilnya,,,, positif kena tifus.

Dan dokter pun mengeluarkan sekian banyak perintah dan larangan pada saya. Yang nggak boleh makan ini lah, itu lah. Yang kudu begini lah, begitu lah. Banyak kali aturan buat orang sakit. Ckckck

Yah, mari kita ambil hikmahnya. Saat sakit begini, maka akan terasa sekali bahwa sakit itu nggak enak. Lebih tepatnya, kita akan merindukan nikmatnya saat sehat. Memang di kala tubuh sedang sehat, kita sering lupa bahwa kesehatan itu adalah kenikmatan tiada tara. Kita seenaknya berbuat sesuka hati kita, bersenang-senang menuruti hawa nafsu, dan sayangnya, seringkali lupa ibadah. Pas sakit begini baru terasa, betapa kita merindukan saat-saat sehat. Pas sehat mah enak banget, bisa ngapa-ngapain tanpa ada halangan. Pas sakit, bawaannya tidur mulu. Nggak salah deh kalau salah satu wejangan Rasulullah tuh, dalam "ingat 5 perkara sebelum 5 perkara", salah satunya adalah ingat sehat sebelum datang masa sakitmu.

Well, sekedar pengingat saja bagi kita sekalian. Mumpung masih pada sehat, mari perbanyak ibadah kita. Sholatnya dibenerin, ayo jama'ah ke masjid. Kalo sakit, jangankan ke masjid, buat ruku'-sujud aja pusing. Mumpung masih pada sehat, ayo ngaji yok. Kalau lagi sakit, jangankan ngaji, melek doang aja rasanya pusing, rasanya mau dibawa tidur mulu. Mumpung masih pada sehat, pokoknya kita tingkatin terus deh ibadah kita, mumpung belum diingatkan dengan sakit.

Ayo wes, isya' iki lho. Ayok nang masjid rek :)

Sabtu, 22 Januari 2011

Survey Situlembang ; Negeri di Atas Awan, Danau di Atas Bukit

Apa yang Anda bayangkan dari sebuah tempat bernama Situlembang?

Kalau Anda berpikir tentang Observatorium Boscha yang terkenal itu, maaf, Anda salah (meski saya juga awalnya mengira seperti itu). Ini bukan Lembang, Guys. Lihat namanya, ada unsur 'situ'. Teringat tragedi Situgintung? Sebuah danau buatan di Tangerang yang sempat jebol pada tahun 2009 dan menewaskankan 99 jiwa? Situ berarti danau dalam bahasa Sunda. Jadi Situlembang juga pasti sebuah danau.

Okelah, silahkan search lewat google. Ketemu? Dari berbagai sumber, intinya Situlembang adalah sebuah danau kaldera dari letusan Gunung Sunda 2-3 juta tahun lalu ( gak tau gimana ngitungnya), dengan ketinggian sekitar 1.567 m di atas permukaan laut, dengan suhu udara antara 15-250 C, berlokasi di wilayah Kabupaten bandung barat, sekitar 18 Km dari Kota Cimahi.

Garing deh, informasinya kayak nyalin dari internet aja nih.

Oke pemirsa, sabar sedikit. Ini kan baru pembukaan. Daripada diprotes lebih lanjut, saya langsung aja cerita deh.

Jadi begini, hari Jumat (21 Januari 2011) kemarin saya 'diajak' (atau lebih tepatnya ditunjuk) oleh rekan-rekan IMMBC (Ikatan Mahasiswa Muslim bea Cukai) menjadi panitia survei untuk acara TA (Tafakur Alam, semacam acara outbond plus kajian Islami). Lokasinya, di Situlembang tadi.

Oke, lanjut.

Singkat cerita, saya bersama 7 rekan lainnya, tergabung dalam tim kedua (tim pertama sudah berangkat lebih dulu pada pagi harinya) berangkat dari Kampus Frans Seda tercinta sekitar pukul 2 siang dengan menunggang APV pinjaman.


Singkat cerita, sekitar pukul 5 sore, kami sudah nyaris tiba di lokasi, beristirahat sejenak untuk sholat ashar dan menunggu tim satu di sebuah masjid yang saya nggak ingat namanya (udah gitu juga nggak motret masjidnya, cuma foto-fotoan di depan masjid) . Sekedar info, tim dua berkekuatan 8 anggota(Dedi, Galih, Naufal, Faridz, Fefe, Hisyam, Hendy dan saya), dan tim satu juga berkekuatan 8 anggota (Arnol, Andhika, Elang, Yoga, Pras, Bayu Dwi, Wildan dan Yonky) mengendarai Kijang, juga pinjaman. Total ada 16 orang, lelaki semua. Nggak ada penyegar suasana :p

Udaranya bener-bener terasa sangat berbeda dengan di Jakarta. Sejuk dan segar. Mungkin suhu udara berkisar 20 C waktu itu, mengingatkan pada suasana Kota Batu, Malang.

Seusai sholat, kami rapat sebentar, membahas gono-gini yang saya nggak begitu paham (maklum,bukan panitia inti) terus melanjutkan perjalanan ke lokasi. Coba lihat foto di atas sebentar. Lihat gunung (atau bukit?) yang ada pada background, bukit yang tertutup kabut. Seorang teman yang sudah pernah ikut survei pertama berkata, bahwa lokasi Situlembang ada di bukit berkabut tersebut. Saya hanya bisa ber-'woow' meski dalam hati mikir juga, apa kata-kata teman saya ini serius atau cuma bohongan. Dan pada waktunya, fakta akan bicara.

Singkat cerita, sekitar setengah enam sore kami tiba di 'gerbang masuk' lokasi. Setelah seorang rekan melapor kepada petugas jaga, kami pun sukses masuk ke wilayah khusus tersebut. Wilayah ini memang bukan daerah wisata yang semua orang bisa masuk hanya dengan membayar tiket. Harus mengajukan surat izin terlebih dahulu, izin harus diterima, mendapat ID masuk sesuai kuota, dan birokrasi bla bla bla yang saya nggak paham. Beruntungnya saya bukan panitia inti :p

Masuk ke wilayah bukan berarti tiba di lokasi TA. Kata teman-teman yang sudah pernah ke sini, jarak antara gerbang dengan lokasi sekitar 8 km. Dan lagi-lagi saya hanya bisa ber-'ooooh'. Menebak-nebak apakah kata-kata itu benar. Sayangnya, saya terlalu sibuk untuk mengagumi suasana sekitar sambil ngobrol-ngobrol, jadi nggak sempet ngeliat speedometer dan jam HP untuk menghitung jarak tempuh, seperti yang diajarkan guru fisika sejak SMP :p

Oh iya, sekedar mengingatkan, mengingat fakta geografis tempat ini, lokasi ini terlihat seperti hutan tundra. Atau gampangnya, hutan pinus. Hutan pinus di gunung (atau bukit?). Dan satu lagi, tempat ini tidak terjangkau oleh sinyal seluler, kecuali Anda menggunakan telepon satelit. Sekitar setengah jalan ke lokasi, kurang lebih pada pos penjagaan ke dua (ada beberapa pos jaga di sepanjang jalan menuju lokasi), indikator sinyal pada HP kami sudah mulai kedip-kedip. Bahkan operator terbaik se-tanah air pun nggak sanggup menembus lebatnya hutan pinus di ketinggian ini. Mantab toh?


video

Pohon-pohon pinus menjulang di kiri kanan jalan. Suhu udara jauh lebih rendah daripada suhu udara Jakarta. Sayup-sayup suara burung terdengar di sela-sela deru APV. Mendung yang menutupi seluruh kuadran langit yang bisa terlihat. Suasana makin gelap. Ketiadaan sinyal seluler. Serem juga suasananya. Entah kenapa tiba-tiba membayangkan ada hewan buas yang tiba-tiba muncul dari semak-semak. Apalagi pohon-pohon di pinggir jalan banyak yang memiliki bekas sayatan sadapan getah. Apalagi sesaat setelah matahari terbenam, praktis kami hanya mengandalkan sorot lampu mobil sebagai sumber cahaya. Imajinasi makin liar, yang ngomong taman safari lah, jurassic park lah, atau apalah. Yang penting enjoy.

Dan sekitar jam enam lewat dikit, kami melihat secercah cahaya, dalam artian yang sesungguhnya. Itu artinya, barak sudah dekat. Dan akhirnya mobil pun berhenti. Sebagian panitia turun dari mobil, sementara sisanya tinggal di dalam, harap-harap cemas karena aturan awalnya hanya boleh ada 10 orang yang masuk dan menginap. Sisanya? Harus turun lagi, kalau sesuai aturan. Dan saya, dengan kesukarelaan yang tinggi memilih untuk diam di dalam mobil (sebenarnya hanya males keluar aja, adhem gila cuy!). Saat beberapa negosiator membicarakan entah apa, kami menikmati hangatnya suasana dalam mobil. Sambil ditemani murattal juz amma dan lagu-lagu tahun 2000-an, kami mengamati kabut yang mulai turun dari punggung bukit dan menyerang danau di tengah lembah. Sungguh suatu pemandangan langka melihat serangan kabut (selain di Malang tentunya).

Beberapa saat kemudian, seorang teman kami memanggil kami dan menyuruh kami ikut bergabung dengan mereka di meja negosiasi. Di sana kami diperkenalkan pada seorang tentara bernama pak Endrik, yang langsung menyambut kami dengan guyonan khas militer-nya. Setelah ngobrol sejenak, kami akhirnya dipersilahkan untuk menginap di salah satu bilik kosong. Dan selanjutnya, kami dipersilahkan untuk menjalani tradisi untuk tamu. Apa coba? Mandi, Sodara. Ya, mandi. Tidak salah dengar, kami benar-benar disuruh mandi. Dalam hati, gila aja, udah jam tujuh lewat, suhu sedingin ini, kira-kira 20­0 C, dengan kabut yang sudah menyatu dengan awan, dengan angin yang suaranya saja sudah menyakitkan telinga (atau telinga sakit karena kedinginan ya?), disuruh mandi? Nggak asal mandi Sodara-sodara, tapi mandinya disuruh berendam minimal 5 menit. WAW. Seru kan? Anda mau coba?

Dan akhirnya kamipun pasrah dengan instruksi itu. Kami sebagai mahasiswa yang katanya kuliah semi militer tentu tak mau kehilangan harga diri. Dan kamipun menuruti kata-kata beliau, mandi. Di kamar mandi yang setengah terbuka itu, yang mana angin malam bisa menyusup dengan leluasa (kamar mandi tanpa pintu dengan tembok nggak full). Mantab jaya Sodara-sodara. Melihat rekan-rekan masih pada bimbang, ada yang sudah melepas baju siap mandi, ada pla yang masih berpakaian lengkap, saya pun ambil inisiatif. Copot semua kecuali cawat doang, melangkah pasti ke dalam kamar mandi dan,,, byurr... Mandilah saya di suasana dingin Situlembang. Teman-teman pun akhirnya juga pada mandi. Ada yang berlapis boxer, ada pula yang hanya berlapis kulit a.k.a telanjang bulet karena sayang kalau CD-nya basah. Untung sesi dokumentasi dilarang aktif pada saat-saat seperti ini. Serasa air kulkas. Atau dalam bahasa warteg, es tawar. Hanya saja, normalnya air es mengguyur kerongkongan di siang hari jakarta yang terik setelah makan siang, kali ini air es-nya mengguyur seluruh badan, malam-malam, dingin-dingin. Mantab kan?

Terlihat sedikit kejam memang, tapi rupanya ada hikmahnya. Mandi dingin macam ini rupanya bertujuan untuk mengadaptasikan badan kita dengan suhu udara sekitar. Memang dingin, dan setelah mandi, kita punya lulut tidak bisa berhenti bergetar. Tapi setelahnya, dinginnya malam nggak terlalu terasa. Dan faktanya, nggak ada yang masuk angin tuh, termasuk saya (padahal saya adalah yang paling benci dingin).

Setelah ritual suci tersebut, kami diperbolehkan untuk beristirahat oleh Pak Endrik. Waktu bebas laaah. Dan kamipun sholat maghrib+isya, dilanjutkan dengan rapat sejenak, lalu makan.

Mengenai makan, pasrah sajalah. Nggak ada warteg dengan berbagai menu di puncak Situlembang sana. Hanya ada warung kopi sekedarnya. Dan beruntunglah, masih ada mie instan tersedia di warung itu, jadi kami nggak perlu menunjuk sebagian anggota untuk turun gunung ke bawah sana, membeli nasi bungkus. Yah, meski hanya mie instan, lumayanlah untuk mengganjal perut. Setelah makan, kami dipersilahkan untuk tidur di salah satu bilik kosong. Tanpa banyak bercanda, kami pun cepat-cepat tidur meski tempat yang disediakan lumayan terbatas. Sebelas orang tidur berjejer di atas dipan berkasur, seperti ikan pindang mau dijual dipasar. Lagipula berdesak-desakan kan bikin hangat, dan kehangatan adalah prioritas saat di gunung.

Eh, sebelas orang? Katanya tadi total ada 16 orang? Kemana yang lima?

Entahlah, saya juga nggak tahu pasti mereka tidur di mana. kalau nggak di mushola, ya di mobil. Lagian dipan itu sudah overload kayaknya. jadi dipaksain pun, nggak bisa nampung lima orang lagi. Suatu hal yang tidak biasa, bahwa kami bisa tidur cepat malam itu (mengingat pada acara-acara sebelumnya, banyak orang berarti susah tidur cepat). Rupanya dinginnya malam itu tak hanya menyerap kalor dari tubuh kami, melainkan juga selera humor kami. Saking dinginnya, saya sendiri sampai-sampai membawa persiapan yang sedikit berlebihan bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Selain jaket+syal Arema kesayangan+celana panjang yang saya pakai, saya juga membawa sleeping bag+kaos kaki pinjaman dari seorang rekan yang sudah pernah ikut survei pertama (dia mengingatkan saya bahwa di sini benar-benar dingin, dan menawarkan saya untuk membawa sleeping bag dan kaos kaki ekstra tebal miliknya. Yhanks to Choiril Rohman) ditambah selimut (punyaku sendiri). Karena teman-teman yang lain tidak ada yang membawa perlengkapan lengkap (hanya saya dan Hendy yang membawa sleeping bag), maka atas dasar jiwa kebersamaan, saya nggak jadi tidur di dalam sleeping bag tersebut. Alih-alih, sleeping bag tersebut dijadikan selimut untuk 3 orang. Well, yang penting hangat.

***************************

Pagi tiba, kegiatan yang biasa juga. Sebagian ada yang mandi pagi, sebagian memilih mandi nanti di kosan. Setelah sholat subuh, kamipun keluar bilik dan mulai bertingkah lagi, seolah menebus hilangnya selera humor semalam tadi. Senam pagi sedikit menghangatkan tubuh, dan foto-foto seolah menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap tingkah kami. tak banyak yang bisa diceritakan pagi ini, mungkin foto-foto bisa berbicara lebih banyak. Oh iya, hanya foto-foto pemandangan yang bisa kami bawa, karena ada larangan untuk mendokumentasikan fasilitas lainnya. Dan kamipun patuh.










Sembari guyon tak karuan, kami menonton sekelompok peserta diklat (dari PN Timah kalau nggak salah) sedang 'dihajar' oleh para pelatih. Entah jam berapa, kami mendapat asupan nutrisi dari bapak pengelola warung kopi. Berupa ubi, jagung, pisang dan kacang rebus, sepertinya sisa camilan para pelatih yang tadi. Whateverlah, yang penting lumayan untuk isi perut.

Menjelang siang, ketika matahari sudah mulai tampak di langit yang masih mendung, kami mulai kembali ke agenda. Bagi-bagi tugas. Sebagian panitia mensurvei lokasi untuk acara TA nanti (tempat kami menginap tadi bukan lokasi untuk TA nantinya), sementara sebagian lainnya, turun gunung untuk menghubungi ustadz yang akan mengisi kajian, terus mencari lokasi pemesanan konsumsi, serta mencari lokasi pelayanan kesehatan untuk berjaga-jaga di hari-H nantinya. Sebenarnya, ikut dalam tim survei lokasi lebih menarik, karena nanti juga akan menyusuri jalur yang akan dipakai untuk caraka malam pada hari-H . Tapi apa daya, saya menderita biduren. Semacam alergi dingin yang muncul berupa bintik-bintik kemerahan yang terasa gatal seperti bekas gigitan nyamuk. Yasudahlah, dengan senang hati saya ikut tim turun gunung, keluar dari hutan menuju zona-ada-sinyal.

Nggak banyak hal menarik sepanjang perjalanan, hanya berupa nego-nego dengan sebuah pondok pesantren mengenai sewa jasa ustadz, dan seorang lainnya menelepon ustadz kenalan untuk berjaga-jaga. Untuk masalah kesehatan dan keselamatan, ada UGD di sebuah RSJ di kaki gunung (nggak usah dijelasin kan, kepanjangan dari kedua akronim tadi). Yang paling menarik hanya saat kami berburu sarapan sekaligus tanya-tanya harga untuk pesan konsumsi. Setidaknya, makan di warung di kaki bukit lebih dari sekedar mie instan :D

Dan tentu saja, keberadaan sinyal seluler di kaki bukit sedikit menghibur. Bisa update status, serta mengirim dan menerima SMS yang sejak kemarin sore tertunda, pending.

Urusan kelar, kamipun kembali ke atas bukit pinus, ke zona berkabut yang tanpa sinyal seluler. Dan ketika kami tiba kembali di puncak Situlembang, rekan-rekan surveyor pun sudah beres dengan urusanmereka, jadi tim tinggal saling laporan mengenai misi masing-masing. Setelah itu kami pun berkemas, dan pamit pulang pada orang-orang gunung yang setia menemani kami survei di lokasi. Tak banyak hal yang cukup menarik untuk diceritakan pada perjalanan pulang, lagipula sudah tak banyak lelucon terlontar. Kebanyakan anggota tim dua, yang menunggang APV, sudah kelelahan dan tertidur. Yang ada di pikiran kami cuma segera sampai di kosan dan istirahat sepuasnya.

Sepanjang perjalanan pulang saya masih kepikiran tentang jalur untuk caraka malam nantinya. Jadi, semoga saja semua berjalan sesuai rencana dan ada postingan baru tentang TA sebagai sambungan dari postingan tentang survei ini.

Well, thanx for reading ;)

_____________________________________________________

Postingan mengenai perjalanan ini terinspirasi oleh seorang rekan blogger, Mbah Ware yang suka berpetualang dan mengamati hal-hal terutama yang terkait arkeologi di lingkungan sekitarnya, serta memposting tulisannya di blog. Thanx for inspiring me, Mbah :D

* Sekedar intermezzo, ini adalah pemanis perjalanan pulang kami, dari Bandung ke Jakarta. Jangan mupeng ya :p



Senin, 17 Januari 2011

K.O.R.U.P.S.I.

Saya bukannya mau komentarin kasus Gayus, Century ato apalah yang lagi tren. Nggak demen ama yang begituan. Mending buka ongisnade.net ato malang-post.com, baca kabar Arema. Ini cuma karena SMS seorang temen,,tiba-tiba aja dia mempertanyakan sesuatu, pertanyaan retoris, pertanyaan klasik : Bisa nggak, korupsi di negara ini dihilangkan? Gimana caranya? Siapa yang bisa melakukannya? Apa yang harus dilakukan?

Sepertinya menarik untuk diposting.

Entah kenapa saya ditanyain begitu, entah kenapa pertanyaan itu ditujukan kepada saya, mungkin karena saya masih satu almamater dengan 'lakon' kasus mafia pajak tersebut.

Well, anyway, saya coba aja jawab sekenanya, tanpa sempet berpikir panjang.

Tanpa membawa dalil-dalil moral dari Al-Qur'an atau hadits karena saya bukan ustadz.

Tanpa membawa hasil survey ataupun penelitian karena saya bukan anggota LSM atau peneliti sosial.

Saya jawab dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa 'suatu sekolah kedinasan yang bernaung di bawah Kementrian keuangan' (kata-kata andalan yang digunakan saat promosi kampus ke adik-adik kelas yang masih SMA).

Lebih detilnya, mahasiswa yang SMS-an pas baru bangun tidur. Mantab toh?

Oke, pertanyaan pertama, dengan nilai Rp. 50.000,00 ... *eh, ini bukan kuis 'who wants to be a millionaire' ya?

Bisa nggak, korupsi di negara ini dihilangkan?

Tentu bisa (optimis). Sayangnya, nggak segampang ngetik 'bisa' di HP ato komputer. Saya mengajukan syarat, asalkan . . . nah, syaratnya nih yang kira-kira bikin susah. Adakah cukup orang yang sadar akan betapa destruktif-nya korupsi bagi negeri ini?

Oke, anggap saja banyak, saya rasa hampir seluruh rakyat Indonesia, yang kata Bang haji Rhoma Irama ada lebih dari dua ratus juta jiwa ini, sepakat bahwa korupsi itu buruk, koruptor itu busuk dan uang hasil korupsi itu haram. Kita kecualikan dari sini, tentunya para koruptor, rekan-rekannya, keluarganya yang ikut menikmati dan benar-benar menikmati hasil korupsi, termasuk pembantu-pembantunya/pegawai-pegawainya/anak-anak buahnya yang dibayar pake duit hasil korupsi, dan semua yang terlibat dengan uang korupsi itu.

Tarohlah sekian juta rakyat Indonesia membenci korupsi (saya nggak yakin berapa banyak jumlahnya setelah dikurangi dengan pengecualian tadi). Apakah itu cukup?

Jelas nggak. Suara sekian juta rakyat masih kalah dengan kekuasaan orang-orang korup di atas. Di mana? Di atas, pokoknya di puncak pimpinan negara ini lah, orang-orang berkuasa, para pembuat kebijakan, entah di departemen apa, instansi apa, saya nggak nyebut (soalnya kebanyakan). Tanpa mengecilkan peran suara rakyat (eh, bukan promosi koran lho ya), yang lebih signifikan adalah suara 'orang-orang di atas rakyat', atau lebih sering disebut pejabat. Para pembuat keputusan di negeri ini. yang menjalankan pemerintahan. merekalah yang paling diharapkan kesadarannya akan buruknya efek yang ditimbulkan oleh korupsi. kenapa? Mudah saja, karena merekalah yang paling banyak terlibat korupsi, dan dana yang dikorup oleh mereka juga jauh lebih besar dibanding korupsi oleh rakyat jelantah, itu juga kalau ada sisa untuk dikorupsi. Ada pembelaan? Saya rasa pembaca setuju saja,,,

Percaya deh, saya nggak mbales SMS tadi sepanjang ini kok. Intinya jawaban saya tadi adalah, saat jumlah 'orang sadar' lebih besar daripada 'orang mabok' atau besarnya pengaruh dari 'orang sadar' lebih besar dari efek yang ditimbulkan 'orang mabok', Insya Allah masih ada harapan. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini, toh kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi di luar logika dan perhitungan manusia.

Lanjut, pertanyaan kedua.

Caranya?

Bukaaan, jawaban saya bukan mempertegas KPK atau kejaksaan atau kepolisian atau undang-undangnya, atau membersihkan bidang-bidang lain dari para koruptor. Terlalu muluk-muluk bagi seorang saja untuk melakukan itu semua. Terlalu ribet bagi saya untuk membayangkan itu semua. Jawaban saya, ialah dengan cara menumbuhkan kesadaran untuk tidak melakukan korupsi, atau lebih luasnya, KKN (saya rasa saya nggak perlu njelasin satu-satu kan tentang trio ini, kolusi-korupsi-nepotisme). Kesadaran untuk berlaku jujur. Kesadaran yang ditanamkan sejak kecil. Sejak pendidikan dasar, lebih jauh lagi, sejak di keluarga. Dari kehidupan sehari-hari, biar nggak cuma teori. Pada prakteknya, seringkali teori yang diajarkan berbeda dengan praktek. Gimana mau memerangi korupsi kalau teorinya begini, prakteknya preketek? contoh nyata, kasus ditilang polisi 'humanis', kasih hukujan tapi manis a.k.a salam tempel. Dengan semboyan damai itu gocap indah, hal yang terlihat sederhana seperti ini tentunya termasuk terlibat tindak korupsi kan?! Hayo ngaku, pada pernah ngelakuin apa gak? Atau contoh lain, pembuatan KTP. Kalau gratis, dikasih bonus waktu, harusnya seminggu jadinya sebulan. Kalau kasih minimal ceban, tunggu aja besoknya, kelar deh. Ada contoh lain?

Mental kayak gini nih, yang susah ngilanginnya. Kembali lagi ke pendidikan moral, yang mau nggak mau, terkait pendidikan agama yang bener dan sekaligus pengamalannya. Pelajaran moral ini, kejujuran. Ya mulai lah dengan yang ringan dulu, penolakan terhadap hal-hal kayak gitu. Menolak 'berpartisipasi' berarti mengurangi jumlah pelaku korupsi potensial. Masalah penindakan itu masih jauh, lakukan hal kecil ini dulu, Kawan. Terlalu jauh bagi kita membicaraakan ranah hukumnya, orang awam macam kita yang masih sering dilindas oleh (aparat) hukum mau bicara penegakan hukum? Hahahahahahahha.....tertawalah dunia. maaf, bukan skeptis, tapi kita bicara realita, Kawan. Ayolah, semua hal besar dimulai dari hal kecil kan? Kalau semua orang melakukan hal-hal kecil macam ini, bukankah efek total (dalam fisika, sering disebut resultan gaya :D ) yang timbul akan menjadi besar?

Lanjut lah ke pertanyaan ke tiga, udah malam ini, makin ngantuk aku.

Siapa yang bisa ?

Bukaaan, saya nggak bakalan ngejawab 'presiden' atau 'ketua KPK'. Bukan, jawabannya adalah 'kita semua'. Percaya deh, kita semua bisa melakukannya. Terkait 'resultan' tadi, hal kecil jika dilakukan bersama, efeknya akan terasa besar. Naaah, maka mari masing-masing dari kita mengambil peran sebagai 'penyumbang' hal kecil tersebut. Beramai-ramai gitu, keroyokan kayak tawuran. Percaya deh, ngilangin korupsi itu nggak kayak ngelap meja kotor atau nyapuin lantai yang bisa dilakuin sama satu orang aja,,, Ini kerja bakti, Kawan. Semua terlibat, semua bekerja, semua ambil peran. Hayo, siapa lagi kalau bukan kita?

Mengutip kata-kata Aa' Gym (iya kah? ragu-ragu juga ini kata-kata siapa), "mulai dari hal yang kecil, mulai dari kita, mulai dari sekarang".

Ayo generasi penerus, tunjukkan cinta-mu pada negeri ini :)


Minggu, 09 Januari 2011

Oleh-oleh dari Istiqlal, 9 Januari 2011

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya baru kepikiran buat mem-posting catatan hasil ceramah di blog, siang tadi pas lagi ngikutin ceramah rutin Aa' Gym di Istiqlal. Terinspirasi oleh salah seorang teman yang menuliskan hasil ceramah pada note facebook, jadi ikut-ikutan deh. Yang penting kan bisa berbagi ilmu biar manfaat, oke?

here we Go..

-------------------------------------------------------------------------------------------

yang pertama ini ceramahnya ustadz Arifin Ilham.

ada beberapa poin yang saya catat, sayangnya lupa ayat-ayat yang disebutin tadi nggak tercatat.

* Tentang kematian :

-- orang Islam tidak boleh takut mati, melainkan seharusnya merindukan kematian, karena kematian adalah akan mempertemukan kita dengan Rabb kita

-- setiap saat, kita semakin dekat dengan kematian, oleh karena itu budaya merayakan pertambahan umur (alias ulang tahun) dengan hura-hura adalah salah

-- makin dekat dengan kematian, harusnya kita makin takut dengan Allah

-- salah satu doa yang dianjurkan (lupa bahasa arabnya) : " ya Allah, berilah kami kesempatan untuk taubat sebelum wafat, berilah kami ampunan saat kami wafat, berilah kami keringanan setelah wafat, dan wafatkanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah"

-- hal apa yang menjadi kebiasaan seseorang saat hidup, akan dibawa saat sakratul maut


* lain-lain :

-- jika Allah cinta pada hambaNya, maka dia akan dijauhkan dari perbuatan maksiat

-- Islam harus menyeluruh 'isi + sampul' , nggak boleh setengah-setengah

-- dzikir : lisan dan hati lebih diutamakan daripada salah satu saja


yang ini baru dari Aa' Gym (bukan Aa' Jimmy) :

* Ni'mat terbesar dari Allah adalah menjadi ahli taqwa

-- orang yang paling mulia ialah yang paling bertaqwa

-- indikasi taqwa : 1. yakin 2. istiqomah

-- 3 jenis istiqomah : 1. dalam tauhid 2. dalam beramal 3. dalam keikhlasan

cara-caranya :

--- mentafakuri syahadat kita

--- jangan mengharap sesuatu dari makhluk, karena segala sesuatu berasal dari Allah

--- mencari ilmunya sampai yakin dan mujahadah (bersungguh-sungguh)

--- sering-sering kumpul dengan orang-orang saleh, biar ketularan

---- kawan2 yang bisa dijadikan teman dekat :

1. yang bisa jadi guru ibadah

2. atau teman ibadah

3. atau murid ibadah

4. atau paling nggak, yang nggak mengganggu ibadah

* kesimpulan jawaban dari beberapa pertanyaan peserta ceramah (gak nyatet persoalannya apa aja, intinya tentang persoalan hidup gitu lah)

-- hidup nggak selalu cocok dengan keinginan kita, maka hadapilah.

Nggak ada jalan untuk menghindar, karena mau nggak mau, itulah yang telah digariskan.

Ikhlaskan saja yang telah terjadi, toh suka atau nggak suka, itu telah terjadi.

Jangan disesali, karena penyesalan nggak akan merubah apapun.

Cari solusinya, jangan persulit diri sendiri dan jangan lupa evaluasi diri kita.

Jangan khawatir, karena Allah-lah yang akan menolong kita, asalkan kita minta kepada Allah ('seperti anak kecil yang merengek pada orangtuanya, Allah suka dengan hambaNya yang memohon seperti itu')

-- Sholat yang khusyuk itu bacaannya dibagus-bagusin kayak mau ikut audisi (dan Allah lah yang jadi jurinya langsung)

---------------------------------------------------------------------------------------

itu aja yang bisa saya catat dari ceramah kali ini, kurang lebihnya saya mohon maaf, lain kali akan diusahakan lebih lengkap lagi.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jumat, 07 Januari 2011

Tahun Baru, apanya yang baru?

Sebenernya agak males aja ngomongin taun baru. Perayaannya gak penting sih. Dulu pas masih kecil mah tertarik ngeliat pesta kembang api ato apalah kemeriahan taun baru. Tapi pas udah gede gini, ngeliat acara taun baru di TV kok malah mbanyol ya??

Gimana enggak, orang-orang rame-rame ngumpul di suatu tempat, ngebawa terompet dan segala macem, ngitung mundur sampe jam 12 pas, terus rame-rame niup terompet sampe kuping serasa budeg, saling ngucapin 'happy new year', terus kembang api seharga sekian ratus ribu diluncurkan untuk menambah polusi udara. Well, happy new year.

Heran deh, apanya yang happy coba. Orang tiap kali pergantian tahun juga harga-harga barang gak malah turun. orang gaji juga belum tentu naek pas taun baru. Orang segalanya nggak tambah gampang di tahun baru. Konyol aja ngeliat wajah ribuan orang yang tampak gembira 'merayakan' sesuatu yang nggak jelas. Raut muka mereka itu lho, gak nguwati.

Ayahku selalu ngomong, buat apa kita ngerayain hal begituan, itu bukan ajaran agama kita. Well, saya lagi gak ingin ngomongin ajaran agama nih. Tapi setuju juga sama ayah, 1000% setuju.

Kita lihat dari sisi yang enteng-enteng aja laah.

Pertama, pemborosan yang nggak jelas manfaatnya. Berape duit tuh buat kembang api. Buat ngejalanin motor sampe ke tempat perayaan. udahlah, udah pada gede pastinya udah bisa mikir kalo segitu duit mendingan dipake buat kebutuhan yang laen. Saya sih anggepnya orang-orang yang masih ngerayain taun baruan tuh pikirannya kekanak-kanakan. Eh, saya ngomong gini bukan karena saya nggak ngerayain. Cuma konyol aja ngeliatnya.

Kedua, apa yang dirayain coba. Taun baru gak ada kado jatuh dari langit (kecuali pada perayaan taun baru mendatang ada orang kaya kurang kerjaan yang naek pesawat cargo terus numpahin beragam kado untuk orang-orang di bawah). Gak dapet piagam penghargaan 'Terima Kasih Telah berpartisipasi dalam Perayaan Tahun Baru 20xx' (kecuali penyelenggara perayaan telah menyiapkan piagam untuk para partisipan). Mosok gelem panitia taun baruan nyiapno ngunu-ngunu iku, lhak kurang gawe a, mandhak taun baruan ae dike'i piagam, begitu mungkin pikir Anda. Lha mangkane iku rek, mandhak taun baru ae lho, opo sih guna ne rame-ramean ndek taun baru????

Malah banyak negatifnya. Macet-macetin jalan raya yang pada gilirannya menambah polusi udara dan gak jarang menimbulkan kecelakaan. Habis-habisin duit. Melekan ( begadang, buat yang gak tau melekan ) malah menurunkan kondisi kesehatan. Ya wes pokok e gitu itu lah.

Tapi di tahun yang baru kan kita bisa mengintrospeksi diri, melihat kekurangan kita tahun lalu untuk diperbaiki tahun ini, serta membuat rencana-rencana tahun ini agar lebih baik lagi ke depannya, begitu mungkin sanggahan Anda.

Well, bener sih, tapi gak bener-bener amat. Kalau emang niat introspeksi dan memperbaiki diri ngapain juga mesti nunggu taun baru. Tiap hari juga bisa kaleee.... di tiap kesempatan malah. Masak nunggu taun baru, baru sadar. Lemot itu namanya, keburu kadaluwarsa kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Udahlah, nonsense lah perayaan taun baru itu.

Kalau bagi saya sih, semenjak menjadi anak rantau, taun baru berarti tanggal merah, pulang kampung, temen-temen pada libur jadi kemungkinan bisa kumpul-kumpul reunian bisa lebih banyak pesertanya. Sebelum-sebelumnya, ya cuma diem di rumah, nonton tivi, nonton kembang api yang diluncurkan dari villa sebelah rumah ( kalau ada ) atau ya cuman tidtr setahun. Gitu aja. That's it, that's all.

Tapi kalau Anda tetep pengen ngerayain taun baruan Anda taun depan, ya suka-suka aja sih. Ini cuma pendapat saya aja kok, nggak digubris juga nggak apa-apa. Asal jangan ngerugiin orang lain dan diri sendiri aja deh.