Postingan

Menampilkan postingan dengan label about life

Gelombang Konsekuensi

Gambar
Apapun yang kita lakukan saat ini, akan ada dampaknya. Bagi kita sendiri di masa yang akan datang, bahkan bisa juga berdampak bagi orang lain. Sebagaimana diri kita saat ini, yang amat dipengaruhi masa lalu kita. Bagaimana orang tua membesarkan kita, bagaimana kita membiasakan satu dan lain hal, bagaimana kita menyikapi setiap kejadian. Detik demi detik, menit demi menit, itulah yang membentuk kita saat ini. Semakin lama, kita akan bjsa mempengaruhi orang lain juga. Pasangan, anak-anak, tetangga, tekan kerja. Setiap perilaku kita, adakalanya akan kembali pada diri kita. Entah nanti, esok, lusa. Yang pasti, akan ada konsekuensi. Dan terkadang, dampak itu akan berantai, terus menerus.  Seperti riak di kolam. Setiap kerikil dan batu yang dilemparkan ke kolam, akan menimbulkan riak gelombang. Seperti angin berhembus, juga akan menimbulkan gelombang, bahkan ombak besar. Badai besar bahkan bisa mempengaruhi bagian dasar laut yang dangkal. Terkadang kita menjadi kolam, beriak karena hembu...

Sepotong Senja di Canberra

Gambar
Ini adalah sebuah cerita, tentang takdir yang tak terduga, namun selalu memberikan pelajaran berharga Ini bermula dari sebuah obrolan bersama rekan kerja, yang menawarkanku sebuah pelatihan manca negara. Empat bulan lamanya. Dengan cepat kutolak permintaannya, mau jadi apa meninggalkan istri dan anak-anak, empat bulan di Australia? Namun pesan lain datang, dari seorang kawan lainnya, memintaku untuk mengikuti pelatihan, persis sama dengan yang kutolak sebelumnya. Aku mulai mempertimbangkannya. Dan mendiskusikannya dengan istri, tentu saja. Tak mengejutkan reaksinya, khawatir tak sanggup sendirian menangani anak-anak yang memang lagi manja-manjanya. Namun kuceritakan juga, seorang kawan lainnya yang sempat mengikuti pelatihan serupa di Australia juga, enam pekan lamanya. Pelatihan yang sama yang pernah diajukan padaku dan kutolak dengan alasan yang sama. Intinya, belum siap LDR sahaja. Namun tak dinyanya, seorang senior dari unitku yang lama , kini kepala seksi jabatannya. Beliau tak la...

Buah Ciplukan dan Kisahnya

Gambar
Buah ciplukan yang dipajang pada salah satu lapak pasar malam di Thailand Siapa yang tak kenal buah di atas? Ciplukan atau cecenet, tanaman sejenis terong dengan buah bulat berwarna jingga saat matang, yang tertutup oleh selapis tipis mahkota bunganya, yang makin mengering seiring usia buah. Rasanya manis dan mengandung banyak vitamin, mineral dan serat pangan. Ketika kita mendapatinya di desa, ia tumbuh di mana saja, dan siapa saja bisa memetiknya karena dianggap tak ada harganya. Ketika dibawa ke kota, dibungkus mika dan ditulis "buah physalis", hargaya bisa mencapai Rp30ribu/ons. Di luar negeri, labelnya berganti menjadi "golden berry", harganya bisa berlipat lagi, terutama jika di negara barat.  Padahal buahnya sama saja dengan yang ada di pelosok desa. Tapi ia bisa dihargai demikian berbeda.  Maka mungkin itulah gunanya memperluas relasi. Terkadang, ada orang yang tak dihargai ketika ada di suatu lingkungan, justru dihormati di lingkungan lain. Yang penting, se...

Belajar dari Pengalaman (Orang Lain)

Gambar
Tak perlu tenggelam untuk mengetahui bahwa laut itu dalam Akhir pekan lalu, kami dua keluarga (saya, istri dan anak-anak, serta adiknya istri, suami dan anaknya) berkunjung ke sebuah lokasi wisata akuarium di dalam sebuah pusat perbelanjaan di Bintaro . Di sana kami menyaksikan berbagai satwa perairan dari balik tangki kaca. Seperti Sea World di Ancol dan Jakarta Aquarium, kurang lebih. Namun postingan kali ini bukan membahas lokasi wisata dengan tiket masuk seharga 175 ribu per orang tersebut.  Pada satu momen di sana, istri menyaksikan akuarium besar di sana. Tingginya sekitar 4 meter, sehingga saat difoto dari samping, seolah-olah istri yang sedang berada di dalam laut (bukan lautnya yang naik ke darat). Padahal doi takut banget sama kedalaman laut. Ini baru akuarium, gak kebayang kalau laut beneran. Dari momen itu, saya teringat akan tulisan Om Squ (pembuat komik dakwah berseri " Pengen Jadi Baik ") tentang riba. Om Squ punya komunitas yang membantu orang-orang korban ...

I fell for the ocean, quite literally

Gambar
That title above is self explanatory. During a trip from Tarakan to Nunukan by a hi-speed ferry, i fell just before boarding the ship, at the lower part of the dock. The reason? It was slippery. Like, very slippery. Because of the tides, the lower part of the dock will be submerged sometimes. I could tell by the mussels and the thin layer of mud. But i was pretty ignorant, and a lil bit overconfident, thinking that i wouldn't fall since several times during my sea patrol duties, i never fell even once. So this is the first lesson of it; arrogancy could be your first step to downfall, quite literally. Next question, why did i came to the lower part of the deck? Well, just like those careless internet personality who fell from a tower, bridge or anything, i wanted to get a good pict. And this is the last pict i took. Pretty lame for the price. The pain is temporary, but the memory . . . The second lesson: watch your steps, quite literally. We might already heard that caution a thous...

Ironi Bawah Langit

Gambar
Menara menjulang mencakar angkasa Di seberang jurang kemiskinan nan lebar menganga Pembangunan fisik di seluruh area Pembangunan mental ala kadarnya Lidah tak bertulang memuji idola dengan takzim Lidah yang sama, mencaci saudara serahim Lidah tak bertulang, mengutip ayat suci Lidah yang sama, memutar fakta memelintir janji Yang dituakan dan diharap mengayomi, Justru mempertontonkan kekanakan dalam diri Yang menimpin dan diharap memberi teladan, Nyatanya hanya mewariskan banyak beban Yang dipercaya dan diharap menjadi pendorong, Justru gemar melahap sajian data bohong Insan bertahta tanpa tata krama Semakin dipuja dan terlena, gembira menyesatkan pemirsa Insan bergelar banyak namun miskin akhlak Mengagungkan keterbatasan otak Insan kesepian di keramaian Tersesat dalam pusaran pengetahuan Kefanaan yang dipuja oleh pemuja pangkat dan pengagung gelar ningrat Namun bagi Sang Teladan, dunia layaknya bangkai anak kambing bertelinga cacat

Keputusan

Gambar
Matahari mulai mendekati peraduannya, namun sinarnya masih cukup menerangi, menembus udara kota yang kotor. Pukul lima sore, mayoritas pegawai di kantor ini sudah bersiap menuju kediaman masing-masing, entah dengan bis jemputan, mobil atau motor. Beberapa orang berganti pakaian olah raga dan bersiap untuk bermain bola, badminton atau sekedar jogging mengelilingi kantor. Namun tidak dengan Tuan Manganan. Bersama atasannya, seorang kolega dan seorang bawahan, mereka melangkah ke arah berbeda. Bukan menuju ke dekap hangat keluarga atau sekedar berolahraga, mereka sedang mempertaruhkan marwah dan kebanggan seragam biru tua. Dari gedung Harimau menuju gedung Kasuari, bersiap menghadap pada Pimpinan Tertinggi organisasi. Mereka berempat berjalan beriringan, namun terasa seolah belasan atau puluhan, bahkan ratusan langkah mengiringi. Terbayang ratusan pegawai lain yang membantu pengumpulan, penyiapan, pengolahan dan penyajian data dalam kajian ini. Jarak dua gedung itu tak terlampau jauh, nam...

New Year New Resolution for Our Not-new Planet

Gambar
I never understand the meaning of celebrating new year with tons of explosives polluting the sky, ear-torturing trumpet and gallons of unhealthy drinks, only to live as lame as before. For some people, that's joy. For me? That's nonsense. New year has nothing to do with celebration. That's just our rocky planet finishing one round of its eternal race against time around its sun.  A new beginning of a certain unit of time. Just the same as every morning, a start of a brand new day. Or every time our moon repeat its monthly cycle. Nothing special to be proud of, unless we are battling life-threatening diseae, or surviving a catastrophic event, or finding a reasonably close habitable planet to move on, there's nothing to be celebrated over a new calendar year.   I mean, if we really need to celebrate, celebrate an achievement. Like finishing a new and challenging task. Accepted at a new (and better) workplace. Acquiring new business. Mastering new skill. Learning new langu...

Hectic-tober

Gambar
Wow, ternyata Oktober baru jalan sepertiga, tapi rasanya kesibukan akhir-akhir ini amat menyita waktu, pikiran dan tenaga. Dan juga hati. Sebagai manusia yang hidup di tiga alam (alam keluarga, alam kantor sebagai ASN dan alam side hustle sebagai penulis), rasa-rasanya sudah perlu rehat sejenak meski Oktober baru sepertiga jalan. Ya emang capeknya mulai sejak bulan-bulan sebelumnya sih. Akhir September, ada beberapa deadline pekerjaan (utama dan side hustle ) yang harus diselesaikan. Awal Oktober, ada tragedi Kanjuruhan yang makan ati , saking rumitnya, bikin penulis ngga nafsu untuk ngebahas. Selain ngga memiliki kapabilitas di bidang itu, juga sakit rasanya melihat korban jiwa begitu banyak. Sebagai insan yang juga pernah menjadi penikmat bola, terutama Arema, keseruan nonton dari tribun emang ngga ada yang ngalahin. Tapi tentu itu tak sebanding dengan ratusan nyawa yang melayang. Oke, sekip nonton bola deh sekarang. Nyaris bebarengan, ada side job di kantor yang seru abis, dan juga ...