Postingan

Menampilkan postingan dengan label semi-cerpen

Turiya

Ini adalah naskah cerita yang saya ikutkan  dalam Lomba Penulisan Cerpen Tingkat Internasional Piala H.B.Jassin 2024 .  Karena tidak menjadi  finalis , tidak juga lolos  14 naskah pilihan  untuk dijadikan antologi , maka saya publikasikan di sini saja. Selamat membaca. ----------------------------------------------------------------------------------- TURIYA   Langit semakin mendung di atas Jakarta. Gadis kecil berambut pendek itu melangkah cepat-cepat, menghindari lubang dan gelombang di trotoar kumuh yang tak terawat. Lima puluh meter di depan, berderet toko yang menjajakan beragam roti, gula-gula dan aneka jajanan. Matanya berbinar melirik, langkahnya melambat barang sedetik, namun cepat-cepat ia gelengkan kepalanya, dan melanjutkan langkah-langkah kecilnya. Berpapasan pula ia dengan beberapa pengemis, pengamen dan tuna wisma yang berebut meraih simpati pengguna jalan yang melengang dengan segala urusannya. “Minta Kak, belum makan Kak,” sesekali me...

Andai Aku Menjadi ... (3)

Gambar
Derap kuda-kuda penarik kereta beradu dengan langkah-langkah manusia di jalanan Rawikarta. Sejuknya pagi ternoda oleh nafas-nafas nan terengah, yang terus melaju seiring peluh membasahi muka. Pagi hari yang dipenuhi harapan bagi para pencari nafkah yang berangkat dalam upaya memenuhi perut keluarga. Sebaliknya, Raizan berjalan pulang karena memang mendapatkan jatah bekerja pada malam sebelumnya . Pikirannya masih terganggu oleh mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Mimpi buruk yang terus menghantui meski kejadian itu telah berlalu lima tahun lamanya. Kejadian yang membuat Raizan bertanya-tanya, mengapa negeri ini pernah disebut layaknya kepingan surga yang jatuh ke dunia? Sementara setiap hari, matanya menyaksikan ketimpangan yang begitu nyata. Terlebih di Rawikarta, kota penuh warna yang menjadi kebanggaan Agnidwipa. Balai Hulubalang tempatnya bekerja,  terlihat begitu megah dari kejauhan. Berdiri gagah di tepi bukit, angkuh laksana gajah yang menyeruak dari semak hutan. Masih ad...

Andai Aku Menjadi ... (2)

Suara ayam berkokok keras, membuat Raizan terkejut hingga terjatuh dari dipan. Ia kemudian berjongkok sembari menguap malas, sembari kepalanya menoleh celingukan. Kayu bakar tersisa beberapa balok sementara jagung dan ubi rebus semalam  telah tandas, ketiga rekannya tak tampak dalam pandangan. Langit masih gelap, pertanda fajar belum menyingsing. Raizan mendengar langkah berderap, layaknya sepasukan prajurit tengah bersiap untuk berlatih tanding. Namun mengapa suara itu seolah berasal dari atap, alih-alih dari balik dinding? Seketika rasa takut menyelinap, membuat bulu kuduk Raizan merinding. Ia mengumpulkan keberanian untuk menengok sumber suara, kepalanya menengadah sementara matanya memicing. Apa yang dilihat oleh matanya, cukup untuk membuatnya lari pontang-panting. Sekerumunan prajurit tanpa kepala, tengah berbaris menenteng lembing. Raizan berteriak namun tak jua keluar suara, kerongkongannya terasa amat kering. Ia berupaya menuju gerbang utama, namun jalan yang dilaluinya te...

Andai Aku Menjadi ...

*Perhatian bagi para pembaca tulisan ini. Harap dipahami bahwa ini hanyalah kisah fiksi untuk menambah khazanah literasi sekaligus sebagai catatan untuk pribadi. Silahkan dikritisi, namun tolong jangan dipersekusi. Bukan karena takut diselidiki atau dituduh dengan delik tak pasti. Melainkan apabila fiksi dipersekusi, bukankah itu hanya menunjukkan bahwa kalian sejatinya minim imajinasi? Selamat membaca dengan mata dan juga hati, tanpa perlu terlalu terbawa emosi :) Alkisah, di sebuah negeri bahari nan aman sentausa berjuluk Agnidwipa, segenap warga tengah bersiap untuk menyambut sebuah pagelaran berskala raksasa. Seluruh warga yang telah berusia dewasa, diperkenankan turut serta. Mereka akan diminta memilih sang penerus tahta. Sebuah sistem pemilihan telah ditetapkan dan akan diterapkan dengan saksama, untuk memastikan yang terpilih nanti sesuai kehendak segenap warga. Namun ada saja warga yang tak terlalu terkesan menyambut gelaran pemilihan. Memangnya setelah pemegang tahta diganti...

Keputusan

Gambar
Matahari mulai mendekati peraduannya, namun sinarnya masih cukup menerangi, menembus udara kota yang kotor. Pukul lima sore, mayoritas pegawai di kantor ini sudah bersiap menuju kediaman masing-masing, entah dengan bis jemputan, mobil atau motor. Beberapa orang berganti pakaian olah raga dan bersiap untuk bermain bola, badminton atau sekedar jogging mengelilingi kantor. Namun tidak dengan Tuan Manganan. Bersama atasannya, seorang kolega dan seorang bawahan, mereka melangkah ke arah berbeda. Bukan menuju ke dekap hangat keluarga atau sekedar berolahraga, mereka sedang mempertaruhkan marwah dan kebanggan seragam biru tua. Dari gedung Harimau menuju gedung Kasuari, bersiap menghadap pada Pimpinan Tertinggi organisasi. Mereka berempat berjalan beriringan, namun terasa seolah belasan atau puluhan, bahkan ratusan langkah mengiringi. Terbayang ratusan pegawai lain yang membantu pengumpulan, penyiapan, pengolahan dan penyajian data dalam kajian ini. Jarak dua gedung itu tak terlampau jauh, nam...

Kisah Patih Cadas Nyala dan Nona Pisir

Gambar
Alkisah di suatu negeri bernama Agnidwipa, sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi , rakyat sedang bertaruh hidup dan mati. Sebuah penyakit menular dari negeri antah berantah, mewabah dan membuat perekonomian negeri yang pengelolaannya sudah salah kaprah, menjadi makin lemah. Namun demikian, para patih dan hulubalang raja masih optimis bahwa segalanya akan kembali manis, diiringi pertunjukan dagelan yang dijamin membuat penontonnya menyeringitkan alis .   " Kau sudah dengar tentang Patih Cadas Nyala? ", tanya Parek, seorang pemuda berbadan ceking agak bungkuk pada kawannya yang berbadan bongsor. Patih Cadas Nyala adalah seorang pria mulia utusan raja, setidaknya begitulah publik mengenalnya. Ia dipercaya mengelola urusan sosial, termasuk di antaranya membagikan bantuan dari negara bagi rakyat yang perekonomiannya semakin sial. Namun rakyat terkejut dan kehilangan kepercayaan, ketika ia kedapatan menerima rasuah dari para juragan, yang mendapat pesanan paket bantuan bagi ra...

Lord Brokensword and The Butcher's Son (3)

A sweet womem named Raksi was born in a humble peasant family at the unconquered land. During her childhood, she had always wore used clothes from her older sibling, or a rough home sewn clothes. When young Raksi wanted to change her life, she went to neighboring city, worked as textile trader's employee. It was like a dream job for her, since she could touch various hi-quality textile and garments, although not owning it, yet. She rarely visited her family back in the land, because there was so much suffering she endured there, and she was quite happy with her new life.  But for one moment, when she went back to her family's house, a fateful meeting happened. She was on a cart on the way home, when she saw several unfamiliar men near her family's house. Lord Baroush stood there dashingly, his brown  horse nearby. He was looking for a good tailor to make his men's uniform. His squad only had a formal uniform sewn by The Kingdom's tailors, but they also needed field ...

Lord Brokensword and The Butcher's Son (chapter 2)

The Lord of The Unconquered Land (from now on we will call him by his real name, Baroush of The Jungle) was raised by a family of lumberjack. His father taught him about woodcrafting since his childhood, and although he wasn't not the brightest among his 7 brothers, he was a hardworker. He was always a man of action, did little talk and always focused on his goal. Not to say that he never taste fall, defeat or humiliation, but a determined one who always know to stand up after each fall in life. Due to his hardwork, he climbed his rank to be one of the kingdom's carpenter.  At the beginning, he was tasked to make a wooden weapon for the soldier to train, and he always delivered the best result. A wooden weapon was just meant as a mean to familiarize newly recruited soldier with real weapon, but he decorated each of it with a unique ornament, earning popularity among the trained soldier. Even senior soldiers often asked him to made them personal ornamental items. The King aknowl...