Cari Blog Ini

Kamis, 30 Agustus 2012

Pesan Sepeninggal Ramadhan

"Jangan jadi hambanya bulan Ramadhan, tetapi jadilah hamba Allah", itu sepenggal kalimat dalam ceramah ba'da dzuhur Selasa kemarin.

Kata-kata yang singkat, namun jelas. Bagaimana tidak, ketika Ramadhan tiba, jama'ah sholat wajib memenuhi masjid dan mushola, namun sepeninggal Ramadhan, untuk sholat berjama'ah di masjid, kebanyakan dari kita lebih sering ogahnya daripada rajinnya. Ketika Ramadhan kita kebut-kebutan mengaji sampai khatam, lalu diterusin khataman lagi. Selewat Ramadhan, sebagian dari kita ngaji satu juz aja nggak kelar-kelar. Ketika Ramadhan, tahajud bisa setiap hari, tapi selepas Ramadhan, bangun shubuh aja kesiangan. Ketika Ramadhan, dompet ama kotak amal seolah dekeeet banget, isi dompet gampang banget berpindah ke kotak amal. Tapi selepas Ramadhan, kok rasanya isi dompet lebih milih berpindah ke pusat perbelanjaan.

Ini dia yang musti kita diperbaikin. Jangan sampai semangat beribadah kita hanya menggebu-nggebu selama Ramadhan, namun ngerem, bahkan ngetem pas di luar Ramadhan. Mari sama-sama berdoa sama Allah, agar semangat ibadah yang begitu meluap pas Ramadhan kemarin, 'diawetkan' hingga 11 bulan berikutnya. Agar kita tetap bersemangat dan istiqomah dalam beribadah, nggak cuma pas Ramadhan tapi juga sepanjang tahun. Aamiin

*ditulis oleh penulis yang semangatnya lagi kendur, semoga bisa segera 'nyetel' kenceng lagi ke depannya, para pembaca sekalian juga yaa....

Senin, 27 Agustus 2012

Jangan Jadi Negatif

  • jangan mengeluh, karena sesuatu yang kamu keluhkan bisa saja nantinya diikuti oleh sesuatu yang kamu senangi
  • jangan membenci seseorang karena satu dan lain hal, karena bisa jadi ternyata dia memiliki sesuatu yang nantinya membuat kamu kagum
  • jangan mencela sesuatu yang tampaknya buruk, karena mungkin saja hal tersebut memiliki kebaikan di dalamnya
  • jangan menghina apapun yang telah dilakukan orang lain, mungkin hal itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya dan belum tentu kamu bisa melakukannya
  • jangan dengki kepada kenikmatan yang didapatkan orang lain kemudian mendoakan hilangnya hal itu darinya, karena bisa jadi dia akan berbagi kenikmatan tersebut denganmu
  • jangan curiga tanpa bukti, bahkan kalau sudah punya bukti, simpan dulu curigamu dalam hati, karena bisa jadi yang kamu curigai sebenarnya bukan itu yang terjadi
jangan pernah berburuk sangka terhadap apa saja ketetapan Allah yang diberikan kepada kita, karena Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita; masalahnya, bisakah kita melihat kebaikan dan hikmah, bahkan dari hal-hal terburuk yang kita alami?

Minggu, 19 Agustus 2012

Lebaran Itu . . .

  • saat di mana kota besar ditinggalkan oleh sebagian penghuninya yang merupakan orang perantauan
  • saat jalanan macet oleh para pemudik yang menggunakan bis malam, mobil pribadi, serta konvoi motor
  • saat trafik sms operator seluler melonjak drastis dan seringkali menjebolkan server
  • saat anak-anak kecil 'bekerja', mengumpulkan amplop demi amplop dari para kerabat, sementara remaja tua hanya meringis karena pendapatan menurun dibanding tahun-tahun lalu
  • di saat keluarga besar berkumpul di rumah orang tua atau saudara tertua
  • di saat semua orag berlomba-lomba saling bermaafan, dengan saling berkunjung, telepon, sms, fb/twitter dan socmed lainnya

karena itu, penulis pun tak lupa mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1433 Hijriyah. Semoga amalan kita selama Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT serta semangat ibadah kita terjaga hingga 11 bulan ke depan. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan penulis selama ini, semoga silaturahim antara penulis dan pembaca makin bagus yaaa (banyak yang komen :p )

Kamis, 16 Agustus 2012

Lho, Udah Mau Ending Toh?

Rasanya baru kemarin aja sahur bareng-bareng orang sekosan, di hari-hari pertama Ramadhan ini. Hari-hari pertama seringkali diwarnai sahur telat, kehabisan lauk atau nasi di warteg, berangkat kerja kesiangan, dan jama'ah tarawih yang membludak. Sekarang tau-tau udah beberapa hari menuju lebaran. Rasanya cepet banget Ramadhan ini berlalu ya. . . Apalagi, ungkap seorang teman, 'tau-tau udah mau lebaran, padahal ngajinya baru berapa juz'. Rasanya kurang puas dengan raihan Ramadhan kali ini.

Yuk, kita coba merenung sebentar Kawan.
Adakah yang puasanya bolong karena alasan yang nggak dibenarkan syariat? Berapa kali ketinggalan sholat berjamaah di masjid? Berapa kali tarawih yang nggak dihadiri? Berapa juz Al-Qur'an yang belum dibaca? Berapa banyak kesempatan mengikuti majlis ilmu yang dilewatkan? Berapa rupiah yang sebenarnya bisa disedekahkan tapi masih nyangkut di kantong? Berapa menit waktu yang bisa dimanfaatkan untuk dzikir malah jadi ngobrol, nggosip atau hanya menonton tv?

Puaskah Anda dengan raihan Anda selama Ramadhan ini? Di mana kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati Ramadhan hingga hari ini. Sudah kita maksimalkan kah kesempatan ini? Di mana tidak ada jaminan bahwa kita bisa mendapati Ramadhan tahun depan, atau bahkan 1 Syawal nanti, nggak ada jaminan bahwa kita masih bisa menikmatinya. Sudahkah kita maksimalkan kesempatan istimewa ini? Anda sendiri yang bisa menjawabnya, dengan jawaban paling jujur dari hati Anda.

Mari, mumpung masih ada beberapa sisa hari, kita maksimalkan ibadah kita di penghujung Ramadhan ini, mumpung masih ada waktu . . .

Senin, 13 Agustus 2012

Ramadhan Itu . . .

  • saat di mana jama'ah sholat wajib di masjid membludak, nyaris seperti pas sholat jum'at. kalo hari biasa paling cuma terisi 3/4 ruangan utama, pas Ramadhan bisa sampai teras
  • saat di mana mengaji terasa ringan dilakukan, di masjid-masjid, jumlah pengaji meningkat cukup drastis
  • saat di mana dompet ramah terhadap kotak sumbangan yatim piatu, sumbangan takjil di masjid, sumbangan untuk pengajian, dan lain-lain
  • saat di mana banyak penjual makanan dadakan, terutama saat menjelang maghrib
  • saat di mana keluarga di rumah biasanya berkumpul untuk makan bersama di rumah pas sahur atau berbuka, karena biasanya makan sendiri-sendiri. begitu juga anak kos, biasanya makan sendiri-sendiri, sekarang keluar cari makan berombongan (terutama pas sahur)
  • saat di mana setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pahala ibadah dilipatgandakan
So, tunggu apa lagi? Mumpung Ramadhan belum pergi, buruan kejar pahalanya !!! :D

Jumat, 10 Agustus 2012

Sibuk Dan Hikmahnya

Oke, beberapa waktu ini postingan saya dikiit banget, jarang-jarang pula. Bukannya megelak, tapi jujur, akhir-akhir ini saya sibuk banget. Ada beberapa kegiatan di kantor yang mana saya terlibat di dalamnya (entah sebagai panitia maupun sukarelawan yang diculik untuk membantu). Jangankan ngeblog, beberapa kerjaan di kantor aja terbengkalai. Capek, pasti, tapi tentu ada hikmah di balik itu semua. Apa saja kesibukan saya akhir-akhir ini? Check them out . . . (kok jadi merasa seleb ya, pake ngapdet kesibukan terkini)

Kompetisi Bola Antar Unit Eselon II Kantor Pusat DJBC
Di acara ini, awalnya saya diminta jadi komentator oleh rekan saya, sebut saja Bayi. Belakangan, juga diminta membuat pamflet, tapi karena desain saya jelek dan ada yang lebih bagus, jadi saya jadi komentator doang (sama kadang jadi ballboy). Alasan penunjukkannya sederhana : Bayi tahu bahwa saya suka heboh sendiri kalau liat sepakbola (khususnya ISL, pas pertandingan Arema terutama) dan suka ngomentarin sendiri, saingan sama komentator di TV. Hahahaha
Acara ini dimulai bulan apa ya, Juni-Juli kalau nggak salah, dan berlangsung beberapa pekan. Direktorat tempat penulis magang memang nggak jadi juara, namun sudah berhasil sampai di final meskipun akhirnya kalah tipis. Oiya, mungkin ada yang bertanya, apa penulis nggak jadi pemain di ti direktorat itu? Jawabannya adalah, karena tipikal permainan saya adalah destroyer, alias perusak permainan lawan (dan kawan), atau sebagai penyerang luar (menyerang tim lawan dari luar lapangan, dengan teriakan dan makian). Jadi, lebih aman dan menguntungkan bagi tim saya, kalau saya nggak berada di lapangan sebagai starting 11 (bahkan cadangan pun nggak).

Peringatan Isra' Mi'raj dan Tarhib Ramadhan Kantor Pusat

Di sela-sela jadwal pertandingan kompetisi bola (senin, rabu dan jumat ada pertandingan terus), saya sempat diminta tolong (secara cukup mendadak) oleh senior untuk membantu persiapan acara peringatan Isra' Mi'raj dan Tarhib Ramadhan. Tepatnya, untuk membuat slide presentasi untuk 'mendampingi' MC selama memandu acara. Sebenarnya sebelumnya juga udah diminta tolong untuk membuat poster, namun penulis hanya sedikit ikut andil di poster tersebut.
Bintang tamu acara itu ada 3, yang pertama adalah Dirjen Bea Cukai (beliau memberikan sambutan dan sedikit ceramah yang saya lupa isinya), kemudian Ustadz Syahrul Syah 'Pildacil' (juga mengisi berbagai acara lain di TV, sayangnya saya nggak pernah lihat; ceramah beliau juga saya lupa isinya xp ) serta tim nasyid Pizzicapella (yang saya ingat, nama mereka berasal dari bahasa latin kalo nggak salah, pizzicato yang berarti 'cara memainkan biola dengan cara dipetik/bukan digesek', jadi filosofinya adalah, menampilkan sesuatu yang berbeda tapi tetep asik).

Bazar Ramadhan

Memasuki pertengahan Ramadhan, penulis kembali diminta tolong oleh rekan-rekan (lebih tepatnya, ditunjuk begitu aja tanpa boleh memiliki opsi penolakan atau pengelakan) untuk membantu membuat brosur harga produk bazar, serta sebagai announcer pada bazar Ramadhan yang diselenggarakan di aula utama kantor. Tanpa pernah tahu apa itu announcer, kata rekan-rekan panitia (saya nggak ikut panitia, ibaratnya cuma sebaai 'pemain sewaan') intinya cuma bagian pegang mic lalu berkeliling bazar untuk mempromosikan (mengucapkan berulang-ulang) nama perusahaan sponsor dan donatur, serta 'memandu' para pengunjung bazar agar tertarik untuk datang dan berbelanja, nggak cuma ngeliat-liat. Semacam mempromosiin acara bazar gitu lah. Di hari terakhir bazar, ada acara demo masak oleh salah satu maestro kuliner Indonesia, ibu Sisca Soewitomo. Dan penulis beruntung mendapat jatah menjadi MC acara tersebut.

Oma Sisca, sudah 60 tahun namun masih lincah di dapur

Peringatan Nuzulul Qur'an dan Buka Puasa Bersama Dirjen


Bazar usai, belum berarti kesibukan penulis usai (eciee, sok sibuk anget deh). Karena secara tiba-tiba, untuk membantu persiapan acara Buber Dirjen. Acara dimulai pukul 4 sore dan penulis baru dikabari sekitar pukul 9 pagi untuk membuat presentasi, serupa dengan yang dibikin saat tarhib Ramadhan ('eh, pas tarhib kemarin kamu kan yang bikin presentasinya? ini nanti buber dirjen, kamu bikinin ya slide-nya'). Selain Pak Dirjen yang emberikan sambutan, juga hadir sebagai Bapak Miftah Faridl (Ketua MUI Bandung) sebagai penceramah. Meski sedikit keteteran, akhirnya slide kelar juga, dan acara berakhir bahagia selamanya... eits ini bukan dongeng ya?!
Di akhir acara, bintang tamu utama kita, menyempatkan untuk berfoto bersama para fans, peserta buber, dan panitia (termasuk penulis).

Pak Dirjen (yang kanan lo ya, bukan yang kiri) menyempatkan foto bersama penulis

Naah, ketika semua (semua? sebenarnya ini baru sebagian, karena masih ada beberapa kesibukan yang masih berlanjut) acara dan kesibukan berakhir, apa hikmah yang bisa diambil dari segala kesibukan ini? Yang pertama adalah, penulis jadi lebih kenal dengan lebih banyak lagi pegawai di lingkungan kantor. Maklum, dengan sekitar 1000an pegawai, kayaknya nggak sempet kalau kenalan satu-satu. Nah, ketika ada acara di luar kantor inilah, penulis berkesempatan untuk mengenal banyak pegawai senior lain. Bukankah ada ungkapan 'banyak kenalan berarti banyak rejeki'? Nah, ungkapan itu ada benarnya juga, itu hikmah yang kedua. Mengikuti berbagai kesibukan tadi, emang jadi banyak rejeki. Dari semua acara tadi, yang pasti dapat konsumsi lah (lumayan menghemat uang makan --> masih mindset kuliahan). Dan alhamdulillah ada beberapa lagi rezeki tambahan berkat kesibukan ini. Ibarat seekor burung (bird, I mean. Bukan burung yang lain), jika ia terbang berkeliling mencari makan, tentu akan lebih banyak peluang dia mendapat makanan, dibandingkan hanya diam bertengger di dahan pohon. Hikmah lainnya adalah, penulis jadi mendapat kesempatan mengeksplorasi sebagian bakat yang sudah dimunculkan (yakni mendesain menggunakan aplikasi Corel Draw ataupun Adobe Photoshop), maupun potensi lain yang belum ditunjukkan (sebagai public speaker). Naah, ini insya Allah akan penulis bahas di kesempatan berikutnya, mengenai bakat dan potensi.

Saran penulis di akhir tulisan ini adalah, keep yourself busy in a positive way, and be improved guys!
Wassalamu'alaikum. . .

Selasa, 07 Agustus 2012

Pulang Kampung Tapi Kok Nggak Seneng?

"Orang Islam itu, kalau mati sebenarnya ibarat pulang kampung", begitu kata ustadz dalam ceramah sebelum tarawih semalam. Ya, masuk akal memang. Mengingat, ketika mati nanti, suka nggak suka, kita akan kembali kepada-Nya, kepada Allah, Dzat Maha Sempurna yang telah menciptakan kita dari ketiadaan, lalu menghidupkan dan memelihara kita, dan akhirnya mematikan kita.
Ups, saya bilang akhirnya? Maaf, sebenarnya itu bukan akhir, karena setelah mati nanti, kita pasti mengalami 'petualangan' lain, yakni di alam akhirat.
Amalan baik kita akan ditimbang, lalu dibandingkan dengan amalan buruk kita, kemudian kita akan diberi ganjaran yang sepantasnya: surga atau neraka.

Nah, kembali ke analogi "mati=pulang kampung" tadi. Umumnya kan, orang pulkam tuh gembira, bisa ketemu keluarga, teman-teman dan kerabat lainnya di kampung. Tapiiii, ternyata ada juga orang yang nggak seneng pas tiba waktunya pulang kampung.
Kata ustadz, itu adalah orang yang nggak cukup bekalnya untuk pulang kampung. Bayangin, pulang kampung pas lebaran gini, tiket untuk berbagai moda transportasi biasanya pada naik (kecuali kereta ekonomi), belum lagi persaingan mendapatkan tiket yang juga pasti sengit. Belum lagi kalau pulang kampung etisnya membawa oleh-oleh, syukur-syukur ada rezeki lebih untuk ngasih sangu ke ponakan/saudara yang masih kecil-kecil. Pokoknya, pulang kampung bisa dibilang harus punya bekal yang cukup lah. Pak ustadz mencontohkan, anaknya yang mau pulang kampung ke Madura, setidaknya harus menyiapkan 5 juta rupiah. Kalau baru punya 2 juta, ya gigit jari, ditunda aja dan baru pulang kampung pas udah terkumpul 5 juta. Kalau adipaksain pulang hanya dengan 2 juta, bisa-bisa baru sampai Semarang udah nggak bisa nerusin ke Madura, susah juga pulang ke Jakarta.

Nah, kembali ke analogi "pulang kampung=mati" tadi. Kesamaannya adalah, baik mati maupun pulang kampung, sama-sama butuh bekal. Tentu, dalam menghadapi pulang kampung ke akhirat, bukan bekal uang dan oleh-oleh khas yang dibawa, melainkan amal pahala. Bedanya, kalau pulang kampung pas masih di dunia, pas bekal masih sedikit, pulkamnya bisa lah ditunda sampai bekalnya udah cukup (atau setidaknya nggak pas lebaran saat semua serba mahal). Kalau kematian? Nggak ada negosiasi waktu, tau-tau udah dijemput gitu aja sama malaikat maut, entah sudah punya bekal atau enggak. Itu dia yang bikin sebagian besar dari kita ngeri ketika mendengarkan kata 'kematian'. Sementara sebagian kecil yang lain, yakni yang sadar bahwa kita, manusia, harus mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya buat menyambut 'kepulangan' kita ke akhirat kelak, tentu lebih santai.

Naah, maka dari itu, sudah sebanyak apakah bekal yang kita siapkan untuk menghadapi kematian? Yuuk, memperbanyak bekal kita, mumpung masih diberi kesempatan hidup di dunia sama Allah. Karena dunia ini adalah ladang ibadah, sawah amalan, tempat kita mengumpulkan bekal untuk ke akhirat nanti. Sementara di akhirat kelak, hanya seperti tempat penukaran poin dengan hadiah. Poin yang dinilai adalah amal kebaikan kita, sementara maksiat dan dosa kita menghanguskan poin kebaikan yang sudah dikumpulkan, lalu dihitung totalnya, dan . . .
Hanya ada dua pilihan hadiah; surga atau neraka.
Semua pasti kepengen surga kan? Makanya ayok, buruan menambah amalan kita, mumpung masih hidup, terlebih sekarang masih Ramadhan, di mana pahala amalan kita dilipatgandakan sama Allah. Yuk yuk yuk . . .