Cari Blog Ini

Kamis, 25 Juli 2013

Disuruh-suruh Mulu Deh . . .

Pernah nggak, Pembaca sekalian ngerasa sebel gara-gara sering disuruh ini itu sama orang di kantor? Terlebih jika status Anda sebagai junior paling bontot di ruangan, maka kejadian itu rasa-rasanya akan terjadi rutin setiap hari. Gimana coba rasanya? Sebel? Marah? Bete? Ngerasa jadi pembantu umum?

Well, saran penulis, kalau memang itu terjadi pada Anda, maka bersyukurlah.
Kok bersyukur sih, mana enak disuruh-suruh mulu, emang kita babu apa, begitu mungkin pikir sebagian Pembaca. Justru itu, ketika setiap orang di ruangan meminta tolong kepada Anda, maka artinya Anda dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Bukankah logikanya, orang yang membutuhkan pertolongan, hanya akan meminta tolong kepada seseorang yang ia yakin akan dapat membantunya? Itu artinya, mereka percaya Anda punya kemampuan untuk membantu mereka. 

Apapun pekerjaannya, se-sepele apapun pekerjaan itu di mata Anda (memfotocopy dokumen, mengantarkannya kesana-kemari, dll), lakukan saja. Bisa jadi juga, itu adalah tes bagi Anda; kalau disuruh ngerjain yang remeh-temeh aja nggak mau/nggak mampu, apalagi kalau disuruh melakukan pekerjaan yang lebih besar dan berisiko? Toh, semua hal besar juga diawali oleh hal-hal kecil. Jadi jangan remehkan perintah-perintah 'remeh temeh tersebut', karena pasti ada makna di balik itu semua.

They've put some trust on you Guys, means that you are worth to trust.
So, why still grunting? Just keep cool and help them, 'coz they need you Guys :D

Sabtu, 20 Juli 2013

Puasa Jangan Malas-malasan

Assalamu'alaikum wr wb Pembaca sekalian.
Sebagaimana kita tahu, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, di mana setiap amal ibadah dibalas dengan ganjaran pahala yang berkali-kali lipat. Hal ini tidak kita dapatkan di bulan-bulan lainnya, sehingga tentu saja, orang-orang yang cerdas akan meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadahnya selama bulan Ramadhan ini. 

Hanya saja, tetap saja ada di mana-mana dan di setiap bulan Ramadhan tiba, oknum-oknum yang bermalas-malasan selama Ramadhan. Sahur sih, mereka juga tetap berpuasa, tapi antara sahur dan maghrib itu lebih banyak tidurnya. Alasannya, capek lah, haus lah, laper lah, macem-macem. Dan yang lumayan sering dijadikan alasan adalah ungkapan "tidurnya orang puasa itu berpahala". Benarkah?

Sejujurnya, hal itu tidak benar. Alias salah. Orang yang mendukung ungkapan itu mengatakan, kan daripada bangun tapi menggunjing, lebih baik tidur kan? Memang benar, tapi tetap saja tidur tadi bukanlah sebuah ibadah. Toh bukankah sebenarnya daripada menggunjing, lebih baik mengaji, ya kan? Apalagi sampai khatam, insya Allah berlipat-lipat deh pahalanya.
Apalagi, yang dijadikan dasar ungkapan tadi (kata pendukungnya) adalah hadits. Padahal bukan, sebenarnya hadits yang menyebutkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah itu, adalah hadits palsu. Dan para ulama sudah sepakat akan kepalsuannya (baca di sini). Jadi udah nggak ada lagi alasan bagi kita untuk malas-malasan di bulan puasa dengan berdalih bahwa "tidurnya orang puasa adalah ibadah". Oke?
Penulis merasa perlu menyampaikan ini karena seringkali hadits palsu ini beredar di masyarakat, dan itu berbahaya. Maka dari itu, bagi yang mengetahui ilmu ini wajib baginya untuk menyebarkannya.

Toh, secapek-capeknya kita, sehaus-hausnya kita, selapar-laparnya kita, puasa kita di Indonesia tuh cuma sekitar 13,5 jam saja. Bandingkan dengan berpuasa di negara-negara dengan angka garis lintang tinggi, seperti di Rusia. Mengingat puasa tahun ini bertepatan dengan musim panas di belahan bumi utara, maka siang harinya akan lebih panjang daripada malam harinya. Di beberapa tempat yang paling dekat dengan kutub utara, malah akan ada hari-hari di mana matahari tak pernah terbenam. Artinya, saudara-saudara kita di sana bakal berpuasa hingga 20 jam atau lebih, lama banget kan? Begitu juga dengan umat muslim yang berpuasa di Swedia, bahkan bisa sampai 21 atau bahkan  24 jam loh :o

Makanya, bersyukurlah kita tinggal di negara tropis yang panjangnya siang dan malam sepanjang tahun nggak terlalu berbeda secara signifikan, baik musim panas maupun musim hujan. Jadi, nggak ada lagi alasan untuk malas-malasan beribadah di bulan ini, ya kan? :D

Kamis, 11 Juli 2013

3 Ciri Hamba Pilihan Allah SWT

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian. Sekedar berbagi ilmu dari tausiyah di masjid kantor sebelum sholat tarawih tadi. Ini mengenai 3 ciri seorang hamba yang dipilih oleh Allah. Dipilih bagaimana? Tentunya karena dia memiliki suatu kualitas yang lebih dari hamba-hamba yang lain bukan? Ibarat membeli barang, kita tentu memilih dan memilah dulu barang yang akan kita beli. Tentu dipilih yang paling bagus kan (syukur-syukur sesuai budget kita). Biar nggak penasaran, yuk simak ulasan berikut ini
  • Senang memperdalam ilmu agama
    Seorang hamba yang senang dengan majlis ilmu dan memiliki kecenderungan untuk menambah ilmu agamanya, terutama ilmu fiqh. Hal ini dikarenakan bahwa orang yang memiliki ilmu, kecenderungannya adalah ibadahnya semakin baik. Bukankah berbeda, sholatnya orang lulusan pesantren, dengan seorang yang baru belajar sholat, misalnya? Sebagai perbandingan, pemateri membacakan sebuah hadits yang kurang lebih begini bunyinya: "2 raka'at (sholat)nya orang yang berilmu itu lebih utama daripada 70 raka'at yang dilakukan oleh orang yang tidak berilmu".  Gimana nggak, kalau yang nggak berilmu, bisa aja bacaan sholatnya salah, berubah makna, malah jadi dosa, mana 70 raka'at lagi! Makanya, supaya kita nggak kayak gitu, yuk menambah ilmu kita . . .
  • Zuhud
    Pemateri menjelaskan makna zuhud, kurang lebih seperti ini: mengambil dunia (harta) secukupnya, tidak mencintai dunia (harta). Bahasa sehari-harinya, sederhana. Zuhud bukan berarti miskin atau tidak boleh kaya. Nabi Sulaiman As adalah pemilik kerajaan terkaya sepanjang sejarah, namun beliau tetaplah seorang nabi yang zuhud. Pun demikian dengan Rasulullah Muhammad SAW, beliau adalah seorang pemimpin negeri muslim, pedagang sukses, nabi besar, namun beliau hidup dalam kesederhanaannya.
    Sekali lagi, zuhud bukan berarti nggak boleh kaya. Malah harus kaya, namun dengan tak lupa bahwa harta itu adalah titipan Allah SWT yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu. Dan juga ada bagian dari harta kita yang merupakan hak milik orang lain.
    Satu lagi yang disampaikan oleh pemateri, bahwa dunia (harta) itu kelak akan terbagi tiga. Yang pertama adalah harta yang berpahala, yakni yang disedekahkan dan dihabiskan di jalan Allah (untuk membantu sesama muslim, misalnya); kedua, harta yang dihisab, yakni apa-apa yang kita tinggalkan setelah mati nanti; dan ketiga, harta yang membawa siksa, yakni harta yang didapat atau dihabiskan dengan cara yang haram. Nah lo. . . Ingat Kawan, dunia itu sementara, tapi akhirat itu selamanya
  • Pandai introspeksi diri
    Umumnya, orang tuh pandai mencari kesalahan orang lain, tapi susah melihat kesalahan sendiri. 'Tul nggak? Padahal, kalau mau adil dalam menilai, bisa aja kesalahan kita lebih banyak daripada orang yang kita omongin tadi. Nah lo . . . Sekarang coba deh, ketika mau ngomongin kesalahan atau kejelekan orang lain, tahan dulu, jangan diomongin dulu. Coba, lihat diri sendiri dulu. Apakah kita udah sempurna, sampai-sampai tega ngata-ngatain orang lain? Jadi lihat dulu deh aib sendiri sebelum ngomongin aib orang. Niscaya, aib sendiri aja udah cukup banyak loh kalau cuma buat diomongin. Satu lagi, ngebahas kejelekan orang lain tuh nanti akan membuat rugi kita di akhirat, karena pahala kita (kalau ada) akan diambil sedikit demi sedikit untuk diberikan pada objek gunjingan kita tadi. Kalau pahala kita keburu habis? Maka dosa objek tadi lah yang akan kita pikul kelak. Hiii, nggak enak banget kan?
    Makanya, daripada ngomongin kejelekan orang lain, mending introspeksi diri aja deh. Supaya kejelekan yang ada pada diri ini bisa diperbaiki. Tul nggak?
Nah, demikian ulasan mengenai 3 ciri hamba Allah yang terpilih. Adakah ciri tersebut dalam diri kita? Wallahu'alam, hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabnya . . .

Rabu, 10 Juli 2013

BertAmu dengan Ramadhan Lagi

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian. Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita masih bisa bertamu dengan bulan Ramadhan.

Bertamu? Salah ketik ya om, harusnya bertemu tuh, begitu mungkin pikir pembaca.
Enggak, penulis nggak salah ketik kok, memang nulis bert-A-mu, bukan bert-E-mu. Kita yang bertamu kepada bulan Ramadhan, bukan bulan Ramadhan yang bertamu kepada kita. Bukankah bulan Ramadhan sudah ada sejak dulu kala?
Selain itu, bukan kita pula yang menjamu bulan Ramadhan, melainkan bulan Ramadhan yang menjamu kita dengan iming-iming pahala berlipat ganda dari Allah SWT. Ibaratnya, ada bonus gede-gedean untuk siapa saja yang mau 'berdagang' ibadah di bulan ini. 

Nah, kita sebagai tamu kan, harus bertamu dengan sopan dong. Ibaratnya, kita kan tamu nih, harus datang kepada tuan rumah dengan sebaik-baiknya dong. Baju yang bagus, rapih, wangi, dan muka berseri-seri. Nah, kita bertamu kepada bulan Ramadhan juga harus gitu, sebaik mungkin persiapannya. Jangan elek-elekan lah. Masa dari Ramadhan ke Ramadhan, kualitas ibadah kita gini-gini aja. Coba kita ingat-ingat sejenak. Sejak kita baligh, ini sudah bulan Ramadhan ke berapa? Adakah peningkatan kualitas ibadah kita?
Rugi dong, kalau kita termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus dari puasa kita. 

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga. (HR. Ath Thobroniy)

Makanya, mumpung Allah masih kasih kita kesempatan untuk bertamu kepada bulan Ramadhan, ayo kita maksimalkan kesempatan ini. Mumpung lagi ada bonus, bahkan banjir pahala untuk tiap ibadah yang kita lakukan di bulan ini. 
Belum tentu, tahun depan kita masih bisa bertamu kepada bulan Ramadhan lagi. Siapa tahu ini Ramadhan terakhir kita?

Ih, penulisnya nakut-nakutin nih, begitu mungkin pikir Anda. Enggak, saya nggak nakut-nakutin kok. Kan saya cuma ngingetin diri saya sendiri, syukur-syukur kalau pembaca sekalian ingat juga, bahwa namanya maut tuh bisa datang kapan saja.
Makanya, yuk, nggak usah kebanyakan janji tanpa bukti, kita niatkan dalam hati, untuk memperbaiki kualitas ibadah di bulan Ramadhan kali ini :)
Marhaban Yaa Ramadhan

Jumat, 05 Juli 2013

Tips: Mengatasi Ngantuk di Kelas

Ketika kuliah, diklat, atau rapat, duduk diam ditambah mendengarkan dosen/pemateri tuh rasanya merupakan hal yang nggak asik banget. Maka dari itu, sebagian besar dari kita menambahkan satu unsur untuk membuat kegiatan ini terasa enak; tidur.

Sialnya, tidur di kelas bukanlah hal yang disukai oleh dosen/pemateri, karena hal itu adalah suatu bentuk sikap tidak menghargai orang lain. Lebih apes lagi kalau dosen/pemateri tersebut memberikan hukuman. Tengsin euy!

Sebenarnya banyak faktor yang membuat kita ngantuk atau bahkan ketiduran di kelas. Mulai dari pemateri yang membosankan, kondisi tubuh kelelahan, semalam kurang tidur gara-gara begadang, atau sekedar habis makan siang ditambah kena semilir AC. Apapun alasannya, tidur di kelas biasanya memiliki dampak tidak baik bagi pelaku. Mulai dari kehilangan materi yang disampaikan, atau dihukum oleh pemateri.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, maka penulis akan memberikan beberapa tips agar kita bisa terhindar dari ngantuk berat  dan ketiduran selama di kelas. Simak tips berikut ini:
  • atur pernafasan: saat otak kekurangan asupan oksigen, ia memerintahkan tubuh untuk menarik udara banyak-banyak. Karena jalur udara lewat hidung cukup sempit, maka udara tambahan tadi masuk lewat jalur mulut. Hasilnya, kita menguap lebar-lebar. Lalu ditegur dosen/pemateri. Gitu kan, pembaca sekalian? Nah, sebelum itu terjadi, ketika mulai merasa mengantuk di kelas, cobalah Anda mengatur nafas Anda. Tenangkan diri, hirup nafas perlahan dari hidung, tarik nafas dalam-dalam, tahan 5 detik, lalu hembuskan pelan-pelan dari hidung. Lakukan beberapa kali sampai rasa ingin menguap tadi hilang.
  • ubah posisi duduk: ketika kita duduk dalam posisi bersandar yang nyaman, atau menempelkan badan ke meja di depan kita, maka kecenderungan untuk mengantuk dan tertidur akan meningkat. Oleh karenanya, coba ubah posisi duduk Anda menjadi lebih tegak/posisi duduk siap. Luruskan punggung dan jangan bersandar. Leher lurus, kepala menghadap depan dan jangan menunduk. Jaga posisi tubuh seperti ini. Karena posisi ini tidak nyaman untuk tidur, maka selama posisi tubuh tegak, insya Allah Anda akan tetap terjaga.
  • lakukan senam jari: (yaiyalah, masa senam lantai?) Misalnya, gerakkan tangan kiri membentuk huruf 'V' dengan telunjuk dan jari tengah, sementara tangabiasa melakukannyan kanan seperti bermain pistol-pistolan dengan telunjuk dan ibu jari. Lalu lakukan bergantian (tangan kiri pistol, tangan kanan V). Lakukan berulang-ulang dengan lebih cepat. Gerakan sederhana semacam ini membutuhkan koordinasi syaraf motorik (terlebih jika tidak biasa melakukannya) sehingga 'memaksa' otak untuk tetap terjaga.
  • lakukan gerakan ringan: jika memungkinkan, Anda bisa melakukan peregangan seperti saat akan melakukan senam pagi (tentu ijin dulu pada pemateri untuk ke luar ruangan terlebih dulu). Hal ini akan memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak, sehingga asupan oksigen ke otak juga meningkat.
    Ketika diklat prajab kemarin, seringkali pemateri menyempatkan untuk melakukan kegiatan peregangan yang dikemas dalam mini-game yang menarik agar siswa tidak mengantuk. Sementara saat diklat samapta kemarin, gerakan 'ringan' yang dianjurkan oleh pelatih adalah push up atau jungkir/roll depan. Memang, beda diklat beda penanganan -_-
  • cuci muka: ungkin ada di antara kita yang susah banget dibangunin dengan cara halus, sampai-sampai harus dipercikin air di mukanya baru bisa bangun. Nah, sebelum Anda ketiduran dan dibangunkan pemateri dengan percikan air, mendingan mohon ijin ke toilet dulu buat cuci muka, biar seger dan ngilangin ngantuk. Mencegah lebih baik daripada mengobati kan? Kalau di samapta kemarin lebih ekstrim lagi. Siswa yang kedapatan tidur kadang nggak disuruh cuci muka, tapi langsung nyemplung ke kolam kodok -_-  --> penulis nggak pernah kena kok
  • minum air putih: ketika tubuh kekurangan cairan, maka darah menjadi lebih kental dan alirannya kurang lancar. Itu bisa mengakibatkan kurangnya pasokan oksigen ke otak (dan seluruh tubuh). Maka dari itu, minum air putih bisa mengencerkan kembali darah kita, sehingga aliran darah dan oksigen kembali lancar.
  • gunakan 'alat bantu': jangan berpikir macam-macam dulu ya, alat bantu di sini maksudnya adalah sesuatu yang jika dipakai, akan memaksa kita untuk tidak mengantuk karena efek yang ditimbulkannya. Definisinya nggak jelas ya? Oke langsung aja, maksud saya di sini, Anda bisa mencoba mengoleskan balsem panas pada pipi/di bawah mata agar nggak ketiduran. Hal ini sukses diperagakan oleh pelatih saat diklat Samapta kemarin. Ketika itu, siswa yang ketiduran diolesi balsem G####a di atas mulut atau di bawah mata. Dan hasilnya, mereka nggak ketiduran lagi. Ajaib nggak tuh?
 Demikian tips mencegah ngantuk di kelas yang disuguhkan oleh penulis, semoga bisa membantu pembaca sekalian dalam menghindari ketiduran di kelas :D

Kamis, 04 Juli 2013

Welcome Back, My Normal Life

Assalamu'alaikum, Pembaca sekalian. Bagaimana kabar Anda hari ini? Selama sebulan lebih saya nggak mampir ke blog ini, rupanya nggak banyak perubahan terjadi. Traffic tetep segitu-gitu aja, follower juga nggak nambah-nambah #nasib blogger nanggung
Tapi nggak masalah, karena kali ini saya sudah kembali dan siap mengisi blog ini dengan postingan-postingan terbaru untuk mengobati kerinduan para penggemar (emangnya ada?).
Well, barangkali nggak ada di antara pembaca sekalian yang bertanya-tanya, kok nih orang nggak nongol-nongol, nggak pernah posting. Seminggu, dua minggu, sampai lima minggu lewat kok nggak ada posting baru. Apa iya ikut-ikutan menghilang kayak Enigma? Nggak kok, bukan itu sebabnya. Saya hanya baru saja menjalankan tugas untuk mengikuti Diklat Teknis Umum Kesamaptaan di Pusdiklat Bea dan Cukai, Jakarta. Apa itu DTU Kesamaptaan, atau lebih umum disebut Samapta saja?
Diklat ini merupakan diklat wajib yang harus diikuti oleh setiap pegawai DJBC sebagai diklat pertama mereka di instansi ini. Diklat ini menitikberatkan pada pembentukan mental dan fisik serta jiwa korsa pegawai DJBC sehingga kelak, diharapkan pegawai DJBC akan memiliki ketahanan fisik dan mental yang baik serta semangat kebersamaan yang kuat untuk dapat menunjang kinerjanya sebagai pegawai DJBC. Selama 5 pekan, para peserta diklat (yakni penulis dan 116 rekan lainnya) dibimbing oleh tim pelatih dari Mako (Markas Komando) Kopassus di Cijantung. Bayangkan, pelatihnya Kopassus kawan, salah satu pasukan elit terbaik di dunia. Ngeri gak tuh?
Lalu, gimana sih kegiatan selama diklat itu? Ntar aja njelasinnya, insya Allah akan saya postingkan sedikit-sedikit cerita tentang Samapta kemarin. Bukannya sok bikin penasaran, tapi saya menunggu keberadaan foto-foto Samapta kemarin buat bahan postingan juga, karena kalau nggak pake foto, rasanya kok kurang afdhol gitu. Hehehe
Semoga kesampaian ya postingnya. Tunggu tanggal mainnya . . .