Cari Blog Ini

Selasa, 19 September 2017

Si Gundul Telah Kembali

Oke, setelah sekian lama vakum nulis, kali ini penulis coba kembali menyapa pembaca blog ini yang masih tersisa. Sebelumnya, penulis mau cari-cari alesan minta maaf atas hilangnya postingan selama Juli-Agustus kemarin. Di bulan Juli, perkuliahan sisa 2 pekan, dengan banyak utang pertemuan dan tugas-tugas dalam bentuk paper, disusul UAS 2 pekan; sementara Agustus adalah libur panjang, penulis pulkam tanpa bawa laptop, jadi rencana untuk rutin posting setidaknya sebulan sekali gagal total. Oke, apapun alasannya, postingan sederhana ini adalah penanda kembalinya penulis dalam ranah blogging.
Kenapa ngga vlogging sekalian?, barangkali ada yang nanya.
Alasannya simpel, penulis tuh ngga videogenik. Jadi lebih seneng nulis daripada ngerekam video sendiri. Lagian, siapa yang mau nonton video rekaman kehidupan sehari-harinya penulis sih, yang cuma kuliah sama pulang, nggak ada trevellingnya? Mending nulis sih, bisa bahas sesuatu yg lebih bermakna.
Supaya lebih bermakna dan nggak cuma berisi alesan, kali ini penulis mencoba sharing beberapa quote dari dosen yang cukup menarik, dan semoga dapat diambil hikmahnya.

“… alkisah, tersebutlah seorang anak kecil yang terpana menyaksikan dagangan milik seorang penjual balon udara. Si anak melihat berbagai dagangan sang penjual berwarna-warni. Ia melihat sang penjual balon melepaskan beberapa balon udara untuk menarik pembeli. Ia melihat balon merah terbang tinggi, demikian pula balon berwarna hijau. Karena penasaran, ia pun bertanya paman, apakah balon berwarna biru bisa terbang juga? Bagaimana dengan yang kining? Sang penjual tersenyum dan menjawab, nak, yang yang yang membuat balon terbang bukanlah warnanya, melainkan isi yang berada di dalamnya. Adalah helium di dalam balon, yang membuatnya lebih ringan daripada udara di sekitarnya, sehingga ia bisa naik ke langit …” Sebuah kisah dari Pak Oni Syahroni, dosen Sistem Pengendalian Manajemen, yang mengingatkan bahwa bukan ‘kulit luar’ kita yang menentukan seberapa tinggi kita mampu ‘terbang’, melainkan ‘isi’ yang ada pada diri kita.


“… jika kalian sudah di atas, cobalah untuk berbuat untuk memperbaiki negeri ini . . . agar semakin banyak yang sejahtera dan negeri ini nggak kayak gini (banyak permasalahan sosial) lagi…” Ujar Bu Rini Purwandari, seorang alumni STAN yang saat ini bekerja di Garuda Indonesia dan mengajar mata kuliah Good Governance


“…salah satu kesalahan di kita adalah, anak baru tuh disuruh mengerjakan sesuatu tanpa diajari dulu, dibilangnya udah belajar sambil jalan, nanti juga bisa. Padahal harusnya pahami konsepnya dulu, baru kerja…”, keluh Pak Nur Mukhlas Iryo Sukaimi, Ak., M.Sc., CMA, QIA, CIA, CGAP, CSA, CRMA, CA, PMIIA, CPA, CISA yang gelar profesionalnya banyak banget, dan menginginkan kita bekerja berdasarkan ilmu, sebagaimana juga diajarkan dalam agama Islam bahwa setiap ibadah harus ada ilmunya, supaya tidak salah amalan dan menjadi sia-sia