Cari Blog Ini

Sabtu, 26 Februari 2011

Sedikit renungan dari seorang jama'ah sholat Jumat

Pada suatu Jumat, sepulang dari masjid untuk sholat Jumat, ketika jama'ah sedang ramai-ramainya mencari sandal mereka di antara puluhan atau ratusan pasang sandal yang lain, saya melihat sesuatu yang membuat saya sedikit merenung.

Di antara sekian banyak jama'ah sholat Jumat, ada seorang jama'ah yang ketika keluar dari masjid, dituntun oleh seorang jama'ah lainnya. Orang tersebut juga terlihat membawa sebuah tongkat, yang nampaknya tongkat pemandu bagi penderita tuna netra. Dapat disimpulkan, orang tersebut tidak bisa melihat, atau setidaknya, penglihatannya tidak sempurna.

Dan dengan keterbatasan penglihatannya, orang tersebut masih berangkat untuk sholat Jumat. Subhanallah. Salut saya, nggak ngebayangin deh kalau . . . Ah, pokoknya nggak ngebayangin deh saya jadi orang tersebut. Salut pokoknya, tetap setia beribadah dengan segala keterbatasannya.

Di sisi lain, saya merasa sedikit miris dengan orang-orang lain, yang sempurna fisiknya, kok malah enggan meluangkan waktunya untuk menunaikan kewajiban ini.

Seorang rekan yang tidak perlu disebutkan namanya, entah apa yang dipikirannya, dengan entengnya berkata "tidur ah, supaya ntar nggak dosa kalau kelewatan nggak sholat Jumat". Masya Allah. Dengan entengnya berkata begitu, dengan dalih 'kan batasannya 3 kali nggak sholat Jumat baru dibilang kafir'. Naudzubillah. Begitu entengnya memutarbalikkan ajaran agama.

Saya nggak pengen membahas lebih jauh tentang ini. Saya nggak membahas hadits seputar sholat Jumat atau apalah, saya cuma sekedar mengingatkan dan berdoa, semoga kita dijauhkan dari sifat meremehkan kewajiban agama. Dan semoga saudara-saudara kita yang masih meng-enteng-kan kewajiban agama, segera mendapat hidayah dari Allah biar cepat sadar. Amiin

Rabu, 23 Februari 2011

Helai-helai Rambut Panjang Misterius

Halo semua.

Kali ini saya nggak bermaksud menyaingi blog misteri bung Enigma, cuma mau membahas misteri kecil yang terjadi di sekitar saya kok. Sesuai judulnya, objek misteri kali ini adalah helai-helai rambut yang secara misterius muncul di kosan saya.

Jadi begini, saya jelaskan dulu keadaan kosan saya. Pertama, kosan ini berlantai dua, dan saya ada di lantai dua kosan ini. Saya nggak akan membahas lantai satu dan penghuni-penghuninya, nanti saya jelaskan kenapa. Di lantai dua ini, ada 9 kamar. Berhadap-hadapan dengan formasi 5 lawan 4, dengan sebuah koridor menghubungkan semua. Ini denahnya :

Di lantai dua ini, penghuninya semua laki-laki. Saya dan teman-teman berstatus mahasiswa, empat orang lainnya, pegawai DJBC. Yang satu lagi? Nggak jelas, jarang ada di kosan, kalaupun ada pun cuma beberapa hari sekali, muncul pas mandi pagi, lalu berangkat kerja. Pulangnya pun tak tentu berapa hari sekali, dan pasti larut malam. Kami nggak mengenalnya, orang ini memang misterius, namun bukan berarti dia yang bakalan saya bahas. Yang pasti, diantara penghuni lantai dua ini nggak ada yang berambut panjang/gondrong. Kami yang masih mahasiswa berambut cepak karena tuntutan pendidikan, dan para pegawai, meski nggak serapi kami, nggak ada yang gondrong.

Naaah, di sinilah misteri mulai muncul. Entah berapa bulan yang lalu kejadian pertamanya, saya sudah lupa. Sekitar tahun 2010 lah. Suatu ketika, saya melihat ada sehelai rambut di lantai kamar kosan saya. Rambutnya halus, panjang ( kurang lebih panjangnya lebih dari sejengkal tangan saya, berarti 21 cm) lurus sedikit bergelombang. Seperti rambut wanita. Dan nggak ada wanita di lantai dua. Yang jelas, berbeda dengan rambut pria yang rontok (rambut kaki, rambut ketiak, atau rambut-rambut yang lain yang nggak perlu dijelaskan lebih lanjut). Dan anehnya, saya nggak menanggapinya dengan serius (entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu). Padahal nggak logis juga kalau tiba-tiba ada sehelai rambut dengan ciri-ciri seperti itu.Dan yang jelas bukan rambut kepala pria, karena (seperti sudah saya jelaskan tadi) penghuni di lantai dua nggak ada yang gondrong.

Awalnya saya kira hanya yang mengalami, namun belakangan, ternyata nggak hanya saya. Suatu ketika saya bercerita pada Choiril tentang keanehan ini, dan dia menanggapi dengan serius, berkata bahwa dia juga pernah mengalami kejadian serupa. "Mungkin ada rambut darimana gitu, kebawa angin. Kan kosan di seberang tuh kosan campur (cowok-cewek)", kilahnya, mencari penjelasan rasional. Saya hanya mengiyakan, meski sedikit merinding. Sepertinya setelah itu, nggak ada penemuan rambut lagi seingat saya. Dan saya sedikit melupakan kejadian itu.

Pada kesempatan lain, ketika liburan, saya bercerita pada mama dan mbak saya, yang menanggapi dengan serius juga. Sembari menambahkan kemungkinan adanya makhluk halus berdiam di kosan kami. Naah, ini mulai membuat saya merinding sedikit lebih banyak dibandingkan saat bercerita ke Choiril.

Mari kita skip kegiatan liburan saya karena nggak sesuai dengan topik postingan kali ini. kembali ke Jakarta, saya sempat membahas kejadian ini bersama si Agris yang hanya menanggapi dengan tawa dan senyum. Sampai pada akhirnya, dia sendiri mengalami penemuan rambut ini. Dan sekarang giliran saya tertawa senang seperti psikopat baru saja mendapati mangsanya terluka. Dan si penemu helaian rambut tersenyum kecut. Sekarang tinggal si Pijar yang belum kena.

Pada akhirnya, si Pijar pun mendapati helaian rambut aneh itu nangkring di kamarnya. Sekarang si pemilik rambut sudah main pukul rata rupanya. Sejak itu, penemuan rambut misterius menjadi hal sehari-hari saja. memang nggak rutin tiap hari, tapi adaaaaa aja yang nemuin. Demi menghibur diri, kami pun mencoba-coba mencari penjelasan rasional.

Hipotesa pertama : teori rambut antah berantah yang tertiup angin.

Sebenarnya, di lantai bawah ada penghuni perempuan, yaitu istri dari mas Teguh yang ngurusin kos-kosan ini, dan adik perempuan salah seorang pegawai.

Tapi, teori ini memiliki kelemahan. Pertama, meski istri mas teguh memiliki rambut denganciri-ciri sesuai, kami nggak pernah sekalipun mendapati mbak ini naik ke lantai dua. Kami menepis angapan bahwa mungkin saja mbak ini naik ke lantai 2, pas kami kuliah. Faktanya, saat liburan pun kami nggak pernah memergokinya naik ke lantai 2 tuh. Sedangkan perempuan yang satunya, , , rambutnya sangat nggak sesuai dengan barang bukti yang kami temukan. Just ignore her. Nggak cocok kok.

Atau ada rambut dari perempuan penghuni kosan depan? Atau anak tetangga yang sering main-main di lantai 2 rumahnya yang sejajar dengan tempat jemuran kami?? Tetap sulit diterima, karena kalau begitu kejadiannya, kemungkinan rambut tersebut untuk menyusup masuk ke kamar kami sangat kecil, paling buanter ya nangkring di koridor. Soalnya jendela kamar kami trtutup korden, dan seringnya pun daun jendela kami tutup pas keluar kemana-mana. Lewat ventilasi? Sepertinya tidak, karena lokasi ventilasi tinggi, dan lagi, di koridor ada 2 kipas angin sehingga kecil kemungkinan sehelai rambut bisa 'terbang' sampai setinggi 2 meter untuk mencapai ventilasi. lagipula, helaian rambut inilebih sering ditemukan di tempat yang agak jauh dari ventilasi dan sedikit tersembunyi ; kolong meja.

Oke, anggap teori pertama gagal sampai kami berhasil melakukan percobaan 'menerbangkan rambut melewati ventilasi menggunakan daya angkat dari kipas angin di koridor'.

Hipotesa kedua : teori rambut terbawa sapu.

Mungkin sebenarnya rambut ini (entah darimana) sampai di lantai dua, hanya saja dia berdiam di koridor. Ketika kami menyapu kamar menggunakan sapu ijuk (ya iyalah pake sapu ijuk, masa pake tongkat pramuka), rambut ini terbawa oleh sapu. Ketika kami menyapu, tanpa kami sadari, rambut ini terjatuh.

Sekali lagi, terbantahkan. Sekedar informasi, lantai kamar kami terbuat dari keramik warna putih, sehingga akan terlihat jelas kalau ada sesuatu di atasnya. Dan tentu saja, ketika kami menyapu, kami melihat ke lantai, bukan ke langit-langit! Jadi pasti tahu lah kalaupun ada kotoran yang tertinggal, apalagi helai rambut yang panjang.

"Tapi namanya manusia, mungkin aja khilaf kan?", begitu mungkin pikir Anda. Oke, tetap ada bantahan. Kalau demikian adanya, ini tidak menjelaskan tentang kemunculan rambut yang seringkali tidak langsung terlihat penampakannya setelah kami menyapu. Kemunculan paling sering adalah saat kami baru masuk kamar sepulang kuliah. Dan saat itu kami belum memegang sapu! Lagipula, teori ini tidak menjelaskan tetntang penemuan rambut di tempat-tempat yang bukan area penyapuan (misal, di sebelah mouse laptop, atau di atas buku yang tergeletak di atas alas duduk. Dan ditemukan segera setelah kami masuk kamar untuk kali pertama setelah keluar cari makan, atau kuliah).

Yang jelas, ini benar-benar rambut manusia (atau sesuatu yang menyerupai manusia), dan bukan helaian ijuk yang terlalu tipis dan lembut.

Oke, kita masuk ke hipotesa terakhir yang kami miliki sejauh ini.

Hipotesa ketiga: teori rambut manusia terbawa kucing.

Inilah puncak dari ke-absurd-an pemikiran kami dalam mencari penjelasan rasional tentang misteri rambut misterius. Memang banyak kucing berkeliaran di kosan kami. Entah dari rumah tetangga, dai lantai bawah, dari atab sebelah kosan, dai mana-mana deh pokoknya. Kanwajar, kucing emang suka kelayapan. barangkali aja, suatu ketika itu para kucing lagi mesra-mesraan dengan seorang yang mempunyai rambut setipe dengan yang kami temukan di TKP. Dan rambut manusia tadi ada yang rontok dan terbawa kucing tadi. Kebetulan setelah itu, si kucing jalan-jalan ke lantai 2 kosan kami, dan kebetulan juga rambut yang terbawa tadi jatuh di sana-sini. Kebetulan jatuh di koridor, terus kebetulan terkena hembusan angin liar dari luar, atau kipas angin di koridor, lalu kebetulan menyusup ke kamar kami dan tergeletak begitu saja sampai kami melihatnya.

Well, see? No mystery at all. Sayangnya, ini justru teori yang kami akui sebagai teori paling tidak masuk akal. Jujur saja, yang sering berkeliaran di sini bukan kucing persia atau kucing siam apalagi anggora yang manis untuk dipeluk. Melainkan hanya kucing kampung bulukan yang (tampaknya) penuh kutu, kudis, kurap dan sejumlah penyakit kulit kucing lainnya. Saya hampir yakin kalau nggak ada yang bakal minat untuk meluk-meluk kucing beginian deh. Ataukah kucing ini membawa helai rambut dari mana-mana tanpa harus 'dipeluk' oleh yang punya rambut? Bisa saja rambut rontok entah dari mana tiba-tiba nyungsep diantara bulu-bulu (lebih tepatnya, rambut juga. Kucing kan mamalia) si kucing, dan kebetulan sekali jatoh di kosan kami. Mungkin juga jatoh di tempat lain, dan kami bukan satu-satunya yang mengalami misteri rambut misterius. Entahlah, kami juga belum memastikan di rumah tetangga juga ada yang mengalami kejadian aneh ini. Lagipula, suatu teori yang terlalu mengandalkan kebetulan akan sangat mudah dipatahkan, kan?

Semua teori di atas memang kedengaran terlalu mengada-ada, tapi kami berempat sepakat untuk memaklumi teori-teori absurd di atas agar terdengar lebih rasional. Bukannya kami mengingkari adanya kemungkinan lain yang di luar rasio (teori keempat : ada makhluk halus berambut panjang yang mengalami kerontokan rambut di kosan kami), tapi kami memilih untuk tidak membahas kemungkinan itu. Bukannya kami penakut, tapi kami hanya ogah saja jika harus menerima kenyataan teori keempat tersebut. Nanti kami malah jadi parno sendiri.

Ataukah ada di antara pembaca yang memiliki teori lain?

Atau kami harus mulai menyediakan shampo anti-hairfall khusus di kosan?

Senin, 21 Februari 2011

Nge-pit malem-malem di Jakarta pake sepeda pinjeman = . . . ???


Anda suka bersepada? Sehat dan menyenangkan bukan? Tapi saya nggak suka tuh.

Lho bukannya bersepeda itu sehat dan ramah lingkungan?

Iya memang, bukannya saya nggak mendukung gerakan go green dan bike to work, tapi karena saya nggak bisa sepedaan . . .

What? Umur 20 nggak bisa sepedaan?

Kaget? Biasa aja kali, gak usah lebay gitu . . .

Emang saya nggak bisa kok. Oke, saya akui, saya takut jatuh. Puas? Saya nggak bakalan kebanyakan alesan untuk hal yang satu ini, meski sebenarnya ada alasannya juga saya nggak bisa sepedaan.

Waktu kecil, usia-usia SD, ayah saya memang pernah membelikan sebuah sepeda untuk saya dan mbak saya, tapi karena latihannya nggak konsisten, akhirnya saya sampe gede gini nggak bisa sepedaan. Tepatnya sampai beberapa bulan yang lalu, saat kakak saya yang sudah kerja membelikan adek saya yang masih SMP sebuah sepeda. Akhirnya saya baru (sedikit) bisa bersepeda dengan memakai sepeda adek saya tadi. Sebenarnya saya belum benar-benar bisa bersepeda, soalnya latihannya cuma di halaman aja, belum nyoba di jalan gede yang rame kendaraan bermotor dan manusia lalu-lalang.

Selain itu juga, dulu waktu kecil, pas sepedanya rusak, sempet lama nggak diperbaiki dan akhirnya sepeda itu dihibahkan ke saudara saya yang lain. Alhasil selama beberapa tahun periode emas masa kanak-kanak saya, saya sempat vakum dari dunia persepedaan.

Tapi, satu alasan paling fatal ketidakbisaan saya bersepeda adalah karena faktor trauma. Saya pernah (mungkin) nyaris mati gara-gara belajar bersepeda. Semua juga pernah jatuh kali . . . Tapi ini beda, bener-bener hampir mati (mungkin), bukan hanya sekedar jatuh dari sepeda, tapi jatuh dari . . . halaman rumah. Halaman rumah? Hm , , , secara bahasa, iya, saya hampir jatuh dari halaman rumah. Biar nggak bingung, saya beri gambaran sekilas tentang rumah saya.

Rumah saya terletak di daerah perbukitan yang kontur lansekapnya nggak rata sama sekali. Dan saya beruntung memiliki rumah yang nangkring di kaki bukit. Kurang lebih seperti ini side view dari rumah saya.

Anda mulai mengerti kan, mengapa tadi saya tulis 'jatuh dari halaman'.

Dan waktu saya masih umur sekitar 5-6 tahun, saya pernah nyaris jatuh dari halaman rumah saya, ke jalan kampung di bawah. Dan tepian curam di depan rumah saya itu, tingginya sekitar 5 meter lebih. Bayangan saja kalau jatuh dari depan rumah saya, nyungsep di 'jurang' setinggi 5 meter-an, jatuh ke jalan aspal di bawahnya, dan kalau apes banget, disambut mobil atau sepeda motor lewat atau mental dan terus jatuh ke jurang dibawahnya lagi terus ke kali. Entah jadi apa kalau saat itu saya nggak menabrakkan sepeda saya ke pohon cemara yang ditanam di tepian sana. Untung Allah SWT masih nyelametin saya. Alhamdulillah.

Oke, kembali ke masa kini. Singkat cerita, barusaaan aja, saya mendapat kesempatan langka untuk bisa bersepeda di jalanan Jakarta yang penuh sesak ini. Pas itu tetangga kamar saya (sekosan tapi beda kamar), Mas Rasyid, mau pinjem uang ke saya 500 ribu buat bayar cicilan ngontrak rumah karena dia udah nggak bisa ambil uang lagi hari ini (udah kena limit tarik tunai 5,5 juta per hari). Alhasil, saya pun bersedia ambil uang ke ATM, dengan difasilitasi sebuah sepeda oleh Mas Rasyid (disebut pit, kosakata Jawa Tengah-an). Akhirnya, bermodal nekat, saya naiki pit tersebut. Dari pertama naik tuh sebenarnya udah merasa nggak enak, soalnya sadelnya ketinggian (maklum, belajar bersepeda pake sepeda ukuran anak SMP). Pegang stang goyang kanan-goyang kiri nyungsep sana-nyungsep sini. Dengan susah payah, saya mengarahkan sepeda ke tempat tujuan. Sebenarnya bukan mengayuhnya yang susah, tapi menyeimbangkannya itu lho, , , sampai berkali-kali restart (turun dari sepeda, mulai mengayuh adri nol) karena jalan yang begitu ramai, dan bahkan sempat menabrak seorang adek kelas yang saya nggak tau namanya ('sori bro, kau nggak pa pa?' tanyaku dengan peluh bercucuran dan nada khawatir, 'nggak pa pa bang', jawabnya, dengan nada yang lebih khawatir). Singkat cerita, saya berhasil sampai ke ATM (sempet nuntun juga sih, nggak 100% ngayuh, soalnya jalannya serem, rame banget).

Dan perjalanan kembali ke kosan pun nggak kalah menegangkan. Nyerempet sepeda motor orang, jatuh di belokan, nuntun sepeda pas nyebrang jalan, papasan dengan senior (sok-sokan berhenti dan turun dari sepeda soalnya ada SMS masuk), dan akhirnya saya sampai di kosan dengan selamat (dan sedikit lecet). Nggak sakit kok, cuma maluu banget. Untung malem, wajah saya tersamarkan oleh kegelapan :D

Well, paling tidak, ada hikmah yang bisa diambil dari peristiwa barusan.

Pelajaran pertama adalah "practice makes perfect". Sebuah slogan yang saya dapat dari ECC (English Conversation Club, ekskul bahasa Inggris di SMA saya dulu). Lha latihan aja nggak pernah, gimana mau bisa melakukan sesuatu dengan lancar. Slogan ini ternyata benar-benar berlaku dalam segala bidang. Modal nekat aja nggak cukup. Oke memang, nothing's perfect, but at least, the more you practice, the nearer you to the perfection. The less you practice, the further you from the perfection. Yah, saya akui, saya perlu lebih banyak membiasakan diri untuk bersepeda.

Pelajaran kedua, adalah semboyan "size doesn't matter" nggak berlaku di dunia nyata!! Saya pernah lihat kata-kata "size doesn't matter" pada sebuah gambar tokoh/hero pada sebuahgame. Hero tersebut memiliki ras human, ukuran badan kecil, tapi cukup tangguh dan nggak bisa disepelekan karena memiliki skill magic mumpuni. Dalam dunia nyata, size really matter, guys. Buktinya tadi, saya make sepeda yang ukurannya nggak sesuai sama saya, memakainya jadi nggak nyaman (dan nggak aman). membuat ketidakmampuan saya untuk bersepeda menjadi semakin kentara saja. Ckckck . . .

ketiga, pepatah "experience is (not only) the best teacher" memang ada benarnyaq. hanya saja perlu ditambahi, "(but also) the most cruel teacher". Bagaimana tidak, guru yang satu ini memberi ujian lebih dulu, baru kemudian kita mendapatkan pelajaran darinya. Sungguh terlalu. . .

Dan pelajaran lainnya , , , adalah ambil hikmah dari setiap kejadian. Suatu hal bisa menjadi kesialan, kejadian memalukan, atau kecelakaan, jika kita hanya meratapi dan mengumpatinya. Kejadian yang sama, asal bisa diambil hikmahnya, maka bisa menjadi guru yang baik bagi kita. maka, teruslah berbuat kesalahan dan ambil hikmah dari kesalahan tersebut, asal jangan mengulangi kesalahan yang sama. Oke?

Kriing . . kriing . . gowes . . gowes . . Go green, let's bike to work/school/ campus :D

Minggu, 13 Februari 2011

Oleh-oleh dari Istiqlal ( lagi ) edisi februari 2011

Assalamu'alaikum Sodara-sodara

Alhamdulillah, lagi-lagi Allah SWT memberi saya kesempatan untuk menambah ilmu melalui pengajian rutin Aa' gym di Masjid Istiqlal. Seperti biasa, jadwalnya adalah pada ahad kedua setiap bulan.

Let's check this out . . .

## Pada ceramah sesi pertama, saya dan rombongan gak dapet secara keseluruhan karena kami nyampe di lokasi agak telat. udah nggak tahu siapa nama ustadznya, cuma sempet nyatet sedikit pula. Tentang qalbu.

Qalbu atau hati adalah sesuatu yang memimpin seluruh diri ini untuk melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita akan minum, secara sadar, kita akan merasa haus, kita nggak akan beranjak mengambil minum kalo qalbu kita nggak memerintahkan kaki untuk melangkah, tangan untuk meraih gelas-mengambil air-mendekatkan ke mulut, dan mulut untuk meneguk air tersebut. Diibaratkan, qalbu adalah raja dalam diri kita.

Ada 3 jenis qalbu, yaitu :

- qalbu yang mayit

- qalbu yang marid (gak yakin tulisannya bener)

- qalbu yang salim

bahas satu-satu nih.

1. Qalbun mayit,

adalah hati yang telah mati. Jasadnya hidup tetapi hatinya tidak. Kebanyakan pemilik hati jenis ini adalah orang-orang kafir, meskipun tidak menutup kemungkinan ada orang 'Islam' yang memiliki hati jenis ini; kemungkinan orang yang Islam KTP. Hati yang seperti ini telah dikunci oleh Allah. hati yang telah tertutup dari kebenaran. Nau'dzubillahi min dzaalik, semoga kita nggak termasuk di dalamnya.

2. Qalbun marid,

adalah hati yang 'penyakitan' (penyakit di sini bukan mengacu pada penyakit fisik yang mudah dideteksi dan dicari obatnya, yang jelas bukan hepatitis atau penyakit liver). Hati yang seperti ini adalah tipikal hati orang munafik. Ada beberapa ciri hati yang penyakitan ini, antara lain :

a. kehilangan cinta yang tulus, yakni cinta kepada Allah

b. gelisah dengan urusan dunia

c. kehilangan khusyu' dalam ibadah (karena gelisah dengan dunia tadi)

d. malas bersedekah

e. mata dan hatinya keras, dalam artian matanya susah untuk menangis ketika ingat dosa (boro-boro nangis, inget dosa aja kagak), dan hatinya kurang peka terhadap lingkungan Islam di sekitarnya.

f. gemar melakukan dosa-dosa kecil

Naudzubillahi min dzaalik, semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit hati.

3. Qalbun salim,

yakni qalbu yang selamat. Selamat dari penyembahan kepada yang selain Allah. Selamat dari syubhat dan syahwat (2 hal yang menjadi penyebab penyakit qalbu). Selamat karena ibadahnya cocok dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW (memiliki ilmu dalam beribadah) dan ikhlas amalannya; bersih, bening, jernih, seperti air yang tidak tercampur apapun.

Semoga kita menjadi orang-orang yang salim qalbu-nya, amiin...


## Langsung aja ya, ke sesi dua, yang disampaikan langsung oleh Aa' Gym. Kali ini ngebahas masalah tauhid.

Karena yang dibahas banyak sekali, dan saya nggak dapet sistematikanya (maklum, yang dibahas kesana-sini, adaaa aja yang bikin nyambungnya bisa kemana-mana), maka saya tulis aja poin-poin yang sempet saya tulis.

* Allah maha Tahu, adakah yang bisa kita sembunyikan dari-Nya?? Tidak, Saudaraku.

Allah maha Melihat, adakah suatuperbuatan kita yang bisa lepas dari pengamatan-Nya? Sekali lagi tidak, Saudaraku.

Allah Maha mendengar, adakah pembicaraan kita yang tak terekam oleh-Nya? Sekali lagi tidak, Saudaraku. Tidak ada yang terlewat oleh-Nya. (maka dari itu, Islam mengajarkan "bicaralah yang baik atau -jika tidak bisa- diam")

Allah tahu yang kita sembunyikan dan apa yang kita tampakkan. Nggak ada satupun yang tersembunyi dari Allah.

Allah tahu isi hati kita, Allah tahu masalah yang membuat kita gelisah, dan Allah pula lah yang mengetahui penyelesaiannya. Jadi mengapa masih bersandar kepada yang selain Allah? Kalaupun meminta pertolongan kepada sesama manusia, ingatlah, mereka hanyalah perantara, lewat merekalah pertolongan Allah datang pada kita, Allah lah yang menggerakkan hati kita untuk minta bantuan kepada mereka, Allah pula lah yang menggerakkan hati mereka untuk mau menolong kita. Ingat, sesungguhnya Allah lah yang menolong kita.

“ .... Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)

Berharaplah hanya kepada Allah, maka akan tenang hati ini. Jika berharap kepada selain Allah, hanya akan menambah kegelisahan hati.

* Segenap dunia beserta isinya, juga akhirat dan seluruh isinya, adalah ciptaan Allah. Milik Allah secara mutlak. Konsekwensinya, segala sesuatu yang (menurut anggapan kita) adalah milik kita, sesungguhnya itu adalah milik Allah. Harta, keluarga, kedudukan, segalanya. Maka, ketika kita kehilangan itu semua, tak ada yang perlu disesali karena pada dasarnya kita tidak memiliki apapun di dunia ini. Bahkan kehidupan kita, tubuh kita, nyawa kita, adalah milik Allah.

Ketika pemahaman tauhid ini sudah berakar kuat, maka dengan sendirinya iman seseorang akan menjadi kuat pula (itulah sebabnya Rasulullah begitu tangguh menghadapi segala cobaan selama masa dakwah). Tak heran, selama 13 tahun prtama masa kenabian Rasulullah dihabiskan dengan dakwah tentang tauhid. Pemahaman tentang tauhid lebih utama daripada muamalah dan syariah.

Dalam satu riwayat disebutkan, dari Jundub bin Abdillah, dikatakan "kami bersama Rasulullah saat remaja. Kami belajar iman sebelum Al Qur'an. Lalu kami belajar Al Qur'an, maka bertambahlah iman kami".

* Allah memiliki perhitungan yang sangat sempurna atas segala sesuatu. Rizki kita. Takdir kita. Ujian bagi kita. Perintah-perintah-Nya. Segala sesuatunya telah ditetapkan dan diperhitungkan dengan matang dan begitu rapi.

Tentang rizki, bayangkan, ketika kita di dalam rahim, kita nggak tahu apa-apa, ibu kita sendiri juga nggak tahu apa-apa di dalam sana, tapi kita nggak kekurangan rizki di dalam sana. Kita diberi rizki yang cukup untuk tumbuh berkembang dan lahir dengan sleamat, hingga usia kita sampai pada detik ini.

Maka janganlah takut kita nggak punya rizki, tapi takutlah kita nggak punya jujur, nggak punya syukur dan nggak punya sabar.

Tentang takdir, bayangkan betapa rapihnya takdir yang dibuat oleh Allah. Pagi ini (pagi tadi saat acara di Istiqlal), bayangkan ada berapa takdir manusia yang tumpang tindih hingga akhirnya sekian ratus, atau sekian ribu orang akhirnya bertemu di Masjid Istiqlal untuk menambah ilmu agama? Ada yang berangkat dengan angkutan umum, dengan kendaraan pribadi, ada yang menumpang kendaraan teman, semua dengan niat awal dan jalannya masing-masing, namun pada akhirnya semua ditakdirkan bertemu di Istiqlal mendengarkan ceramah Aa' Gym. Dapatkah Anda lihat betapa rapi takdir Allah?

Allah yang menciptakan takdir, Allah pulal lah yang mewujudkannya. "Kun, fayakun"

Tentang ujian bagi kita, semua telah diperhitungkan sesuai kemampuan hamba-NYa. Tidak akan tertukar ujian yang ditujukan bagi seseorang dengan seorang lainnya. mengutip penggalan suatu ayat yang sudah amat akrab bagi kita,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ....” (al-Baqarah: 286)

Percayalah, Allah telah memperhitungkan kemampuan kita dan juga tingkat kesulitan ujian kita. Bayangkan, ujian sekolah saja, antara anak kelas 6 SD dan anak SMP kelas 3, jelas berbeda. Mengapa? Karena tingkatan mereka berbeda, kemampuan mereka berbeda, ilmu yang mereka miliki berbeda. Nggak adil dong kalau anak SD kelas 6 dikasih ujian selevel ujian kelas 3 SMP. Nah, praktisi pendidikan saja bisa memperhitungkan itu, apalagi Allah yang menciptakan para praktisi pendidikan itu.

Maka dari itu, pantaskah kita protes pada Allah ketika sedang diuji oleh-Nya? Padahal ujian tersebut telah disesuaikan dengan kemampuan kita? Apakah kita akan meminta ujiannya yang dipermudah, ataukah kita meminta diberi kekuatan untuk menjalani ujian tersebut?

Tentang perintah-perintah-Nya, Allah memberikan suatu ketetapan dalam perintahnya yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga mampu dilaksanakan oleh manusia. Contohnya, pada prosesi ibadah haji, salah satu rukunnya adalah memotong rambut. Dan subhanallah sekali, rambut adalah bagian tubuh manusia yang tidak dilengkapi syaraf dan pembuluh darah di setiap helainya. Bayangkan kalau setiap helai rambut dilengkapi syaraf dan pembuluh darah, betapa sakitnya prosesi pemotongan rambut saat ibadah haji (dan saat-saat lainnya. Mungkin tentara akan gondrong kalau begitu kejadiannya). Sama juga dengan sunah memotong kuku sebelum sholat Jum'at. Kuku kita yang dipotong adalah bagian keratin yang mati, yang tidak memilik syaraf dan pembuluh darah juga. Sehingga saat dipotong toh kita tenang-tenang saja (kecuali kalau nggak sengaja terkena daging di bawah kuku). Atau perintah aqiqah, salah satu hikmahnya adalah sebagai perbaikan gizi bagi saudara-saudara kita yang nggak tiap hari berkesempatan makan daging.

(Tentunya masih banyak ketetapan-ketetapan lain dari Allah yang dapat dijadikan contoh, tapi rasa-rasanya 3 ini sudah cukup mewakili lah)

* Dalam kehidupan kita yang singkat ini, yang sepantasnya dicari hanyalah ridho dari Allah. Sederhananya, lakukanlah hal-hal yang jika kita melakukannya, Allah akan suka. Dan sebaliknya, jauhilah hal-hal yang Allah tidak suka jika kita melakukannya.

Misalnya, Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan, maka kita bolehlah berhias, memperindah rumah, agar Allah suka. Namun jangan berlebih-lebihan, karena Allah tidak suka yang berlebihan.

## Ada juga beberapa poin yang saya dapat dari jawaban Aa' atas beberapa pertanyaan yang diajukan pendengar (sayangnya saya nggak mencatat pertanyaannya). Here they are . . .

* nafsu itu seperti air laut, makin diminum makin membuat haus --> makanya jangan turutin nafsu.

* Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini senantiasa bertasbih memuji-Nya, maka tidak pantaslah bila kita mengganggu ciptaan-Nya padahal mereka senantiasa bertasbih pada Allah.

* Tidak ada yang lebih dekat kepada Allah selain Rasulullah SAW. Maka jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah, contohlah cara-cara yang dilakukan oleh Rasul.

-----------------------------------------------------------------------------

Demikian yang bisa saya sampaikan. Apabila ada kekurangan dan kesalahan itu datangnya dari saya dan syetan, apabila ada benarnya maka kebenaran itu datang dari Allah.

Wallahu'alam bish showab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi ta'ala wabarakatuh.

Sabtu, 12 Februari 2011

Sedikit oleh-oleh dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di madrasah di deket masjid di deket kosan

Langsung aja yak, gak pake basa-basi (lagi males nulis ini). Intinya kemaren hari kamis malem, ba'da isya, saya diajak salah seorang teman saya untuk ngikutin acara peringatan maulid nabi di sebuah madrasah di deketnya masjid komplek kos-kosan kami. Dan setelah acara pembuka dan lain-lain, akhirnya sampai juga ke sesi ceramah. Saya nggak mbahas penceramahnya, saya juga nggak bawa buku catetan jadi yang saya posting ini cuma sedikit dari yang saya ingat.

Intinya gini (akhirnya tadi pake basa-basi juga), ini tentang kisah para sahabat Raasulullah SAW. Kita tahu bahwa kadara keimanan para sahabat adalah yang terbaik, setelah derajat keimanan para nabi Allah. Meski demikian, adad kalanya mereka tetaplah manusia yang bisa juga berbuat salah, meskipun kecil. Dan ketika mereka berbuat suatu kesalahan atau kelalaian sekecil apapun, mereka merasa amat sangat menyesal sampai-sampai mereka merasa alangkah baiknya jika mereka masih kafir saat melakukan kesalahan tersebut, dan setelah itu mereka akan mengucap syahadat agar kesalahan tersebut terhapus oleh 2 kalimat syahadat tersebut. (Bandingkan dengan kita, jangankan sadar dan menyesal, seringkali malah kita mengulang-ulang kesalahan yang sama berkali-kali tanpa ada perasaan bersalah)

Nah, menanggapi sikap para sahabat tadi, Rasulullah SAW pun memberi kabar gembira bagi mereka, yakni dengan mengingatkan para sahabat untuk memberbaharui iman mereka dengan banyak-banyak membaca kalimat tauhid(laa illaha ilallah), dan para sahabat membacanya hingga 12000x sehari. Bayangkan, 12 ribu kali sehari untuk memperbarui iman mereka. PAdahal kadar keimanan para sahabat sudah sedemikian tinggi, sampai-sampai penceramah bercerita bahwa ketika ada yang menanyakan tentang kadar keimanan ulama X (maaf, saya lupa detilnya, yang jelas ulama ini memiliki nama besar), maka jawabnya adalah 'keimanan sahabat yang paling ingat dunia adalah 70 kali lipat lebih baik'. Nah lho,,,, bagaimana dengan kita? Para sahabat yang kalau sholat malam sampai kakinya bengkak-bengkak, sementara kita begadang sampai mata bengkak tanpa memiliki nilai ibadah. Sahabat yang rela beramal untuk kepentingan umat dengan seluruh hartanya, sementara kita buat ngisi kotak amal masjid saja ogah-ogahan (boro-boro ngisi kotak amal, ke masjidnya aja jarang). Para sahabat yang dengan sukacita menyambut ajakan berjihad, sementara kita boro-boro jihad, kebanyakan dari kita malah terbawa tipuan thagut kafir dengan menganggap saudara-saudara kita yang mati-matian membela syariat Allah sebagai teroris.

Bayangkan sejenak Saudara-saudaraku, para sahabat memperbarui kadar keimanan mereka dengan mengucap kalimat tauhid tak kurang dari 12 ribu kali sehari. Bagaimana dengan kita yang kadar keimanannya jauh di bawah para sahabat?? Jika 12 ribu terlalu berat, kita coba 1200, atau 120 kali deh. Atau jika masih nggak mampu juga,12x tiap habis sholat. Bagaimana? Mampu?

Semoga Allah menjadikan kita golongan orang-orang yang senantiasa memperbarui keimanan kita, amiin

------------------------------------------------------------------

Sekedar iming-iming, sepertinya dalam budaya Betawi (soalnya di tempat saya nggak begini), acara perayaan maulid atau peringatan momen Islami selalu dibarengi dengan bagi-bagi nasi kebuli (semacam masakan khas arab, atau setidaknya inspired by gitu lah, berwujud nasi dibumbui berbagai rempah yang saya nggak tahu gimana cara membuatnya-cari aja di google, yang dimasak dengan daging kambing, biasanya bagian rusuk, ditambahi acar nanas) bagi para peserta. Jadi nasi kebuli dibagi dalam wadah semacam tampah besar, untuk dikeroyok rame-rame (4-6 orang). Mantab toh? Perwujudannya kurang lebih macam ini . . .


Atau lebih seperti ini . . .

Tapi penampilan yang satu ini lebih mewakili . . .

*bukan foto asli pas kejadian, soalnya gak bawa HP pas itu.

Sedaaap :D