Cari Blog Ini

Jumat, 17 Juni 2011

Matarmaja (dan Kereta Ekonomi Jarak Jauh Lainnya); Hanya Untuk Orang-orang Terpilih



Bagi para pelanggan setia Matarmaja dan kereta ekonomi jarak jauh lainnya, pernahkan Anda merasa iri dengan orang-orang yang bisa pulang kampung (atau balik ke kota) dengan moda transportasi yang lebih baik dari Anda? Katakanlah, pengguna setia bus malam, kereta eksekutif/bisnis, atau pesawat terbang? Mungkin Anda berpikir bahwa mereka lebih baik dari Anda, namun tak pernahkah Anda berpikir bahwa KITA (bukan cuma Anda yang setia dengan kereta ekonomi jarak jauh, saya juga lho *shakehand) lah yang lebih baik daripada mereka???

Tahukah Anda, bahwa kita adalah orang-orang yang begitu santai dan hidupnya tidak dikejar-kejar waktu dan deadline meeting atau urusan ini itu? Mereka-mereka yang harus pulang kampung dengan pesawat terbang sejatinya cukup menderita juga. Mereka naik pesawat terbang karena dikejar waktu, keburu ini lah, kesusu itu lah. Sedangkan kita? Gujes gujes tuuuut tuuut . . . . dengan santainya menikmati setiap kilometer yang dilalui, menikmati pemandangan sawah, sungai, jurang, perumahan, atau apapun di sekitar rel kereta.

Sadarkah Anda, bahwa wahana ekonomis ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki fisik prima, untuk menghadapi perubahan suhu yang cukup ekstrim, berkeringat ria ketika siang hari (dan terutama ketika kereta berhenti) sekaligus menggigil kedinginan ketika kereta melaju maksimal menembus pekatnya malam (terutama ketika hujan). Untuk setengah begadang ketika tak ada tempat yang cukup nyaman untuk tidur pulas. Bahkan bagi mereka yang mendapatkankeistimewaan lebih, untuk melatih kekuatan otot kaki dengan berdiri selama sekian persen dari seluruh perjalanan? Tidak, para penumpang wahana eksklusif dan eksekutif tak akan mampu untuk menjalani cobaan fisik serupa ini. Kita lebih kuat dari mereka.

Kalau mau berhitung, sebenarnya pengguna kereta ekonomi ini adalah orang-orang yang paling pintar mengatur keuangan. Bagaimana tidak, untuk menempuh jarak hampir seribu kilometer Jakarta-Malang, cukup dengan Rp. 51.000,00. 20 jam perjalanan. Hitung saja, maka akan Anda dapatkan tarif perjam yang sangat murah. Hanya berkisaar 2500 rupiah perjam. Bayangkan itu sodara-sodara. Lebih murah daripada online di warnet selama sejam. Apalagi jika Anda memilih tidak membeli tiket (alias mbayar nduwur; jangan ditiru yaaa). Terlebih lagi jika kita mendapat bonus waktu penggunaan (kayak internet time-based aja) alias molor. Entah karena ada kecelakaan yang menghalangi jalur kereta Anda, atau karena stasiun banjir, perjalanan Anda bisa extended hingga berjam-jam. Rekor saya sih, 28 jam, ketika ada kereta Argo yang salto di rel di daerah pantura, dekat stasiun Plabuan, membuat pengguna matar (dari Malang ke Jakarta) dipaksa untuk turun, lalu dialihkan dengan bus ke stasiun berikutnya, baru naik matar lagi (yang seharusnya dari Jakarta ke Malang). Jadi tarif perjamnya turun drastis sampai di bawah Rp. 2.000/jam. Luar biasa murah kan?
Sedangkan para pengguna pesawat coba, sekian ratus ribu dihabiskkan untuk sejam perjalanan Jakarta-Malang? Rugi abis lah itu namanya. . .

Hanya orang-orang yang pemberani dan selalu waspada yang mampu untuk tetap setia menaiki wahana ini. Menghadapi aksi copet dan orang-orang berniat tak baik dalam kereta, yang kita tak tahu kapan mereka akan menyerang. Barangkali salah satunya mengincar dompet atau henpon Anda sejak Anda menaiki gerbong, ketika berdesak-desakan di pintu masuk. Atau mengincar laptop dalam tas Anda, dan menunggu waktu untuk beraksi ketika Anda terlelap.

Fitur lain yang bisa dimanfaatkan adalah sebagai bahan ajar sosiologi atau antropologi bagi mahasiswa ilmu sosial. Lihat saja, ada berbagai jenis manusia di dalam perut ular besi yang satu ini. Mulai kaum yang benar-benar ekonomis (sampai-sampai tak mampu beli tiket), sampai kaum eksekutif yang ketinggalan wahananya atau bahkan kaum penerbang yang tak kebagian tiket. Anda bisa belajar banyak tentang nilai-nilai kemanisaan dan budaya sepanjang perjalanan. 20 jam sodara, bayangkan, berapa SKS kuliah itu. . .

Moda transportasi ini juga sebenarnya sangat selektif dalam memilih para penumpangnya, terutama dalam sikap mental mereka. Hanya orang-orang berjiwa besar, senang mengalah dan berjiwa sosial tinggi, yang merelakan kendaraan yang ditumpanginya berhenti hanya sekedar untuk memudahkan kendaraaan lain lewat duluan (baca:kereta eksekutif, kereta bisnis, dan bahkan kereta pengangkut barang harus lewat duluan). Benar-benar, hanya orang-orang yang berdada besar. . .eh, salah, maksudnya berlapang dada dan berhati besar yang mampu mementingkan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri.

*sekedar tulisan untuk membesarkan hati para pengguna kereta ekonomi

Disadari atau tidak, sarana transportasi berwujud Matarmaja dan sejenisnya adalah salah satu sarana melatih mental positif. Kita diajari untuk bersabar menghadapi lamanya perjalanan. Kita dituntut kreatif untuk mengatasi kebosanan. Untuk saling menguatkan ketika ada yang mulai jenuh dan mulai negatif. Kita menjadi lebih peka ketika melihat orang-orang yang lebih sengsara daripada kita (misalnya, sekeluarga yang naik tanpa tiket duduk, padahal ada anak-anak dalam kelompok mereka). Dan masih banyak manfaat lainnya jika kita mau melihat dengan mata terbuka dan berpikir positif; bukan hanya memaki keadaan yang sudah Anda pilih sendiri. Membeli tiket matarmaja dan KEJJL = siap menghadapi perjalanan bersamanya, apapun resikonya.

Jadi, mengapa masih merasa minder dengan tiket kereta ekonomi Anda?

Mari memilih Matarmaja :D

Matarmaja; Sering Panas, Kadang Juga Dingin

Kalau kereta eksekutif ada AC-nya, kereta bisnis ada kipas anginnya, maka Matarmaja punya AJ (angin jendela).

Well, sebagian orang ogah naik Matarmaja (dan kereta ekonomi lainnya) dengan alasan gerah dan panas. Tentu saja panas, lha wong Jakarta. Nggak ada AC, kipas angin pun, keknya gak selalu berfungsi (kadang nyala, kadang nggak; dan berbeda kelas dengan kipas angin kereta bisnis). Untungnya, para pedagang asongan selalu saja membawa barang-barang sesuai kebutuhan di dalam kereta api, salah satunya adalah kipas (terbuat dari anyaman bambu, harganya seeribu rupiah saja; kalau mau murah lagi, beli aja koran bekas yang biasanya dijual untuk alas duduk/tidur di bawah bagi kaum tak berkursi, cuma gopek dan multifungsi; mau lebih murah lagi? Bawa aja sendiri sebelum naik kereta, gitu aja kok repooot ! ).

Panasnya Jakarta emang sudah rahasia umum, apalagi Anda berada dalam suatu ruangan yang terbuat dari logam dengan ventilasi yang kurang memadai (baca:gerbong) dan ada lebih dari seratus orang di dalamnya, maka rasanya sudah seperti neraka bagi sebagian orang. Kalau kereta lagi jalan mah lumayan, angin masuk. Kalo lagi berhenti di stasiun, mbooook. Sanap lop kalo orang Malang bilangnya.

Saya pernah mendengar dialog konyol dalam sebuah kereta ekonomi (bukan Matarmaja; tapi mungkin di dalam Matarmaja juga ada dialog semacam ini) ketika kereta berhenti di suatu tempat antah berantah (malem sih, gak tau nama stasiunnya; yang jelas cuma stasiun kecil di pinggir sawah, dan kereta ekonomi berhenti untuk sekedar menunggu kereta lain lewat).

#penumpang satu : Jancok, panase koyok ndek neroko rek
*penumpang dua (sok bijak) : lhaiyo, koen iku ngomong ngunu iku loh, wes tau ngerasakno neroko ta?
-saya menimpali : lek neroko e koyok ngene mas, tak jamin rame. Kan enak, masiyo panas, sek onok wong dodolan ngombe ambek panganan

Oke, kita semua yakin bahwa penumpang satu belum pernah ke neraka, dan neraka pastinya sangat mengerikan di luar gambaran manusia, jadi nggak usah memperdebatkan nerakanya.

Di waktu malam, justru hal yang berkebalikan terjadi.

Ketika kereta melaju, angin dingin nan jahat menyelinap masuk dari tiap ventilasi yang ada. Memasuki celah-celah pakaian para penumpang dan jadilah masuk angin (kalau si penumpang nggak tahan dingin; seperti saya :p ). Ini makin parah ketika musim hujan tiba. Ventilasi yang jadi teman di kala cuaca panas, mendadak jadi musuh ketika hujan mengguyur deras. Bocor gilak. Airnya kadang sampai merembes ke lantai, ke kursi, kemana-mana deh. Parahnya kalau ada ventilasi yang sulit ditutup, jadi menganga gitu. Maka bersiaplah untuk sedikit berbasah-basah.

Masuk angin? Itu resiko. Kebasahan? Itu nasib. Untungnya (sekali lagi), para pedagang asongan selalu adaaa aja yang membawa barang sesuai kebutuhan. Minyak kayu putih, tolak angin dan sebangsanya, permen jahe, koyo, dan tentu saja, kopi-popmie-susu anget.

Yah, itulah dilema Matarmaja dan KEJJL(kereta ekonomi jarak jauh lainnya). Seringkali bikin kita bmandikeringat kepanasan, kadang juga bisa bikin kita menggigil kedinginan. Sudah resikonya, jadi terima saja dan jangan mengeluh yaaa :p

Kamis, 16 Juni 2011

Bedanya Apaaaa????

Di Stasiun Bandung, ada plang di peron tulisannya demikian . . .

Kaga jelas? Nih lebih jelas . . .

Bukannya saya sok pinter, tapi juga bukannya nggak nggak ngerti english samasekali. . .
Tapi kenapa ditulis dua kali dengan bahasa inggris, dan berbeda penulisan?
North exit, lalu ada juga North gate
South exit, tapi ditulis juga South gate

Saya cuma penasaran aja sih, kenapa didobel yang penulisan bahasa inggrisnya? Ada yang bisa bantu???

Di Atas Langit Bandung; Contrails atau Chemtrails?

Kali ini saya membahas jejak-jejak asap di langit yang seringkali menimbulkan rasa ingin tahu bagi siapapun yang melihatnya. Pertama kali saya ngelihat hal ini, kalau nggak salah pas masih SD (atau SMP ya? Lupa). SMA gak pernah tau (atau gak pernah merhatiin ya? Lupa) .

Kalau Bro Enigma membahasnya dari sudut pandang konspirasi, saya cuma ingin memamerkan beberapa contrails (semoga saja bukan chemtrails) yang kebetulan saya lihat di langit kota Bandung tadi pagi. Maaf kalau hasilnya jelek, maklum, kamera henpon (belum punya kamera pro sih). Mungkin ada pembaca yang bersedia meminjami saya kamera pro miliknya?? :D (ngarep)

Let's check it out . . .

Yang ini, sebut saja contrail 1, saya ngeliat emang ada pesawatnya . . .

Kalo yang ini, sebut saja contrail 2, tau-tau aja ada, nggak sempet ngeliat sumber asapnya . . .

Kalau yang ini, ada pesawat yang melintas, membentuk contrail baru (sebut saja contrail 3) yang menyilang contrail 2 tadi, dan terbentuklah simbol 'X' superbesar di langit . . .






Dan ini adalah contrail 3 ketika meneruskan perjalanannya . . .



Ini, bisa jadi contrail lain, sebut saja contrail 4, atau bisa saja hanyalah contrail 1 yang terlihat dari sudut pandang lain (maaf, saya hilang arah selama di Bandung). Tipis banget emang, tapi perhatiin deh, di atas foto pohon, ada segaris tipis awan lurus. . . (maaf sekali lagi, motretnya pake kamera henpon doang sih)


Man vs Nature

Bikinan manusia cuma bisa merusak alam?



Tapi kadang, hal-hal bikinan manusia juga bisa terlihat begitu sinkron dengan alam :)



* inside Argo Parahyangan, Jakarta-Bandung

Cintai Produk Indonesia : Semoga Bukan Cuma Slogan

Seringkali kita melihat tulisan semacam ini, di berbagai tempat dan kesempatan. Tapi apa nyatanya demikian?

Sayangnya belum. Kebanyakan orang indonesia masih brand minded, lebih milih barang yang bermerk dan berharga mahal, padahal belum tentu produk lokal yang 'kurang bermerk' tuh kalah kualitasnya.

Memang sih, banyak produk dalam negeri yang kualitasnya masih di bawah standar produk luar negeri yang kita pakai sehari-hari, tapi apa salahnya mulai mencoba memaksimalkan produk-produk dalam negeri.

Memang sih, belum semua produk kebutuhan umat manusia sudah bisa diproduksi di dalam negeri, tapi setidaknya, kalau ada barang-barang produksi dalam negeri, kenapa nggak kita coba pakai?

Sekedar contoh skala besar saja, beberapa SMK di Indonesia (contohnya SMK Singosari, alias SMK Mondoroko, kata orang pribumi) sudah mampu merakit mobil (beneran, bukan mobil mainan), kenapa para anggota DPR yang (ngakunya) terhormat, atau para pejabat dari berbagai instansi negeri ini nggak pesen ke mereka aja ya kalau ada pengadaan mobil dinas? Lebih murah dan lebih menunjukkan cinta tanah air (agak pemborosan sih, tapi gak boros-boros banget lah dibandingkan kalau beli mobil impor; ditambah lagi mempromosikan mobil-mobil karya anak bangsa). Kalaupun nantinya kualitasnya masih kurang memuaskan, kan mereka yang merasakan duluan (itung-itung mereka sebagai konsumen percobaan) sehingga nantinya, biar kualitasnya lebih bagus, harus ada dana untuk pengembangan lebih lanjut.

Kalau Pindad sudah bisa bikin 'panser nasional' untuk TNI (dan sudah operasional) masa mobil nasional belum ada?

Semoga saja ini bukan cuma slogan, namun juga untuk diimplementasikan. Kalau bukan kita sendiri yang memakai produk dalam negeri, siapa lagi?

Minggu, 12 Juni 2011

Belajarlah dari Kesalahan

anonymous -- "Sometimes, you didn't even realize your mistakes till it's been too late, and when it's been too late, it's another mistake".

Maka belajarlah untuk menjadi peka terhadap apa-apa yang kita kerjakan. Ketika kita pikir itu benar, belum tentu memang benar. Bahkan ketika kita memang benar, belum tentu orang lain menangkap maksud kita dengan benar.

Lakukan hal yang benar, dengan cara yang benar.

Mustahil untuk tidak melakukan kesalahan, tapi jangan sampai Anda melakukan kesalahan dengan sengaja. Ketika Anda melakukan suatu kesalahan, bahkan meski itu bukanlah suatu kesengajaan, bukan hanya itu bisa menyakiti orang lain, itu juga bisa menurunkan nilai Anda di hadapan orang tersebut; apalagi jika itu merupakan suatu kesengajaan dan Anda samasekali tidak menunjukkan penyesalan dan meminta maaf, muke Lu jauh...

Maka berhati-hatilah dalam berbuat.

Jangan sampai Anda melakukan kesalahan sepele yang seharusnya bisa dihindari, yang merugikan orang lain dan Anda sendiri.

*pengalaman pribadi

Sabtu, 11 Juni 2011

Kersen Hijau-Merah

Saya pernah baca di sebuah situs berita tentang buah apel yang mengalami mutasi, sehingga memiliki warna setengah merah, dan setengah hijau, di mana pembagian warna itu tepat di tengah-tengahnya.

Dan beberapa waktu lalu, saya sempat menemukan suatu kejadian serupa, pada buah ceri, atau kersen.

Ini fotonya :


Saya nggak tahu apakah ini hasil mutasi juga, atau hanya kematangan yang tidak merata karena sebab lain. Soalnya, setau saya, gak umum aja kematangan yang kayak gini. Sepanjang saya pernah tahu, biasanya kersen setengah matang tuh, warnanya mengalami perubahan yang merata. Dari ijo, terus muncul bintik-bintik merah, di seluruh permukaan, terus warnyanya jadi ijo agak kuning, terus mendekati oranye, baru jadi merah. Lha yang ini, satu sisi merah, sisi lain masih ijo (meski batas warna merah sama ijonya gak seekstrim apel tadi). Yang jelas, ketika dimakan, rasanya setengah-setangah. Bagian yang berwarna merah, sudah matang, empuk, manis dan berair. Sementara yang masih hijau, masih mentah, agak keras, sepet dan kurang berair.

Wallahu'alam bish showab

Jumat, 10 Juni 2011

Sombong? Nggak Banget Laaah . . .

Satu hal sederhana, yang sering kita remehkan, namun bisa membawa celaka pada kita.

Yup, sifat sombong. Alias takabur.

Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom (dzarrah) dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” (HR Muslim)

Manusia tidak berhak untuk sombong, karena memang tidak punya sesuatu apapun untuk disombongkan. Emang apa yang bisa disombongkan?
Ilmu dan gelar master of this, master of that?
Kekayaan melimpah sampai-sampai mampu membeli pulau pribadi dan seluruh isisnya untuk kebutuhan tujuh turunan?
Keturunan ningrat kerajaan masa lalu yang nama rajanya ada di buku sejarah?
Ketampanan/kecantikan yang bikin tenar macam bintang Hollywood?
Jabatan dan kedudukan tinggi beserta massa pendukung yang buanyaknya bisa bikin jalanan macet kalo lagi konvoi menggalang dukungan?
Punya bakat multitalenta dan prestasi mentereng sampai-sampai perlu ruang khusus untuk nyimpen piala medali dan piagam penghargaan?
Apa lagi hayo, coba sebutin satu-satu.

Sadar nggak sih, kalau itu semua tuh cuma titipan dari Allah SWT?

Sadar nggak sih, kalau sebenarnya kita nggak punya apa-apa? Apakah nanti ketika kita mati, semua itu akan kita bawa?
Adakah kita punya ilmu untuk memperpanjang umur dan membangkitkan mayat dari kuburnya?
Adakah kekayaan kita dapat digunakan untuk menambah umur kita, menunda kematian walau barang sehari?
Adakah raja-raja masa lalu yang darahnya mengalir di nadi kita akan menolong kita dari pelukan Izrail?
Akankah ketampanan/kecantikan akan memalingkan wajah malaikat Munkar dan Nakir?
Adakah jabatan tinggi nanti mampu meringankan hukuman kita, sebagaimana pengadilan dunia memberi toleransi pada orang-orang besar?
Adakah massa pengikut kita akan setia sampai-sampai mengikuti dan menemani kita nanti dalam kubur?
Adakah piala, medali dan piagam akan membuat para pengadil di alam barzakh terkesan dan memberi nilai plus pada kita, seperti jaman penerimaan masuk sekolah dulu?
Adakah?
Nggak kan? Lalu apa yang mau disombongkan, wahai manusia?

Imam Ghazali dalam kitabnya, ”Ihya’ ’Uluumuddiin” menulis bagaimana mungkin manusia bisa bersifat sombong sementara dalam dirinya terdapat 1-2 kilogram kotoran yang bau?

Bagaimana kita bisa bersikap sombong, padahal kita adalah makhluk lemah yang jauh dari sempurna, penuh dosa, pernah melakukan banyak maksiat, dan berlumur aib?

Kita samasekali tak berhak untuk memiliki sifat sombong, wahai Saudaraku. Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya”. (HR Muslim)

Terlebih lagi, masih adakah keinginan untuk menyombongkan diri ketika sifat sombong itu adalah salah satu hal yang tidak disukai Allah SWT?

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Luqman ayat 18)

Sekaligus merupakan tiket gratis masuk neraka?

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mu'min ayat 60)

(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong."(QS Al Mu'min ayat 76)

Sekaligus jaminan tertutupnya pintu surga?

“Tidak akan masuk sorga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan” (HR. Muslim)

Jadi, masihkah kita ingin menyombongkan diri?

Khotbah Jumat : Rajab Bulan Tepat Untuk Taubat

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian,

Khotbah Jumat kali ini membahas tentang salah satu cara meraih keridhoan Allah SWT, yakni dengan bertaubat. Apalagi sekarang adalah bulan Rajab, momen yang pas untuk kita bertaubat.

Bulan Romadhon adalah bulannya umat Nabi Muhammad SAW, sementara Sya'ban adalah bulannya Rasulullah SAW sendiri, maka Rajab ini adalah bulannya Allah Subhanahu Wata'ala. Maka, hendaknya kita tidak menodai bulan ini dengan perbuatan-perbuatan maksiat ataupun mendzholimi diri sendiri. Dalam satu riwayat, dikisahkan Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Uzair, "Wahai 'Uzair, jika engkau melakukan dosa kecil, maka janganlah melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai". Ya, di hadapan Allah yang Maha Besar, sekecil apapun dosa yang kita lakukan, tetap saja itu adalah sebuah dosa yang bernilai besar.

Di bulan ini kita dianjurkan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Salah satu yang sering diajarkan adalah dengan membaca "Robbighfirli warhamni watubb alayya" setiap habis sholat subuh dan maghrib, masing-masing sebanyak satu kali ( menurut salah satu sumberlain, malah menyebutkan setiap selesai sholat fardhu, sebanyak 70 kali. Kerjakan yang mana saja, asal istiqomah, dan makin banyak makin baik tentunya). Insya Allah, dengan mengamalkannya, kita akan dilindungi dari api neraka (tentunya jika kita juga bersungguh-sungguh bertaubat, tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi).

Sungguh mudah 'fasilitas' taubat bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW. 'Hanya' dengan istighfar (dan tentu dengan taubat nasuha yang tulus) dosa kita bakal diampuni. Bandingkan dengan umat Nabi Musa As, ketika mereka hendak bertaubat dari menyembah patung anak sapi bikinan Samiri. Ketika itu, sebagian dari umat Nabi Musa As yang masih 'selamat' dari kesesatan bikinan Samiri, ingin bertaubat dan menghadap pada Nabi Musa As. Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa As, bahwa agar taubat mereka diterima, dan agar anak istri yang telah mereka sesatkan diampuni dan dimasukkan ke dalam surga, mereka harus membunuhi diri mereka sendiri, yakni, mereka yang belum 'tersesat' harus membunuhi kerabat-kerabat mereka, anak istri yang telah mereka sesatkan. Dan Allah SWT memberi sedikit keringanan kepada mereka dengan menurunkan kabut tebal, sehingga anak istri mereka tidak melihat bahwa suami dan ayah mereka sendirilah yang membunuh mereka.

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu[49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."" (QS Al Baqarah ayat 54)

Bayangkan saja sendiri deh. Syukur alhamdulillah kita terlahir sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama belum sakaratul maut.”

Maka, Kawanku sekalian, mumpung nafas ini masih berhembus, mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung ruh ini masih melekat pada jasad, mari kita memperbanyak istighfar, memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman ; "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Mari bertaubat . . .

Senin, 06 Juni 2011

I'm back

Saya kembali. Ya, cuma itu yang ingin saya sampaikan setelah selama liburan yang kurang lebih 2 pekan ini saya jarang posting (cuma sekali saja posting selama liburan kemarin). Jangankan posting, online pun jarang. Maklum lah, pulang kampung mana bisa disamakan dengan di jakarta. saya pasti bakal dimarahin kalau di rumah kerjaannya online melulu. Di rumah adalah jatahnya bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman. Jadi maaf saja kalau ada yang menunggu kisah-kisah dari si gundul. Maaf membuat Anda menunggu (emang ada yang menunggu? Ge-eR banget sih). Well, cukup sekian sajalah salam pembukanya. Semoga kedepannya nanti saya bisa lebih kreatif dan bisa bikin lebih banyak postingan yang bermanfaat untuk semua pembaca. . .

Baiti Jannati

Tak peduli kemanapun kau merantau, kau pasti akan tetap ingin kembali, sejauh apapun jarak yang akan kau tempuh

Tak peduli seindah apapun tempatmu di tanah rantau, kau pasti akan tetap merindukan rumahmu, sesederhana apapun rumahmu itu

Tak peduli sebawel apapun ibumu, kau akan tetap ingin mencium tangannya, karena kasih sayang dan kelezatan masakannya yang tak tertandingi

Tak peduli segalak apapun ayahmu, kau pasti ingin memeluk erat dirinya, karena perhatian dan nasihat-nasihat bijaknya tak terkalahkan

Tak peduli sejahil apapun kakakmu, kau akan tetap merindukannya, untuk sekedar berbagi cerita dan saling menjahili satu sama lain

Tak peduli seberisik dan semanja apapun adik-adikmu, kau pasti ingin kembali dan menjahili mereka

Tak peduli betapapun menyebalkannya tetangga-tetangga, kau pasti ingin pulang dan sekedar melewati rumah mereka, dan mereka akan menyapa 'apa kabar di sana'

Tak peduli kemanapun kau merantau, kau pasti akan tetap ingin kembali, sejauh apapun jarak yang akan kau tempuh