Cari Blog Ini

Jumat, 30 Agustus 2013

Harusnya Kita Peduli, Bukan Mencaci

Islam merupakan agama yang penuh dengan kepedulian. Lihat saja dalam sholat, ketika sholat berakhir, kita mengucapkan "assalamu'alaikum waromhatullahi wabarokatuh" sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, menyimbolkan bahwa Islam harusnya menebarkan salam keselamatan. Ketika ada saudara kita yang bersin dan mengucapkan "alhamdulillah", kita merespon dengan "yarhakumullah". Jika dalam hal-hal yang nampak sederhana seperti itu saja kita harus peduli, apalagi dengan hal-hal yang lebih besar.

Saat ini, saudara-saudara kita di Mesir sedang terdzolimi oleh musuh-musuh Islam yang tak bisa tenang karena semangat kebangkitan Islam yang dibawa oleh Presiden sah, Mahmoud Moursy. Mereka yang konsisten dengan aksi damai tanapa senjata dan perlawanan, terus menerus dibantai, disiksa dan ditindas oleh rezim biadab as sisi dan antek-anteknya. Media massa diberangus agar tak bisa memberitakan kebenaran, yang ada hanyalah berita 'resmi' dari para pembuat makar, yang nampak jelas hanyalah merupakan kebohongan yang tak bisa ditutup-tutupi. Bantuan dari negara-negara lain tak diijinkan masuk, untuk sekedar mengobati luka para demonstran paling massal dan damai di dunia; bahkan rumah sakit pemerintah pun dilarang menerima para korban.

Mirisnya, ketika saudara-saudara kita di sana sedang kesusahan, masih ada saja segelintir orang yang kurang mengerti, mengatakan bahwa 'itu bukan urusan kita', atau 'itu salah mereka sendiri' dan komentar-komentar lain yang sejenis. Sungguh ironis, terlebih ketika komentar tersebut keluar dari sesama muslim yang notabene, memiliki ikatan persaudaraan dengan muslim lainnya. Bukannya menunjukkan keprihatinan atau sekedar perhatian, kok malah mencemooh Presiden Moursy, Ikhwanul Muslimin dan rakyat Mesir pada umumnya.
Jujur saja, tanpa melihat adanya konflik antara pihak yang ingin menegakkan syariah Islam di Mesir, dengan para kaum sekuler sekutu kaum kafir, kejadian di Mesir bukanlah kejadian yang bisa diabaikan. Bayangkan, jutaan demonstran damai, yang mengisi hari-harinya dengan sholat, mengaji dan dzikir, tanpa RPG, AK-47, atau bahkan batu untuk dilempar, dihadapkan pada peluru tajam dari tentara terlatih; mulai dari tembakan membabi buta sampai tembakan sniper diarahkan pada mereka. Bahkan orang ateis pun, bisa menilai bahwa ini adalah kekejaman serius dan jelas melanggar hak asasi manusia.
Sedikit mengingatkan, Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan NKRI, di saat  belum satupun negara-negara lain yang melakukannya.

Di mana kepedulian kita?
Mungkin kita tidak bisa berangkat ke sana , mungkin tidak semua di antara kita memliki kelebihan rizqi untuk disalurkankepada para korban di sana (sejauh yang penulis tahu, ACT dan Dompet Dhuafa sudah menyiapkan untuk mengirim bantuan kepada para korban kekerasan di Mesir), namun setidaknya kita semua sama-sama bisa berdoa, kan?
Setidaknya, daripada menghujat Ikhwanul Muslimin atau Presiden Moursy, bukankah lebih mudah dan indah jika kita berdoa untuk keselamatan mereka dan rakyat Mesir lainnya, kan?!
*sumber di sini

*dikutip dengan perubahan tanpa merubah esensi, dari khotbah Jumat 30 September 2013 di Masjid KP DJBC oleh Ust. Ferry Nur

Rabu, 28 Agustus 2013

Tips: Agar Semangat Ramadhan Tidak Luntur

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian. Bagaimana kabarnya? Baik kan? Alhamdulillah deh kalo gitu. OK, kali ini penulis mau berbagi ilmu sedikit tentang tips supaya semangat ibadah kita pas Ramadhan kemarin nggak luntur. Mengingat fitroh keimanan manusia yang 'naik turun seperti ombak di lautan', maka selalu ada kemungkinan terjadinya penurunan keimanan kita setelah melewati masa Ramadhan. Berikut tips yang penulis dapatkan dari kajian rutin ba'da dzuhur di masjid kantor:
  • tekad kuat untuk beramal terus menerus, meski sedikit. Bukankah Allah paling suka dengan amalan yang kontinyu, meski sedikit-sedikit (apalagi banyak)? Mungkin sangat jauh bagi kita kalau harus mencontoh amalan Rasulullah Muhammad SAW, misalnya qiyamul lail sampai kaki bengkak karena panjangnya surat yang dibaca, namun kita bisa mencontoh perilaku para sahabat yang memiliki amalan unggulan. Misalnya sahabat Bilal yang rutin melakukan sholat 2 rokaat setelah berwudhu
  • sikap yang baik membutuhkan bi'ah/lingkungan yang baik. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang baik, Insya Allah akan lebih besar kemungkinannya kita ikutan baik, daripada kemungkinan kita 'melenceng' dari jalan yang benar. Maka dari itu kita harus pandai-pandai bergaul, utamakan bergaul dengan orang sholeh. Bukannya pilih-pilih teman, berteman dengan siapa saja boleh kok, asal kita pintar-pintar memfilter mana hal baik yang bisa kita tiru dan mana hal buruk yang nggak boleh kita contoh dari teman kita. Nah, kalau kita lebih banyak bergaul dengan orang yang baik, bukankah akan lebih banyak hal baik yang bisa kita contoh dari mereka?
  • senantiasa mengikuti kajian ilmu, sebagai penyegaran amalan kita. Diibaratkan bahwa keianan kita ibarat pohon, ia bisa saja tumbuh besar jika dirawat dengan baik, namun akan meranggas dan mengering, bahkan mati, jika kekurangan nutrisi. Nah, nutrisi bagi keimanan kita adalah ilmu agama, yang menambah wawasan bagi kita dalam beramal. Maka kita harus rajin-rajin mendatangi majlis ilmu. Entah kajian rutin di masjid, pengajian di mushola, atau mentoring dengan sahabat, insya Allah, akan ada ilmu baru dari sana. Kalaupun yang dibahas di sanan adalah 'ilmu lama' alias hal yang sudah pernah kita tahu, anggap saja sebagai pengingat di kala lupa. Nggak ada salahnya kan, memperkuat ingatan tentang ilmu tersebut?
  • memperbanyak doa agar dikuatkan imannya dan diberikn kekuatan untuk istiqomah dalam Islam. Hayo, apa saja yang Pembaca sekalian doakan ketika selesai sholat?Doa lancar rizqi, doa didekatkan jodoh, doa kelancaran urusan dunia akhirat, dll. Namun mungkin kita sering lupa untuk berdoa, meminta dikuatkan iman kita. Padahal ini penting lho. Karena ya itu tadi, karakteristik iman kita naik turun seperti ombak di lautan. Selain tentunya berusaha untuk memperbaiki iman kita, tentu juga lebih afdol kalo disertai doa. Bukankah setiap usaha kita harus disertai doa? Lagipula, doa akan dikabulkan oleh Allah selama tidak memohon tentang kemaksiatan dan pemutusan silaturahim kok. Yuk, selipkan doa agar dikuatkan iman kita tiap selesai sholat.
Pembaca sekalian, inilah tips-tips agar semangat ibadah yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin, tidak luntur ketika Ramadhan telah usai. Semoga kita dapat mengamalkannya dan menjadi insan yang memiliki keteguhan dalam beriman dan ber-islam. Mengutip lagi dari kajian Selasa kemarin (saya lupa, ini kata-kata dari Hadits Rasul, ucapan sahabat, atau perkataan ulama), "Jadilah hamba Allah, bukan hamba Ramadhan". Artinya, kurang lebih begini; kalau kita bhanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, tapi di luar itu kita malah jauh dari ajaran agama (naudzubillah), maka kita termasuk hamba Ramadhan-beribadah pas Ramadhan doang. Sementara hamba Allah, terus menerus/rutin beribadah, entah itu Ramadhan atau bukan. Mungkin sebagian dari kita berkata, Yaiyalah tiap hari juga harus ibadah, kan ada sholat wajib 5 waktu, puasa sunnah, sedekah, dan sebagainya. Namun sayangnya, masih ada juga oknum-oknum yang sholatnya rajin cuma pas Ramadhan doang, selebihnya, 5 waktu aja nggak lengkap. Hare gene nggak sholat 5 waktu, apa kata dunia??? Eh, bukan Anda kok yang saya sindir, tuh, oknum di luar sana tuh. Kalau Sahabat Gundul mah insya Allah rajin-rajin ya ibadahnya?
Yaudah, karena udah agak siang, saya stop dulu postingan ini sampai di sini. Insya Allah lanjut ke postingan lainnya. Wassalamu'alaikum wa rohmatullah wa barokatuh

Senin, 12 Agustus 2013

Hikayat Kupat

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian, bagaimana sasana lebaran di kampung? Atau ada yang nggek sempat pulkam? Nggak pa pa, yang penting silaturahim tetap terjaga. Bicara soal lebaran, rasanya nggak lengkap kalau nggak bicara tentang ketupat, atau kupat dalam bahasa Jawa. Ketupat merupakan salah satu menu khas bulan Syawal bagi masyarakat muslim di Indonesia dan beberapa negara lainnya di kawasan ASEAN. Bahkan di beberapa tempat, ada tradisi bernama "Riyoyo Kupat" atau Lebaran Ketupat, dirayakan pada tanggal 7 Syawal, dimana masyarakat mengadakan selamatan dan ater-ater ketupat kepada kerabat dan tetangga (kebetulan, meski di lingkungan penulis ada yang merayakannya, keluarga penulis nggak ikutan sih - males bikin ketupatnya xp). Namun tahukan pembaca sekalian, bagaimana filosofi yang ada di balik kupat tersebut? Yuk kita bahas bersama . . .
Ketupat (Sumber)
Ketupat dalam bahasa Jawa disebut kupat, bisa jadi merupakan akronim dari kata-kata "ngaKU lePAT" (mengaku bersalah), mengingat sajian ini muncul saat Idul Fitri dimana saling bermaafan adalah tradisi yang juga melekat pada momen ini.
Bisa juga berasal dari kata-kata "lelaKU paPATi" (empat perbuatan), mengacu pada 4 perilaku yang dimunculkan dalam masyarakat ketika momen Idul Fitri berlangsung, yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan (bahasa Jawa semua tuh).
Lebaran berasal dari kata Lebar (huruf 'e' dibaca seperti pada 'elang', bukan seperti 'becak'), yang artinya kelar/rampung/selesai, yakni rampung menjalankan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan.
Luberan, berasal dari kata Luber, artinya, ya luber/melimpah/sampe tumpeh-tumpeh kalau kata Jupe, yang dimaksudkan bahwa kita barus melimpahkan kebahagiaan kepada sesama, dengan saling berbagi di 2 bulan yang mulia ini (bukankah pada saat bulan Ramadhan, biasanya masyarakat berlomba-lomba berbagi rizki dengan sesama? Buka puasa bersama, sedekah, infaq, zakat, dll).
Leburan, berasal dari kata lebur, mengacu pada momen di mana dosa-dosa kita dilebur, sehingga kita kembali kepada fitrah kita yang suci, bagai bayi yang baru lahir.
Sedangkan Laburan berasal dari kata Labur, yang berarti batu kapur/gamping, batuan lunak berwarna putih yang digunakan untuk menjernihkan air atau memutihkan dinding, memiliki filosofi bahwa dengan Ramadhan ini, kita menjernihkan dan memutihkan hati kita hingga kembali bersih.
Wallahu'alam bish showab.
Apapun itu, ketupat alias kupat merupakan salah satu tradisi tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita. Selamat berlebaran dan selamat menikmati ketupat, Pembaca sekalian :D

#sumber: LionMag edisi Lebaran tahun ini xp (gak tau edisi berapa)

Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H


Taqabbalallahu minna wa minkum, waghafarallau lana walakum [semoga Allah menerima semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian, dan semoga Allah mengampuni saya dan kalian].

Alhamdulillah, setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan, tibalah kita di hari kemenangan ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ampunan dari Allah SWT di hari yang fitri ini.

Semoga semangat ibadah yang begitu menggebu di bulan Ramadhan kemarin tetap bertahan hingga 11 bulan ke depan.

Semoga kita termasuk orang yang saling memaafkan di hari yang suci ini agar diri ini kembali suci bagai bayi yang baru lahir.

Selamat berkumpul bersama keluarga, Pembaca sekalian :) 



*Baca juga: http://www.bersamadakwah.com/2013/08/ucapan-idul-fitri-yang-sesuai-tuntunan.html