Postingan

Menampilkan postingan dengan label iseng2 nulis...

Distraksi

Jujur saja, beberapa waktu ini jengah sekali dengan banyaknya berita buruk. Penjajahan dan genosida yang terus berlanjut di Gaza dan eksploitasi terus-menerus di Sudan; bencana di Sumatera, disusul Kalimantan, Papua, Maluku, Sulawesi, dan berbagai daerah di Indonesia sebagai akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup akibat prioritas pada pertambangan-eksploitasi dan alih status hutan-penataan kota amburadul, yang makin lengkap dengan buruknya penanganan pasca bencana; agresi ilegal Amerika ke Venezuela; berbagai kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh besar; penat kali rasanya. Maka tanpa sadar, beberapa pekan ini mengurangi ekaposur sosial media dan berita. Bukan karena tak peduli, namun karena diri ini jug butuh jeda. Saya tetap akan menyuarakan perlindungan hutan, laut, dan makhluk hidup di dalamnya; tentang udara bersih; hak-hak masyarakat; pemerataan ekonomi; peningkatan pemerataan & kualitas pendidikan-akses kesehatan-konektivitas; pengembangan iptek & penguasaan tek...

Deklarasi Revolusi bersama para Umbi

Gambar
Sebagai abdi negara, satu dekade terakhir ini rasa-rasanya makin dilema. Entah apa yang ada dalam pikiran para pemimpin tertinggi negeri ini, kok hampir setiap kebijakannya seperti tidak dipikirkan sama sekali.  Alih-alih berpihak pada rakyat malah justru memudahkan para pemodal besar menguasai hal-hal yang berdampak pada kebutuhan khalayak. Di satu sisi, kami sudah tanda tangan kontrak untuk mengabdi. Di sisi lain, kami juga rakyat biasa yang juga terimbas setiap kebijakan pemerintah yang udah diumumin. Rasa-rasanya orang-orang di pucuk pimpinan, hanya melihat kami sebagai alat dan perpanjangan tangan. Setiap kebijakan, kami seolah dituntut untuk selalu mengiyakan. Tak perlu dipikirkan, jangan pula kritik dilontarkan, kecuali mau dipindahtugaskan, diberhentikan, bahkan dipertemukan dengan kematian. Sesama warga pun jadinya melihat kami hanya sebagai pelaku kezaliman juga, karena mengira kami semua melakukannya tanpa ada penolakan dan dengan gembira. Padahal banyak di antara kami y...

Filosofi Mendol

Gambar
Pembaca tahu mendol? Mendol adalah sejenis lauk khas Jawa Timur, yang dibuat dari tempe yang dikukus (opsional), dihancurkan, dibumbui, lalu dikepal-kepal sebelum digoreng. Biasanya menjadi teman makan pecel, nasi jagung, urap, rawon, orem-orem, atau hidangan khas Jatim lain. Bagi penulis, mendol itu unik, karena kalau dikepal terlalu keras, ia akan hancur lagi menjadi butiran tempe dan bumbu. Harus restart progress .  Kalau tekanan yang diberikan saat mengepal kurang, ia akan ambyar saat digoreng. Tetap enak untuk dimakan sih, tapi ngga gitu konsepnya. Jadi, harus diberikan tekanan yang pas.    Lalu, apa hubungannya? begitu mungkin pikir pembaca. Dalam hidup, seringkali kita menghadapi tekanan dari luar. Kita seperti mendol. Kadang kita hancur di awal karena tekanan terlalu besar di awal (sebagaimana orang  yang mengalami depresi hingga tak berhasil melaju), kadang kita hancur di proses selanjutnya karena kurang tekanan di awal (layaknya anak manja yang terbiasa sem...

Modern Warfare: A Reflection at the Verge of World War III (1)

Gambar
No, it's not a scene from Meteor Garden. It's a missile shower from Iran According to the Geneva Academy, over 100 armed conflicts are currently raging around the world, with the Middle East alone accounting for more than 40. Among these, the Zionist occupier's genocide in Gaza and its operations in the West Bank, Lebanon, Syria, Yemen—and recently, escalations involving U.S. intervention in Iran—stand out as especially severe. Africa is home to more than 30 non-international armed conflicts (NIACs), some pitting governments against insurgents, others fought between rival groups. In Asia, 19 sizzling flashpoints—like India–Pakistan and India–China—continue to threaten stability, alongside additional NIACs. Europe has seven active conflicts, mostly involving military occupations, led by Russia’s war in Ukraine and smaller but persistent flashpoints in South Ossetia–Abkhazia and Armenia–Azerbaijan. Latin America also struggles with six NIACs, primarily driven by criminal orga...

Cinta

Gambar
Secinta-cintanya kita pada gurat indah senja, dalam sekejap ia kan berubah gelap gulita Secinta-cintanya kita pada barang kesayangan, nantinya akan rusak, hilang, atau diwariskan Secinta-cintanya kita pada makanan, esok pagi ia akan keluar jadi kotoran   Secinta-cintanya kita pada sebuah tontonan, tak lama akan berakhir juga Secinta-cintanya pada sebuah band, bisa jadi nanti ganti vokalis dan tak lagi kita suka Secinta-cintanya kita pada sebuah jabatan, ada waktunya mutasi, atau pensiun Secinta-cintanya kita pada seseorang, kelak akan menua, berubah, atau terpisah waktu  Secinta-cintanya kita pada dunia dan seisinya, toh nanti akan kita tinggalkan juga Maka beruntunglah kita, jika mencintai sesuatu yang abadi Cinta yang tak berujung kepada penyesalan atau kesedihan Cinta yang membawa kita pada kebaikan dan kemuliaan  yang langgeng dan tak sehina dunia nan fana ini

New Year New Resolution for Our Not-new Planet

Gambar
I never understand the meaning of celebrating new year with tons of explosives polluting the sky, ear-torturing trumpet and gallons of unhealthy drinks, only to live as lame as before. For some people, that's joy. For me? That's nonsense. New year has nothing to do with celebration. That's just our rocky planet finishing one round of its eternal race against time around its sun.  A new beginning of a certain unit of time. Just the same as every morning, a start of a brand new day. Or every time our moon repeat its monthly cycle. Nothing special to be proud of, unless we are battling life-threatening diseae, or surviving a catastrophic event, or finding a reasonably close habitable planet to move on, there's nothing to be celebrated over a new calendar year.   I mean, if we really need to celebrate, celebrate an achievement. Like finishing a new and challenging task. Accepted at a new (and better) workplace. Acquiring new business. Mastering new skill. Learning new langu...

Getting Serious

Kali ini postingan santai berbau pengumuman. Hahaha macam ada yang penting aja. Ngga sih, cuma pernyataan publik aja. Macam tokoh masyarakat aja lagaknya ya. Jadi, pembaca mungkin tahu bahwa sejak 2010 saya sudah menulis di blog. Sampai sekarang, udah 12 tahun, kok rasanya level saya masih begini-begini saja. 12 tahun itu sama durasinya dengan sekolah dari SD sampai lulus SMA. Harusnya keliatan bedanya ya? Saya rasa, kok masih gini-gini aja. Nulis santai doang, manfaatnya tentu terbatas.  Akhir tahun2015 mulai bergabung dengan komunitas literasi di kantor (Customs-Excise Literacy Forum, CLiF ), namun belum banyak berkontribusi.  Hayo tebak, saya mana hayo Baru mulai ikut lomba-lomba di 2017, itupun menangnya bisa dihitung dengan jari. Mungkin memang belum rejeki, atau ada takdir lain menanti? Rasanya sayang kalau keahlian hobi menulis ini cuma dilampiaskan begini-begini saja. Bukankah kalau bisa, menekuni hobi juga sambil memberi arti? Teringat artikel tentang ikigai yang pen...