Cari Blog Ini

Memuat...

Panduan Memilih Pemimpin dalam Perspektif Islam

Mendekati pesta demokrasi, makin banyak tokoh merasa terkenal, pasang foto dimana-mana, merasa jadi sahabat semua kalangan, merasa mampu jadi pemimpin, dan sebagainya. Padahal sebagian besar, yaaa, tahu sendiri laah, cuma modal pepesan kosong. Rakyat pun makin bingung, siapa yang harus dipilih untuk mewakili suaranya di Senayan nanti. Memang sulit cari figur pemimpin atau wakil rakyat yang tepat sekarang ini, karena reputasi mereka susah diketahui kebenarannya. Kebanyakan sudah memiliki skuad pencitraan sendiri-sendiri sehingga mengaburkan fakta yang ada. Repot kan, belum jadi pemimpin saja sudah membohongi rakyat? Gimana kalo udah jadi pemimpin ntar???

Farid Hakim, Nick Vujicic-nya Indonesia

Kebetulan malam ini nonton acara Hitam Putih (1 April 2014), dan bintang tamunya menurut saya spesial banget. Seorang bocah difabel, tanpa tangan dan kaki yang sempurna seperti kebanyakan kita, namun setinggi langit cita-citanya. Farid Hakim Baihaqi Marwan namanya,  bocah sepuluh tahun yang bercita-cita menjadi da'i dan pintar berdakwah. Tak hanya itu, Hakim juga pandai berenang, main piano, bahkan bisa beladiri loh!

Benci itu Seperti . . .

Suatu ketika, di sebuah sekolah dasar, seorang guru mencoba menjelaskan tentang "perasaan benci" pada murid-muridnya. Tentu, menghadapi para murid yang berusia muda sangat berbeda dengan memberikan penjelasan pada orang dewasa, maka guru itu pun menginstruksikan murid-muridnya untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Pionir

Dalam pelajaran biologi, kita pernah mengenal tumbuhan lumut (moss) yang masuk dalam Kingdom Plantae (tumbuhan), divisi Bryophyta. Tumbuhan ini belum termasuk dalam tumbuhan sejati, karena belum memiliki struktur akar, batang dan daun yang jelas, karena itu pula dia disebut tumbuhan talus. Oke, sampai saat ini postingan ini menyerupai buku teks biologi kelas XII semester I. Jadi sebelum pembaca sekalian meninggalkan postingan ini, penulis akan segera masuk ke topik utamanya.

Compromise It

Namanya manusia adalah makhluk sosial, yang mana hidup dan berinteraksi dengan sesamanya dalam berbagai kesempatan. Dan setiap manusia pasti punya kepentingan, keinginan, kebutuhan, dan sebagainya.

Nobody's Perfect

Sebaik-baiknya manusia, pasti nggak sempurna. Mencoba jadi sebaik apapun kita, akan tetap adaaa aja yang nggak suka, ngerumpiin, ngefitnahin, ngesirikin, nganggep kita cari muka, ngebenci kita, sampe nganggep musuh, pasti ada deh.

Tas Mahal

Lagi nonton Hitam Putih (12 Februari 2014), eh lagi bahas beberapa seleb yang punya koleksi tas seharga 100 juta. Miris bung. Di saat ribuan orang masih berjuang mendapat sepuluh ribu sehari, katakanlah, di sisi lain ada orang yang demikian mudahnya menghamburkan 100 juta rupiah (itu artinya ada 10 ribu lembar uang sepuluh ribuan) demi sebuah tas (yang merupakan sebuah kebutuhan gengsi semata).