Cari Blog Ini

Memuat...

Salah Pol

Pelajaran berharga bagi kita nanti jika sudah menjadi senior di tempat kerja.
Suatu ketika akan datang yang namanya anak magang, atau junior. Dan akan tiba saatnya Anda sebagai senior bisa menyuruh-nyuruh mereka melakukan beberapa pekerjaan sepele mulai ngeprint dan fotocopy, atau bahkan yang agak rumit seperti menginput database yang mungkin akan rumit bagi mereka atau yang lain.

Silahkan saja menyuruh mereka, hanya saja, sertakan instruksi yang jelas dan kalau perlu contoh yang jelas. Kalau tidak, bersiap saja mendapatkan pekerjaan tambahan karena pekerjaan yang mereka garap bukannya beres namun malah salah kaprah.

Memang mereka harusnya mengerjakan setiap tugas sebaik-baiknya, namun jangan lupa bahwa mereka nggak berpengalaman. Hal yang simpel bagi senior - karena sudah dikerjakan berkali-kali dan sudah cukup lama menangani bidang tersebut- bisa jadi rumit bagi junior yang belum pernah menangani pekerjaan 'remeh' tersebut.

Jadi, kalau Anda nanti jika sudah jadi senior dan mau 'menghibahkan' pekerjaan Anda ke junior yang sedang magang atau pegawai baru, alangkah baiknya jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk memberi instruksi yang jelas dan mencontohi bahkan mengajari mereka, daripada nanti malah membuang banyak waktu untuk mengedit garapan mereka yang salah karena Anda kutang jelas dalam memberi instruksi.

Sekian catatan anak magang hari ini.

Rules : Made ​​To Be Broken


Foto diambil di terminal Tegal, saat penulis pulkam pekan kemarin. (Kalo nggak ngeh itu foto apa, itu foto orang lagi pipis di dinding, persis di samping tulisan larangan pipis sembarangan) Dan pembaca sekalian pasti sudah sering menyaksikan momen seperti ini. Hanya saja, yang satu ini terasa istimewa buat penulis (lho?) karena si pelaku, melakukan aksinya persis di samping tulisan 'Dilarang Kencing di Sini'. Lihat di foto pertama, ada tulisan larangan di kiri kanan pelaku. Dan si pelaku tetap enjoy aja menjalankan aksinya.

Luar biasa. Inilah Indonesia Bung. Negeri di mana aturan bisa dilanggar persis di samping tulisan tentang aturan tersebut, tanpa konsekuensi berarti. Mungkin ini memang hal yang sepele, toh satu dua orang pipis di pinggir jalan juga nggak bikin banjir, tapi kan tetap saja mengganggu, baunya itu looo. Dan esensinya adalah, ketika pelanggaran-pelanggaran kecil sudah dimaklumi dan dianggap biasa, lama-lama pelanggaran besar pun dimaklumi. Dan tampaknya hal-hal itu sudah terjadi dan makin menjadi di sekitar kita.

Mulai dari pelanggaran terhadap aturan tertulis macam 'lampu merah artinya berhenti' , hingga pelanggaran norma di masyarakat macam 'anak gadis dilarang keluar malam tanpa keluarganya'.
Entah mau jadi apa bangsa ini. Bukan penulis sok khawatir atau apa, justru jadi masalah kalau tidak ada yang mempermasalahkan hal semacam ini. Kalau bukan kita yang peduli dengan bangsa ini, siapa lagi yang peduli?

Ibarat Kaca Film

Sekitar seminggu terakhir di kantor sejak pulkam kemarin, ada suasana baru di ruangan tempat penulis magang. Suasananya sedikit aneh, rasa-rasanya cuaca kok mendung mulu. Padahal ketika melihat keluar ruangan, cuacanya cerah, langit biru ceria. Aha, rupanya kaca jendela di kantor baru saja dipasangi lapisan film biar teduh (penulis anggap mendung, maklum rek, wong ndeso).

kurang lebih seperti ini jadinya (ini bukan ruangan penulis, sekedar ilustrasi)

Ah, rupanya lapisan film itulah yang membuat suasana di luar tempak sedikit berbeda, lebih mendung kalau penulis rasakan. Jadi nggak silau memang, namun jadi nggak bisa menikmati birunya langit :)

Tiba-tiba penulis kepikiran sesuatu. Kaca film yang 'menghalangi' sebagian spektrum cahaya matahari ini, seolah (sebenarnya memang begitu, nggak seolah) menipu mata penulis. Membuat penulis nggak bisa melihat keadaan sesungguhnya di luar. Mengubah persepsi orang yang di dalam ruangan dengan memanipulasi banyaknya cahaya yang melewatinya dan masuk ke ruangan.

Dan kadang, pemikiran manusia juga begitu. Kadang pikiran kita seolah ditutupi oleh selapis kaca film gelap, yang menahan, atau memfilter sebagian dari kenyataan dan fakta yang ada. Imbasnya, kita nggak bisa melihat fakta sesungguhnya.

Selapis film itu adalah pikiran negatif. Membuat seseorang tidak bisa melihat fakta yang ada, karena lebih memilih untuk 'melihat' kenyataan yang dibuat oleh pikirannya sendiri, alias prasangkanya sendiri.

Barangkali Anda pernah mengalaminya? Ketika sedang punya pikiran buruk, apapun fakta yang ada, maka kita cenderung menangkapnya sesuai prasangka kita sendiri. Sehingga kita pun melihat apapun itu, jadi serba buruk. Hayo ngaku, pernah ngalamin itu kan? Yakin deh, ketika pandangan kita sedang terhalang oleh selapis kaca film di pikiran kita itu, sikap kita pastilah sangat menyebalkan. Suer, kalo nggak percaya, tanya aja ke orang-orang di sekitar Anda. Ketika Anda dipenuhi pikiran negatif dan melihat segala sesuatu dengan prasangka Anda sendiri, pasti Anda berubah jadi sangat menyebalkan. Well, sebisa mungkin, hilangkanlah selapis kaca film itu Guys.

Maksud penulis, hilangkanlah selapis kaca film bernama negatif thinking yang ada di pikiran Anda, bukan kaca film yang melekat di jendela kantor Anda :p

Ngecas Dulu Yuuuk. . .

Pernah denger kan kalimat 'keimanan seseorang itu naik turun ibarat gelombang di samudra'. Pernah denger gak? Ya kalaupun belum pernah denger, seenggaknya sekarang jadi pernah baca toh. Dan pastinya pernah mengalami naik turunnya iman kan?

Kalo iman lagi naik nih, sholat berjamaah di masjid, tepat waktu, masih plus sholat rowatib. Rasanya sehari ngaji 1 juz tuh, masih kurang, bisa lebih banyak lagi. Dateng ke pengajian tuh, semangat. Puasa sunnah rajin. Nih dompet jadi ramah ama kotak amal masjid. Pokoknya joss banget dah.
Sebaliknya, ketika iman lagi ngedrop, sholat aja sampe telat, akhir waktu. Boro-boro sholat sunnah, yang wajib aja mepet-mepet waktunya. Boro-boro puasa, subuh aja kesiangan. Terus nih dompet kalo deket kotak amal, kayak susah banget dibukanya. Ngaji? Malahan Al-Qur'an cuma dilirik aja kagak dibaca. Parah deh pokoknya.

Hayoo, pembaca sekalian ada yang lagi mengalami futur?

Sedikit tips dari saya, kalo lagi turun imannya, paksain aja ngaji ato datang ke majlis ilmu. Penulis juga pernah (sering) dihinggapi kemalasan macam ini. Dan penulis rasa, obatnya adalah dengan ilmu.

Ngajiin aja, insyaAllah ntar Allah akan menunjukkan 'sesuatu' pada kita lewat ayat yang kita baca (tentu baca terjemahnya juga, biar ngerti). Dan insyaAllah akan ada hal yang menarik buat kita. Dan akhirnya futur pun terkikis. Mushaf kita pun akhirnya kembali ke dalam genggaman, nggak cuma diliatin.

Kedua, ikutin aja mentoring atau pengajian apa gitu. Karena biasanya, akan ada ilmu baru yang kita dapat. Atau setidaknya akan merefresh suatu lmu yang pernah kita tahu namun terlupa. Dan setidaknya bisa sharing, cerita ke mentor, atau bertanyajawab dengan penceramah. Pokoknya insyaAllah bermanfaat. Dan futur pun terkikis.

Pada dasarnya, memang adalah fitrah jika iman kita naik turun. Namun, jangan sampai kita terlena dengan penurunan iman itu, sampai-sampai terjerumus dalam jurang kesesatan. Naudzubullah. Ibarat HP, keimanan itu setara dengan daya batereinya. Ada yang awet, ada juga yang boros alias cepet futur. Nah, supaya nggak sampai ngedrop, ya kita harus rajin-rajin charging. Bedanya, kalau HP masih boleh lah baru ngecas baterenya pas bener-bener habis. Sementara keimanan, nggak boleh gitu doong. Ntar keburu sesat, bahaya.

Jadi, yuk kita rajin-rajin ngecas keimanan kita :)

*maaf kalo postingan kali ini agak nggak rapi. ada ide terlintas, dan saya emang lagi nggak minat bikin postingan panjang

Mentoring Kemarin : Kupas Ayat Surat Al-Mu'minuun

Seperti judulnya, mentoring kemarin malam membahas surat Al-Mu'minuun, khususnya ayat 1-11, yang mana isinya membahas sebagian ciri-ciri orang-orang beriman. Berikut pembahasannya :

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, *1

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, *2

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, *3

dan orang-orang yang menunaikan zakat, *4

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, *5

kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. *6

Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. *7

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, *8

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
*9

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, *10

(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." *11

(QS. Al-Mu'minuun ayat 1-11)

Dari terjemah surat di atas, dapat kita lihat beberapa ciri orang-orang beriman, yakni :
  • sholatnya khusyuk [bagaimana dengan kita -terutama penulis pribadi? sudah mampukah kita sholat dengan khusyuk? kayaknya sering banget kepikiran hal lain pas sholat]
  • menjauhkan diri dari segala yang sia-sia (tidak bermanfaat) [hayo coba kita hitung, berapa banyak hal sia-sia yang kita lakukan? mantengin fb atau twitter tanpa ada manfaat, dengerin lagu-lagu yang nggak bikin kita tambah pinter atau apa, melamun yang nggak menghasilkan apa-apa, ngobrol nggak jelas nggak ada ilmunya...lho kok masih banyak nih?]
  • menunaikan zakat [sekarang pas masih belum memenuhi syarat wajib mengeluarkan zakat, mungkin menganggap ini sepele, mungkin berpikir 'ah, sekian persen aja masak nggak mau ngeluarin'. tapi ntar kalo udah punya penghasilan, -katanya- bakal berat gitu ngeluarin zakatnya, apalagi kalo ntar udah berkeluarga -katanya-]
  • menjaga kemaluannya dan tidak melampaui batas [di jaman ini, bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak godaan bagi kita untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, apalagi para pemuda yang belum nikah --hayoooo, buruan nikah kalo udah mampu, atau berpuasa]
  • memelihara amanat dan janjinya [pada bagian ini, entah kenapa jadi teringat para wakil rakyat atau yang maju pada pilkada..eh, kita juga ding, harus memelihara amanat dan janji kita. lagian, bukankah semua yang kita 'miliki' di dunia ini adalah titipan, milik Allah yang diamanatkan kepada kita. . . jasad, amanat. iman, amanat. ilmu, amanat. harta, amanat. pangkat, amanat. umur pun, juga amanat. harus kita jaga semua itu]
  • memelihara sholatnya [jaman sekarang, manusia mah adaaa aja kesibukannya, sampai-sampai banyak yang melalaikan sholatnya gara-gara sibuk. Insya Allah pembaca sekalian enggak gitu ya, pada rajin sholat pastinya :) ]
Dan orang-orang tersebutlah yang nantinya akan mewarisi dan kekal di dalam surga Firdaus. Wow, surga Firdaus Guys, nggak nanggung-nanggung Allah kasih reward buat orang-orang beriman. Surga yang tingkatannya paling tinggi lho.
So, mari kita -terutama penulis pribadi- berlomba-lomba meningkatkan keimanan kita, menjadi orang-orang yang memenuhi kriteria untuk mewarisi surga Firdaus dari Allah. Yuuk . . . :)