Cari Blog Ini

Jumat, 19 November 2010

ketidaksempurnaan bukan batasan untuk berbuat lebih dari orang lain,,,

Coba lihat sebentar diri kita. Maaf, maksudnya tubuh kita. Sepasang mata, alhamdulillah msh bisa melihat cahaya matahari, birunya langit, hijaunya rerumputan dan sebagainya. Sepasang telinga lengkap dengan lubangnya, alhamdulillah masih bisa mendengarkan suara percakapan temen sebelah yg lagi ngerumpi, musik favorit yg dinyanyikan artis beken dan sebagainya. 1 hidung dengan 2 lubangnya, alhamdulillah masih bisa menghirup berbagai aroma mulai dari parfum seharga sekian rupiah, aroma durian yg menggoda perut sampai kecutnya bau badan sendiri. Sepaket tangan kiri dan kanan lengkap dengan 10 jari yg masih bisa dipake ngetik lincah di keypad qwerty BB kalian. Sepasang kaki yg msh bisa utk jalan2 di mall. Lalu apa lagi??masih ada otak yg masih mampu mengatur kompleksitas arus informasi di sekitar kita, lalu ada jantung yg masih mampu memompa darah ke seluruh tubuh selama bertahun2 sejak kita lahir sampe segede gini, juga ada sepasang paru2 yg msh bisa memisahkan oksigen dengan unsur lain di udara, terus masih ada sistem pencernaan yg msh lancar mencerna berbagai jenis makanan yg kita makan mulai dari yg beli di warteg sampai di resto seafood, tambah lagi tulang2 yg masih bisa menjaga tegepnya tubuh ini,,,stop dulu ah, kalo mau ditulis terus2an nggak akan ada habisnya ntar. Karena memang nikmat Allah tidak terbatas dan kita nggak akan bisa menghitungnya. Gak percaya? Mau coba ngitung sendiri ?

Allah SWT berfirman : " Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (Qs Ibrahim [14] 34; an Nahl [16] ayat 18).

Kalo sudah ada ayatnya gini,percaya kan?

Eh, tunggu. Mungkin sejenak pembaca berpikir, kan gak semua mendapatkan nikmat berupa kelengkapan anggota tubuh?

Maka bersyukurlah kita yg diberi kelengkapan anggota tubuh oleh Allah SWT. Karena dgn itu kita bisa melakukan apa saja yg kita mau tanpa ada keterbatasan fisik. bandingakn dengan (maaf) saudara2 kita yg memiliki keterbatasan fisik. Kebutaan misalnya. mana bisa lihat film Harry Potter terbaru yg tayang mulai hari ini. ato tuna rungu, mana bsa mendengan suara genit Cinta Laura lewat i-pod. atau org2 yg memiliki kekurangan anggota tubuh yg tidak lengkap. ah,anda bisa membayangkan sendiri lah, pasti semua sudah pernah bertemu dengan saudara2 kita yg memiliki keterbatasan seperti itu (saya gak tega mau kasih contoh).

Coba bayangkan sejenak, bayangkan saja ya. Semoga tidak terjadi pada diri kita. Bayangkan anda mengalami suatu kecelakaan yg berakibat diamputasinya salah satu anggota gerak anda, tangan kah, atau kaki. (sekali lagi, coba bayangkan saja, naudzubillah, semoga Allah melindungi kita). Akankah kita masih bisa melakukan segala sesuatu dengan ceria seperti biasanya? Ataukah kita hanya akan bermalas2an dalam mengerjakan sesuatu? Oke, (membayangkan) mengalami hal seperti itu pasti akan menimbulkan syok dan tekanan psikologis, terutama setelah kejadian. Sekarang anggaplah kejadian itu sudah bertahun2 yg lalu dan faktor trauma sudah menghilang berangsur-angsur. Apa kita akan tetap meratapi keterbatasan itu? ataukah kita akan tetap bersikap dan melakukan segala sesuatu senormal org dgn kondisi tubuh lengkap? Susah dibayangkan ya? Okelah, kita ambil contoh nyata saja ya. tenang, saya gak akan menganjurkan anda mengalami sendiri agar bisa menghayati ini kok.

Jadi begini,di dekat tempat tinggal saya sekarang(duh bahasanya,kayak udah puna rumah sendiri aja.deket kos2an maksudnya) ada seorang pria. Langsung saja,pria tersebut hanya memiliki satu tangan-tangan kiri saja. Maaf, saya samasekali tidak bermaksud merendahkan, memang begitulah adanya. dan pria tersebut (sepengetahuan saya) merupakan orang yang murah senyum dan tampak menikmati bagaimana adanya. Sering saat lewat depan rumah pria itu, terlihat melalui pintu rumahnya yang terbuka, pria itu bercengkrama dengan keluarganya, yag tampak tidak mempersoalkan keadaan pria itu. Tunggu sebentar kawan, mana istimewanya? Mungkin pembaca mulai bertanya-tanya ya, masa saya menulis sesuatu yang biasa-biasa saja. Sabar Pemirsa, ini baru mau saya ceritakan. Jadi begini, pria tersebut merupakan salah satu jama'ah di masjid dekat kos. Saya pernah cukup beruntung untuk berada persis di sebelah pria tersebut. Seusai sholat, sebagaimana kebiasaan di jama'ah umumnya, saya bersalam-salaman dengan orang di kiri-kanan saya. Dengan pria tersebut juga tentunya. Dan sedikit kaget saya, karena saya pikir pria ituakan mengulurkan tangan kirinya - yang masih utuh. Namun justru pria tersebut mengulurkan tangan kanannya yang -maaf- tidak sampai ke pergelangan panjangnya. Seolah kehilangan satu anggota badan merupakan hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan -dan memang begitulah seharusnya.

Poinnya adalah, bahwa bagaimanapun keadaan kita, jangan sampai itu membuat kita enggan menyambung silaturahim, dalam hal ini, berjabat tangan merupakan salah satu bagiannya. Membuat saya salut pada beliau. Memang hal ini terlihat biasa saja, namun menjadi tidak biasa jika kita bandingkan dengan orang yang tangannya masih utuh dua-duanya, tapi enggan bersalaman dengan saudaranya sesama muslim. Aneh kan? Entah, kadang saya juga heran. Kok ada ya, orang yang ogah bersalaman dengan sesama saudaranya, apalagi sampai memutuskan silaturahim. Bersalaman dengan sesama muslim adalah simbol persaudaraan, janganlah kita tinggalkan. Mengutip salah satu hadits,

Menurut satu riwayat, Rasulullah saw. bersabda, “Tiada dua muslim yang saling bertemu, lalu mereka saling berjabat tangan kecuali mereka akan diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Al-Adab (5211 dan 5212) bab tentang mushafahah)

Oke? Cukup kan contohnya?

masih ada lagi. Beberapa waktu kemudian, saya melihat pria tersebut. Sepertinya melakukan suatu kesibukan yang merupakan pekerjaanya, mungkin. Apa coba? Subhanallah, mengantarkan tabung elpiji kosong ke distributor. Menggunakan semacam troli kecil beroda dua yang biasa digunakan untuk mengantarkan galon. Ini saya kasih contoh gambarnya.

*semacam itulah troli yang digunakan. Foto bocah imut di atas hanya contoh, samasekali tidak terkait dengan kisah saya barusan.

Bayangkan, membawa troli dua roda berisi 8 tabung elpiji (kalo tidak salah sih 8) dengan tangan kiri. Terdengar biasa? tentu biasa bagi kita yang memiliki anggota badan lengkap. Tapi dengan tangan kanan yang tidak utuh? Meski tidak sampai luar biasa, itu masih cukup bisa dibilang tidak biasa, istimewa. ya nggak? Disini saya melihat suatu ironi. Pria tersebut dengan segala keterbatasannya tetap mau bekerja keras, meski tampak sepele. Sedangkan banyak pria-pria lain, dengan dua tangan yang sempurna, hanya bisa dudu-duduk menghisap rokok, ngobrol tak bermanfaat di teras rumah, syukur-syukur ada cewek lewat untuk digodain. Apa tidak malu kalau melihat pria pekerja tadi? Bukankah yang seperti itu bisa dibilang tidak mensyukuri nikmat Allah berupa lengkapnya anggota tubuh? Bukankah Allah sudah memberi dua tangan yang sempurna untuk bekerja mencari nikmat Allah di penjuru bumi ini? Masa kalah dengan orang lain yang memiliki kekurangan dibanding kita?

Mari kita introspeksi diri kita. Mungkin kadang kita sering lupa mensyukuri nikmat Allah, dengan hanya bermalas-malasan atau melakukan sesuatu yang tak berguna. mari, sekedar kisah di atas kita jadikan cerminan bagi diri kita untuk menjadi lebih baik, insya Allah bisa :)

1 komentar:

  1. subhanallah, memang banyak pelajaran di sekitar kita

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .