Cari Blog Ini

Selasa, 07 Desember 2010

Syukurilah,,,

Pernah gak kita merasa iri dengan sesutau yang dimiliki teman kita, yang tidak kita punya? Hayo, ngaku aja, pasti pernah kan?

Asal nuduh aja nih orang, mungkin begitu pikir Anda.

Ya alhamdulillah deh kalau nggak pernah. Tapi kalau yang pernah? Hayooo,,,

Kadang kita menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang lumrah, dapat dimaklumi. Namanya juga manusia, pasti ada lah keinginan untuk memiliki hal yang lebih. Betul begitu?

Hey, hati-hati. Hal yang disepelekan seperti itu kadang justru bias jadi fatal. Bisa jadi dosa lho.

Lha kok bisa? Mungkin begitu pikir Anda.

Rasa iri bisa menghapuskan rasa syukur dalam diri kita. Bahaya lho itu, salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan merembet ke hal-hal lain, dan hati kita akan semakin penyakitan. Mau hati kita makin penyakitan? Mau iman kita makin terkikis? Nggak mau kan?

Oke, saya ada secuil kisah, hanya kisah pendek yang diilhami oleh kejadian sehari-hari. Semoga dapat menginspirasi kita dan semoga ada hikmah yang bisa diambil.

----------------------------------------------------

Sebut saja namanya Tina (entah kenapa saya membayangkan nama ini), seorang siswi di sebuah SMA di sebuah kota kecil nan permai di kaki bukit dekat gunung Arjuna (sepertinya saya tahu SMA itu). Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Nggak sampai mewah, tapi juga nggak sampai level kritis juga. Ayahnya karyawan perusahaan swasta, ibunya guru SMP. Hidupnya cukup lumayan lah kalau dibandingkan beberapa teman sekelasnya. hanya kalau dibandingkan dengan teman sebangkunya, Sasy (alasan saya pakai nama ini, mungkin karena terdengar lebih gaul), masih beda levelnya. Ayah Sasy pengusaha kelapa sawit di Sumatera, ibunya memiliki usaha catering yang cukup terkenal. Sedikit dapat dimaklumi kalau tampilan Sasy sedikit lebih 'wah' dibandingkan teman-temannya yang lain.

"Duh, bosen aku pakai HP ini", ujar Sasy pada suatu ketika, sembari meletakkan Nokia N86-nya di tas.

"Kenapa emangnya?", tanya Tina. "Kan masih baru tuh". Memang usia HP tersebut di tangan Sasy belum genap setahun.

"Gede sih. Gak enak bawanya. Aku pengen yang keypad QWERTY juga sebenernya", jawab Sasy.

"Blackberry?"

"Iya. Ntar kalau papa pulang aku minta dibeliin Gemini atau Onyx aja", Sasy senyum-senyum sendiri sambil membayangkan gadget tersebut, yang sebenarnya peruntukannya bukan untuk anak SMA melainkan kalangan pebisnis. Tina haya menanggapi dengan senyuman, sudah hafal kebiasaan sohibnya yang seperti Nobita itu. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Dalam hati ia membatin, andai aku seperti Sasy. Mau apa aja pasti diturutin. Tangannya meraba Sony Ericsson W900i di sakunya. Aku aja mau ganti HP gak dibolehin sama bapak, padahal udah berapa tahun ini, gumamnya lagi. Terbesit rasa iri dalam hatinya.

Kita skip sedikit ceritanya. Masa iya mau ikut membahas pelajaran fisika dan kimia dalam cerita. Nggak seru lah. Kita majukan kisahnya beberapa jam kemudian, saat para siswa SMA di kaki bukit mulai menuju gerbang sekolah dan bersiap meluncur ke rumah masing-masing.

Sasy dan Tina sama-sama menunggu penjemput mereka. Sasy, seperti biasa, dijemput mamanya yang bakal membawa Swift warna putih. Sementara Tina dijemput kakaknya, mbak Rini, dengan Mio merah. Entah kebetulan atau bagaimana, yang menjemput mereka berdua tiba hampir bebarengan. Dan Sasy, setelah ber-cipika-cipiki dengan sohibnya, langsung masuk ke mobil mamanya itu. Setelah Sasy berlalu bersama Swift mamanya, barulah Tina menaiki boncengan kakaknya. Mbak Rini menangkap arah yang dituju mata Tina, dan mulai menggodanya. “Bagus ya, Swift putih. Keren”, ujarnya memancing reaksi Tina. Tina hanya membalas dengan senyuman. Mbak Rini menambahi, “Pengen?” .

“Nggak lah. Mobil orang kaya”, jawab Tina. Dalam hati dia ngedumel, pertanyaan retoris ah, nggak usah ditanya juga semua orang pengen punya mobil kayak gitu Mbak.

Dan sepanjang perjalanan pulang mereka berdua hanya diam. Mata Tina melirik ke mobil-mobil yang melewati mereka di jalan.

Andai aku punya mobil, batinnya.

Tiba-tiba mendung yang sedari tadi sudah menggantung di langit melepaskan hujan gerimis yang makin lama makin sadis. Mbak Rini segera membelokkan motornya ke halte di pinggir jalan untuk bergabung dengan orang-orang lain yang sama-sama berteduh.

“Tin, berteduh dulu aja ya?! Mbak lupa nggak bawa mantel nih”, ujarnya.

“Yah, gimana sih Mbak ini, pelupa ah”, omel Tina.

“Ya maaf, khilaf. Tadi kamu SMS pas mbak baru aja pulang kerja. Jadi keburu deh, terus lupa bawa mantel”, kilah kakaknya.

“Pikun”, ujar Tina melet pada kakaknya.

“Untung-untung dijemput”, balas mbak Rini, masih bisa ngeles.

Dan merekapun berdiri menggigil setengah basah menunggu hujan reda. Harap maklum, hujannya berangin. Jadi tetap saja terkena cipratan air hujan dari arah samping. Tina masih juga melamun melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang di hadapan mereka. Emang enak punya mobil. Kalau hujan gak kehujanan, panas gak kepanasan. Andai aku punya mobil.

Lamunannya buyar ketika matanya menadpati sesosok makhluk bersepeda yang basah kuyup melaju ke arah halte, sepertinya ingin ikut berteduh. Rupanya Danis, kawan sekelasnya. Ngapain nih si Danis hujan-hujan gini malah bersepeda, masak mau ikut lomba sepeda balap. Perasaan tujuhbelasan udah lewat deh, gumam Tina.

“Ngapain nih, ujan-ujan gini malah sepedaan toh?”, tanyanya saat Danis menepi.

“Yo pulang sekolah toh, mosok lagi lomba sepeda indah”, jawab Danis sambil memarkir sepedanya. Seragamnya basah kuyup, tapi tasnya aman dalam bungkusan plastik kresek besar.

“Kok nggak bawa motor Nis?”, tanyanya lagi.

“Motor bapak kan udah dijual, emang siapa yang bakal pakai buat ngojek. Yang ada ya tinggal ini, ya aku pakai aja ini”, jawab Danis sambil menepuk sadel sepedanya. Ekspresinya biasa saja.

Deg, seketika hati Tina merasa tertohok. Ia baru ingat bahwa ayah Danis sudah meninggal saat dia mereka masih kelas satu SMA. Ia ingat ketika itu, beberapa pengurus OSIS berkeliling ke kelas-kelas untuk mengumpulkan sumbangan sukarela dari teman-teman. “Untuk Danis, anak kelas X-2, ayahnya meninggal kemarin, kecelakaan”, kata mereka saat itu. Tina sendiri termasuk diantara yang mewakili kelasnya untuk takziyah ke rumah Danis. Ia ingat bagaimana keadaan rumah Danis. Almarhum ayahnya bekerja sebagai tukang ojek. Ibunya berjualan nasi pecel di depan rumah. Ia ingat warung nasi milik ibu Danis, yang akan segera menjadi tulang punggung ekonomi keluarga mereka. Ia teringat adik-adik Danis yang masih kecil, tiga orang jumlahnya. Tak terasa air matanya hampir menetes.

“Mending pakai sepeda, udah gratis, lumayan cepet, olahraga juga. Darpada jalan kaki, rumahku kan lumayan jauh juga. Kalau naik angkot, sayang uangnya. Mending uangnya buat beli pulsa, terus buat SMS kamu. Ya nggak Mbak Rin?”, goda Danis. Mbak Rini hanya tertawa.

Tina memaksakan tersenyum, sembari menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Hatinya tertohok, lagi. Ia mulai tersadar betapa dirinya kurang bersyukur. Ya Allah, betapa kurangnya rasa syukur hambaMu ini… yang masih menginginkan segala sesuatu yang tidak dimiliki dan lupa mensyukuri apa yang hamba miliki. Ampuni hamba Yaa Allah,,,

Tiba-tiba terdengar dering HP. Rupanya Hp milik Danis. Deg, hat-trick sudah. Hati Tina makin tertohok melihat HP yang baru dikeluarkan Danis dari sakunya. Hape esia ngoceh. Seharga 150 ribuan. Dan Danis tak pernah mengeluhkan HP miliknya tersebut meski tahu bahwa HP miliknya yang paling minim fitur dibanding teman-temannya.

“Wah, murid-muridku udah nungguin nih”, ujar Danis setelah membaca SMS yang masuk barusan.

“Emang kamu ngajar apaan Nis?”, tanya Tina penasaran.

“Anak-anak SMP di deket rumah, pada minta diajarin pelajaran buat UAN. Lumayanlah, buat nambah uang saku. Meski anak-anak bayarnya gak seberapa, tapi kan jumlahnya yang les di aku lumayan banyak, jadi ya lumayanlah. Ini hape aja beli dari gaji ngelesi mereka”, pamer Danis bangga.

Deg, quat-trick. Untuk keempat kalinya hati Tina tertohok. Dengan keadaan kayak gitu, Danis sudah bisa mencari tambahan uang sendiri. Masya Allah.

“Hebat kamu Nis”, pujinya. Kali ini dia benar-benar salut pada Danis.

“Biasa aja Tin. Ngajarin anak SMP kan nggak susah-susah amat”, jawab Danis merendah.

“Udah dulu ya, kasihan mereka nungguin”, seru Danis sambil meraih sepedanya.

“Eh, masih ujan Nis, ntar aja kan gak pa pa. mereka kan juga pasti ngerti”, cegah Tina.

“Duluan ya, tina, Mbak Rin. Assalamu’alaikum”, pamit Danis sembari berlalu menerobos hujan yang masih deras.

“Wa’alaikumusalam. Ati-ati Nis”, teriak Tina dan mbak Rini bebarengan. Lalu mereka berpandangan dan tersenyum. Dalam hati, mbak Rini membatalkan niatnya untuk menceramahi adiknya tentang pelajaran bersyukur. Dia yakin, adiknya sudah mendapat pelajaran berharga dari kawannya tadi.

Di kejauhan masih terlihat sosok Danis yang bersepeda menerobos hujan. Seragamnya basah kuyup.

-------------------------------------

Oke cut. Adegan berakhir. Layar panggung ditutup. Seperti membaca naskah cerpen atau drama di buku pelajaran bahasa Indonesia jaman SMA ya? Mohon dimaklumi, saya bukan cerpenis handal. Tapi memang titik fokusnya bukan pada gaya penulisan saya, bukan pada dramanya. Tapi pada maknanya (ngeles).

Oke, kita akan lihat sudut pandang Tina. Bukan Sasy, mamanya (yang episode ini nggak kebagian jatah dialog), atau mbak Rini. Tina aja dulu.

Coba kita ingat-ingat, berapa kali kita beradaa dalam posisi Tina?

Bukan, bukan dalam keadaan dibonceng naik Mio terus kehujanan dan berteduh di halte gara-gara nggak bawa mantel. Maksudnya, dalam posisi merasa iri dengan milik orang lain dan lupa akan yang sudah kita miliki. Contoh tadi baru membahas 1 jenis nikmat, yakni nikmat harta.

Bagaimana dengan nikmat-nikmat lainnya? Allah SWT berfirman :

" Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya" (Qs Ibrahim [14] 34; an Nahl [16] ayat 18)

Bagaimana dengan nikmat kesehatan, nikmat kepandaian, nikmat kesempurnaan fisik, dan terutama nikmat iman?

Sudahkah kita syukuri? Atau kita selalu lupa ?

Syukurilah kawan. Kata orang bijak, manusia lebih sering menginginkan apa yang tidak dimilikinya ketimbang mensyukuri apa yang telah dimilikinya, dan mereka baru akan tersadar ketika mereka telah kehilangan hal tersebut.

Hayo, masak kita baru sadar ketika nikmat tersebut diangkat dari kita.

Kata seorang ustadz (saya lupa siapa), dalam masalah harta, kita harus melihat ke bawah agar bisa bersyukur. Bukan melihat ke tanah, tapi melihat ke orang yang kurang dari kita dalam hal harta.

Bagi yan gpunya mobil, gak usah lah kepingin gonta-ganti mobil. Sudah ending punya mobil daripada yang cuma punya motor.

Yang punya motor, masih mending daripada kudu naek angkot.

Yang naek angkot, masih mending punya ongkos buat ngangkot daripada harus ‘mancal’ kemana-mana.

Yang naek sepeda pancal, masih mending daripada jalan kaki.

Yang jalan kaki, masih mending kakinya cukup kuat untuk jalan kemana-mana.

Dan seterusnya dan seterusnya.

Sebaliknya, jika kita melihat ke atas (bukan ke langit) dalam masalah harta, maka kita nggak akan pernah puas.

Sudah punya motor ingin punya mobil.

Sudah punya mobil ingin nambah mobil.

Mobil sudah banyak pengen helikopter.

Sudah punya helikopter malah pengen jet pribadi.

Kan makin edan kalau begitu jadinya.

Bukan berarti kita nggak boleh kaya, boleh saja asal dengan cara yang halal dan nggak mengurangi syukur kita, serta tidak menjadikan kita gila harta gila dunia lupa akhirat.

Bersyukur Kawan, karena Allah SWT telah berjanji dalam firmanNya :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Al Quran, Ibrahim, 14:7).

Maka bersyukurlah kawan, insya Allah dunia terasa lebih indah jika kita bersyukur :)

2 komentar:

  1. bagus.. simple tapi kena banget :)

    apalagi setting tempatnya kenal, jadi kangen (lho) XD

    BalasHapus
  2. wah,,ini bocah berasal dari SMA di kaki gunung arjuna juga ya?hehe
    ada blog juga kah?

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .