Cari Blog Ini

Senin, 17 Januari 2011

K.O.R.U.P.S.I.

Saya bukannya mau komentarin kasus Gayus, Century ato apalah yang lagi tren. Nggak demen ama yang begituan. Mending buka ongisnade.net ato malang-post.com, baca kabar Arema. Ini cuma karena SMS seorang temen,,tiba-tiba aja dia mempertanyakan sesuatu, pertanyaan retoris, pertanyaan klasik : Bisa nggak, korupsi di negara ini dihilangkan? Gimana caranya? Siapa yang bisa melakukannya? Apa yang harus dilakukan?

Sepertinya menarik untuk diposting.

Entah kenapa saya ditanyain begitu, entah kenapa pertanyaan itu ditujukan kepada saya, mungkin karena saya masih satu almamater dengan 'lakon' kasus mafia pajak tersebut.

Well, anyway, saya coba aja jawab sekenanya, tanpa sempet berpikir panjang.

Tanpa membawa dalil-dalil moral dari Al-Qur'an atau hadits karena saya bukan ustadz.

Tanpa membawa hasil survey ataupun penelitian karena saya bukan anggota LSM atau peneliti sosial.

Saya jawab dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa 'suatu sekolah kedinasan yang bernaung di bawah Kementrian keuangan' (kata-kata andalan yang digunakan saat promosi kampus ke adik-adik kelas yang masih SMA).

Lebih detilnya, mahasiswa yang SMS-an pas baru bangun tidur. Mantab toh?

Oke, pertanyaan pertama, dengan nilai Rp. 50.000,00 ... *eh, ini bukan kuis 'who wants to be a millionaire' ya?

Bisa nggak, korupsi di negara ini dihilangkan?

Tentu bisa (optimis). Sayangnya, nggak segampang ngetik 'bisa' di HP ato komputer. Saya mengajukan syarat, asalkan . . . nah, syaratnya nih yang kira-kira bikin susah. Adakah cukup orang yang sadar akan betapa destruktif-nya korupsi bagi negeri ini?

Oke, anggap saja banyak, saya rasa hampir seluruh rakyat Indonesia, yang kata Bang haji Rhoma Irama ada lebih dari dua ratus juta jiwa ini, sepakat bahwa korupsi itu buruk, koruptor itu busuk dan uang hasil korupsi itu haram. Kita kecualikan dari sini, tentunya para koruptor, rekan-rekannya, keluarganya yang ikut menikmati dan benar-benar menikmati hasil korupsi, termasuk pembantu-pembantunya/pegawai-pegawainya/anak-anak buahnya yang dibayar pake duit hasil korupsi, dan semua yang terlibat dengan uang korupsi itu.

Tarohlah sekian juta rakyat Indonesia membenci korupsi (saya nggak yakin berapa banyak jumlahnya setelah dikurangi dengan pengecualian tadi). Apakah itu cukup?

Jelas nggak. Suara sekian juta rakyat masih kalah dengan kekuasaan orang-orang korup di atas. Di mana? Di atas, pokoknya di puncak pimpinan negara ini lah, orang-orang berkuasa, para pembuat kebijakan, entah di departemen apa, instansi apa, saya nggak nyebut (soalnya kebanyakan). Tanpa mengecilkan peran suara rakyat (eh, bukan promosi koran lho ya), yang lebih signifikan adalah suara 'orang-orang di atas rakyat', atau lebih sering disebut pejabat. Para pembuat keputusan di negeri ini. yang menjalankan pemerintahan. merekalah yang paling diharapkan kesadarannya akan buruknya efek yang ditimbulkan oleh korupsi. kenapa? Mudah saja, karena merekalah yang paling banyak terlibat korupsi, dan dana yang dikorup oleh mereka juga jauh lebih besar dibanding korupsi oleh rakyat jelantah, itu juga kalau ada sisa untuk dikorupsi. Ada pembelaan? Saya rasa pembaca setuju saja,,,

Percaya deh, saya nggak mbales SMS tadi sepanjang ini kok. Intinya jawaban saya tadi adalah, saat jumlah 'orang sadar' lebih besar daripada 'orang mabok' atau besarnya pengaruh dari 'orang sadar' lebih besar dari efek yang ditimbulkan 'orang mabok', Insya Allah masih ada harapan. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini, toh kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi di luar logika dan perhitungan manusia.

Lanjut, pertanyaan kedua.

Caranya?

Bukaaan, jawaban saya bukan mempertegas KPK atau kejaksaan atau kepolisian atau undang-undangnya, atau membersihkan bidang-bidang lain dari para koruptor. Terlalu muluk-muluk bagi seorang saja untuk melakukan itu semua. Terlalu ribet bagi saya untuk membayangkan itu semua. Jawaban saya, ialah dengan cara menumbuhkan kesadaran untuk tidak melakukan korupsi, atau lebih luasnya, KKN (saya rasa saya nggak perlu njelasin satu-satu kan tentang trio ini, kolusi-korupsi-nepotisme). Kesadaran untuk berlaku jujur. Kesadaran yang ditanamkan sejak kecil. Sejak pendidikan dasar, lebih jauh lagi, sejak di keluarga. Dari kehidupan sehari-hari, biar nggak cuma teori. Pada prakteknya, seringkali teori yang diajarkan berbeda dengan praktek. Gimana mau memerangi korupsi kalau teorinya begini, prakteknya preketek? contoh nyata, kasus ditilang polisi 'humanis', kasih hukujan tapi manis a.k.a salam tempel. Dengan semboyan damai itu gocap indah, hal yang terlihat sederhana seperti ini tentunya termasuk terlibat tindak korupsi kan?! Hayo ngaku, pada pernah ngelakuin apa gak? Atau contoh lain, pembuatan KTP. Kalau gratis, dikasih bonus waktu, harusnya seminggu jadinya sebulan. Kalau kasih minimal ceban, tunggu aja besoknya, kelar deh. Ada contoh lain?

Mental kayak gini nih, yang susah ngilanginnya. Kembali lagi ke pendidikan moral, yang mau nggak mau, terkait pendidikan agama yang bener dan sekaligus pengamalannya. Pelajaran moral ini, kejujuran. Ya mulai lah dengan yang ringan dulu, penolakan terhadap hal-hal kayak gitu. Menolak 'berpartisipasi' berarti mengurangi jumlah pelaku korupsi potensial. Masalah penindakan itu masih jauh, lakukan hal kecil ini dulu, Kawan. Terlalu jauh bagi kita membicaraakan ranah hukumnya, orang awam macam kita yang masih sering dilindas oleh (aparat) hukum mau bicara penegakan hukum? Hahahahahahahha.....tertawalah dunia. maaf, bukan skeptis, tapi kita bicara realita, Kawan. Ayolah, semua hal besar dimulai dari hal kecil kan? Kalau semua orang melakukan hal-hal kecil macam ini, bukankah efek total (dalam fisika, sering disebut resultan gaya :D ) yang timbul akan menjadi besar?

Lanjut lah ke pertanyaan ke tiga, udah malam ini, makin ngantuk aku.

Siapa yang bisa ?

Bukaaan, saya nggak bakalan ngejawab 'presiden' atau 'ketua KPK'. Bukan, jawabannya adalah 'kita semua'. Percaya deh, kita semua bisa melakukannya. Terkait 'resultan' tadi, hal kecil jika dilakukan bersama, efeknya akan terasa besar. Naaah, maka mari masing-masing dari kita mengambil peran sebagai 'penyumbang' hal kecil tersebut. Beramai-ramai gitu, keroyokan kayak tawuran. Percaya deh, ngilangin korupsi itu nggak kayak ngelap meja kotor atau nyapuin lantai yang bisa dilakuin sama satu orang aja,,, Ini kerja bakti, Kawan. Semua terlibat, semua bekerja, semua ambil peran. Hayo, siapa lagi kalau bukan kita?

Mengutip kata-kata Aa' Gym (iya kah? ragu-ragu juga ini kata-kata siapa), "mulai dari hal yang kecil, mulai dari kita, mulai dari sekarang".

Ayo generasi penerus, tunjukkan cinta-mu pada negeri ini :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .