Cari Blog Ini

Kamis, 06 Oktober 2016

Scientifically Wrong Moral Story : Bamboo Growth

Anda pernanh mendengar kisah inspiratif tentang bambu? Yang mengisahkan bahwa bambu tidak tumbuh signifikan selama 5 tahun untuk fokus menumbuhkan akar, namun tumbuh pesat setelahnya? Begini selengkapnya


Tahukah anda bahwa pohon bambu tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 5 tahun pertama.

Walaupun setiap hari disiram & dipupuk, tumbuhnya hanya beberapa puluh centimeter saja.

Namun setelah 5 tahun kemudian, pertumbuhan pohon bambu sangat dahsyat & ukuran nya tidak lagi dalam hitungan centimeter melainkan meter.

Lantas sebetulnya apa yang terjadi pada sebuah pohon bambu ???

Ternyata selama 5 tahun pertama, ia mengalami pertumbuhan dahsyat pada akar BUKAN pada batang, yang mana daripada itu, pohon bambu sedang mempersiapkan pondasi yang sangat kuat, agar ia bisa menopang ketinggian nya yang berpuluh puluh meter kelak dikemudian hari.

MORAL OF THE STORY
Jika kita mengalami suatu hambatan & kegagalan, bukan berarti kita tidak mengalami perkembangan, melainkan justru kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa didalam diri kita.

Ketika kita lelah & hampir menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan, jangan pernah terbersit pupus harapan.

Ada pameo yang mengatakan “the hardest part of a rocket to reach orbit is to get through the earth’s gravity” (“bagian terberat agar sebuah roket mencapai orbit adalah saat melalui gravitasi bumi”).

Jika kita perhatikan, bagian peralatan pendukung terbesar yang dibawa oleh sebuah roket adalah jet pendorong untuk melewati atmosphere & gravitasi bumi.

Setelah roket melewati atmosphere, jet pendorong akan dilepas & roket akan terbang dengan bahan bakar minimum pada ruang angkasa tanpa bobot, melayang ringan, & tanpa usaha keras.

Demikian pula dengan manusia, bagian TERBERAT dari sebuah KESUKSESAN adalah disaat awal seseorang MEMULAI USAHA dari sebuah perjuangan, karena segala sesuatu terasa begitu BERAT & PENUH TEKANAN.

Namun bila ia dapat melewati batas tertentu, sesungguhnya seseorang dapat merasakan segala kemudahan & kebebasan dari tekanan & beban.

Namun sayangnya, banyak orang yang MENYERAH disaat tekanan & beban dirasakan terlalu berat, bagai sebuah roket yang gagal menembus atmosphere.

Buya Hamka berkata “kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup &  kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”.

Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, ia akan merunduk, tetapi setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali, laksana perjalanan hidup seorang manusia yang tak pernah lepas dari cobaan & rintangan.

Maka jadilah seperti pohon bambu !!!

Fleksibilitas pohon bambu mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup, walaupun badai & topan menerpa.

Tidak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tidak ada alasan untuk terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Pastikan dalam hari-hari kedepan, hidup kita akan MENJULANG TINGGI & menjadi PEMBAWA MANFAAT bagi sesama, seperti halnya pohon bambu.. Aamiin..


Begitu ceritanya. Sangat inspiratif ,bukan?
Sayangnya, cerita tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Lebih tepatnya, salah jika dilihat dari sudut pandang ilmiah. Faktanya, berdasarkan berbagai sumber yang dirangkum dalam laman wikipedia, bambu tumbuh pesat pada 4 bulan pertama kehidupannya, dan banyak yang sudah tumbuh maksimal pada tahun pertamanya. Jamur mulai tumbuh pada tahun ke dua, melemahkan batang bambu dan tak jarang membuatnya rapuh dan patah. Dan bambu umumnya dipanen pada tahun ke 5-7. Begini kutipan dari wikipedia:

"Unlike all trees, individual bamboo culms emerge from the ground at their full diameter and grow to their full height in a single growing season of three to four months. During these several months, each new shoot grows vertically into a culm with no branching out until the majority of the mature height is reached. Then, the branches extend from the nodes and leafing out occurs. In the next year, the pulpy wall of each culm slowly hardens. During the third year, the culm hardens further. The shoot is now considered a fully mature culm. Over the next 2–5 years (depending on species), fungus begins to form on the outside of the culm, which eventually penetrates and overcomes the culm. Around 5–8 years later (species- and climate-dependent), the fungal growths cause the culm to collapse and decay. This brief life means culms are ready for harvest and suitable for use in construction within about three to seven years. Individual bamboo culms do not get any taller or larger in diameter in subsequent years than they do in their first year, and they do not replace any growth lost from pruning or natural breakage."

Sebenarnya, kisah inspiratif di atas sungguh bagus. Dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa mencontoh bambu dalam menghadapi tekanan angin, mencontoh bambu dalam memberikan manfaat sepanjang hidupnya, dan sebagainya. Tapi kurang tepat rasanya ketika sebuah kisah yang tujuannya baik, juatru menggunakan data yang bertentangan dengan fakta ilmiah. Ibaratnya, menasehati orang lain dengan cara berbohong/menyampaikan fakta yang salah, rasanya kurang tepat, bukan?


1 komentar:

  1. Kalo menurut saya Mas, keduanya benar adanya.. Yang dikisah moralnya tadi bicara bambu dalam konteks rumpun, sementara yang diwikipedia bicara bambu sebagai individu. Dan keduanya tentu memiliki sebuah fakta ilmiah yang berbeda.

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .