Cari Blog Ini

Selasa, 26 April 2011

Dilema Rokok

Saya selalu suka iklan rokok. Tentu nggak perlu ditanya alasannya, kan?

Iklan rokok tuh selalu saja kreatif, menarik, dan begitu lihai sehingga membuat orang tertarik pada produknya. Dan uniknya, tanpa pernah memperlihatkan keburukan produknya.

Oh, bukan, saya bukan pecinta rokok, saya cuma suka iklannya.
Kalau dulu, paling suka iklan A-Mild (gak masalah kan saya sebut merk, tahu sama tahu lah. Eh, tapi beneran bukan promosi lho, saya nggak dibayar sepeseerpun untuk menuliskan nama produk mereka). Yang punya jargon 'others can only follow'. Kisahnya, ada suatu tokoh, berbentuk huruf 'A' lambang mereka, yang selalu melakukan hal-hal yang 'berani', 'jantan', 'keren'. Dan karakter-karakter lain, biasanya mengikuti dia dan gagal. Ya itu tadi, others can only follow.
Ada juga Bentoel biru, yang jargonnya 'I Love The Blue Of Indonesia'. Pada saat itu, yang paling seru adalah iklan yang menggandeng gitaris tenar Balawan (I Wayan Balawan) sebagai bintang iklan, yang memainkan suatu komposisi musik (jazz? dengan sentuhan musik tradisional Bali) dengan menggunakan sebuah gitar double. Keren banget lah.
Ingat dengan iklan bersambung Sampoerna Hijau, 'asiknya rame-rame'? Mengisahkan beberapa sekawan yang seringkali terjebak pada situasi yang mengharuskan mereka menunjukkan kekompakan persahabatan yang dikemas menjadi suatu adegan kocak. Kalau nggak salah, dilanjutkan dengan 'nggak ada loe nggak rame' dan sekarang, sekuelnya adalah 'teman yang asik'. Benar-benar presahabatan yang kental.
Lalu Gudang Garam, 'selera pemberani'. Selalu menunjukkan para pria kekar, macho, keren lah pokoknya, melakukan adegan-adegan ekstrim, misal, terjun payung, panjat tebing, atau yang paling saya ingat, menaiki gunung dengan sebuah sepeda trail tanpa tempat duduk. Luar biasa.
Yang paling baru sekarang, iklan jin Djarum 76 'yang penting hepiii', mengisahkan jin usil yang sering mengabulkan permintaan manusia, tapi lebih banyak gagalnya.
Dan favorit saya, adalah iklan Djarum Super, 'my great adventure Indonesia'. Mengisahkan sekelompok petualang yang berkeliling Indonesia, melakukan perjalanan luar biasa dan yang jelas, keren abis.

Oke, lama-lama postingan ini mirip sinopsis iklan rokok (beneran, saya nggak dibayar samasekali untuk nulisin merk-merk tersebut).

Intinya, marketing yang sangat buagus telah dilakukan oleh para perusahaan rokok tersebut, sehingga membuat mindset konsumen pun terbentuk. 'Rokok ini, biar jantan', 'rokok itu biar keren' dan semacamnya lah, mungkin itu yang dipikirkan olehpara konsumen rokok.

Oke, saya nggak mau menuliskan tentang bahaya merokok, kandungan apa saja di dalamnya, serta risiko apa saja yang terdapat pada asapnya, atau tentang kontroversi haram-makruh dalam rokok (yang jelas, rokok tuh nggak diwajibin atau disunnahin dalam agama) karena kita semua sudah pada tahu. Ya kan?
Saya lebih tertarik mengomentari para perokoknya.

Para perokok itu sepertinya sudah ketularan iklan rokok, pada kreatif. Kreatif sekali pas cari-cari alasan untuk membenarkan kegiatan tersebut.

Dibilangi 'merokok dapat menyebabkan bla bla bla...' ada aja yang ngeles begini : 'itu kan kalau merokok DAPAT (dalam artian, dapat rokok gratis), saya kan merokok BELI' (emang ngaruh ya?).

Dibilangi 'berdasarkan hasil penelitian, merokok dapat memperpendek harapan hidup seseorang bla bla bla ...' jawabnya malah gini : 'ngerokok ato gak, ntar juga sama-sama mati' atau 'kakek saya perokok berat, sampai sekarang sehat-sehat aja tuh' atau 'hidup mati kan sudah ada yang ngatur, bukan rokok yang ngatur' (sok agamis banget,,cuih).

Dilibangi kalau 'merokok tuh merupakan pemborosan, coba hitung kalau sehari merokok sebungkus, dalam setahun berapa duit kamu bakar sia-sia bla bla bla' , dengan santainya direspon : 'gak ikut beli aja kok kamu yang ribut' atau 'aku merokok kalo ada yang ngasih' (nista banget, udah ngerokok, minta mulu lagi) atau 'kalaupun ditabung, ntar juga tabungannya dipake buat senang-senang' atau 'merokok kan menambah pendapatan negara melalui cukai' (padahal belinya rokok polos tanpa pita cukai).

Dibilang kalau 'nikotin dalam rokok dapat menyebabkan kecanduan bla bla bla ... ' dijawab dengan santainya : 'hanya inilah yang dapat membuatku sejenak melupakan permasalahan hidup ini' (puitis banget, mungkin karena pengaruh iklan rokok).

Dibilang 'rokok haram karena merusak tubuh bla bla bla ...' malah ngamuk-ngamuk: 'tau apa lu soal agama' atau ngles 'hak asasi dong'(ketauan begonya, mana ada hak asasi untuk melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih).

Yang paling gokil, ketika seorang (oknum) guru, dikritik muridnya karena merokok.
Murid: pak, kok merokok sih, kan merokok dapat menyebabkan IMPOTENSI (ditekankan pada impotensi karena gurunya cowok)
(Oknum) guru : jare sopo, iyo lek mbok nyonyokno [translate: kata siapa, iya kalo kamu sundut (ke organ vitalmu)]

Dan masih ada sejuta sangkalan lain yang hampir pasti pernah Anda dengar.

Pendapat saya sih, memang betul, merokok dapat(bukan merokok karena dikasih, maksudnya merokok bisa saja) membuat orang tampak lebih jantan, lebih macho, lebih 'wah'. Pokoknya sesuai karakter dalam iklan rokok itu lah.
mengapa begitu? Bukan karena saya membela perokok, ini lebih karena penanaman mindset kita, yang sudah sering melihat iklan di tivi, suatu gejala akibat pemaksaan informasi (namun sayangya informasi yang salah atau lebih tepatnya sesat) yang membuat otak kita berpikir bahwa rokok itu identik dengan image yang diusung dalam iklannya.
Melihat orang merokok, maka otak kita otomatis teringat pada betapa keren iklan produk rokok tersebut. Dan hampir otomatis, membuat kita berpikir si perokok itu keren.

Mengapa kita justru tidak ingat bahwa 'merokok dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin' ? Tentu saja karena dalam iklan rokok, posri waktu untuk menampilkan peringatan ini sangat singkat. Lihat iklannya yang berdurasi sekian menit sekian detik, mungkin lebih dari 90% durasinya habis untuk menampilkan image 'jantan, macho, keren'. Lalu bandingkan dengan porsi durasi untuk menampilkan peringatan klasik tersebut. Kalau seingat saya, kebanyakan cuma sekitar sedetik saja, bahkan ada yang hanya sekilas malah. Adilkah?

Oke, bukan salah kita kalau iklan rokok memang bagus. Kesalahan kita adalah, kok mau-maunya otak kita terbujuk oleh keindahan iklan rokok tersebut.

Si perokok, sebenarnya juga bermasalah menurut saya. Mereka ingin tampak keren, macho, jantan, dengan cara merokok.

Dan Anda tahu alasannya?

Tentu saja karena sebenarnya mereka itu nggak terlalu macho, merasa kurang keren, ingin terlihat lebih jantan. Itu adalah masalah kepercayaan diri.
Kalau nggak percaya, coba tanyai mereka. Kebanyakan dari mereka merokok karena penasaran saat melihat orang lain merokok, kok kelihatannya enak, kok kelihatannya keren, membuatnya tampak lebih dewasa (kebanyakan perokok yang menjadi panutan adalah orang-orang yang lebih tua;bapak-bapak, kakek-kakek, om-om, mas-mas). Ada juga yang merokok karena biar terlihat sama dengan teman-teman lingkungannya, biar ikutan keren.

Sebenarnya yang salah adalah pola asuh, saya rasa. Mungkin perlu dikembalikan ke orang tua sebagai pengasuh, karena bagaimanapun lingkungannya, jika orang tua bisa memberi mindset dasar yang kuat, si anak nggak akan mudah terpengaruh. Ingat kasus Sandy balita perokok? Kurang lebih seperti itulah.

Sekali lagi, yang saya ingin tekankan adalah para perokok itu sebenarnya mengalami krisis percaya diri, karena itu mereka membutuhkan suatu properti untuk mendongkrak rasa PD mereka, agar terlihat (atau setidaknya, dia sendiri yang merasa) keren lah, macho lah, jantan lah. . .

Oke saya akui, saya juga pernah merokok (lain postingan deh ceritanya,,,tapi nggak janji) tapi sekarang udah nggak pernah lagi.
Ya soalnya saya udah nyadar, masak merokok buat keren-kerenan doang. Apa memang saya se-cupu itu, sampai-sampai perlu mengisap rokok biar terlihat keren. Nggak juga deh, kalo diliat-liat, gue nggak cupu-cupu amat kok, masih ada kerennya lah dikit-dikit :)

*postingan ini hanya merupakan opini pribadi penulis, bukan bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu atau mempromosikan produk tertentu

8 komentar:

  1. Iya, iklan2 rokok itu emang keren, bahkan yang rokok dangdut itu (lali merek e).. Keren nih penyedia jasa pembuat iklannya..

    Ahh, seharusnya sozis so nice meng-hire mereka *ehh, gak fokus* ;p

    BalasHapus
  2. sejati, emang bikin bangga
    'kau yang sejati..berjuang dengan hati..pemenang sejati..'
    iku ta?

    BalasHapus
  3. SETUJU !!! wes2 asep rokok garai sesak nafas, batuk2, tukaran . HAHAHAH

    BalasHapus
  4. ceprin pengalaman rupane
    yo kandhanono a yayangmu cek gak ngerokok

    BalasHapus
  5. mas aku suka postinganmu ini! sedih deh liat sandy

    BalasHapus
  6. lucu pol tapi,,gae 'panutan' e konco2ku iku ndisek,,,"lambene lucak.."
    hahhaha
    *tawa ironis

    BalasHapus
  7. Halah, Mas, dokter aja yang udah tau gimana gambaran organ paru-paru kalo kena rokok masih aja getol ngerokok, seakan yakin bahwa dia bisa idup lama.
    Apaan yang bikin macho? macul! Macul dosa, bikin orang mangkel aja.
    Kalo dibilang nggak boleh ngerokok malah blg: "Udahlah, nggak bisa, nggak bisa, nggak bakal bisa berhenti."
    Keliatan banget putus asa. Sebel eike kalo liat orang ngrokok, apalagi deket bayinya.
    Nggak tau aja kalo ngerokok bisa membuat kualitas spermanya jadi jelek, ntar kalo nggak punya anak yg disalahin istrinya =="
    Pokoknya (nih, udah keluar kata 'pokoknya'), ngerokok tuh nggak baik. Kalo pengen, sekalian di planet Mars, kan banyak tuh asepnya, dihirup aja sampe puas ==" Atau sekalian ke kutub utara, cocok tuh dingin2 ngerokok, sekalian dimakan juga gapapa (ohmaigaaaaaat, jd emosi).
    Betewe, tulisan yg ini tidak seformal tulisan yang dulu kubaca. Aku suka tulisan yang ini, Mas. Kenyen lah. Cincaaaaay! :)

    BalasHapus
  8. trimakasih sudah mampir.btw iki postingan lawas cha..

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .