Cari Blog Ini

Kamis, 07 April 2011

Endorphin vs Lactic acid; who'll be the winner

Kali ini mbahas sesuatu yang berbau ilmiah dikit lah, buat ganti suasana aja.

Beberapa istilah yang sedikit memelintir lidah ini terkait dengan ilmu biologi (mengobati rasa kangen pada pelajaran SMA). Oh iya, subjek yang dibicarakan di sini, secara khusus adalah kita, manusia.

Sedikit mengulas, intinya endorphin adalah suatu senyawa peptida yang berfungsi sebagai neurotransmitter, dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan hipotalamus, pada saat subjek mengalami suatu perasaan yang menyenangkan. Dapat dibilang, endophrin adalah semacam morfin alami dalam tubuh kita yang membantu mengurangi rasa sakit atau stress.

Sementara Lactic acid alias asam laktat, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh tubuh dalam proses metabolisme anaerob dalam tubuh subjek.
Tunggu dulu, anaerob? Kita kan manusia?, mungkin begitu pikir Anda. Oke, mari kita buka sejenak buku pelajaran biologi kelas 3 SMA mengenai metabolisme. Dalam keadaan tertentu, ketika aktivitas kita membutuhkan pasokan energi yang besar, sementara pasokan oksigen kurang, mitokondria kita juga bisa melakukan proses metabolisme anaerob, mengubah glukosa menjadi energi, dengan asam laktat sebagai produk sampingan. Jadi jangan berkecil hati karena merasa bahwa kita (secara biologis) sama derajatnya dengan bakteri ragi yang dipakai dalam pembuatan tempe atau tape.

Sialnya bagi kita, asam laktat yang menumpuk dalam tubuh membutuhkan waktu lama untuk di'bersihkan' dan selama penumpukan itu, tubuh kita akan merasakan suatu reaksi yang kita sebut pegal-pegal, capek, dan sejenisnya.

Lalu apa hubungannya artikel ini dengan dua jenis benda-dengan-nama-biologis-yang-menyulitkan-lidah tadi?, begitu pikir Anda mungkin.

Naah, berdasar suatu pengalaman saya (nanti insya Allah akan saya posting di lain kesempatan), satu taktik dalam mengalahkan asam laktat adalah dengan endorphin.

Lho kok bisa? Apakah dua jenis benda-dengan-nama-biologis-yang-menyulitkan-lidah tadi akan bertarung satu sama lain?

Tentu tidak. Namun, melihat bagaimana efek yang ditimbulkan masing-masing, yang dapat kita lihat, saling berlawanan, maka dapat kita akali dengan memperhitungkan efek netto.

Rumit ya? Sejujurnya saya juga bingung memikirkan ini, apalagi menuliskannya.

Intinya gini, ketika terjadi timbunan asam laktat akibat dari aktivitas berlebih, maka badan akan terasa pegal-pegal.
Sementara ketika kita mengalami suatu hal yang menyenangkan, maka tubuh akan memproduksi endorphin, yang memiliki efek membantu meredakan stress atau rasa sakit, dan menimbulkan perasaan senang.
Jadi, ketika badan sedang pegal-pegal, lakukanlah sesuatu yang memancing emosi positif (gembira, bahagia, senang, ceria). Misalnya, mendengarkan musik favorit, menonton film lucu, mengobrol dengan orang yang disayangi, atau apapun yang anda suka. Sehingga, rasa pegal akibat penumpukan asam laktat tadi, dapat tercover oleh produksi endorphin yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan perasaan senang. Begitu . . .

Mungkin sebagian dari Anda sudah mempraktekkan tentang hal ini, dan merasakan bahwa taktik ini cukup manjur. Bagi yang belum mencoba, silahkan coba deh.

Ngapain sih, memberikan penjelasan yang rumit tentang hal yang lumrah dilakukan, mungkin begitu pikir Anda.

Tapi nggak ada salahnya kan, sedikit mengintip 'rahasia sains' di balik kejadian sehari-hari?

Lagian, ini kan blog saya, terserah dong mau nulis postingan kayak gimana. Sebagai tamu, silahkan Anda menikmati suguhan saya, nggak usah sungkan :p


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .