Cari Blog Ini

Sabtu, 10 September 2011

Evaluasi Pasca-Ramadhan

Assalamu'alaikum

Ehm, sebelumnya saya minta maaf soalnya sempet lamaaa banget gak nulis lagi. Terhitung terakhir kali nulis, tanggal 11 Agusus, dan baru nulis lagi tanggal 10 September (itu pun baru posting hari ini). Maklum, tanggal merah, lebaran :p

Sebenarnya, malu juga sih, kenapa ketika Ramadhan usai, kok malah produktivitasnya (terutama dalam hal menulis) menurun drastis. Entah karena di rumah jarang online, atau karena sebab-sebab lain, apapun alasannya, ini adalah hal yang nggak bisa diterima. Dan nggak cuma berlaku untuk hal ini, tapi juga hal-hal lain.

Pas Ramadhan, masjid penuh dalam 5 kali waktu sholat wajib. Setelah Ramadhan? Jama'ah kembali menyusut ke jumlah semula. Seolah-olah, saat Ramadhan tuh banyak 'pendatang baru' di Masjid, tapi khusus Ramadhan. Setelah Ramadhan, banyak yang ogah berjama'ah di masjid. Jangankan setelah Ramadhan, di pekan terakhir Ramadhan yang seharusnya ibadah lebih ditingkatkan pun biasanya masjid sudah mulai ditinggalkan jama'ahnya (ada yang mudik, ada juga yang malas; sama-sama 'm').

Pas Ramadhan, tilawahnya ngebut, gak kalah sama Casey Stoner dah. Sehari bisa sampai 1 juz. Sebulan udah khatam. Tapi setelah Ramadhan, memble. Ngebuka Al-Qur'an aja, belum tentu sehari sekali.

Pas Ramadhan, pada berlomba-lomba bersedekah ke panti, ke fakir miskin. Setelah Ramadhan, bakhilnya pulang kampung lagi. Ada peminta-minta, dikasih telapak tangan. Ada masjid yang perlu sumbangan, pasti mikirnya 'ah, udah banyak yang nyumbang kok'.

Pas Ramadhan, rajin ikut pengajian, jama'ah ini jama'ah itu. Setelah Ramadhan, balik lagi kongkow-kongkow di mall, cafe, pinggir jalan (gak elit banget sih)

Suatu ironi (kebanyakan) masyarakat kita, yang menganggap Ramadhan sebagai bulan khusus untuk ibadah. Jadi ibadahnya pas Ramadhan doang. Malu dng kalo gak ikutan puasa. Sungkan kalo nggak ikut tarawih (tapi sholat wajib 5 waktu masih bolong-bolong?). Gengsi kalo gak ikutan nyumbang acara keagamaan. Selain Ramadhan, ya ibadahnya kalo inget doang sih. jangankan ibadah sunnah, ibadah wajib pun kadangkala dikalahkan oleh aktivitas sehari-hari.

Sungguh disayangkan, ketika kita salah memaknai Ramadhan. Sebab Ramadhan usai bukan berarti tadarus, tahajud, puasa dan sedekah usai. Karena sejatinya, Ramadhan adalah sebuah 'training center' bagi kita, bagaimana kita me'maintance' ibadah kita untuk 11 bulan ke depan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa ingat untuk terus meningkatkan kualitas diri kita, terutama dalam hal ibadah dan ilmu. Agar kita nantinya termasuk orang-orang yang memanen buah dari segala usaha kita, dan bukannya termasuk orang-orang yang merugi bagaikan petani yang ladangnya diserbu wereng karena menyia-nyiakan hidupnya.

*sebuah teguran untuk diri saya sendiri dan para pembaca yang merasa tertegur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .