Cari Blog Ini

Selasa, 03 April 2012

Pro-Kontra Kenaikan BBM

Beberapa hari ini media santer memberitakan demo di berbagai wilayah Indonesia terkait rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Bagaimana menurut Anda? Kalo saya sih cuma ngomentarin, mencoba bersikap netral, menengahi dan tidak terbawa propaganda pemerintah maupun emosi pendemo, mencoba menganalisa berdasarkan pemahaman dan pendapat saya sendiri.

- Kata pemerintah (termasuk dalam iklan 'propaganda' Kementrian ESDM, yang 'mengapa harga BBM harus naik') ini demi menyelamatkan keuangan negara. Kata (teriak) pendemo, kebijakan ini tidak berpihak kepada rakyat, karena secara tidak langsung, harga barang-barang akan naik karena semua tergantung pada berbagai moda transportasi (jelas butuh BBM) untuk pendistribusiannya. Transportasi makin mahal=harga barang mahal=dibebankan kepada pembeli (rakyat). Kata saya, baik pemerintah maupun para pendemo maupun rakyat yang nggak ikut demo, harus lebih pinter ngatur anggaran; biar anggaran pemerintah nggak kecolongan untuk pos-pos yang nggak perlu dan nggak kecolongan dikorupsi, biar para rakyat lebih jeli membelanjakan kebutuhan hidupnya dengan penghasilan yang seadanya. Contohnya, buat pemerintah, kurangi anggaran belanja untuk DPR, Menteri, dan aparat pemerintah lain, terutama untuk pos-pos pengadaan gedung baru (padahal gedung yang lama masih tegak berdiri), kendaraan dinas pejabat (padahal sudah punya mobil pribadi), anggaran studi banding ke luar negeri (yang gak jelas dapat ilmu apa), dan pos-pos lain yang bukan kebutuhan pokok untuk menyelenggarakan pemerintahan yang rawan mark-up. Untuk para pendemo, misalnya dengan mengurangi/meniadakan anggaran untuk hura-hura dan rokok, bisa hemat beberapa puluh ribu sebulan.

- Kata analis yang kecipratan unsur politis, naiknya harga BBM adalah untuk menekan konsumsi BBM, dengan kata lain, menahan orang-orang biar nggak boros BBM, karena kalau boros, ya keluar duit banyak. Kata pendemo, kebijakan ini cuma menguntungkan asing, yang tanem modal di sumur minyak RI. Kata saya, cobalah untuk sering-sering jalan kaki, kalo cuma untuk makan ke warteg dekat kosan, nggak perlu lah menstarter motor, padahal cuma berapa puluh meter. Atau galakkan bike to everywhere (as far as u can). Atau bantu para peneliti hasilkan bahan bakar alternatif. Kan lebih baik daripada membayar BBM yang kebanyakan duitnya lari ke perusahaan-perusahaan minyak kapitalis itu.

- Yang gak ikut demo dikatain banci, karena gak berani menyuarakan kepentingan rakyat, diam saja melihat kedzaliman pemerintah. Sementara yang demo, beberapa bertindak anarkis, dan belum tentu juga ngeh dengan ide-ide yang disuarakan, dan belum tentu juga demo dengan ikhlas (ada pengakuan mengenai pendemo bayaran-saya dapet cerita dari temen). Kata saya, demo boleh asalkan : nggak ngeganggu kepentingan umum (jangan bikin macet), nggak anarkis (masak lempar-lempar batu, ngerusak fasilitas umum), dan sampaikan 'suara' dengan lebih smart; bukankah yang demo kebanyakan adalah mahasiswa, orang-orang terpelajar?!

- Kata pendemo, pemerintah nggak sayang sama rakyatnya, karena udah tau biaya hidup tinggi, malah nambahin beban rakyat. Kata pemerintah, ini demi rakyat juga, ngurangi subsidi BBM untuk kepentingan pembangunan (teoritis, belum lagi kalo dikorup), biar rakyat nggak manja. Kata saya, ngapain juga ngarep dimanja terus sama pemerintah, udah tau kalo pemerintah tuh jarang banget bisa diandelin. Kayaknya lebih baik energi dan pemikiran para mahasiswa pendemo dialihkan untuk cari solusi, bukan cuma demo yang hampir-hampir nggak digubris sama pemerintah.

- Kata pemerintah, kenaikan harga BBM dikompensasi dalam bentuk BLT dan program-program lain. Kata pendemo, mana cukup duit BLT buat nyambung hidup. Kata saya, biar cukup buat nyambung hidup ya kerja, mungkin para mahasiswa bisa membantu rakyat kecil mendapat lapangan pekerjaan, pengabdian masyarakat dalam arti sesungguhnya, daripada demo melulu.

Intinya, pemerintah akan selalu mencari cara dan alasan untuk membela diri dan membenarkan kebijakan yang akan diputuskan. (Sebagian) mahasiswa dan ormas-ormas, akan terus turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan rasa keadilan untuk rakyat.
Menurut saya, protes dan kritik terhadap ketidakadilan pemerintah memang harus terus dilakukan, namun lakukanlah dengan cara yang baik, jangan sampai malah merugikan pihak-pihak lain, atau menggunakan kekerasan. Oke, kekerasan mungkin bisa menyelesaikan hampir semua masalah. Hanya saja, dia selalu membawa masalah yang lain. Jadi kalo mau demo ya bolehlah (emang siapa saya, nggak punya hak untuk ngelarang) tapi jangan anarkis.
Dan jangan lupa, yang lebih penting daripada protes adalah dengan mencari solusi. Jika ada ketidakadilan pemerintah yang merugikan rakyat, kita bisa melawan dengan cara cerdik, melakukan aksi yang meminimalisir kerugian yang timbul akibat kebijakan yang tidak bijak tersebut. Ya misalnya, ketika harga BBM naik, mari kita sama-sama coba berhemat dan berkreasi untuk menemukan bahan bakar alternatif, atau ada solusi-solusi cerdas lainnya?

* tulisan ini sepenuhnya mencerminkan opini penulis, tidak bermaksud menyinggung atau menyudutkan pihak tertentu. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung (mungkin ada yang ikut demo, ups..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .