Cari Blog Ini

Rabu, 27 Juni 2012

Epic Rare Phyton Has An Epic Price

Another side story from pameran flona ahad kemaren. Namanya juga pameran flona alias flora fauna, jadi ya nggak cuma stand tanaman yang dipajang, tapi juga hewan. Ada stand ayam serama, ayam ketawa, ayam ekor panjang dari Jepang (entah apa namanya), kucing, anjing, sugar glider, burung hantu, katak pohon, ikan, kelomang dan tentu saja reptil. Kura-kura, biawak, iguana, dan ular. Nggak ada buaya kok, selain munkin buaya darat yang berkeliaran di antara para pengunjung. Dan di salah satu stand reptil, saya melihat ini :



Ini adalah seekor Ball Python (Python regius). Sejenis ular pembelit berukuran relatif kecil, kalo nggak salah, di VCD Reptiles & Amphibians punya saya jaman SD dulu, hewan ini panjang maksimalnya cuma sekitar 1 meter, jarang yang lebih dari 1,5 meter. Kecil kan, kalo dibandingin Boa Constrictor yang (katanya) bisa mencapai 6 meter atau Python reticulatus yang bisa melampaui panjang 10 meter (katanya juga sih). Kenapa dinamakan ball phyton? Apakah karena dia suka main bola? Tentu tidak pembaca sekalian, ular berbeda dengan kucing atau anjing yang suka main bola (tentu bukan bola sepak) atau obyek mainan lainnya. Dinamakan begitu karena ular ini memiliki kecenderungan untuk menggulung dirinya menjadi menyerupai bola ketika merasa terancam. Jangan tanya saya kenapa, mengingat cara ini sepertinya nggak akan membuat predator pergi atau memberikan pertahanan tambahan. Lain halnya dengan trenggiling, armadillo, landak susu, kadal armadilo, atau hewan lain yang memiliki punggung-berduri-tapi-perutnya-lunak; ketika menggulung dirinya, lawan hanya mendapati punggung berduri mereka, sementara perutnya yang tak berduri, aman di bagian dalam 'gulungan' tubuhnya.

Ular kecil ini termasuk salah satu jenis yang cocok untuk peliharaan - setidaknya menurut para pecinta reptil- karena berukuran kecil dan temperamennya relatif jinak. Dan tentu saja karena motif batik khas ular piton (barangkali para pengrajin batik harus membuat batik motif ular suatu saat nanti). Apalagi spesimen yang saya foto di atas, termasuk spesimen yang cukup jarang, rare item. Lihat saja warnanya, batiknya nggak full seluruh badan, malah ada bagian badannya yang putih polos. Kalau menurut saya, malah terlihat seperti ular albino, yang diberi tambalan batik namun nggak lengkap. Istilahnya adalah piebald. Merupakan ciri resesif yang menimbulkan unpigmentasi pada sebagian tubuhnya, sementara sebagian lainnya berwarna normal.

Kalau di alam liar, individu seperti ini justru memiliki kemungkinan besar untuk mati dilahap predator (karena warna putih itu akan mencolok di antara habitatnya, merusak pola batik yang juga berfungsi sebagai kamuflase), lain halnya jika di dunia pecinta reptil. Individu dengan mutasi seperti ini bakalan dihargai lebih mahal dari individu normal. Lihat aja berandol harganya ini.

Mahal kan?

Jadi ingat, di salah satu stand ada juga tanaman yang mengalami mutasi. Yang saya ingat, ada sebatang monadenium dengan warna dominan kuning dengan sedikit corak hijau pada batang dan daunnya. Padahal, monadenium normalnya berwarna hijau tua. Ketika saya tanya harganya, memang nggak sampai jutaan, 'cuma' 25 ribu aja sih. Tapi dibandingin dengan harga normalnya yang 'cuma' 5 ribu aja, ini sudah 5 kali lipat. Apalagi yang 5 ribuan, umumnya nggak cuma sebatang, tapi udah segerombol tanaman tuh.


Well, di dunia penghobi, emang barang yang langka, unik, aneh, emang dihargai lebih mahal daipada yang biasa saja. Sedikit tambahan (tapi agak maksa) untuk nyambung-nyambungin antara tanaman & hewan aneh (dan unik) dengan pemikiran aneh (atau unik), bagaimana dengan kita? Berani berpikir dan bertindak 'out of the mainstream'? Yah menurut saya, sah-sah aja sih melawan pemikiran umum, 'to think outside the box' asalkan tidak menentang aturan yang benar, boleh-boleh aja sih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .