Cari Blog Ini

Kamis, 19 Juli 2012

Tarhib Ramadhan; Kantor Kemenkeu (1)

Kemarin, saya dan rekan-rekan CCPNS lainnya mendapat surat tugas untuk mengikuti tarhib Ramadhan di kantor Kemenkeu. Pak Menkeu sendiri ikut hadir dan memberikan sambutan. Intinya adalah, bahwa ibadah puasa itu mencakup beberapa pilar keimanan yang jika diterapkan oleh umat Islam (di Depkeu khususnya) akan mampu "Mewujudkan Birokrasi Yang Amanah". Berikut poin-poin yang saya dapat dari sambutan beliau :
  • ibadah puasa mengajarkan kita untuk ikhlas : karena nggak ada yang dipamerkan saat berpuasa, karena orang-orang lain juga sama-sama berpuasa. dibanding ibadah lain yang masih memungkinkan munculnya riya', misalnya sholat berjama'ah agar dilihat sama pak ustadz yang anak perempuannya cakep, sedekah di masjid agar dilihat sama temen, umroh atau berhaji agar menjadi terpandang di mata masyarakat, dan lain-lain
  • ibadah puasa mengajarkan kita untuk bersabar : menahan diri untuk tidak makan, minum, berhubungan badan suami-istri, juga menahan amarah dan hal-hal lain yang mengurangi nilai ibadah puasa kita sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
  • ibadah puasa mengajarkan kita untuk bersyukur : ketika berbuka, kita akan sangat bersyukur karena 'berhak' untuk makan-minum dan sebagainya setelah sekitar 14 jam berpuasa, bahkan meski hanya dengan hal yang sederhana, misalnya segelas air
  • ibadah puasa mengajarkan kita tentang ihsan (merasa selalu diawasi oleh Allah : orang yang bersungguh-sungguh berpuasa tidak akan 'curi-curi' kesempatan untuk makan atau minum, meskipun tidak ada orang yang melihat, tidak akan berusaha untuk menelan air ketika berkumur saat berwudhu, karena tahu bahwa meski tidak ada orang yang tahu, tapi Allah Maha Tahu dan Maha Melihat
  • jadi jika kita benar-benar meresapi nilai-nilai mulia dalam bulan Ramadhan, maka hal itu akan terbawa dalam keseharian kita pada umumnya dan juga ke dalam dunia kerja pada khususnya (terutama di lingkungan Kementrian Keuangan)
Kemudian ada materi dari penceramah KH. Dr. Soetrisno Hadi, MA. MSi. Sebelum masuk ke topik utama yang diangkat (lihat pic. di atas), ada beberapa poin yang saya catat dalam ceramah beliau, yakni :
  • untuk menjadi sukses, dunia akhirat, dibutuhkan ilmu, iman, dan amal. jika kurang salah satunya (apalagi kurang dua, apalagi nggak punya samasekali), maka tidak akan seimbang, dan paling banter hanya akan sukses di satu sisi saja. Misal, ilmu tanpa iman, bisa jadi akan membuat seseorang menjadi ilmuan yang pintar namun tak beragama. iman tanpa amal, hanya akan menjadi spiritualis atau sufi atau aliran kejawen, yang mengaku percaya kepada Allah namun mengatakan tidak perlu sholat, puasa atau ibadah lain, katanya "yang penting kan beriman". amal tanpa ilmu, berpotensi menjadi bid'ah
  • Islam menghargai bekerja, dalam Al-Qur'an ada 345 ayat yang menyebutkan tentang bekerja dalam arti luas (kata beliau gitu) dan 62 ayat yang menyebutkan tentang bekerja dalam arti sempit (saya gak begitu ngeh, dan juga belum menghitung beneran. tapi coba deh, ntar pembaca sekalian bantu nyari ayat-ayat tersebut, pasti ada)
  • amalkanlah isi dari Al-Qur'an. Karena Al-Quran mencantumkan segala pengajaran yang baik bagi manusia. Ia bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, namun juga untuk diamalkan
  • beberapa permasalahan di Indonesia : korupsi, terorisme, dan narkotik
  • pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, beliau adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin negara (sementara di zaman ini, ada pemimpin negara, dan hampir tidak ada pemimpin agama. bahkan banyak negara yang terang-terangan mengatakan bahwa agama dan negara harus dipisahkan/sekular, seperti Turki. dan di Indonesia, dikhawatirkan mulai munculnya bibit-bibit pemikir dan aktivis sekuler di pemerintahan dan masyarakat)
  • pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, para sahabat yang ikut aktif membantu pemerintahan, melakukannya semata karena Allah SWT. Membantu Rasul sama dengan membantu menegakkan agama Allah, dan itu artinya adalah ibadah. Pada masa awal pemerintahan era Rasul, para sahabat justru berlomba-lomba mengeluarkan dana pribadi mereka untuk membiayai negara. Misalnya sahabat Utsman bin Affan ra. yang menyumbang 1/3 keperluan untuk perang tabuk, sejumlah 950 ekor unta, 50 (ada yang mengatakan 70) ekor kuda, dan sumbangan pribadi sebesar 1000 dinar (sumber lain mengatakan 1000 dirham) di mana pada waktu itu, 20 dinar bisa mendapatkan 5 ekor unta atau 40 domba. Juga pada era kekhalifahan sahabat Abu Bakar ra., ketika wilayah Hijaz mengalami kelaparan, sahabat Utsman memberikan bantuan dalam rombongan besar 1000 ekor unta yang membawa gandum dan berbagai bahan makanan lainnya.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .