Cari Blog Ini

Kamis, 08 November 2012

Pria Itu (Mungkin) Jelmaan Malaikat Allah

Ardi galau, berkali-kali ia pindah tempat duduk. Kemudian berdiri lagi, berkeliling di area tunggu terminal, sesekali berjalan di antara bis-bis yang sudah tiba di terminal, melihat kalau-kalau bis yang ditumpanginya sudah tiba di terminal. Sudah pukul 6.30, artinya sudah setengah jam dari jadwal yang ditetapkan dan bis yang akan dinaikinya belum datang juga. Kembali ia duduk di salah satu kursi kosong di terminal.

Pikirannya gamang, masih terngiang di telinganya, suara tangis ayahnya tadi pagi, ketika mengabarinya bahwa neneknya telah tiada. Belum pernah dia mendengar ayahnya menangis seperti itu, dan itulah yang membuat pikirannya seharian ini kalut. Ia ingin segera pulang dan bertemu ayahnya. Hal inilah yang membuatnya memaksakan diri untuk pulang kampung secara mendadak.
Jumat malam artinya akhir pekan, dan harga tiket pesawat melambung bagai disuntik helium, tentu tak mampu ia membeli tiket pesawat yang hari itu, harga paling murah saja tinggal selisih 100 ribuan dari gaji bulanannya. Tiket kereta api pun telah ludes, karena sudah dipesan sejak jauh-jauh hari oleh para calon penumpangnya. Maka pilihan terakhir adalah bus malam, meskipun memiliki risiko mengalami kemacetan yang berakibat molornya waktu perjalanan.

Ardi meraba sakunya. Sisa duit di kantongnya hanya 40 ribuan, sudah habis dipakai untuk membeli tiket bis seharga 230 ribu rupiah, itupun dengan 70 ribu hasil memalak temannya sepulang dari kantor tadi. Sisa uang di ATM nya tak sampai 100 ribu, maka sudah tidak bisa tarik tunai lagi. Beruntung, kebetulan ada temannya yang melintas di dekat mesin ATM. Tanpa basa-basi, Ardi meminta pinjaman uang, dan beruntung temannya tadi masih lebih bagus kondisi finansialnya, dan bersedia meminjaminya uang 70 ribu. Dikurangi 30 ribu untuk membayar kekurangan harga tiket yang dibelinya siang tadi, hanya tersisa sekitar 40 ribu di kantongnya. Ongkos bis dari terminal Surabaya sampai rumahnya di Malang 20 ribu rupiah, dan tanpa memiliki bekal makanan, sisa 20 ribu itulah yang harus digunakannya dengan bijak untuk keperluan di perjalanan nanti.  
Sebenarnya bisa saja dia meminta subsidi transferan pada ayah atau kakaknya, hanya saja dia tak ingin merepotkan keduanya. Ayahnya sedang berkabung, sementara kakaknya sedang ada ujian, sehingga ia bungkam saja mengenai rencana pulang dan kondisi ATMnya yang tengah kritis.

Sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada wajah yang dikenalnya di antara ratusan calon penumpang bus di terminal. Sedikit kecewa, karena ia tak mendapati satupun orang yang dikenalinya. Tentu saja, ini bukan tanggal favorit bagi teman-teman sekantornya untuk pulang kampung, kebanyakan temannya memilih pulang kampung pekan depan, karena ada dua tanggal merah pekan itu. Kali ini dia merasa kesepian di tengah ramainya suasana terminal. Setidaknya sampai ada suara yang menyapanya.

'Pulang kemana Dik?', seorang pria muda dengan jaket kulit warna hitam menyapanya. raut mukanya ramah dan tampak bersahabat.
'Surabaya Mas', sedikit kaget Ardi menjawab, sembari mengingat-ingat wajah yang tampak asing tersebut. 'Sampean ke mana mas?'
'Semarang', jawab pria tersebut, senyumnya seolah seorang yang sudah kenal lama saja. Dan itu membuat Ardi semakin bingung karena ia tak berhasil mengingat siapa orang itu sebenarnya. Akhirnya ia berpindah duduk ke sebelah pria tersebut.
'Maaf mas, aku nggak inget samasekali ke Sampean, siapa ya?', tanyanya jujur, tanpa bermaksud SKSD.
Orang itu tersenyum dan malah balik bertanya, 'Kamu di kosan nomor 30 kan?'
'Kok tahu Mas, berarti sampean temennya Mas Heru juga? Atau malah satu kosan juga?', Ardi makin penasaran.
Si orang misterius mengangguk.
'Maaf Mas, saya beneran nggak tahu sama Mas. Saya Ardi', Ardi mengulurkan tangannya dan langsung disambut orang tersebut. 'Dodo', jawabnya sambil tersenyum. 'Saya emang jarang di kosan, wajar sih kalau kamu nggak tahu siapa saya, tapi saya pernah tahu kamu, temannya si Gatut kan? Aku di kamar nomor 6'.
'Iya Mas, wah, jadi merasa bersalah nih, masak sampai nggak kenal sama temen sekosan', Ardi salah tingkah jadinya. Gimana enggak, masa sama orang satu kos nggak kenal, eh malah dia yang menyapa lebih dulu.
'Magang di mana kamu Dik? Saya di gedung B lantai 4', kata pria itu lagi. Lagi-lagi membuat Ardi terkejut, berarti  dia juga sekantor dengan orang ini, dan dia belum pernah sekalipun melihatnya. 'Saya di lantai 4 gedung utama Mas, dan maaf banget Mas, saya beneran nggak pernah ngelihat Mas di kantor juga', Ardi makin kikuk.
'Hahahaha, wajar lah, saya sering dinas luar, di kantor jarang-jarang, di kosan juga jarang, tapi saya cepet hafal muka orang, makanya saya tahu kamu', jawab pria itu sambil terkekeh.
'Saya malah sebaliknya Mas, susah hafal kalo nggak sering ketemu, hehehe', Ardi terkekeh, sedikit tersindir juga karena kemampuannya menghafal muka orang memang payah, membuatnya seringkali lupa dengan orang-orang yang pernah dijumpainya.
'Ini angkatan kamu sama Gatut, masih magang ya? Kalau pemberkasan sudah kan?', tanya orang itu lagi, kali ini menyangkut topik sensitif bagi Ardi.
'Iya Mas, udah pemberkasan tapi masih magang', jawabnya pendek. Ia tak suka kalau sudah membahas masalah magang ataupun pengangkatan CPNS.
'Berarti gajinya masih yang di bawah UMR itu ya? Hahahaha. Nggak pa pa, semua dulu juga gitu kok. Anggap saja perjuangan sebelum pengangkatan, tirakat dulu', orang itu mencoba membesarkan hati Ardi. Ardi hanya sedikit menyunggingkan senyum, sedikit dan dipaksakan.
'Eh berapa tiket ke Surabaya?' tanya orang itu, mencoba mengalihkan topik. Ia menangkap tanda ketidaksukaan Ardi pada pembicaraan barusan.
'230 Mas. Kalo ke Semarang?', Ardi balik bertanya.
'180 Dik, nggak semahal ke Jatim, jadi lumayan bisa pulang tiap pekan', jawab pria itu santai.
Ardi ber 'oooh'. Baginya,  180 ribu pun masih terasa mahal. Kalau bukan karena ingin segera menemui ayahnya, tentu Ardi tak akan bela-belain pulang mendadak, naik bis lagi, yang harga tiketnya untuk sekali jalan bisa dipakai untuk naik kereta ekonomi 2 kali pualng pergi.

Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa bis jurusan Surabaya sudah tiba dan siap diberangkatkan. Ardi bergegas bangkit. 'Mas, bisa saya udah datang ini, saya duluan ya', pamitnya pada orang itu.
'Ati-ati ya Dik', orang itu menjabat erat tangan Ardi. Ada sesuatu di telapak tangan itu yang ditempelkan pada tangan Ardi. 'Buat ongkos bis', ucap pria tersebut dengan tersenyum.
Ardi melongo, tak sanggup berkata-kata, kaget karena tiba-tiba mendapatkan salam tempel dari seseorang yang baru saja dikenalnya.
'Udah buruan, bisnya keburu berangkat ntar Dik', seruan pria itu menyadarkan Ardi.
'Tapi Mas, saya . . .', Ardi bingung mau berkata apa. matanya bergantian memandang pria tersebut, lalu ke uang yang kini berpindah ke genggaman tangannya, lalu kembali ke pria tersebut. Logikanya masih sedikit sulit mencerna kejadian barusan.
'Udah, bawa aja. Ati-ati ya Dik. Salam buat keluarga di rumah', ujar pria itu sambil menepuk pundak Ardi, 'Bis saya juga udah datang tuh', ucapnya lagi sembari melangkah ke arah bis jurusan Semarang yang baru saja memasuki area terminal.
'Matursuwun Mas', kata Ardi buru-buru menyusul kemudian menjabat tangan pria itu. Pria itu membalas dengan senyuman. Ardi lalu bergegas berlari ke arah bis yang hendak ditumpanginya.
Sesekali ia menoleh ke belakang, mencari pria tadi di antara kerumunan penumpang bis ke arah Semarang lainnya, namun tidak didapatinya pria ramah yang memberinya ongkos pulang kampung tadi.

Ardi bergegas mencari tempat duduknya di bis, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi bis. Perlahan dibukanya genggaman tangannya lalu diambilnya salam tempel dari pria tadi. Dihitungnya, 2 lembar ratusan ribu dan selembar lima puluh ribuan. Berarti dua ratus lima puluh ribu, pas untuk mengganti ongkos bis jakarta-Surabaya ditambah Surabaya-Malang.
'Ya Allah. . .pertolonganmu sungguh datang dari arah yang tidak disangka-sangka', ucapnya lirih. Bibirnya komat-kamit mengucap syukur, matanya khusyuk terpejam. Dalam hati ia menduga, mungkin saja pria tadi adalah jelmaan malaikat Allah yang ditugaskan untuk membantunya. . .
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

2 komentar:

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .