Cari Blog Ini

Selasa, 08 November 2016

Umat Islam (Sungguhkah) Tidak Toleran (?)

Pak Gubernur DKI Jakarta yang terhormat beserta para pendukungnya, mungkin kalian merasa tidak nyaman dengan demo 4 November kemarin. Namun pernahkah kalian berpikir, betapa tidak nyamannya kami ketika dakwah yang merupakan salah satu kewajiban dalam agama kami, dianggap oleh kalian sebagai kebohongan dan pembodohan?Di sini saya tidak bermaksud menggurui, apalah saya yang hanya lulusan sekolah negeri, nggak pernah sekolah di sekolah Islam seperti pengakuan yang sangat diragukan oleh masyarakat Bapak Gubernur.
Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa negara kita ini didasarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa, sebagaimana sila pertama Pancasila, di mana setiap orang berhak menganut agama kepercayaannya dan menjalankannya. 
Di sini kami, umat muslim hanya berusaha menjalankan agama kami sebaik-baiknya. Para Ulama hanya menjalankan kewajibannya untuk mengajarkan apa yang harusnya kami lakukan, bukan membodohi dan membohongi umat seperti yang Anda katakan.
Okelah bahwa belum semua aspek kehidupan muslim kami terapkan, namun ketika kami berusaha menegakkan ajaran kami dalam hal pemilihan pemimpin, mengapa dihalang-halangi?

Dengan dalih bahwa "agama tak usah dibawa-bawa dalam politik". Hey, tahukah Anda, bahwa agama kami itu sangat lengkap, memberi panduan dalam urusan dunia akhirat, dari bayi baru lahir sampai mayat baru dikubur, dari membahas pernikahan dan percintaan suami-istri, sampai perang dan perlakuan terhadap tawanan, dari urusan silaturahim sampai memilih pemimpin. Maka justru omong kosong jika ada yang berkata bahwa "urusan agama tak usah dibawa-bawa dalam politik". 

Justru, ketika orang berpolitik tanpa beragama, jadilah politik yang hina. 
Berpolitik tanpa beragama, maka muncullah perilaku menjelek-jelekkan lawan politiknya tanpa bukti, hanya berdasar fitnah belaka. Jika beragama, tentu faham bahwa fitnah itu dosa, baik kepada lawan politik maupun siapa saja.
Berpolitik tanpa beragama, maka muncullah perilaku korupsi dan sejenisnya, mengutamakan keuntungan sendiri tanpa memperdulikan moral dan kerugian negara. Jika beragama, tentu faham bahwa mengambil yang bukan haknya itu dosa, apalagi aparat negara yang sudah digaji namun masih minta lagi melalui jalan yang tidak halal.
Berpolitik tanpa beragama, maka muncullah janji-janji palsu saat pilkada, menjanjikan utopia namun belum genap masa jabatannya, kelihatan kalau omongannya cuma dusta semata. Jika beragama, tentu faham bahwa Allah sungguh membenci orang yang perbuatannya tak sesuai dengan perkataannya, yang berjanji begini begitu eh malah dengan penuh kesadaran mengingkatinya.

Memang benar bahwa banyak orang yang mengatasnamakan agama, namun gagal menjalankan ajaran agamanya, namun bukan berarti ajaran agama kami lalu salah dan harus dinafikkan seluruhnya. Ajaran Islam sudah sempurna, namun umat Islam lah yang tak sempurna. 

Sebagian menafsirkan 'awliya' sebagai 'pemimpin', sebagian lagi menafsirkan sebagai 'teman dekat/setia', namun intinya sama, bahwa dalam agama kami, dilarang menjadikan kaum kafir sebagai 'awliya', apapun maknanya. Kalau sebagai teman setia saja tidak boleh, apalagi pemimpin.
Islam bukannya mengekslusifkan diri, namun kami mengajarkan pada umat untuk memilih yang terbaik dari golongan kami sebagai pemimpin.
Sebagian menganggap umat Islam tidak toleran, tapi hey, kalau memang demikian adanya, tentu negeri ini berbeda dengan saat ini.
Kalau umat Islam tidak toleran, maka hari libur akan jatuh pada hari jumat, karena Jumat adalah hari raya kami setiap pekan, bukan pada hari Ahad, di mana sebagain pemeluk agama lain sedang beribadat.
Kalau umat Islam tidak toleran, maka hukum syariat akan diterapkan di mana-mana, bukan cuma di daerah khusus seperti Nangroe Aceh Darussalam.
Kalau umat Islam tidak toleran, maka tak akan ada libur nasional untuk perayaan keagamaan lain, seperti di negara mayoritas non-muslim yang tidak meliburkan hari raya umat Islam.
Kalau umat Islam tidak toleran, maka tak akan ada ceritanya keragaman budaya dan agama, karena semua dipaksa untuk sama.

Tapi nyatanya, umat Islam sungguh toleran, bahkan kadang cenderung kebablasan dan abai.
Toleransi artinya tidak mengganggu, bukan ikut-ikutan hari rayamu.
Toleransi itu menghargai, bukan menghakimi tafsir kitab suci kami tanpa ilmu
Toleransi itu memahami perbedaan, tanpa memaksakan untuk menyamakan masing-masing ajaran agama dengan bingkai pluralisme yang mengatakan "semua agama sama saja, bukan?"

Lalu muncul seorang Gubernur yang tidak mengimani Al-Qur'an dan ajaran Islam, tiba-tiba berbicara mengenai salah satu surat dalam Al-Qur'an dan menanggapnya sebagai alat untuk membantu kebohongan dan pembodohan.
Sekarang siapa yang tidak toleran, coba?

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah kepada kita agar dapat istiqomah dalam jalan yang lurus, sebagaimana diajarkan dalam agama kita. Aamiin

Dan kepada Pak Gubernur, sebaiknya Anda lebih menjaga perkataan Anda, karena dalam agama kami, setiap perkataan dan perbuatan akan ada balasannya. Tapi tentu saya tidak memaksa, karena ini berdasar keyakinan kami. Kalau Bapak tak percaya, ya sudah tak mengapa, toh Bapak katanya pernah sekolah di sekolah Islam, tentu lebih paham daripada saya yang awam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .