Manado Jo

Pada Tanggal 23-27 September kemarin, penulis sempat melaksanakan DL ke kota ujung utara Pulau Sulawesi untuk melakukan asistensi SOP ke KPPBC TMP C Manado dan KPPBC TMP C Bitung. Well, seperti sebelumnya, penulis nggak minat nulisin tentang pekerjaan di blog ini (untuk hasil kerjaan terkait SOP, ada di blog kantor). Jadi di sini, penulis hanya akan menuliskan review perjalanan selama di sana. Check it out. . .

- Ketika pesawat mendekati Bandara Sam Ratulangi, terlihat buanyak sekali pohon kelapa di daerah ini. Maklum, wilayah ini mrupakan salah satu daerah utama penghasil kopra di Indonesia.
pemukiman dan perkebunan kelapa saling bersandingan
aerial view, kelapa di mana-mana
di latar belakang, berhektar-hektar kebun kelapa (lagi)

- Di pinggir jalan, banyak terdapat halte ala Trans Jakarta (nama angkutannya trans Kawanua), tapi anehnya, selama 5 hari di sana, penulis nggak mendapati satupun bis dengan tulisan "Trans Kawanua". Dan banyak di antara halte tersebut yang terlihat kurang terawat, meski di beberapa tempat masih dipakai para penumpang angkutan umum. 
salah satu halte trans Kawanua di sudut kota Manado
Sebaliknya, mikrolet/angkot di sini banyak banget. Bentuknya macam angkot kebanyakandi Jakarta dan di Malang, mobil sekelas Carry, namun formasi tempat duduknya berbeda. Kalau di Jakarta/Malang, formasi duduknya berhadapan, deret memanjang bisa diisi 6 penumpang, dan sisi pendek diisi 4 penumpang (masih bisa ditambah posisi ngernet dan bangku kecil menghadap belakang). Di sini, penumpangnya menghadap depan semua, tiga baris horizontal (nggak berhadapan); paling belakang 3 kursi, tengah dan paling depan, masing-masing 2 kursi, total bisa menampung 7 orang. Angkot di sini kebanyakan full music, speakernya kayak orang kondangan di kampung. Dan kebanyakan diberi aksesoris blink-blink kayak lampu tujuh belasan; bahkan ada yang diberi lampu disco XD
Mungkin karena angkotnya relatif nggak uyel-uyelan, serta bisa badisco di angkot, jadi hampir selalu terlihat penuh.
torang samua bisa badisco basama di angkot jo
Dengan angkutan umum yang nyaman dan banyak (serta populasi kotanya nggak sepadat Jakarta), maka nggak heran kalau di sini pengendara motor agak jarang. Pejalan kaki yang mau nyebrang jalan pun jadi lebih nyaman dan aman daripada di Jakarta.
Meski mungkin bukan merupakan moda transportasi utama, populasi kuda di daerah Manado-Tondano lumayan banyak. Ada banyak sekali delman/dokar di daerah Tondano (saya lupa tepatnya daerah apa), dan kerennya lagi, ada banyak kuda penarik delman di sana yang macho banget. Postur lehernya tegak, nggak seperti kuda penarik delman kebanyakan. Mungkin kuda itu dulunya kuda pacuan yang sudah nggak terlalu kencang larinya, namun masih cukup perkasa untuk menarik delman. Banyak baliho di pinggir jalan yang menginfokan tentang adanya lomba berkuda dalam memperingati HUT ke 49 Provinsi Sulut, juga banyak kuda yang digembalakan di daerah padang rumput di sekitar Danau Tondano. Jadi asumsi tadi rasanya masuk akal. Sayang penulis nggak sempet dapat foto kuda macho tersebut.

- Kepolisian setempat nampaknya sedang gencar-gencarnya menggalakkan gerakan anti mabuk dengan tagline "brenti jo bagate" seperti yang pernah diulas oleh Hawkson di sini. Tulisan-tulisan ini dipajang di seluruh penjuru kota, dengan berbagai media (utamanya baliho, namun ada juga yang dalam bentuk tulisan di dinding (termasuk mural nggak ya? cuman tulisan doang sih). Yang agak unik menurut penulis, di salah satu sudut kota (entah, apa di bagianlain juga begini), ketika di tempat lampu merah, diputarkan rekaman suara berisi anjuran untuk menjauhi mabuk. "...kalo bawa oto deng motor, jang ba gate, kalao ba gate, jang bawa oto deng motor..." (kalo bawa mobil/motorjangan mabuk, kalo mabuk jangan bawa mobil/motor). Di berbagai toko swalayan (semacam Alfa/Indomart), miras dijual 'cukup' bebas, pun di berbagai cafe dan tempat makan. Kata salah satu pegawai KPPBC Manado, tiap pekan pasti adaaa aja kasus kecelakaan gara-gara pengemudi mabuk. Hmm, nggak heran . . .
satu dari sekian banyak baliho sosialisasi gerakan anti mabuk

- Ada beberapa makanan khas Manado yang sempat penulis cicipi, tapi yang paling berkesan adalah (ikan) woku, yakni ikan yang dimasak dengan bumbu berwarna kuning, yang kerasa banget rempah-rempahnya (pedasnya juga kerasa sih). Terus ada nasi kuning dengan abon ikan dan nike (semacam perkedel/bakwan ikan), es kacang merah, nasi goreng cakalang (nasi goreng biasa sih, tapi dikasih cakalang/tongkol). Beberapa lainnya, nggak sempet nyobain (bubur tinutuan, mi cakalang, paniki alias kelelawar juga banyak dijual dimana-mana, tapi kayaknya nggak halal deh). Untuk urusan oleh-oleh, di Manado cukup mudah mencari yang khas (jika dibandingkan dengan di Jayapura kemarin). Ada bagea (kue dari tepung sagu, dibungkus daun lalu dibakar), halua (semacam kue gula-kacang, terbuat dari kacang kenari dan gula aren), klappertart (entah ini masuk jenis apa, yang jelas bawahnya tuh vla yang agak padat, dengan potongan daging kelapa muda, bagian atasnya punya tekstur agak mirip roti, ditaburi keju, kismis dan potongan cari), dan manisan buah pala.
Sebenarnya penulis kepengen mengunjungi pasar Tomohon. Itu loh, yang jualan aneka hewan ekstrim untuk dimakan. Kalo anjing/babi, mungkin cukup umum di sini, tapi ada juga ular piton, kelelawar, tikus hutan, bahkan kucing. Sayangnya, kata pegawai di sana, pasar itu cuma buka pagi hari (kan ngantor dulu) jadi nggak sempet ke sana deh (kalo mau tau cerita dari yang pernah ke sana, intip di sini).

- Ikan purba coelacanth nampaknya akan dijadikan ikon daerah Sulut, menyusul penemuan ikan coelacanth di perairan Manado beberapa tahun yang lalu. Setidaknya, di pantai Malalayang ada sebuah patung ikan coelacanth menghadap ke laut, dan executive lounge di Bandara Sam Ratulangi menggunakan nama coelacanth.

Sepulang jam kerja, torang sempat diajak jalan-jalan ke beberapa tempat di daerah sini. Ada Pantai Malalayang yang lumayan bagus untuk lihat sunset, ada Bukit Mahawu dengan kapel dan amphiteater di puncaknya, juga Danau Tondano yang merupakan danau terbesar di Sulawesi Utara. Mungkin untuk postingan tempat wisata di Manado akan menyusul ya. Hehe

sunset di Malalayang
nampak Gunung Lokon dan Kota Tomohon dari puncak Bukit Mahawu
Kapel di atas bukit
ini bukit yang lain, lupa namanya
Danau Tondano, sejuk euy (700m dpl)
*Beberapa catatan lain dari perjalanan ke Manado:

- hotel di sini ful mulu (panulis ganti hotel 3 kali selama 4 hari di sini). Usahakan kalau mau ke sini, pesan jauh-jauh hari dan langsung pesan untuk sekian hari (lamanya kegiatan di sana)
hotelnya Pak Rusdi Kirana
view belakang Hotel Vina

- Mengingat mayoritas penduduk di sini beragama Kristen atau Katolik, maka (sama halnya dengan di Papua) wajar rasanya kalau di sini banyak sekali gereja. Tiap berapa ratus meter, ada gereja. Beberapa di antaranya memiliki arsitektur atap berbentuk kubah (sempet ketipu xp)

- Bahasa yang digunakan penduduk sini adalah bahasa Manado. Dialeknya mirip-mirip dengan di Papua dengan banyak kata yang disingkat-singkat (jang=jangan, deng=dengan, torang=kita orang/kitorang), tapi ada kosakata yang khas Manado (imbuhan ba untuk kata kerja, kamu=ngana). Di sini ada channel tv lokal, yaitu Manado TV yang isinya lagu bahasa Manado.

*Insya Allah bersambung

Komentar