Perbandingan yang Nggak Sebanding

Seringkali ketika kita melihat ke orang lain yang lebih 'sukses' dari kita (tentu, sukses itu relatif), maka refleks akan kita bandingkan dengan keadaan kita yang 'kurang/belum sukses'., atau dengan kata lain, gagal. Padahal pola pikir seperti itu sebenarnya kurang tepat.
Ketika kita memikirkan keberhasilan pencapaian orang lain dan membandingkannya dengan kegagalan pencapaian kita, maka sebenarnya itu bukanlah perbaningan yang pas. Coba lihat tabel berikut ini:
tabel korelasi pencapaian target
Seringkali kita membandingkan betapa gagalnya diri ini, betapa rendah pencapaian diri, dibandingkan dengan pencapaian orang lain yang lebih tinggi. Dan imbasnya, bisa jadi itu menimbulkan keirian terhadap orang yang lebih 'sukses' dari kita. Padahal, kalau mau adil, coba bandingkan dulu, seberapa besar perjuangan yang telah kita lakukan dengan perjuangan si sukses tersebut. Apakah perjuangan kita memang telah maksimal? Biasanya ada pencapaian seseorang berbanding lurus dengan ikhitar yang telah dilakukan. Bukankah begitu?
maka ketika kita melihat betapa 'gagal' diri ini dalam mencapai target, betapa rendah pencapaian yang telah kita buat selama ini, sebelum kita su'udzon dan ngiri dengan orang lain, coba kita cek dulu parameter perjuangan kita. Sudah maksimal kah? Atau masih minimal, sehingga hasilnya pun belum optimal?

*terinspirasi dari kajian Selasa siang, Masjid KP DJBC

Komentar