Cari Blog Ini

Jumat, 11 Juli 2014

Hati Mana Hati?

Saya heran dengan pola pikir beberapa orang yang nggak tergerak hatinya ketika melihat tragedi kemanusiaan di Palestina, Syiria, Mesir, Iraq, Libya, Sudan, dan beberapa negara lainnya. Jujur saja, sekarang coba kita kesampingkan dulu dalil-dalil dan sejarah konflik tersebut. Lupakan dulu, karena kebanyakan orang yang tidak peduli, tidak suka bawa-bawa agama. Oke coba kita turuti sejenak. Kesampingkan dulu faktor agama dalam konflik-konflik berdarah tadi. Kita bicara realita saja.
Palestina, diserang oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai bangsa israel, yang menduduki tanah mereka, meratakan rumah-rumah mereka dengan bulldozer, menghujani pemukiman mereka dengan bom, dan menembaki warga sipil dengan senapan mesin. Palestina, bangsa yang tanahnya dijajah, perumahannya diratakan dengan tanah, yang instalasi umumnya dihancurkan, yang hanya bisa membalas dengan lemparan batu dan roket homemade. Sekelompok orang yang menamakan dirinya bangsa israel, yang memiliki puluhan atau ratusan drone, pesawat F-16 dan F-15, tank-tank merkava, dan pasukan tempur yang konon merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Melawan Palestina, yang melawan penjajahnya dengan apa yang mereka bisa, tidak memiliki tentara hanya sayap militer salah satu faksi pemerintahan. Apakah ada yang salah jika bangsa yang sebelumnya memiliki tanah mereka sendiri, kemudian tanah itu dihuni oleh tamu yang awalnya menumpang, namun lama-kelamaan semakin kurang ajar dan menindas tuan rumah, kemudian si empunya tanah bangkit melawan? Apakah salah, jika pihak yang terjajah melawan si penjajah dengan segala aset yang mereka miliki, termasuk pemuda yang hatinya terpanggil untuk jihad, meski hanya dengan batu dan kayu? Apakah salah, jika salah satu faksi pemerintahan di pihak yang terjajah kemudian memiliki sayap militer untuk melawan penjajah, yang rasio tentara dibanding warga sipilnya merupakan salah satu yang paling tinggi di dunia? Apakah salah, jika pihak yang terjajah ingin untuk merdeka dan mengusir penjajahnya dengan kekerasan, karena penjajahnya itu pun mengatakan tak ada jalan damai di antara keduanya?
Jika ada yang menganggap itu salah, mungkin dia memang memiliki jiwa penjajah. Mungkin dia juga tidak pernah baca sejarah Indonesia, yang juga melawan penjajahnya dengan bambu, batu, molotov, dan kekuatan pemuda. Mungkin dia juga memprotes kemerdekaan Indonesia, karena direbut dengan perjuangan yang berdarah-darah. Mungkin juga dia memang tidak pantas berada di Indonesia, karena dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pada alinea pertama menyebutkan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Hanya dengan logika kebangsaan dan kemanusiaan, harusnya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa penjajahan orang-orang yang menamakan dirinya israel terhadap banga Palestina, harus dihapuskan, tanpa kompromi, titik.
Hanya orang yang nggak punya hati, saya rasa, yang membela dan membenarkan tindakan kaum penjajah israel terhadap bangsa Palestina. Hanya orang yang nggak punya hati, saya rasa, yang tidak tergerak sedikitpun melihat kesengsaraan bangsa Palestina.
seeing them massacred and still have no symphaty? u have no heart, dude


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .