Cari Blog Ini

Selasa, 30 Juni 2015

Kaum Luth Era Modern

Sebenarnya saya agak segen nulis tema ini, buka karena takut dicaci oleh para pendukungnya atau apa, tapi jujur saja saya jijik dengan fenomena ini. Saya hanya bisa berharap para pelakunya bisa segera mendapat hidayah dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar, aamiin.

Jadi ini bermula dari seorang teman yang memposting tentang tren di medsos beberapa hari lalu, yaitu foto dengan Warna Pelangi dan Tagar #.LoveWins. Awalnya saya nggak ngeh (dan nggak banyak ngecek medsos juga sih), ternyata yang dibahas adalah tentang "kemenangan" kaum LGBT (males njelasin kepanjangannya, gilo) karena pada tanggal 26 Juni 2015 kemarin, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengeluarkan putusan bahwa pasangan sejenis di seluruh negeri (Amerika) kini memiliki hak untuk menikah.  Naudzubillah . . .
family itu ayah-ibu-anak, bukan ayah-ayah atau ibu-ibu
Putusan yang diambil dengan perbandingan suara lima setuju berbanding empat menolak (dari 9 orang hakim) ini menjadi penanda bahwa penikahan sejenis akan sah secara hukum nasional di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Dan di dunia maya, dukungan atas putusan Mahkamah Agung tersebut ditunjukkan dengan tagar seperti #LoveWins, #LoveIsLove, dan #EqualityForAll. Beberapa brand ternama juga menyatakan dukungannya, bahkan Facebook ikut serta sebagai satu dari sekian banyak entitas bisnis yang mendukung putusan legalisasi pernikahan sejenis tersebut dengan mempersembahkan satu tools khusus yang dinamakan "Celebrate Pride", fitur yang memungkinkan penggunanya mewarnai foto profil mereka dengan warna-warni pelangi. (sumber di sini dan pertama kali dipublikasikan di sini)


Yang merayakan? Tentu saja mereka para versi modern dari kaum Nabi Luth. Dan orang-orang yang sekedar ikut-ikutan tren menggunakan profil pict warna warni, tanpa tahu apa maknanya. Saya membayangkan aja sih, bagaimana reaksi orang-orang awam ini nantinya saat mereka mengetahui bahwa tindakan yang tidak mereka sadari itu,adalah bentuk dukungan terhadap kaum LGBT. Hiiii. . .

Saya anti terhadap perbuatan LGBT, karena sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa perbuatan ini dibenci oleh Allah SWT. Semua pasti sudah tahu kisahnya, kan? Terhadap orang-orang elaku LGBT, saya tidak membenci mereka, jsutru kasihan sebenarnya (saya juga punya seorang teman yang terindikasi seperti itu). Kasihan tapi ngeri juga, jadi sejauh ini baru bisa mendoakan supaya mereka mendapatkan hidayah dari Allah dan segera kembali ke jalan yang lurus (shirath al mustaqim; termasuk juga kembali ke jalan "straight"). 

Bicara soal bendera pelangi, sejarahnya bisa dibaca di sini. Males buka link? Kurang lebih gini penjelasannya: Varian paling umum memiliki strip horizontal 6 warna yaitu: merah, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu; sebagaimana warna pelangi, dengan masing-masing warna memiliki makna tersendiri. Desain awal oleh Gilbert Baker pada 1978, memiliki 8 strip dengan warna pink di bagian paling atas, dan warna turqoise di antara hijau dan biru.

Masih bicara tentang bendera mereka, saya jadi ingat tentang beberapa tokoh yang familiar dengan dunia anak-anak, namun di sisi lain ditengarai diselipi oleh propoganda pro-LGBT. Misalnya, tokoh spons kuning yang "bersahabat (kelewat) akrab" dengan bintang laut pink (dan pose khasnya yang menunjukkan 'bendera' LGBT; anak meme pasti sudah hafal). Tidak menutup kemungkinan memang ada agenda-agenda oleh para invisible hands untuk "mendidik" generasi muda yang pro, atau setidaknya toleran terhadap LGBT. So please, parents, don't let our children watch this kind of cartoon anymore.

when you see it . . .

Atau film remaja tahun 2000-an yang posternya agak mirip warna pelangi . . . (jujur saya nggak pernah nonton film ini).
Cinta: "Jadi, Rangga, kamu . . . . ???" Maka judulnya pun seharusnya Ada Apa Dengan Rangga
Well, intinya, satu, janganlah kita mengikuti tren-tren yang kita sendiri nggak tahu sejarah dan asal-usulnya. Di satu sisi, itu membuat kita Anda (sori, kita? elu aj kali, gue nggak hobi ikutan tren kok) bakal terlihat "trendy", mengikuti sesuatu yang sedang booming. Di sisi lain, Anda bisa terlihat bodoh karena tidak memahami apa yang sedang Anda lakukan. Kedua, jadilah straight, guys and gals. Kita ada karena orang tua kita straight, jadi jangan melawan kodrat. Lagipula perilaku LGBT itu tidak disukai oleh Allah SWT, meskipun banyak aktivis HAM yang menyukai dan mendukungnya. Bukankah lebih penting melakukan apa yang Allah sukai dan menjauhi yang Allah benci, daripada menuruti tuntutan aktivis HAM dan LGBT?! Ketiga, semoga pemerintah Indonesia masih cukup waras untuk tidak membolehkan adanya pernikahan sejenis, agar tidak mengundang adzab dan kemurkaan Allah SWT. Semoga . . . Keempat, ktia harus hati-hati dengan berbagai propaganda mereka yang berusaha mencari dukungan, atau setidaknya penerimaan dari masyarakat, bahwa LGBT itu punya hak dan dibolehkan. Apa jadinya kalau LGBT legal di seluruh dunia? Naudzubillah . . . tatanan keluarga akan rusak, populasi manusia bia jadi mengalami penurunan karena terjadi penurunan birth rate. Tunggu sebentar, populasi menurun? Depopulasi maksudnya? Terdengar familiar,  bukan?

Terserah sih kalau Anda menilai saya tidak toleran lah, apa lah, yang jelas, say no to LGBT, say yes for marriage. Sekali lagi, saya tidak membenci orangnya secara personal, namun perbuatnanya. Kalau orangnya, semoga mereka (para aktivis dan yang terlibat dalam LGBT) mendapat hiadyah dari Allah SWT, aamiin.

2 komentar:

  1. wahh.. menarik skali artikelnya pak gundul.. salam dari malili

    BalasHapus
  2. gmana di malili, enak mil?
    ko punya blog ngga diterusin kah?
    http://kapurungambon.blogspot.com

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .