Cari Blog Ini

Rabu, 11 November 2015

Jangan Malu untuk Mengaku Tidak Tahu

Kadang ketika kita ditanyai seseorang (terutama jika hal yang ditanyakan terkait dengan bidang yang kita geluti) maka kita akan berusaha menjawab semampu kta. Bahkan ketika kita tidak tahu sekalipun tentang hal itu. Dan sayangnya, hal ini seringkali menghasilkan 'kebohongan' atau informasi yang tidak akurat. berhubung si penanya menganggap kita lebih tahu tentang hal yang ditanyakannya tersebut, biasanya si penanya langsung percaya dan puas dengan jawaban kita. Namun apakah sikap itu benar?
Menurut penulis tidak benar. Karena ketika kita memang tidak tahu tentang hal tersebut, maka jawaban terbaik adalah "saya tidak tahu", lalu arahkan penanya pada orang lain yang lebih ahli. Karena jika dia bertanya kepada kita (yang dalam hal ini tidak kompeten di bidang yang ditanyakan tersebut), maka jawaban yang akan kita berikan kepada si penanya pun bakal tidak tepat. Kecuali jika yang ditanya adalah opini kita tentang suatu hal, maka kita bebas menjawab apa. Tapi kalau yang ditanya adalah sesuatu yang eksak, yang jawabannya pasti, maka jika kita tidak tahu, jangan dijawab dengan opini, karena nanti akan membiaskan jawaban tersebut. Dan si penanya bisa jadi menganggap itulah jawaban sebenarnya, karena dia telah bertanya pada seorang yang dianggapnya kompeten, padahal bisa jadi yang ditanya tidak tahu jawabannya. 

Barangkali inilah yang membuat sering terjadi ketidaksepahaman di antara kita ketika membicarakan suatu topik tertentu. Masing-masing yang mengobrol mengungkapkan pendapatnya tentang topik tersebut, disertai 'dalil-dalil' yang dikeluarkan oleh 'orang  yang kompeten di bidangnya' (kita) yang dianggapnya benar. Karena yang mengobrol tentunya memiliki sumber informasi yang berbeda, dan kesimpulannya bisa berbeda, maka adu mulut pun terjadi. Satu pihak berusaha nampak lebih pintar dari yang lain, tak ada yang mau kalah. Jadilah debat kusir, bukan obrolan santai yang berbobot. 

Kalau dirunut ke belakang, bisa jadi debat-debat kusir tersebut berawal dari informasi tidak akurat yang diberikan oleh narasumber yang ditanyai oleh si penanya. Hanya karena gengsi, kuatir dicap tidak kompeten oleh penanya, maka dikaranglah jawaban yang tidak relevan dengan topik. Berhubung si penanya tidak kritis, maka diamini saja jawaban ersebut (tidak berlaku jika si penanya kritis dan tidak langsung mengaminkan jawaban narasumber). 
Padahal, bayangkan saja semisal jika seorang astronot ditanya bagaimana solusi mengatasi kelesuan ekonomi negara. Saya rasa dia nggak bakal tahu. Karena itu bukan bidang keilmuannya. Meskipun astronot adalah orang yang terpilih melalui seleksi ketat, bukan berarti dia tahu segalanya kan? Dia mungkin sangat pintar di bidang astronomi dan fisika, namun tidak paham ekonomi. Pun sebaliknya, ketika seorang ekonom ditanya bagaimana caranya mengoperasikan wahana luar angkasa untuk mendarat di International Space Station, mana bisa dia tahu. Si ekonom pasti mampu menjawab pertanyaan terkait perekonomian, namun nol besar ketika ditanya astronomi. Seorang ustadz mungkin tidak bisa menjawab bagaimana caranya agar sepak bola Indonesia segera lepas dari sanksi FIFA karena itu bukan bidangnya, namun dia tahu apa bedanya halal dan haram, mubah dan makruh, najis dan hadats. Seorang pengamat otomotif akan tahu ketika ditanya tentang insiden Marquez dan Rossi, tapi tidak paham masalah el-nino. 

Intinya, serahkan solusi pada ahlinya. Kalau bukan ahlinya, jangan malu untuk "bilang tidak tahu, itu bukan kompetensi saya" ketika ditanya tentang hal yang di luar kompetensi kita (kecuali sekedar menanyakan opini). Jangan karena ego dan gengsi, kuatir dicap tidak tahu, maka seenaknya menjawab pertanyaan dengan sok tahu. Karena kalau sok tahu, sok ahli, jadinya menimbulkan salah informasi dan bisa menyesatkan orang lain dalam kesalahan pemahaman tentag suatu hal. 

Penulis rasa, jujur mengakui ketidaktahuan kita itu lebih baik, daripada sok tahu, namun malah salah. Apesnya lagi, kalau si penanya ternyata cuma mengetes yang ditanya. Malah lebih malu lagi kan ketika ketahuan menjawab salah?

1 komentar:

  1. Jujur itu penting kawan .. hidup jujur akan lebih indah..:)
    http://goo.gl/yxCsfE

    BalasHapus

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .