Cari Blog Ini

Selasa, 01 Maret 2016

Merantau: Ibarat Biji Maghony

Bukaan, posting ini bukan mempromosikan film yang melejitkan nama Iko Uwais sebelum main di The Raid, tapi lebih ke kombinasi antara ilmu biologi dan ilmu kehidupan. Lho kok bisa? Yuk disimak dulu . . .

Dalam biologi, kita pernah mempelajari tentang berbagai metode yang digunakan tanaman untuk menyebarkan bijinya. Ada yang melalui perantara angin, seperti pohon mahogany yang bijinya seperti bilah rotor helikopter atau dandelion yang bijinya seperti penerjun payung yang tertiup angin. Ada pula yang melalui perantara air, misal biji kelapa yang bisa mengapung di air dan dapat tumbuh bila mendarat di tempat yang tepat, atau biji bakau yang seperti tombak, dapat tumbuh jika jatuh ke lumpur, atau mengapung tegak di air jika jatuh di air dan baru tumbuh jika hanyut ke pantai berlumpur. Dari macam-macam metode persebaran biji tanaman tadi, intinya adalah bagaimana tanaman induk menjauhkan anak-anaknya (benih mereka) sejauh mungkin dari dirinya. Mengapa demikian? 

Alasan utamanya adalah agar si benih dapat tumbuh besar dengan cara  menghindari persaingan dengan si induk. Pernahkan anda melihat dua pohon mahogany yang tumbuh besar berjejeran? Tentu tidak, yang ada hanyalah sebatang mahogany, mungkin didampingi tanaman lain di sekitarnya, tapi tidak ada maghony lain dalam jarak dekat. Demikian pula beringin. Ia akan tumbuh kekar, sendirian. Anakannya mungkin ada yang bertunas di dekatnya, namun tak ada yang akan tumbuh sebesar dirinya. Mengapa demikian? Tak lain karena tumbnuhan baru dari benih tersebut tak akan mampu bersaing dengan induknya. Benih yang tumbuh memerlukan air, nutrisi, dan cahaya matahari yang cukup. Dan itu tak akan didapatkan di dekat pohon induknya. Pohon induknya bukan tak mau berbagi, namun ia telah tumbuh terlalu besar dan menyerap terlalu banyak air, nutrisi, dan menyediakan naungan sehingga tak ada cukup sinar matahari untuk si benih yang baru tumbuh. Coba lihat, tak ada tunas yang tumbuh besar di bawah naungan pohon induknya. Demikian pula kita, manusia. Kita tak akan tumbuh besar jika terus berada di bawah naungan orang tua kita. Kita harus merantau, ibarat biji mahogany yang tumbuh jauh dari induknya.

merantau jauh dari orang tua ibarat biji mahogany (sumber gambar di sini)
Dan inilah yang harus penulis jalani bersama istri saat ini. Karena satu dan lain hal, istri harus meninggalkan orang tua dan pekerjaan di Malang, untuk ikut tinggal dan merantau bersama penulis di Jakarta. Kisah pernikahan memang tak selalu bersenang-senang belaka, ada saat perjuangan, meninggalkan kampung halaman dan zona nyaman, namun semoga dengan ini dapat membuat kami tumbuh besar dan lebih tangguh nantinya. Semoga . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .