Memilihlah untuk Masa Depan Indonesia

Tau sama tau lah ya, besok Pemilu serentak di Indonesia. ada pemilihan presiden dan wapresnya, DPR, DPD,  DPRD Kabupaten dan DPRD Provinsi. Pokoknya ribet. Tapi, segala keribetan itu jangan dijadikan alasan untuk ngga nyoblos ya Pembaca sekalian. soalnya, bisa jadi suara kita ikut menentukan nasib bangsa ini selama 5 tahun ke depan. Bahkan lebih. Ciee.. klise ah, seklise judulnya. Tapi beneran Gaes. Kebijakan pemerintah di satu era, bisa jadi berdampak pada negeri ini dan masyarakatnya selama setidaknya 5 tahun. Nah, di sini penulis nggak nyuruh kalian untuk memilih ke paslon 01 atau 02. Maklum, ASN harus netral, katanya. Tapi ini cuma uneg-uneg penulis aja. Kali aja ada yang masih bimbang mau pilih yang mana kan.

1. Bersihkan kepala kita dari berbagai info tidak valid.

Banyak banget info tentang paslon 01 maupun paslon 02 yang berseliweran di berbagai media. Ada yang benar, namun banyak banget yang nggak bener. Maklum, sudah akhir zaman, banyak firnah berseliweran, bahkan media massa pun kenetralannya kini patut dipertanyakan. Info dari social media atau citizen journalism juga tak lepas dari subyektivitas. Lalu, dari mana kita tahu info mana yang benar? Wallahu'alam. Kita nggak tahu pasti. Jadi, bisa dibilang kita nggak tahu apa-apa tentang kedua paslon. Makanya jangan sok tahu mengatakan si A begini, si B begitu. kalaupun benar, jika yang kita bicarakan itu adalah keburukan, maka itu jadi ghibah. Kalau salah, itu jadi fitnah. Kalau benar dan itu kebaikan? barulah itu nggak masalah... masalahnya kita nggak beneran tahu, info mana yang bener. Ya gak? Udah deh jangan sok tahu aja pokoknya.

2. Allah lebih tahu.

Nah, karena Allah lah yang Maha Tahu, maka baiknya kita minta pertolongan saja kepada yang Maha Tahu. Minta pertolongan agar kita diberi petunjuk bahwa yang benar itu benar, dan diberi kekuatan untuk memilihnya. Serta diberi petunjuk bahwa yang salah itu salah, berikut kekuatan untuk menjauhinya. 
halaaah beginian aja berdoa, mungkin begitu pikir sebagian pembaca.
Lha terus kenapa? Bukankah sila pertama Pancasila itu, Ketuhanan Yang Maha Esa? dan berdoa, merupakan suatu ibadah, yang sejalan dengan penerapan sila pertama ini, kan? Jadi ngga usah gengsi untuk berdoa minta petunjuk. Jangan sombong dan sok tahu, merasa pilihan yang ada di hati sudah paling benar. Sotoy. balik lagi ke poin satu; kita tuh nyaris gak tahu apa-apa tentang kedua paslon. Udah, ikhlaskan hati, meminta petunjuk illahi. InsyaAllah lebih berkah, daripada menuruti hawa nafsu yang kadang, ketika sudah tertutup fanatisme buta, jadi menutupi akal sehat.

3. Sebenarnya, mimpi kita sama.

Terlepas dari paslon yang kita kagumi/benci, sebenarnya kita semua punya cita-cita yang sama. Lihat saja di debat, sebenarnya kedua paslon punya cita-cita yang sama, namun mungkin beda di fokus dan strategi penerapannya.
Penulis yakin, kita semua ingin negara ini mampu menerapkan hukum dengan adil, tidak tajam ke bawah namun tumpul ke kerabat penguasa. kita semua ingin negara ini diurus oleh orang-orang yang bersih, yang anti korupsi. Kita ingin negara ini diurus secara benar, sehingga kekayaannya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, bukan malah dinikmati oleh negara (yang ngakunya) sahabat namun memberi utang nan menjerat. Kita ingin kaum ekonomi lemah dibantu oleh negara, sebagaimana amanat UUD '45. Kita ingin rakyat negeri ini pintar-pintar karena sekolah dan pendidikannya bagus; berjiwa sosial berkat penerapan ajaran agama (terutama dalam hal hubungan sesama manusia) yang baik; menjunjung nilai-nilai luhur bangsa dan tak melupakan sejarah; saling menghargai dan toleransi; sehat-sehat agar menjadi bangsa yang produktif dan inovatif. Kita juga ingin ekonomi tumbuh meroket, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan, agar kemakmuran itu merata dan tak hanya dinikmati kaum 1% teratas saja. Kita ingin lingkungan dan keanekaragaman hayati terjaga, agar kelak anak cucu kita masih dapat mengamati tanaman dan hewan endemik kita secara nyata, bukan cuma lihat gambarnya di ensiklopedia. Kita semua ingij bangsa ini memiliki daya saing, dalam hal industri, ekonomi, keolahragaan, adu kecerdasan, inovasi dan berbagai oencapaian yang membuat kita bangga sebagai bangsa. Kita semua ingin militer kita tangguh dan disegani, polisi kita mengayomi bukan menakut-nakuti, ASN yang ada melayani bukan menanti gratifikasi. Kita semua ingin hilangkan teror dan separatisme, kekerasan terhadap sesama warga negara oleh sekelompok saudara sebangsa. Kita semua tak ingin lagi melihat berita utama tentang kejahatan seksual terhadap korban dari berbagai jenisnkelamin dan usia, kita bosan dengan berita kekerasan hanya karena masalah keuangan, kita lelah melihat intimidasi atas dasar oerasaan supremasi. Kita memiliki keinginan yang sama, sebenarnya. Kita sama-sama menginginkan utopia ini, bukan?

Maka sekali lagi, berdoalah pada yang Maha Tahu, agar Ia berikan petunjuk pada kita yang bodoh dan mudah tertipu ini, akan siapa yang layak memimpin negeri ini. Biarkan para paslon berjuang, dengan jujur atau curang. Doakan saja yang curang tumbang, dan yang jujur memimpin negeri ini agar rakyatnya makmur.

Berdoa dan berikhtiar, itu sudah yang mampu kita lakukan. Toh kita bukan juru kampanye, kan? Lagian sudah masuk masa tenang. Sudah bosan dengan berbagai fitnah, debat, serta kericuhan antar pendukung paslon, bukan?

4. Beda itu biasa

Karena bersama memang tak harus sama, ya kan? (bukan iklan rokok). Indonesia memang terdiri atas berbagai suku dan budaya dengan berbagai bahasa dan agama. Lalu apa masalahnya? kita bisa hidup bersama dalam harmoni. dalam damai. seperti yang diucapkan leluhur kita dalam sunpah pemuda. Kuta satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, Ind-ONE-sia.
Biarkanlah perbedaan itu ada, untuk mewarnai hidup kita. Ibarat taman yang  memiliki berbagai bunga, lebih indah dibanding yang sewarna saja kan? kalau tanamannya sejenis bukan taman namanya, tapi perkebunan.

Jadi tanggapi perbedaan dukungan terhadap paslon dengan biasa saja. Selepas pemilu toh, siapapun presidennya, kita masih sebangsa. Masih tinggal di sebelah tetangga kita. Masih bersaudara dengan seluruh kerabat kita. Masih bekerja dengan rekan kita. Masih nongkrong bareng sama sahabat kita. Jadi biasa saja. Toh kita semua juga satu cita-cita.

Jadikan pemilu sebagai alat untuk mencapai cita-cita bangsa, melalui amanat yang kita titipkan pada paslon sesuai dengan keyakinan kita berdasar petunjuk dari Yang Maha Tahu, yang pengetahuanNya meliputi segala sesuatu.

Kita sama-sama berharap, memilih dan berdoa untuk yang terbaik. Salam satu bangsa, Indonesia!!!

Komentar