Sepotong Senja di Canberra

Ini adalah sebuah cerita, tentang takdir yang tak terduga, namun selalu memberikan pelajaran berharga

Ini bermula dari sebuah obrolan bersama rekan kerja, yang menawarkanku sebuah pelatihan manca negara. Empat bulan lamanya. Dengan cepat kutolak permintaannya, mau jadi apa meninggalkan istri dan anak-anak, empat bulan di Australia?

Namun pesan lain datang, dari seorang kawan lainnya, memintaku untuk mengikuti pelatihan, persis sama dengan yang kutolak sebelumnya. Aku mulai mempertimbangkannya. Dan mendiskusikannya dengan istri, tentu saja. Tak mengejutkan reaksinya, khawatir tak sanggup sendirian menangani anak-anak yang memang lagi manja-manjanya. Namun kuceritakan juga, seorang kawan lainnya yang sempat mengikuti pelatihan serupa di Australia juga, enam pekan lamanya. Pelatihan yang sama yang pernah diajukan padaku dan kutolak dengan alasan yang sama. Intinya, belum siap LDR sahaja.

Namun tak dinyanya, seorang senior dari unitku yang lama, kini kepala seksi jabatannya. Beliau tak lagi menawarkan, namun menunjukku langsung untuk mengikuti pelatihan di Australia yang sudah dia kali kutolak sebelumnya.

Graduate Certificate of Law, nama pelatihannya. Diselenggarakan oleh Australia Border Force, yakni instansi penjaga perbatasannya Australia. Di sini kami akan belajar tentang hukum laut bersama rekan-rekan dari beberapa negara di wilayah Samudra Hindia. Bekerja sama dengan Australian National University yang berlokasi di Canberra. 

Maka, kami pun menyiapkan diri, dan menyempatkan diri untuk pulang kampung untuk mendapatkan ridho orang tua. Qadarullah, meski terkejut, mereka bisa menerima. Orang tua kami pun bersedia datang bergantian ke Jakarta, menemani istri dan anak-anak selama aku tak di sana.

Meski hati kami sudah legowo menerima, tak serta merta semua mulus tanpa cela. Perubahan kebijakan negara berdampak pada perizinan yang makin rumit saja. Rencana keberangkatan pun akhirnya terpaksa kunegosiasikan dengan pihak penyelenggara. Beruntung, mereka mau menerima dan mengubah jadwal keberangkatan ke tanggal berbeda. Syukurlah teman-teman dari unit-unit berbeda benar-benar mengerahkan segala upaya, untuk kelancaran keberangkatan yang tinggal menghitung hari saja. Namun tetap saja, hambatan birokrasi membuat upaya kami selayaknya menabrak tembok saja. Bayang-bayang kegagalan keberangkatan pun mulai nampak di pelupuk mata, sebuah kesempatan langka yang hilang begitu saja.

Sudahlah, pada suatu senja kuputuskan dalam hati untuk menerima saja. Kalaupun tak jadi berangkat, toh tak rugi apa-apa, mungkin memang belum rejekinya saja. Hingga akhirnya, dua hari menjelang keberangkatan yang sudah tertunda, kabar bahagia itu datang menyapa. Urusan administrasi telah paripurna.  

Dan singkat cerita, di sinilah aku berada.

Menatap langit dari balik kaca jendela. Pada sepotong senja di Canberra.

Merenungi takdir yang tak terduga, yang mengajarkanku untuk terus berdoa dan berusaha, meski ada halangan yang nampak jauh di luar kuasa, sekaligus menunjukkan bahwa apa yang tertulis untukku tak akan pernah bisa kuhindari meski telah kuupayakan sebisanya.


Komentar