Postingan

2 Tahun Lalu

Gambar
2 tahun lalu sekitar pukul sepuluh kuucap kalimat sakral itu 2 tahun lalu kita sah di hadapan penghulu keluarga dan saksi menangis haru 2 tahun lalu kita tandatangani buku kecil itu sebagai bukti engkau dalam tanggung jawabku 2 tahun telah lalu kini kita telah tinggal satu pintu bersama si kecil yang lucu 2 tahun telah lalu kau bersabar menerima kekuranganku kau bersyukur atas yang kuberi padamu 2 tahun telah lalu dan puluhan tahun di depan masih menunggu semoga kelak dalam jannah kita kembali bertemu genap 2 tahun insyaAllah sampai seterusnya

Fail is A Matter of Perspective

Gambar
Suatu ketika, penulis belanja buah di dua kesempatan. Yang pertama, pisang, di pedagang buah dekat rumah. Tapi failed . Soalnya salah pilih, milih pisang yang ditaruh di meja, jadi bagian bawahnya benyek, keempukan. Enak sih, manis, tapi keempukan dan cepet mateng, jadi risiko busuknya tinggi. Kan sayang.  Yang kedua, melon. Karena sekalian belanja ke pasar dan belanjaannya banyak, jadi nggak sempet menganalisa tingkat kematangan si melon. Pas sampai rumah, eh kok hambar. Failed lagi. Enters my wife . Dua jenis buah yang sama-sama tak optimal itu, dikombinasikan. Pisang yang manis dan keempukan, dikombinasikan dengan melon yang segar tapi hambar. Ditambah potongan stroberi, kiwi dan anggur. Jadilah jus buah segar penawar haus dan lapar. Dua produk gagal, dikombinasikan, sehingga saling melengkapi dan menjadi produk baru yang nggak failed . Simpel, tapi bagi saya, itu seperti keadaan yang sering terjadi. Saat orang-orang yang dilabel 'gagal' disatukan, biasanya...

Simply Surviving isn't Worth Celebrating

Beberapa waktu lalu, penulis mengalami apa yang disebut orang lain sebagai "ulang tahun". Nothing special  menurut penulis, tidak ada prestasi baru atau pencapaian apapun, jadi penulis memilih untuk tidak merayakan. Sudah beberapa tahun penulis menyembunyikan info ulang tahun di facebook, biar nggak ada notifikasi dan ucapan selamat dari kawan-kawan. Bukan nggak suka diselamatai, tapi biarlah kalau ada yang mendoakan, agar ikhlas mendoakan dalam hati saja, itu cukup. Kalau memang ada yang ingat, ya biar ingat sendiri dan ucapin sendiri, tanpa perlu notifikasi di medsos berharap orang ingat. Dan faktanya memang cuma keluarga aja, dan seorang temen jaman SMA yangkebetulan tanggal ultahnya berdempetan, yang ingat dan memberi selamat. No problemo, toh memang nggak ingin diselamati dengan ucapan yang hanya copy paste dari postingan orang lain di grup WA. Bagi penulis, ulang tahun hanyalah menandakan kita makin tua. Bukan sesuatu yang pantas dirayakan, kecuali kita hidup di alam b...

Si Gundul Telah Kembali

Oke, setelah sekian lama vakum nulis, kali ini penulis coba kembali menyapa pembaca blog ini yang masih tersisa . Sebelumnya, penulis mau cari-cari alesan  minta maaf atas hilangnya postingan selama Juli-Agustus kemarin. Di bulan Juli, perkuliahan sisa 2 pekan, dengan banyak utang pertemuan dan tugas-tugas dalam bentuk paper, disusul UAS 2 pekan; sementara Agustus adalah libur panjang, penulis pulkam tanpa bawa laptop, jadi rencana untuk rutin posting setidaknya sebulan sekali gagal total. Oke, apapun alasannya, postingan sederhana ini adalah penanda kembalinya penulis dalam ranah blogging. Kenapa ngga vlogging sekalian ?, barangkali ada yang nanya. Alasannya simpel, penulis tuh ngga videogenik. Jadi lebih seneng nulis daripada ngerekam video sendiri. Lagian, siapa yang mau nonton video rekaman kehidupan sehari-harinya penulis sih, yang cuma kuliah sama pulang, nggak ada trevellingnya? Mending nulis sih, bisa bahas sesuatu yg lebih bermakna. Supaya lebih bermakna dan ...

Catatan Penghujung Ramadhan

Apa kabar pembaca? Masih sehat hingga hari ini? Apa kabar pembaca? Masih lancar shaum hingga hari ke-30 ini? Apa kabar pembaca? Masih lengkap tarawih hingga malam terakhir semalam? Apa kabar pembaca? Masih istiqomah tilawah hingga hari ini? Apa kabar target ramadhan kita tahun ini? Masihkah istiqomah seperti tahun-tahun yang lalu? Adakah peningkatan? Atau justru mengalami penurunan? Jikalah terdapat peningkatan, bersyukur dan pertahankan, karena tak semua mampu mengoptimalkan waktu ramadhannya. Jikalau terdapat penurunan, maka introspeksilah. Ada yang salah dengan diri kita ketika menyadari bahwa belum tentu bertemu ramadhan tahun depan, namun menjalani ramadhan tahun ini dengan kesia-siaan.  Berapa banyak juz yang tak terbaca dengan alasan kesibukan dunia? Berapa banyak rakaat tarawih yang tak terlaksana hanya demi undangan buka bersama? Berapa lama sujud di penghujung malam yang tak terlaksana karena lebih memilih siaran bola? Berapa banyak ilmu dari kajian yan...

Persiapan Menyambut Ramadhan

Memaksimalkan diri utk Ramadhan optimal*(Kajian 15 Mei brsma Ust. Faridz, MBT KP DJBC) *1. Persiapan keilmuan* Refresh ilmu dan pemahaman ttg shaum dan berbagai amalan utama bulan Ramadhan utk menguatkan kembali keilmuan kita sebelum menjalani ibadah (ingat, ibadah harus didasari keilmuan) Jangan anggap "ah sudah biasa puasa, paling gitu2 aja" *2. Persiapan fisik* Rasulullah SAW mengajarkan menjalankan srg puasa sunnah d bukan sya'ban (semua puasa sunnah yg bs dijalani, dilakukan) Krn puasa adlh ibadah fisik juga.jadi harus membiasakan diri Jaman dulu, ummat srg bertempur saat bulan Ramadhan Tak hanya kekuatan fisik, namun urusan kesibukan yg banyak menuntut kegiatan fisik jg diselesaikan duluan (misal, safar, perdagangan dll) agar pas Ramadhan bs fokus ibadah (tak hanya puasa tp jg sedekah) Fokuskan jg k persiapan maaliyah utk beramal selama Ramadhan *3.persiapan spiritual* Tazkiyatun nafs, bersihkan diri menjelang bulan suci agar ibadah tak ternoda oleh niatan2 lain Mar...

Jiwa Pengajar Itu Ternyata Menurun

Ayah penulis adalah seorang guru. Dan dulu, penulis yang masih introvert, tak pernah membayangkan berdiri di depan kelas dan mengajarkan sesuatu. Penulis tidak berpikir bahwa mengajar merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Namun ternyata, darah pengajar itu mengalir dalam diri penulis. Makin dewasa, penulis yang dulunya introvert dan tak suka bicara di hadapan orang banyak, ternyata cukup lihai dalam komunikasi massa. Mulai dari komentator bola, annoucer bazar, MC acara, dan sebagainya, hingga kini menyambi sebagai pengajar part time untuk adik-adik kelas yang hendak mencoba mengikuti seleksi DIV dan DIII Khusus. Ternyata berbagi ilmu itu menyenangkan. Berdialog dengan siswa itu menyenangkan. Danpenulis mulai membayangkan karir sebagai dosen. Siapa tahu. Toh mengajarkan ilmu yang bermanfaat, bisa jadi salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir meski kita sudah meninggal, kan? SO, jadi pengajar? Why not?