Postingan

Bila Waktu T'lah Berlalu

Gambar
majunya tak terasa, yang lalu tak lagi teraba Waktu, suatu konsep abstraksi, namun terasa sangat nyata dan bukan imaji. Waktu, melingkupi segala yang telah terjadi, masa kini, maupun yang belum terjadi.  Waktu, membersamai ruang membentuk empat dimensi.    Waktu, yang tak akan terulang, tak peduli kita rindu bukan kepalang. Waktu, yang selalu menderu tanpa pedulikan kita yang ingin membeku terpaku. Waktu, yang kelak akan ditanyakan di hari akhir, untuk apakah kita gunakan hingga detik terakhir. Waktu, yang amat penting hingga Sang Maha Pencipta pun bersumpah dengan namanya. Demi masa. Demi waktu fajar. Demi waktu ketika matahari sepenggalah. Demi siang apabila terang benderang. Demi malam apabila gelap gulita.    Andaikan kita mendapat jatah waktu sebagaimana rerata umat Nabi Muhammad.  Andaikan kita hanyalah manusia beriman yang rata-rata saja, yang perbuatan baik dan buruknya seimbang ketika ditimbang. Andaikan kelak waktu di akhirat adalah setara lima...

Top 5 Encounter with Pak Heru Pambudi

Gambar
Sedikit terlambat karena satu dan lain hal, izinkan penulis untuk bergabung dalam euforia melepas kepergian pimpinan tertinggi di instansi penulis, Bapak Heru Pambudi yang telah lima tahun lamanya bertugas sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai, menuju Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Penulis memang hanyalah pelaksana jelata yang tak sering berjumpa beliau, namun ada beberapa momen yang penulis ingat, di mana sempat bertemu dan berbincang secara personal (bukan dalam apel atau forum besar lainnya, atau saat menjadi komentator bola saat beliau ikut main). Dan dalam setiap pertemuan itu, ada beberapa pesan yang beliau sampaikan yang masih berkesan dan terpatri dalam ingatan. Berikut ulasannya: 5. Penyerahan Hadiah Lomba Menulis Naskah Film Pendek, Q3 2019 Sekitar 19 bulan lalu, saat penyerahan hadiah lomba Menulis Naskah Film Pendek , Pak Dirjen meminta penulis untuk menceritakan garis besar naskah yang penulis buat. Mendengarnya, beliau meminta penulis sedikit mengubah ending...

Ngapain Jualan, Kan Udah Kerja di ...

Gambar
Bagi penulis, berjualan tak pernah menjadi cita-cita saat masih muda (berarti sekarang udah tua ya?). Tapi, here i am , sedang membesarkan toko daring di platform instagram bersama istri.  Toko daring pertama kami adalah Airapedia , diambil dari nama anak pertama (Hum-aira) dan ensiklo-pedia. Sejak 2017 bergerak di bidang perdagangan buku anak, atau kami menyebutnya, nutrisi otak. Kenapa buku? Karena sebenarnya kami berdua adalah pecinta buku sedari kecil. Bedanya, Allah takdirkan penulis lahir di sebuah keluarga yang tinggal di sebuah sekolah swasta yang memiliki perpustakaan tua, sehingga hasrat membaca penulis bisa tersalurkan dengan cukup leluasa (utamanya ensiklopedia). Sementara istri, di masa kecilnya sering pengen baca tapi qadarullah tak selalu kesampaian, sehingga saat dewasa, ingin membantu para orang tua untuk memberikan bahan bacaan yang terbaik untuk anak-anak. Itulah motivasi istri untuk memilih buku sebagai dagangan kami. Mimpi besar kami, toko kami bisa berpartisi...

Testimoni Vaksin Sinovac

Gambar
Jadi dalam hitungan hari, di kantor beredar kabar bahwa seluruh pegawai akan divaksinasi secara bertahap. Penulis termasuk yang dapat jadwal hari ini, pukul 15.00 WIB. Ba'da sholat ashar, merapat ke lokasi. Mengisi beberapa berkas screening, lalu mengantri dipanggil.  Aaand just like that, i'm already vaccinated . Rasanya ya gitu doang. Ngga sesakit imunisasi pas jaman masih SD (keknya dulu penulis lebih sering nangisnya daripada enggaknya). Lebih kerasa masuknya jarum donor juga. Cuma jleb, cuss, dah, kelar. Emang sih ada rasa pegel dikit di bagian yang habis disuntik, reaksi wajar kan? Penulis ngga terlalu mengikuti keramaian pro kontra vaksinasi. Bagi penulis, yasudahlah namanya juga ikhtiar. Bukankah metode ini juga dipakai untuk berbagai penyakit lain? Kenapa baru sekarang ributnya? Mungkin karena memang vaksinnya baru banget diteliti dan kita adalah manusia-manusia generasi pertama yang akan mencobanya, kali ya, jadi banyak yang ogah. Ditambah imej barang cina dan isu dek...

Berat, Tapi Ada yang Lebih Berat

Gambar
Kalau anak ngga nurut sama orang tua, orang tua kudu sadar diri, jangan-jangan karena ortu ngga nurut perintah Allah, anak jadi ngga nurut orang tua Kalau ngerasa gak didengerin sama anak jangan-jangan gara-gara ortu yang gak pernah dengerin anak saat diajak bicara Kalau ngerasa anak susah diajak komunikasi, jangan-jangan karena memang jarang diajak komunikasi Kalau ngerasa anak suka berperilaku kasar, jangan-jangan ia cerminan ortu yang suka berbuat kasar Kalau ngerasa anak susah diatur, jangan-jangan karena ortu yang gak taat sama aturan Yang Maha Mengatur Kalau anak susah diajak ibadah, jangan-jangan emang ortu kurang kuantitas atau kualitas saat beribadah Sebelum menuduh anak-anak nyusahin, ngaca dulu ke masa lalu, jangan-jangan dulu ortu juga gak kalah nyusahin Sebelum mencap kelakuan anak kayak setan, ngaca dulu, jangan-jangan ortu yg kelakuannya kayak setan Gendong anak memang berat, tapi jauh lebih berat pertanggungjawabannya kelak di akhirat

Sepele

Gambar
Terkadang, ada kebaikan-kebaikan kecil yang seringkali dianggap remeh dan diabaikan. Saat di rumah makan, misalnya. Setelah makan, tentu sebenarnya mudah bagi kita untuk mengumpulkan sampah sisa makanan pada satu piring dan merapihkan piring lain (yang sudah agak bersih dari sisa makanan) dalam satu tumpukan. Hal sepele yang bisa dilakukan sembari mengobrol dan menunggu bon dari rumah makan itu, tentu akan memudahkan para pelayan membereskannya (adegan semacam ini dilakukan sebelum pandemi covid19 yaaa. Kalau sekarang mending makan di rumah aja). Namun kadang, ada saja alasan untuk membiarkan meja tempat makan kita berantakan. "Kan memang mereka dibayar (salah satunya) untuk membereskan itu", ujar seorang kawan, kala penulis merapihkan piring-piring sisa makan di kantin. Alamak, tak ingatkah bahwa jika memudahkan urusan orang lain, kelak Allah akan mudahkan urusan kita? Bukankah setiap kebaikan kelak akan dibalas, asal kita melakukannya dengan ikhlas? Coba kita tengok amal ib...

Dua Spektrum Manusia

Masih tentang pandemi yang sedikit lagi mencapai angka satu juta jiwa tercatat di Indonesia, ia pun mengungkap dua sisi manusia. Di satu sisi, manusia-manusia yang peduli dan tak ingin membebani sesama; di sisi lain ada manusia yang hanya peduli kepentingan dirinya saja. Sebut saja Mr. A, yang suatu ketika mendapat jatah masuk kerja, tidak di rumah. Sehari sebelumnya, Mr. A sempet cari pengganti buat tukar dinas karena beliau ngerasa nggak enak badan, sempat ada kontak erat dan mau tes swab . Pada akhirnya di hari H, Mr. A nggak dapet pengganti. Singkat cerita, beberapa hari kemudian ternyata Mr. A+ covid.  Coba, apa jadinya kalo Mr. A tetap memaksakan diri masuk kerja? Apa jadinya kalo Mr. A sebodo amat sama orang lain? Bisa jadi teman piketnya waktu itu, yaitu saya sendiri, bisa tertular. Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya dan keluarga melalui perantara Mr. A yang aware dengan kondisi kesehatan dan care dengan orang lain, tak mau memaparkan risiko pada orang lain. Maturnu...