Postingan

Ramadhan Experience in Canberra

Gambar
This is a summary of my Ramadan experience in Canberra. It’s not my first Ramadan away from home (I’ve been a perantau since late 2008), but it is my first one abroad—in a country where Muslims are a minority. So far, it’s been a surprisingly good experience. Food? No Problem. While I was a picky eater as a child, years of living as a perantau have turned me into an omnivore. No Indonesian food? Not a big deal. As long as halal options are available, I’m good. Basa (a kind of catfish) wÉ™t, an Ethiopian delicacy Middle-Eastern/South-Asian style rice and salad. Yummy Time Differences: A Challenge in Itself When the course started on February 17, it was still summer. Fajr was at 4:50 AM (about the same as Jakarta), but Maghrib wasn’t until 8:10 PM, and Isha at 9:30 PM. By the time Ramadan began, autumn had gradually set in, shortening daylight hours— Fajr moved to 5:20 AM, Maghrib to 7:44 PM, and Isha to 9:10 PM. The fasting duration wasn’t the issue—the cooler weather made ...

Menyambut Ramadhan di Negeri Jiran

Gambar
Salah satu yang ditunggu-tunggu dari bulan Ramadhan adalah tarawih berjamaah. Dan saat di sini, tentu saja penulis bingung bakal tarawih di mana. Berbekal google maps, penulis mendapati bahwa ada mushala di kampus yang harusnya bisa dipakai berjamaah. Dengan langkah pasti, penulis mencari ke sana sini. Akhirnya ketemu, mushola di lantai 4 pada salah satu gedung di ANU. Dan alhamdulillah, bertemu salah satu mahasiswa muslim di sana (beliau lagi S3 cuy). ANU new musala... ... and its great view Ternyata, mushola baru ini ngga bisa dipakai tarawih, karena kalau malam butuh akses khusus untuk masuk gedungnya, dan aliran air dihentikan juga. Kan repot kalau ada yang batal wudhunya. Rupanya, Musim Student Association telah mendapatkan izin untuk menggunakan bangunan mushola lama untuk kegiatan buka puasa dan tarawih selama Ramadhan ini. Alhamdulillah. ANU old musala Karena bangunannya sudah lama tak dipakai, memang sedikit berantakan. Bersama beberapa mahasiswa dari Palestina, Yaman, Banglad...

(Indian) Ocean 14

Gambar
No, it's not a sequel to the 2007 heist comedy film . It’s about the course I’m currently attending. Previously , I wrote about how I ended up in Canberra—yet  another city  I never imagined myself living in. But here I am, surrounded by friends from across the Indian Ocean region. This program is sponsored by the  Australian Border Force College  in collaboration with the Australian National University. Officially named the  Graduate Certificate of Law , it’s a postgraduate program at ANU’s College of Law. Designed for graduates from non-law disciplines, it provides a deeper understanding of Australian and international legal systems and serves as a pathway to the Master of Laws (LLM). The program was specifically offered to participants from Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Sri Lanka, and the Maldives—collectively recognized by the ABF as Indian Ocean Region Maritime Security Partners . And so, here we are—14 individuals from diverse backgrounds, delving i...

Sepotong Senja di Canberra

Gambar
Ini adalah sebuah cerita, tentang takdir yang tak terduga, namun selalu memberikan pelajaran berharga Ini bermula dari sebuah obrolan bersama rekan kerja, yang menawarkanku sebuah pelatihan manca negara. Empat bulan lamanya. Dengan cepat kutolak permintaannya, mau jadi apa meninggalkan istri dan anak-anak, empat bulan di Australia? Namun pesan lain datang, dari seorang kawan lainnya, memintaku untuk mengikuti pelatihan, persis sama dengan yang kutolak sebelumnya. Aku mulai mempertimbangkannya. Dan mendiskusikannya dengan istri, tentu saja. Tak mengejutkan reaksinya, khawatir tak sanggup sendirian menangani anak-anak yang memang lagi manja-manjanya. Namun kuceritakan juga, seorang kawan lainnya yang sempat mengikuti pelatihan serupa di Australia juga, enam pekan lamanya. Pelatihan yang sama yang pernah diajukan padaku dan kutolak dengan alasan yang sama. Intinya, belum siap LDR sahaja. Namun tak dinyanya, seorang senior dari unitku yang lama , kini kepala seksi jabatannya. Beliau tak la...

Akal Imitasi & Kemenkeu yang Terus Bertransformasi

Gambar
Awal tahun ini penulis berkesempatan mendapat sebuah pengalaman baru, yang berawal dari request seorang sahabat lama. Jadi, seorang kawan penulis mendapatkan penungasan di tempat baru (alias mutasi). Masalahnya, doi sudah terlanjur dimasukkan ke dalam sebuah tim di tingkat Kemenkeu, yakni Community of Practice Artificial Intelligence for Strategic Planning . Uopo maneh iku? mungkin begitu pikir sebagian pembaca. Sama sih, saya juga awalnya mikir demikian. Intinya sih, Kemenkeu sedang membuat sebuah tim lintas Eselon I untuk bersama-sama memikirkan solusi atas permasalahan bangsa ini (dih bahasanya...) dengan bantuan Akal Imitasi. Oke banyak dari kita sudah tahu apa itu Chat GPT, Meta AI, dan lainnya. banyak juga dari kita yang menggunakan AI untuk mengedit gambar ( more on this later ). Tapi apakah ada di antara kita yang mengimplementasikannya dalam pekerjaan sehari-hari, khususnya di bidang perencanaan strategis? Kalau teman-teman di swasta mungkin udah banyak. Tapi di instansi peme...

Warisan

Gambar
Masa lalu adalah pembelajaran, masa depan adalah harapan, dan masa kini adalah perjuangan. Entah siapa yang pertama kali mengucapkan/menuliskan kata-kata ini, namun rasa-rasanya hampir semua orang sepakat dengan hal ini. Nah, ini kan pas banget di penghujung tahun, momen di mana banyak orang melakukan kontemplasi dan refleksi tahunan, sebelum menyiapkan resolusi untuk tahun yang akan datang. Maka penulis pengen berbagi sedikit kisah tentang sebuah proses yang penulis ikut terlibat, dalam memperbarui aspek pengawasan kepabeanan dan cukai di sektor maritim dan perbatasan.  Nah, pembaca lama blog ini mungkin ada yang  notice bahwa penulis pernah mengikuti lomba menulis artikel (saat itu penulis mengirim artikel tentang drone ), dan mengirim artikel untuk majalah kantor juga . Selain itu, penulis juga pernah juga menghadiri pameran teknologi yang di antaranya adalah teknologi drone . Nah artikel kali ini ngga jauh-jauh dari itu. Artikel kali ini adalah kisah keterlibatan penul...

Buah Ciplukan dan Kisahnya

Gambar
Buah ciplukan yang dipajang pada salah satu lapak pasar malam di Thailand Siapa yang tak kenal buah di atas? Ciplukan atau cecenet, tanaman sejenis terong dengan buah bulat berwarna jingga saat matang, yang tertutup oleh selapis tipis mahkota bunganya, yang makin mengering seiring usia buah. Rasanya manis dan mengandung banyak vitamin, mineral dan serat pangan. Ketika kita mendapatinya di desa, ia tumbuh di mana saja, dan siapa saja bisa memetiknya karena dianggap tak ada harganya. Ketika dibawa ke kota, dibungkus mika dan ditulis "buah physalis", hargaya bisa mencapai Rp30ribu/ons. Di luar negeri, labelnya berganti menjadi "golden berry", harganya bisa berlipat lagi, terutama jika di negara barat.  Padahal buahnya sama saja dengan yang ada di pelosok desa. Tapi ia bisa dihargai demikian berbeda.  Maka mungkin itulah gunanya memperluas relasi. Terkadang, ada orang yang tak dihargai ketika ada di suatu lingkungan, justru dihormati di lingkungan lain. Yang penting, se...