Postingan

Lagi-lagi Tentang Kegundulan Saya

Satu lagi manfaat gundul yang tidak banyak orang menyadari. Yakni, gundul bisa menyehatkan orang yang melihat. Lho? Kok bisa? Ngelantur ni bocah . . . , mungkin begitu pikir Anda. Nggak kok, ini beneran. Saya sudah lama mengalaminya, tapi baru nyadar pas baca status seorang teman, yang merasa sedih ketika rambutnya entah karena apa, jadi gundul. Dia merasa sedih, malu, risih dan gak pede karena gundul. Saya teringat, ketika teman-teman menertawakan kegundulan saya. Aha, itu dia, salah satu manfaat gundul yang baru saya sadari. Teman-teman selalu merespon kegundulan saya dengan mengolok-olok saya (dan percuma, karena saya sih pede aja meski gundul). Berbagai julukan baru melekat (termasuk 'maling ayam ketangkep', 'napi', 'pasien RSJ', 'mikrofon' dan sebagainya yang belum sempat saya bahas pada posting sebelumnya ). Dan teman-teman pun senang, menemukan obyek tertawaan baru. Atau paling tidak, si pendiam dan si pemurung di pojok kelas yang nggak ikut-iku...

Matarmaja; Against Boredom

(lanjutan lagi dari posting sebelumnya ) Seperti yang sudah saya jelaskan dalam postingan yang sebelumnya lagi , perjalanan darat via Matarmaja, bakalan berlangsung sekitar 20 jam, atau lebih. Untungnya, kami biasa pulang kampung dalam rombongan, jadi paling tidak, ada teman seperjalanan yang sudah sangat akrab. Meskipun kalau sendirian (dalam artian tanpa teman sekampus) juga nggak terlalu masalah, karena banyak penumpang Matarmaja adalah orang Malang juga, dan karena perasaan senasib juga sedaerah, kebanyakan juga mudah akrab dan enak diajak ngobrol. Lelah dan bosan itu pasti. Panas? Nggak selalu, kadang juga dingin. Lapar? Tenang saja, asongan selalu ada - pecel, nasi rames, nasi goreng, nasi ayam, dan yang selalu ada, popmie (bukan promosi). Haus? Selalu ada kopi-susu-jahe (sepaket dengan popmie, sesama produk yang butuh air panas), air mineral ataupun isotonik, selalu ada. Tapi yang paling susah diatasi adalah rasa bosan. Bercanda? Selalu, sampai perut ini sakit rasanya dan hampir...

Khotbah Jumat

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh Sudah lama nih nggak posting dakwah. Kali ini, merangkum dari beberapa Jumat (maaf, secara singkat aja, cuma bagian yg saya inget). *Mengenai obat bagi hati yang bermasalah, ada 2 hal yang disebutkan oleh khotib ketika itu, yakni membaca Al-Qur'an dan banyak mengingat kematian . Mengapa membaca Al-Qur'an? Tentu saja karena Al-Qur'an adalah firman Allah, yang di dalamnya terdapat berbagai intisari ajaran Islam, berbagai kisah umat terdahulu. Dengan membacanya (tentu juga sekalian membaca artinya) maka kita insyaAllah akan bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan hidup. Dan lagi, menemukan ketenangan hati. Tentunya, jika kita benar-benar meresapi dan memaknai kandungan ayat-ayat suci Al-Qur'an tadi, bukan sekedar dibaca asal baca tanpa ada bekas di hati. Mengapa mengingat kematian? Tentu saja karena kita semua pada akhirnya akan mati, entah siapa dapat giliran duluan. Kematian bukanlah akhir segalanya, karena setelahkemat...

Briptu Norman, Nikahan William-Kate, dan Lebaynya Media Indonesia

Masih segar dari ingatan, beberapa waktu lalu, berbagai media di Indonesia mengulas sesosok polisi (anggota Brimob Gorontalo) yang sedang 'beraksi', melakukan lipsync lagu 'Chaiyya chaiyya' milik aktor kenamaan Bollywood, Sharukh Khan. Aksi tersebut direkam dengan kamera HP, lalu di-upload ke youtube. Sekian ratus ribu orang menontonnya, dan itulah yang terendus oleh media. Dan tak pelak, menjadi bahan pemberitaan. Briptu Norman Kamaru, namanya. Maksud hati, ia ingin menghibur rekannya yang sedang murung karena masalah rumah tangga, dengan ber lipsync , lalu direkam. Tanpa sepengetahuannya, ada yang meng-upload video tersebut ke youtube dengan judul ' Polisi Gorontalo menggila '. Begitulah pengakuannya, sebagaimana berkali-kali ia jelaskan ketika diwawancara oleh berbagai media. Dan kelanjutannya, kita semua sudah tahu. Briptu sempat akan diberi sanksi oleh atasannya, namun akhirnya hanya sebatas sanksi peringatan dan disuruh berlipsync dan bernyanyi di hadap...

Matarmaja; The Luck Factor

(Lanjutan dari postingan sebelumnya ) Suatu siang di stasiun Jatinegara , Si Cepak sedang mengantri tiket Matarmaja. Saat itu adalah h-2 idul Adha, dan memang banyak sekali orang mengantri ingin pulang kampung. Antrian begitu panjang, dan kalau tidak karena ingin bertemu keluarga di kampung halaman, tak mungkin ia rela berdiri sekian lama hanya untuk selembar tiket bertuliskan nama tempat kelahirannya. Tau-tau ada SMS masuk, dari Si Gundul, temannya, katanya mau nitip tiket pulkam, dan dia sedang dalam perjalanan ke stasiun. Beres , balasnya singkat. Antrian semakin berkurang jumlahnya, setapak demi setapak ia melangkah maju. Dari 10 orang di depan, berkurang menjadi 9, dan terus berkurang. 5 orang lagi, dan tiket di tangan. 4 lagi. 3 lagi. Dan . . . heyy... apa-apaan ini? Loket ditutup? Kereta penuh? Dialihkan ke kereta jurusan lain? Oh God, this is very very good news . . . Sisi baiknya, saya bakalan punya pengalaman naik kereta berjudul lain. Dan Si Cepak pun pindah antrian. Kereta...

Matarmaja; Sedikit Cerita, Bukan Cuma Derita

Matarmania, begitulah (sebagian) kami menjuluki diri kami sendiri. Tentu saja karena kami teramat sangat menggemari naik kereta ekonomi Jurusan Malang-Jakarta ini. Ralat, bukan kami senang dengan kereta ini, hanya saja karena jika kami sudah menaiki kereta ini dari Jakarta, artinya liburan telah tiba, pulang kampung. Ah, kalau Anda tak pernah merantau, tahu apa soal pulang kampung. Sensasi luar biasa saat akan bertemu keluarga di kampung, kami lampiaskan dengan antusiasme tinggi sejak pertama kali memasuki stasiun Jatinegara, saat dikumandangkan bahwa sesaat lagi kereta Matarmaja akan memasuki stasiun. Tanpa dikomando, senyum sumringah langsung terpajang di bibir kami. Sekedar informasi, dari jakarta, tepatnya dari Stasiun Senen, Matarmaja take-off pukul 14.00 dan tiba di Stasiun jatinegara sekitar pukul 14.12, jika tak molor (biasanya sih tepat waktu sejauh ini). Di tiket, tertulis waktu tiba di Stasiun Malang Kota Baru sekitar pukul 6.30 keesokan harinya. Faktanya? Jelas jauh meleset...

Dilema Rokok

Saya selalu suka iklan rokok. Tentu nggak perlu ditanya alasannya, kan? Iklan rokok tuh selalu saja kreatif, menarik, dan begitu lihai sehingga membuat orang tertarik pada produknya. Dan uniknya, tanpa pernah memperlihatkan keburukan produknya. Oh, bukan, saya bukan pecinta rokok, saya cuma suka iklannya. Kalau dulu, paling suka iklan A-Mild (gak masalah kan saya sebut merk, tahu sama tahu lah. Eh, tapi beneran bukan promosi lho, saya nggak dibayar sepeseerpun untuk menuliskan nama produk mereka). Yang punya jargon 'others can only follow'. Kisahnya, ada suatu tokoh, berbentuk huruf 'A' lambang mereka, yang selalu melakukan hal-hal yang 'berani', 'jantan', 'keren'. Dan karakter-karakter lain, biasanya mengikuti dia dan gagal. Ya itu tadi, others can only follow. Ada juga Bentoel biru, yang jargonnya 'I Love The Blue Of Indonesia'. Pada saat itu, yang paling seru adalah iklan yang menggandeng gitaris tenar Balawan (I Wayan Balawan) sebagai...