Postingan

Perayaan Tahun Baru - Sebuah Bencana Aqidah

Assalamu'alaikum pembaca. Langsung aja ya, males basa-basi nih. Mungkin dari judul postingan ini, sebagian pembaca udah menyeringitkan alis. Mungkin ada yang menganggap saya sok suci, sok alim, ato sok-sok lainnya selain Sok'imah tentunya. Mungkin ada yang menganggap, ah, apa salahnya merayakan even setahun sekali. Atau menfanggap saya ketinggalan jaman karena nggak mau ikut-ikutan merayakan tahun baru. Atau apapun, terserah. Yang jelas, memang postingan ini adalah postingan dakwah, jadi kalau ada pembaca yang merasa di KTP-nya tidak ada tulisan 'Islam' di kolom agama, ya boleh aja kok meninggalkan laman ini. Kalau yang merasa Islam, insya Allah ada baiknya membaca tulisan ini sampai selesai. Jadi kali ini saya mau ngebahas tentang kontroversi perayaan tahun baru masehi di kalangan umat Islam (dari judul juga udah jelas kan?) Oke lanjuut. Kita sepakat bahwa dalam ajaran Islam, gak ada namanya perayaan tahun baru masehi. Tahun baru Islam, karena menggunakan kalender Hijr...

Takutlah (Hanya) Kepada Allah

Coba Anda keluar rumah (setelah membaca tulisan ini tentunya), lalu lihat ke kubah langit yang megah tanpa tiang itu, dan juga segala hal di balik birunya yang menyejukkan mata (kecuali kalau sedang mendung, atau malam hari). Oke, sekarang kan malam hari, jadi mari kita sejenak melihat langit malam. Bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya yang hanya memberkaskan seikit cahayanya untuk kita. Lihat pula bentangan bumi yang luas ini. Datarannya, gunungnya, lembahnya, sungainya, dan samudranya, beserta seluruh kehidupan di atasnya. Semua terpelihara sempurna. Pernahkah Anda renungkan semua itu? Siapakah yang menciptakannya? Siapa pula yang memeliharanya? Tentulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang melakukan itu semua, yang menciptakan dan memelihara jagad raya ini dengan penuh perhitungan dan dengan segala kesempurnaan mereka (sempurna dilihat dari perspektif makhluk, yakni sempurna penciptaan dan perhitungannya). Subhanallah, betapa Maha Besar nya Allah SWT itu ya... Kalau lagi ng...

Hujan Lagi, Hujan Lagi

Hujan jangan diumpat karena dia adalah rahmat. Bayangkan kalau tak hujan, petani gagal produksi pangan. Kalau hujan lama tak turun, tanaman meranggas banyak kehilangan daun. Lagi pergi tiba tiba hujan deras, nggak bisa pulang emosi jadi memanas. Salah sendiri, nggak mempersiapkan diri. Pepatah bilang sedia payung sebelum hujan, atau boleh juga bawa jas hujan. Hujan deras bikin jalanan macet, siapa suruh nyampah di kali sampai airnya mampet. Hujan deras longsorkan tebing, jeritan korban terdengar sayup-sayup, tanyakan pada yang memangkas bukit dan gunung sampai tak ada lagi pohon yang hidup. Hujan adalah rahmat, diturunkan dari langit dengan perhitungan yang maha-cermat. Matahari panaskan samudra, membentuk awan yang siap mengembara. Awan berkelana ke penjuru dunia, siap turunkan hujan di mana saja. Coba kita sedikit mengaji. buka Al-Qur'an lalu baca dan resapi. . . "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menur...

Nggak Ada Yang Namanya Bad Day

Mengingat beberapa hari ke belakang, mendapatkan info yang bisa dibilang kurang menyenangkan. Terkait masalah magang dan penempatan yang bisa jadi tertunda sampai februari tahun depan. Masih tanpa ada penjelasan yang memadai ataupun solusi pasti. Sempat misuh-misuh di dunia maya, namun belakangan saya hapus pisuhan tersebut ketika tersadar bahwa kata 'janc**' tak akan memperbaiki keadaan. Kejutan dalam kehidupan, itu biasa. Tak mendapatkan hal yang diinginkan, pun wajar. Mendapatkan hal yang tak terduga, sangat lumrah. Itulah hidup. Ada skenario yang kita tidak tahu, kita hanya memainkan peranan kita tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Berusaha menjalani sebaik-baiknya, atau dengan biasa-biasa pun tak apa, itu terserah Anda. Hadapi masalah dengan kepala dingin, walau lebih sering kepala pening dibuatnya. Itulah hidup, kalau tak mau dapat masalah, jangan hidup, tapi Anda sudah terlanjur ada di dunia. Ingin mengakhiri hidup begitu saja? Itu cengeng namanya, belum lagi p...

Mengutip Khotbah (Beberapa Pekan Lalu)

Sedikit mengutip kata-kata dari sebuah khobah Jumat, pada suatu hari yang menggenapkan usia saya menjadi 21 tahun secara matematis. "Kita lahir dalam keadaan suci tanpa dosa, maka mengapa kita tidak berusaha untuk mengakhiri hidu kita juga dalam keadaan yang suci?" kurang lebih seperti itulah, saya lupa persisnya (dan khotbah lengkapnya). Mission impossible , mungkin itu yang Anda pikirkan ketika mendengar (lebih tepatnya, membaca) kalimat di atas. Bagaimana tidak, kita hanyalah manusia-manusia biasa yang penuh dosa. Hamba-hamba yan penuh khilaf. Bagaimana kita bisa jadi manusia yang seperti itu sementara kita bukanlah seorang Nabi yang maksum (terjaga dari sifat dosa)? Ditambah lagi, kita tak tahu kapan ajal akan tiba. Jangankan tahu, ingat saja, sebagian besar dari kita juga enggak. Kebanyakan manusia emang ogah kalo diajak ngomongin kematian, apalagi ngomongin yang setelah kematian nanti. Oke, saya tahu perasaan Anda. Mana mungkin kita jadi manusia sempurna yang mati dalam...

Pemberkasan; Berakit-rakit Dahulu, Bermagang-magang Kemudian

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh 3 tahun pendidikan DIII spesialisasi kepabeanan dan Cukai di STAN, saya dan kawan-kawan dinyatakan lulus (dalam yudisium 30 September silam). Status geje; mahasiswa sudah bukan, pegawai masih belum. Maka diperlukan suatu ritual lagi bagi kami untuk memulai langkah perjuangan menjadi pegawai. Pemberkasan. Saya sendiri gak tau pasti apa definisi resmi dari pemberkasan ini, yang jelas, kami disuruh mengumpulkan berkas-berkas untuk memenuhi (sebagian) persyaratan sebelum menjadi PNS (atau lebih tepatnya, CCPNS). Ada jeda (libur, katakanlah) selama sekitar sepekan untuk mengurus berkas-berkas yang belum selesai (mengingat surat keterangan sehat-bebas narkoba sudah diurus saat libur setelah ujian kompre-sebelum yudisium). Apa saja berkas yang dibutuhkan? Anda bisa lihat di sini , saya males jelasinnya satu-satu. Dan perburuan berkas pun dimulai. Intinya, selama beberapa hari, saya sempet keteteran ngurusin pemberkasan. Maklum, meski yang diurus seb...

3 Ciri (Yang Seharusnya Ada Pada) Orang Muslim

Dapat sedikit ilmu dari khotbah Jumat siang tadi. tentang 3 ciri kaum muslim, yang seharusnya ada pada diri kita, namun seringkali kita lupakan, sehingga membuat citra muslimin menjadi jatuh. Jangankan untuk membuat lawan-lawan Islam menjadi berbalik mengagumi dan memeluk Islam, bahkan orang Islam sendiri pun seringkali tampak ogah dengan segala sesuatu yang berbau Islam. Berikut poin-poin yang saya dapat dari khotbah Jumat tadi : - bersegera dalam menaati Alah dan Rasulnya - bersegera meninggalkan kemaksiatan - membalas dengan kebaikan bahkan terhadap orang yang memperlakukannya dengan buruk Ciri-ciri tadi, jika benar-benar diterapkan pada muslimin, maka insyaAllah, akan membuat umat muslim sendiri bangga dengan identitas keislamannya. Dan bahkan, orang-orang yang saat ini memusuhi Islam pun bisa jadi jatuh hati dan berhijrah ke Islam. InsyaAllah Dan sebagai muslim, apa lagi tugas kita kalau bukan menggu orang lain, tanpa menunggu hari lain, mari kita lakukan. *maaf, belum sempet p...