Postingan

What a Pain in The Ass

Gambar
Jadi tadi pagi, ceritanya penulis lagi asik memeras dan menjemur cucian. Dalam satu gerakan, penulis mencoba berjongkok untuk mengambil jemuran di bak, tanpa sengaja sebuah benda di belakang penulis (yang keberadaannya tak penulis sadari) bertemu dengan kumpulan otot  gluteus maximus penulis. Hasilnya? What a pain in the ass. Tersangka penyerangan terhadap gluteus maximus penulis Langsung penulis merasa bersimpati pada 195+ pria korban Reynhard Sinaga. Jadi teringat suatu materi tentang LGBT yang disampaikan oleh Dr Aisyah Dahlan pada acara talkshow hari ibu tahun 2018 lalu yang harusnya segera penulis post segera setelah artikel ini . Oke, untuk melunasi hutangan postingan blog dulu, kali ini penulis akan membahas sub-materi yang dulu dibahas oleh Dr Aisyah Dahlan. Lagian momennya juga pas, lagi heboh Reynhard. Ini tema yang lebih serius gaes , jadi bersiaplah. Dr Aisyah, berdasar pengalaman beliau, menyebutkan ada beberapa hal yang bisa menjadi...

Indhannas 2030:Menuju Kemandirian Pertahanan Nasional

Gambar
Dalam novel karya Peter Warren Singer dan August Cole, Ghost Fleet , dikisahkan bahwa pada pada tahun 2030, Indonesia telah menjadi negara gagal. Meksipun novel techno-thriller tersebut mengandung unsur-unsur yang diambil dari teknologi dan kondisi geopolitik dunia nyata, bagaimanapun, Ghost Fleet adalah karya fiksi. Mari kita berimajinasi dengan nuansa yang lebih optimis. Pada tahun 2030, bagaimanakah kondisi industri pertahanan nasional? Mari berandai-andai.  Tenar karena dikutip oleh salah satu Capres pada musim pilpres tahun kemarin Pertama-tama, mari kita ingat konsep triple helix dalam pertahanan nasional, yaitu pemerintah, p endidikan, dan industri yang bersinergi untuk medukung pertahanan nasional.  Pemerintah diwakili Kementerian Pertahanan, TNI,  Komite Kebijakan Industri Pertahanan , Lemhanas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta berbagai instansi lain yang memiliki keterkaitan dengan pertahanan, baiklangsung maupun tidak lan...

Jalan Hijrah Tak Selalu Mudah

Ketika kita telah memilih hijrah, sadarilah bahwa tak selamanya jalan itu mudah Terkadang ada rintangan yang membuat hati gelisah Acapkali dikucilkan atau ditertawakan hingga muka memerah Ada kalanya bertubi-tubi muncul masalah Tak jarang pula ingin menjerit menumpahkan keluh kesah Di suatu titik akan merasa lelah dan ingin berkata "sudah" Hingga muncul godaan untuk menyerah Namun yakinlah, Allah tak kan biarkan hambanya menanggung susah Karena kadar ujian pasti telah diukur tanpa salah Meski kadang kita merasa lemah Meski kadang kita terjatuh dan berdarah Namun bangkitlah dan terus melangkah Karena berhijrah, insyaAllah kan berakhir indah *terilhami kisah seorang rekan yang melangkah menuju kebaikan, meski terjatuh namun ia tak menyerah dan terus berusaha

Wujudkan Cita-Cita Sisdiknas Demi Keunggulan SDM dan Produktivitas Nasional

Gambar
Indonesia dengan penduduk sebanyak 271 juta jiwa , diperkirakan akan mengalami puncak bonus demografi pada periode 2020-2030. Bonus demografi merupakan kondisi di mana jumlah penduduk berusia produktif (15-65 tahun) lebih banyak daripada penduduk berusia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). S ecara teoretis hal ini dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Namun jika tidak dipersiapkan dengan baik, hal ini justru berpotensi menimbulkan kelebihan tenaga kerja dibanding lapangan kerja yang ada. Hal ini pada gilirannya  dapat menyebabkan pengangguran yang berakibat pada meningkatnya kemiskinan. Fenomena ini menuntut kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) berusia produktif yang andal agar dapat berkontribusi positif kepada pertumbuhan ekonomi alih-alih menjadi beban negara. Persiapan menghadapi bonus demografi telah disinggung dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2015-2019 . RPJMN 2015-2019 memaparkan 6 bidang pembangunan dan ...

Benarkah Pendidikan Kita Jeblok?

Ta'lim Kamis Siang oleh DKM BT KPDJBC bersama Ust. Adian Husaini menanggapi PISA 2018 result di mana Indonesia sering berada di peringkat 10 terbawah. PISA menilai kemampuan matematik, membaca dan sains. Namun benarkah demikian? Pemateri mempertanyakan metode pengukuran tersebut, di mana tidak adil jika menilai pendidikan dari 3 unsur saja, dan mempertanyakan apakah metode pengambilan sampel penelitian tersebut valid? Apakah kriterianya cocok dengan negara kita? Pemateri berpesan, coba kita jangan menjelek-jelekkan diri kita (meskipun jangan sok dibagus-baguskan kalau memang ada kekurangan). Salah satu kritikan dari Prof Daniel M. Rosyid yang mengajak kita mengenang nasehat Ki Hadjar Dewantara di mana pendidikan adalah membangun jiwa merdeka, tak sekedar capaian matematika dan sains saja. Tak perlu kita terlalu minder dengan kriteria "negara-negara maju" yang sebenarnya juga menghadapi masalah yang hampir sama di sektor sosial, ekonomi dan lingkungan. Jang...