Postingan

Distraksi

Jujur saja, beberapa waktu ini jengah sekali dengan banyaknya berita buruk. Penjajahan dan genosida yang terus berlanjut di Gaza dan eksploitasi terus-menerus di Sudan; bencana di Sumatera, disusul Kalimantan, Papua, Maluku, Sulawesi, dan berbagai daerah di Indonesia sebagai akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup akibat prioritas pada pertambangan-eksploitasi dan alih status hutan-penataan kota amburadul, yang makin lengkap dengan buruknya penanganan pasca bencana; agresi ilegal Amerika ke Venezuela; berbagai kasus korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh besar; penat kali rasanya. Maka tanpa sadar, beberapa pekan ini mengurangi ekaposur sosial media dan berita. Bukan karena tak peduli, namun karena diri ini jug butuh jeda. Saya tetap akan menyuarakan perlindungan hutan, laut, dan makhluk hidup di dalamnya; tentang udara bersih; hak-hak masyarakat; pemerataan ekonomi; peningkatan pemerataan & kualitas pendidikan-akses kesehatan-konektivitas; pengembangan iptek & penguasaan tek...

Proses

Gambar
Kalau dilihat-lihat, untuk menjadi sebuah produk gerabah siap pakai, prosesnya panjang juga. Bongkahan tanah liat dibasahi, diputar-putar, dipukul, ditekan, dipotong, dibentuk, gagal, diputar-putar lagi, ditekan, dibentuk lagi sampai berhasil. Lepas tu diabaikan, diangin-anginka aja, dianggurin. Kadang dibantu pakai pemanas yang mirip pengering rambut. Diemin lagi sampai kering. Lalu dicat, diangin-angin lagi sampai berhari-hari. Lalu dibakar pakai kiln. Lama dan berliku. Itu cuma gerabah tanah liat lo. Terus kita—yang berasal daei tanah juga ini—yang pengen sukses dunia akhirat ini, bisa-bisanya ngeluh saat menghadapi proses ya... bahkan kadang maunya instan aja. Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Lha kok enak. Emang bisa gitu? Gerabah aja berproses. Maka, semoga Allah kuatkan kita dalam berproses menuju individu yang lebih baik, untuk dunia dan akhirat kita. *terinspirasi kegiatan membersamai liburan anak-anak siang tadi di TIM bersama Lost in Clay 

2025: A Learning Year

This year had been very busy for me. Early January, I was appointed to join a Ministry of Finance Training on Artificial Intelligence for Strategic Scenario Planning. Then from mid-February until end of June, I was selected to join Graduate Certificate in Law: Maritime Studies by ANU-ABF college. Not long after—I was barely with my family—another LEAP training with UNODC awaits. On October, Negotiation Skills on International Forim training, followed by internal training on Maritime Navigation in November and Refreshment Training for Omnibe UAS Operator in December really made the last quarter of 2025 very busy. Not only training after training, there were several 'first time experience' too. From being UNODC Trainer in August, joining MoF Campaign on DGCE Patrol Ship Crew Recruitment, drone operation at Jagoi Babang, Rendezvous at Sea with SPCG, and last but not least, hybrid book launch on 12th Dec. It was a busy year, and a lot to learn. Not only from the class, but also fro...

Konflik Batin

Pertama-tama, innalillahi wa inna ilaihi roji'uun, semoga Allah berikan ampunan bagi para korban bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Tengah, serta agar para penyintas diberi kekuatan & kesabaran. Kedua, muak-semuak-muaknya pada para petinggi negeri ini dan negeri-negeri lain yang begitu abai terhadap kerusakan lingkungan yang telah sedemikian parah. Bukan hanya abai, mereka justru mendukung penghancuran ekosistem demi mengejar pertumbuhan ekonomi. Entah proyek tambang, perkebunan, energi, perumahan, atau apapun itu, yang merusak lingkungan secara masif tanpa upaya mitigasi. Semoga Allah berikan kesadaran, atau jika tidak, maka kami yakin, Allah Maha Adil hisabnya. Dulu, saya bingung dengan ayat ini: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8) Banyak tafsir yang m...

Deklarasi Revolusi bersama para Umbi

Gambar
Sebagai abdi negara, satu dekade terakhir ini rasa-rasanya makin dilema. Entah apa yang ada dalam pikiran para pemimpin tertinggi negeri ini, kok hampir setiap kebijakannya seperti tidak dipikirkan sama sekali.  Alih-alih berpihak pada rakyat malah justru memudahkan para pemodal besar menguasai hal-hal yang berdampak pada kebutuhan khalayak. Di satu sisi, kami sudah tanda tangan kontrak untuk mengabdi. Di sisi lain, kami juga rakyat biasa yang juga terimbas setiap kebijakan pemerintah yang udah diumumin. Rasa-rasanya orang-orang di pucuk pimpinan, hanya melihat kami sebagai alat dan perpanjangan tangan. Setiap kebijakan, kami seolah dituntut untuk selalu mengiyakan. Tak perlu dipikirkan, jangan pula kritik dilontarkan, kecuali mau dipindahtugaskan, diberhentikan, bahkan dipertemukan dengan kematian. Sesama warga pun jadinya melihat kami hanya sebagai pelaku kezaliman juga, karena mengira kami semua melakukannya tanpa ada penolakan dan dengan gembira. Padahal banyak di antara kami y...

Humbled

When you try everything and that's not enough... When you tried your best and still failed...  When your ideas don't sell... maybe it's a reminder to be humble, to bow before The Greatest of All... No need to claim that you're the best, because they don't care. No need to show everything you tried, because they don't care. No need to tell anyone about your ideas, because they don't care. Let Allah see your effort, hear your ideas, pleas and prayers, because in the end, it'll be only between you and The Greatest Among All, The Justest of All Judge, The King of The Universe and Beyond... Be humble, not arrogant. Be sincere, not intentional. Be honest, not mendacious. Be trustworthy, not treacherous. Be smart, not sly. Be articulate, not voiceless.  Be kind, not cruel.

Filosofi Mendol

Gambar
Pembaca tahu mendol? Mendol adalah sejenis lauk khas Jawa Timur, yang dibuat dari tempe yang dikukus (opsional), dihancurkan, dibumbui, lalu dikepal-kepal sebelum digoreng. Biasanya menjadi teman makan pecel, nasi jagung, urap, rawon, orem-orem, atau hidangan khas Jatim lain. Bagi penulis, mendol itu unik, karena kalau dikepal terlalu keras, ia akan hancur lagi menjadi butiran tempe dan bumbu. Harus restart progress .  Kalau tekanan yang diberikan saat mengepal kurang, ia akan ambyar saat digoreng. Tetap enak untuk dimakan sih, tapi ngga gitu konsepnya. Jadi, harus diberikan tekanan yang pas.    Lalu, apa hubungannya? begitu mungkin pikir pembaca. Dalam hidup, seringkali kita menghadapi tekanan dari luar. Kita seperti mendol. Kadang kita hancur di awal karena tekanan terlalu besar di awal (sebagaimana orang  yang mengalami depresi hingga tak berhasil melaju), kadang kita hancur di proses selanjutnya karena kurang tekanan di awal (layaknya anak manja yang terbiasa sem...